
...MAAFKAN AKU GURU...
...“Pak...Mahmud eh..marmud eh mahmud pasti tidak absen!” Ledek Feri yang berada disebelah kanan....
...“Ya pastilah, kan dia guru tauladan cuy.” Sahut Yogi disebelah-Nya....
...“Lima menit yang akan datang. Hem..” angkat suara Herul dengan menjeda sebentar. “Tugas hal 10 kumpulkan! Dan bagi yang belum selesai, dipersilahkan mengambil posisi (berjemur di depan kelas)” lanjutnya disertai gelagat dan gaya gerak mengejek....
...“Wkwkwkwk.. ngakak Woi!” sebagai pelengkap, aku terkekeh lebih awal. Kemudian ketiga temanku juga ikut menyusul tertawa dengan lebih keras, hingga semua pasang sorot mata anak kelas tertuju kepada kami....
...@@@...
...Kami menghibahnya, itulah yang selalu kami bisikkan dalam pembicaraan sepanjang waktu bersama....
...Sepekan dari pertemuan pertama, kami dan teman-teman kelas masih terasa nyaman dari kehadirannya. Dua pekan masih juga seperti biasa, tidak terlalu mengekang. Kemudian lambat laun ternyata, ia mulai berubah. Dari sifatnya yang mulai menuntun, dari sikapnya yang mulai bersikeras dan semua yang ada pada dirinya, berubah menjadi sosok guru killer. ...
...Semenjak itulah rasa, sifat dan sikap kami berempat juga ikut berubah. Benci dan tidak suka....
...Meskipun ia mempunyai jadwal masuk setiap 3 kali dalam seminggu, sekalipun kami tidak pernah mengikhlaskan hati untuk sudi menyimak ucapannya. Belajar karena tekanan dan hukuman membuat kami semakin jadi untuk terus menghibah dan melakukan sesuatu hal buruk yang akan terjadi....
...Hati kami mulai mengembang bergairah benci di kala ia memberi hukuman kepada kami berempat. Hukuman yang pernah kami jalani Disaat kami kompak keluyuran di kantin pada jam pelajarannya. Dan hukuman yang pernah kami alami Disaat kami tidak pernah mengerjakan tugas dan pr yang ia beri. Itu pun masih banyak pelanggaran yang kami lakukan....
...Aku masih ingat betul runtutan hukuman yang menimpa kami. Hukuman pertama kedua ketiga masih di fase biasa saja. Cuman berdiri satu kaki di dalam kelas. Hukuman keempat semakin meningkat, sama-sama berdiri tapi di depan kelas. Punya muka malu. Hukuman kelima tambah meningkat, tetap berdiri di depan kelas. Tetapi dengan satu kaki serta ditambah dengan masing-masing tangan kami bergandengan di tepi telinga....
...Dan hukuman keenam, gairah benci kami meronta –ronta besar. Masuk ke semua kelas di selu seantero sekolah dengan mengucapkan saya malas, saya tukang bolos, saya nakal bahkan sangat nakal dan jangan berteman sama kami. Hal itu harus dengan kompak dan ditambah aksesoris kalung yang bertulisan saya bandar nakal. Tidak cukup dari itu, kami dapat dispensasi membersihkan kamar mandi guru....
...Kami akui teruntuk hukuman keenam itu bukan hanya masalah tidak mengerjakan tugas atau pr. Melainkan sebelumnya kami tertangkap basah melakukan pelanggaran sekolah. Lambat, tidak ikut upacara, masuk sekolah lompat agar dan ngerokok waktu ***....
...Kebencian kami sudah tertanam besar di lubuk hati. Seakan-akan wajah telah diacak-acak oleh sampah. Angan-angan rencana pembalasan sudah ranum. Segera diluncurkan kepadanya dalam jangka waktu tak lama. Tidak mau cuman dimulut saja. Aktivitas gerakan otot sudah sepakat melakukannya....
...Sempat terlintas dalam pikiranku, sebuah kesadaran untuk tidak ikut dalam angan pembalasan. Keraguan sempat terlintas. Tapi hal itu hanya sebatas lewat, sebatas angin berlalu. Jadi kebulatanku tetap akan menjalankan rencana ini....
...Aksi pertama dilakukan tiga hari yang lalu. Kami berempat sepakat mengempisi ban sepeda milik Pak Mahmud. Termasuk ban depan, belakang akan kami kempisi sampai kempes tak ada angin sekalipun....
...Masing–masing dari kami mempunyai job tugas yang berbeda-beda....
...Diantara kami berempat, Feri rajanya dan ferilah tokoh utama dalam aksi ini. Herul dan Yogi yang berjaga sebagai penjaga di tiap sudut jalan menuju tempat parkir guru. Sedangkan aku hanya mengamati gerak-gerik Pak Mahmud. Sambil lalu mengalihkan setiap orang yang menuju parkiran. Tak pilih anak sekolah, guru pun sama. ...
__ADS_1
...Acapkali di saat kami sudah siap memulai tak terduga sebuah kalbuku merenungi setelah memlihat tiap gerak-gerik tingkahnya. Ternyata dibalik sifat kerasnya kepada kami, ada sebuah keramahan yang tercampak membuat hati ini sedikit tersayat. Saling menyapa sesama guru sesekali kepada muridnya. Mungkin aku yang terlalu buruk atau ego menyikapinya....
...Tapi tidak, renungan itu hanya mampir sebenar. Tak lama. Masih tetap pada tugas yang aku jalani....
...Tidak sampai 2 menit, aksi kami lakukan sukses membuahkan hasil. Dengan cepat, santai semua terlaksana dengan aman....
...“Yes..” kami bersorak dan saling tos. Meskipun kenyataannya hatiku terlintas keraguan. ...
...Untuk aksi kedua dilakukan keesokan hari saat jam pelajaran berlangsung. Masih dengan aksi pertama mengempisi ban sepedanya. Tapi tidak cukup itu saja. Awalnya mereka bertiga akan merancang jebakan yang membahayakan. Memberi pelicin lantai kamar mandi guru. Pikir mereka dengan jebakan ini, pak mahmud akan jatuh terpeleset dan bajunya akan basah sehingga tidak ada mata pelajaran. Tidak. Ini bisa jadi jebakan yang fatal. Mereka tidak habis pikir jika seandainya pak mahmud atau guru yang lain benar terpeleset kemudian jatuh . kepalanya mengenai lantai dengan keras. Otomatis nyawa taruhannya....
...Tidak sebelum terlambat , aku mencari alasan mencari alsan untuk membatalkan jebakan yang satu ini. Syukurlah mereka bisa menyetujuinya. Namun mereka bersikukuh untuk menggantikan rencana yang lai yakni bukan hanya mengempisi bahkan membocori ban dengan serpihan beling-beling....
...Mempunyai rasa benci dan kesal pasti. Tapi rasa benci dan kesalku sangat beda dengan ketiga temanku. Melebihi dari benci. Aku masih memunyai tingkat kesadaran diatas 50% yang bisa memilih antara bertindak dan tidak bertindak. Jelas beda dengan mereka, tingkat kesadarannya sudah tetutupi gulita nafsu. Mengedepankan amarah dari pada tabah dengan emosi bertumpah....
...Lagi-lagi aku tersentak. Aku belum menghentikan aksi mereka. Tapi akan kucoba menghalangi mereka dibalik kejadian ini. Jiwaku memang belum sepenuhnya sadar, tapi hari ini sudah bisa menyadari....
...Dalam hati aku bersyukur. Namun dilain hati masih ada kekhawatiran yang bersua. Aku sangat bersyukur aksi kedua ini mereka gagal. Takdir tuhan berkata. Sebelum mereka benar-benar melakukan aksinya seorang satpam sudah menghardiknya hingga dibawalah mereka ke ruang BK....
...Aku? Dibalik permainan tersebut, aku lah yang menjadi sosok udang dibalik batu. Mereka ketahuan karena aku yang memberitahunya....
... Benar sahabat yang baik akan membawa ke jalan yang baik. Sebaliknya sahabat tidak baik akan menjerumuskan ke lembah kenestapaan....
...Detik itu, aku bersumpah kan ku perbaiki sikap ini, kan ku batalkan aksi keji mereka, kan kuperbaiki mereka hingga sadar sesadar mungkin....
...Hati terus khawatir bersua untuk aksi mereka yang selanjutnya. Mereka ingin melakukan aksi lebih menantang yang berujung maut. Disebabkan masalah mereka ketahuan sehingga hukuman menimpa mereka. Ditambah pak mahmud memang guru BK....
...### ...
...KEMAREN.....
...Ah mereka. Aku memutar kepala untuk mencari keberadaan mereka bertiga. Nihil tidak ada....
...Pak Mahmud baru saja keluar dari gerbang sekolah. Tidak lama lagi mereka akan lekas... tidak. Aku segera bergegas pergi menggunakan sepeda motorku. Membuntuti jejak Pak Mahmud dan menyusuri liku-liku jalan. Tiba di tikungan segerombolan orang melingkar di tepi jalan. Meratapi tubuh seorang yang terbaring didepanya. ...
...Kecelakaan!...
...Lekas-lekas dengan cepat motorku lajukan menghampiri kejadian di depan mata ini. Mustahil....
__ADS_1
...Aku hanya mampu menatap kaku sosok tubuh berhamburan darah. Seorang sosok guru yang selama ini aku terus caci. Sosok guru yang sebelum itu hatiku belum sepenuhnya menganggap sebagai guru....
...Sosok guru bersimbah darah....
...Setelah mampu melihat dengan jelas bagaimana darah mengalir dari mulut dan hidunggya. Aku coba mendekati tubuhnya dan meminta tolong orang untuk segera mengangkatnya dalam mobil....
...###...
...Dulu aku begitu menyesal dia masuk tepat waktu, memberi materi dan tugas. Sekarang bahkan aku tak mengerti satu apa yang dijelaskan. Dulu aku kesal karena ia sering menghukumku karena tidak mengerjakan tugas. Kini aku sungguh merasa kepedihan mendalam melebihi hukuman yang ia pernah berikan....
...Dulu aku selalu mengejeknya dan menghibahnya. Sekarang setelah menyadari sesungguhnya menyakiti guru tiada tobatnya. Aku selalu diam termenung menanti dosa yang siap kulewati. Tiada penyesalan di awal permulaan. Penyesalan pasti di akhir. Bersorak bebas darinya karna ketiadaan, tapi tak pernah bisa bebas dari kesalahan yang menimpa....
...Maafkan aku guru....
...Hari ini dua bola mataku menatap sendu pusaran makan seorang guru. Aku mampu menatap teduh hiasan batu nisan yang bertulis nama Moh Mahmud bin Sayuti yang lengkap dengan tanggal lahir beliau serta dengan tanggal akhir titik perjuangannya....
...Aku datang ingin memohon maaf, aku tahu walau pemohon maaf ini belum tentu ia bisa maaf in. Tapi setidaknya aku telah berusaha untuk meminta maaf. Aku percaya soosk guru merupakan sosok yang baik hati....
...Aku torehkan doa dan dengan rasa bersalah. Sembari diam merenungi akan peristiwa yang telah terjadi. Sungguh hati ini sesak rapuh hal itu....
...Setelah beberapa menit, sekarang sanubari siap melakukan permohonan maaf....
...“guru.. mohon maaf atas kesalahanku”...
...@san elqhoyry...
...BIONARASI...
...Nur Hasan di panggil HASAN atau AHSAN. Pria berkulit putih, blasteran jawa madura, yang hobi 2M 1o (menulis, membaca) (olahraga) ini berasal dari kota jember yang sekarang tinggal di sebuah desa kecil bejuta cerita yang berada di pamekasan madura jawa timur. Berkelahiran tanggal 25 april 2004. Masih aktif sebagai siswa ipa MA MAMBAUL ULUM BATA-BATA. Jika ingin akrab anda bisa menyapanya di no wa 085236281802 dan fb\ig san elqhoyry ...
... ...
... ...
... ...
... ...
__ADS_1