
...ANTARA PENJAGA DAN SASTRA...
...RUANG BERJUTA IMAJINASI...
... Cakrawala langit biru mulai membentang penjuru semesta alam. Pagi-pagi cahaya mentari mulai sirna, menggelitik sela-sela hamparan jendela. Sedikit demi sedikit sirnanya meraki ke segala sudut benda yang berada di dalam ruang berjuta imajinasi. Menuai cahaya diantara gulita yang baru saja berlalu dengan tandangnya desiran angin malam....
... Sang berjuta ragam inspirasi(buku-buku) pun telah berkecumik dan berkomat-kamit, seakan sedang menunggu sesuatu datang yang belum tentu kepastian. Namun yang pasti mereka telah menaruh asa besar di pagi ini akan ada satu diantara juta insan yang menyapanya. Apalagi membawanya pulang tuk menambah wawasan nan pengalaman. ...
...“Kring. Kring.. jam 06:00 Kring. Kring. waktunya bangun!” ...
...Alarm jam beker seorang berdentang nyaring menghiasi keheningan. Menyerang alunan di sudut pergelangan tangan seorang penjaga ruangan. Dengan berat berbinar, dua kelopak matanya terbuka. Mulai menerawang keberadaan sekitar. Membelalak ke arah tumpuan yang sedari tadi bergoyang , seolah menyuruh bangun dan segera melaksanakan kewajiban....
...Setumpuk pekerjaan sudah menanti. Pada jam se pagi ini, seorang penjaga mulai menggerakkan rongga-roga badan. Guna mengawali pagi tuk menghadapi pekerjaan yang terjejer rapi. Bangun, mandi pagi, ganti baju dengan rapi, menyapu, mengepel, mengelap, buka gorden, mengepel melayani dan masih banyak yang tercantum dalam daftar isi. Baginya kesibukan yang harus di selesaikan adalah makanan-makanan ringan....
...Terbiasa akan keadaan, akan mampu di luar kebiasaan...
...SABTU PAGI DI PERPUSTAKAN...
...laki-laki berusia 20 tahun sedang membersihkan sepihan-serpihan debu yang menempel di langit jendela. Dengan bekal kemucing melingkar di tangan kanan. Digerakkannya menyusuri satu persatu lorong kekotoran. Sesekali bola matanya menatap beda-benda hidup yang mulai mengawali aktivitas paginya. Dalam hati, penjaga menaruh asa semoga di hari yang cerah ini melebihi dari hari kemarin. Sambil menengadahkan tangan ke arah dadanya. ...
...Beberapa menit kemudian, kepalanya mencoba berputar ke arah belakang. Tepat tujuannya ke rak-rak buku. Sembari menatap salah satu buku bersampul kuning. Tersenyum dengan sendiri seakan baru saja membalas senyuman seseorang yang telah lama tak jumpai....
...“Hai penjaga?” sapa buku kuning tersebut dari kejauhan membuat penjaga tertegun....
...“Hai juga cerpen.” Balas penjaga dengan sebutan cerpen. Ya buku kuning tersebut memang berisi kumpulan cerpen....
...“Semoga kau selalu di beri kesehatan dan kebaikan oleh tuhan.” Tambahnya dengan kalimat yang penuh dengan sebuah doa....
...“Amin.. kau juga. Semoga engkau terus melahirkan bibit karya yang akan selalu di kenang di setiap zaman dan para insan semakin banyak mencintaimu.” Balas lagi penjaga dengan lirih....
...Mungkin di setiap hari-harinya, penjaga terbiasa berkomunikasi dengan beragam macam buku. Entah sekedar menyapa dan saling sapa. Baginya ia anggap semua buku pasti mempunyai perasaan selayaknya makhluk hidup. Terutama akhir-akhir ini, penderitaan terhadap minimnya minat baca membuat penjaga semakin khawatir akan tentang nasib bangsa ke depannya . Ditambah penjaga memang merupakan seorang pengamat literasi yang masih tidak terlalu familier....
...Sudah beberapa bulan terakhir buku kuning itu jarang kelihatan oleh penjaga dibaca atau sekedar di pegang oleh para insan. Beberapa orang hanya melewati kala berhadapan dengannya. Mengabaikan tanpa ada rasa ingin kenal atau tahu kalau dia merupakan hasil dari buah pena sastra. Yang mana hampir di lenyapkan. Tapi tidak semua, bersyukur masih ada sebagian kecil insan pencinta sastra yang terus berkobar menciptakan pena untuk mencegah ancaman yang bisa menghirapkan....
...Kemudian penjaga melanjutkan aktivitasnya dengan kembali kepada benda bernama kemucing....
__ADS_1
...Setelah kelar membersihkan serpihan debu, kini dua pangkuan tangannya memihak dua benda; semprot dan lap kaca untuk mengelap hingga jendela benar-benar bening. Agar orang-orang di luar sana tak mengira kalau gedung ini sudah mati tak berfungsi....
...Sekilas desiran bunyi kendaraan mulai terdengar di gendang telinganya. Berlalu menyusuri pundi-pundi kehidupan yang mereka prioritaskan....
...Untuk kedua kalinya penjaga mencoba menengadahkan kepalanya ke arah belakang. Menatap lekat buku bersampul biru yang berada di buku kuning tadi. Seperti biasa ia akan bercakap dengannya. Dan kali ini penjaga memulai kotak percakapan pada buku biru bertulis novel....
...“Hai novel?” penjaga membuka kotak percakapan disertai senyuman yang selalu melekat. Untuk kemudian penjaga berjalan menghampiri buku yang disapanya. Diletakkan lap pada tangan kanannya dan menggantikan dengan buku bersampul biru. Di susul tangan kirinya ia letakkan sebuah semprot....
...“Hai juga” balasnya sama pendek dengan sapaan penjaga....
...Ditatapnya lekat kemudian di tiupnya embusan angin ke sembarang permukaan buku guna menghirapkan debu yang sudah lama berkutat....
...“Aku ada satu pertanyaan buat kamu novel?” ujar penjaga dengan nada rendah sambil lalu tangan kirinya menyapu-nyapu permukaan buku di pegangnya....
...“lanjut.”...
...“Hm. Pernakkah kamu merasakan tentang perihal sesuatu yang biasanya hadir mengisi kekosongan hati. Lantas tiba-tiba lenyap, hirap begitu saja. Berasa hidup di dunia ini hampa, tanpa ada penghuni, bak hidup seorang diri. pernakkah?” tanya penjaga dengan wajah mulai kusut....
...Hening seketika. Tak ada suara. Penjaga mencoba mengalihkan pandangannya ke rak buku yang lain. Berbagai macam buku berjajar rapi dengan tampilan kover yang elok di milikinya. Perlahan tatapan mata penjaga kosong, sudah mulai lesu tentang akan perasan yang entah mengapa baginya tidak bisa di artikan....
...“Karena kau pasti tahu novel. Karena banyak tahu akan perasaan yang di karang para sastrawan. Mungkin alangkah baiknya aku bertanya dan bisa meluruskan hati ini.” Tutur penjaga dengan raut mata sedikit sendu. ...
...“Tidak penjaga. Kau salah bertanya hal itu kepadaku. Bukan aku yang tepat untuk menjawab tentang perasan. Aku hanya bagian prosa yang terbuat dari daya pikiran dan khayalan yang kuat. Cobalah.. kua penjaga bertanya kepada puisi. Dia pasti akan menjawabnya karena dialah sumber dari segala sumber perasaan.” Jelasnya panjang....
...Setelah mampu memahami ujaran novel, lekas-lekas penjaga langsung beranjak ke rak-rak buku yang lain. Setengah menit penjaga berkutat dengan buku berdebu, ia terus menyusuri satu persatu buku hingga tak sadar buku yang dicari terlewati. Dicarinya lagi hingga pergerakan tangannya terhenti di satu buku. Matanya menelisik tertuju pada buku bersampul hijau dengan caption puisi. Lalu diambilnya....
...Penjaga tidak langsung tidak langsung bertanya. Ia mencoba membuka halaman demi halaman dan membaca satu puisi milik salah satu sastrawan....
...Dalam hati penjaga....
...Benar apa yang di sampaikan guruku dulu. Membaca puisi itu memberikan makna tersendiri. Semenjak puisi berdiri, arti dari setiap manusia berbeda-beda. Sampai saat ini tak ada satu orang yang bisa mengertikan puisi dengan sedetail mungkin, kecuali penulisnya....
...Di tutupnya kembali. Serpihan-serpihan debu halus terhampar. Disapunya tangan kiri kemudian mencoba tuk menyapanya....
...“Hai..” sontak penjaga tersentak karena puisi lebih dulu menyapa....
__ADS_1
...“Hai juga.” Balas penjaga....
...“Aku sudah tahu arah kedatanganmu penjaga.” Timpal puisi...
...Penjaga hanya diam , bergeming tanpa sepatah kata....
...“Tentang perasaan. Sama penjaga. Aku pun seprti kamu. Bahkan bukan cuman teman sastra ku yang lain juga merasakan yang namanya kehilangan. Memang benar, hari-hari yang sebelumnya sirna kini tak lagi menyinari. Semangat yang membara, berubah malas yang menderu. Hal itu pasti berubah jadi pucat tanpa gairah. Saat kamu hendak untuk mengembalikan sesuatu yang telah hirap dengan sekuat, namun nihil tak kunjung tercapai. Ya kuncinya ikhlaskan dan jadikanlah sebuah pelajaran.”...
...Hening lagi. Mungkin penjaga terbawa arus apa yang puisi ucapkan....
...“Hm.. sudahlah kita semua sama kehilangan” suara serak terdengar. Membuyarkan setiap pikiran. Suara itu bersumber dari buku besar bernama sastra....
...“Meski demikian kita tak boleh lengah begitu saja. Masih banyak lorong-lorong tembus yang belum kita jajah. Tidak semuanya yang hilangkan? Dunia masih tetap sirna oleh mentari kehidupan. Berkarya dan terus berkaryalah” jeda sejenak. Semua mencerna apa yang induk sastra katakan. Tak pilih Cerpen, novel, puisi, dongeng, drama dan buku yang lain juga ikut bergeming....
...“Teruntukmu penjaga. Bersyukurlah nyatanya kita tidak pernah kehilangan arah tempat berlabuh. Hidup di dunia ini penuh dengan teka-teki jadi janganlah berpikir sempit. Dan penuh dengan syair –syair dan gurindam yang memagari ruang dan tempat menuju batu loncatan. Ingat. Deretan diksi terus menaungi.” Lanjutnya....
...Penjaga hanya pasrah. Dalam otaknya berkelibat semua asumsi bahwa apa yang di katakan induk sastra adalah benar. “kehilangan bukanlah segalanya”...
...Setelah itu, penjaga mengembalikan semua benda ke tempat semulanya. Dan kemudian duduk di dekat ambang pintu, tempat penjaga harus berjaga. Tak lupa menghidupkan sederet kalimat motivasi dari seorang sastrawan di wajah pintu perpustakaan. If you want an education goto libray ‘jika anda menginginkan sebuah pendidikan, pergilah ke perpustakaan’ frank zappa....
...Ruang imajinasi 03-09-2021...
...BIONARASI...
...Nur Hasan di panggil HASAN atau AHSAN. Pria berkulit putih, blasteran jawa madura, yang hobi 2M 1o (menulis, membaca) (olahraga) ini berasal dari kota jember yang sekarang tinggal di sebuah desa kecil bejuta cerita yang berada di Pamekasan Madura Jawa timur. Berkelahiran tanggal 25 april 2004. Masih aktif sebagai siswa ipa MA MAMBAUL ULUM BATA-BATA. Jika ingin akrab anda bisa menyapanya di no wa 085236281802 dan fb\ig san elqhoyry ...
... ...
... ...
... ...
... ...
... ...
__ADS_1