
...ANTARA MANIS DAN PAHIT ...
...Aku Ahan Alvaro. Aku santri pondok Pesantren Mambaul Ulum bata-bata. Hobiku membaca dan menulis. Kalau temen-temen menanyakan seberapa besar cinta kamu terhadap menulis? Maka akan ku jawab sudah terlanjur cinta bahkan bisa dikatakan Cinta Mati. ...
...Saat ini aku sedang duduk menyendiri, ditemani secangkir kopi, pena dan buku kosong yang siap aku warnai. Aku akan isi lembaran pertama ini tentang yang namanya pertemuan dan perpisahan. Ternyata Imajinasiku dibuat berangan-angan oleh secuil cerita tentang pertemuan yang manis dan perpisahan yang pahit. Oleh karena itu itu aku Awali tulisan ini ini dengan deretan kata " antara manis dan pahit"....
...2015...
...Bagaskara di arah barat mulai menyingsing ke tempat peranduannya. Ditambah percikkan Mega merah yang mulai menghiasi. Hari Ahad. Sore bersahabat. 3 anak kecil berseragam klub futsal tampak letih menyusuri jalan pulang. Masing-masing dari mereka menentang sepatunya sambil sesekali bercakap Ria dan tertawa riang. Mereka adalah Ahan, Dana dan Iwan. Mereka bertiga bersahabat. Hari-harinya mereka lewati bersama. Kebersamaan mereka dimulai sejak bangku TK hingga sampai saat ini SD kelas 4. Hidup bertetanggaan yang juga mereka selalu dibuat bersama....
...“Et bentar dulu!” ucap tiba-tiba Iwan dengan sedikit lantang membuat Ahan dan Dana terperanjat kaget dan menghentikan langkah kakinya....
...“Aapaan sih.. Bikin kaget tahu!” Timpal Ahan dengan menepuk leher belakang Iwan....
...Iwan tersenyum lalu cemberut kesakitan....
...Ahan dan dana pun terkekeh seketika....
...“Mampir ke danau yuk!" Ajak iwan bersemangat....
...“Apaan sih lo wan tengok jam nih!” Balas Ahan sambil memperlihatkan jam tangannya ke depan wajah Iwan....
...“05:15” lirih suara Iwan....
...“Yuk ah.. Pulang!” lanjutnya lagi Ahan. ...
...“Ayolah Han gak Pakek lama kok. Lihat badan kita sudah bau, keringat bercucuran. Satu kali lompatan kok. Iwan pastikan gak akan kena omelan dan hukuman oke” tetap bujuknya Iwan kepada Ahan....
...Dana hanya tersenyum dan pasrah....
...Setelah perdebatan mereka selesai, akhirnya Ahan ikut apa yang Iwan ajak. Memang Solidaritas dan kebersamaan mereka sangatlah kuat. Apalagi mengenai permainan, mereka saling menyangkut kompak untuk bermain bersama. Tetapi masalah situasi dan kondisi Ahan sangat mengutamakan, karena dia memang anak yang disiplin dan patuh pada orang tuanya. Beda dengan Iwan yang memiliki sedikit sifat berkebalikan dari Ahan. Juga dana yang hanya cuman pasrah mengikuti apa adanya....
...Apa boleh buat, Ahan pun Kun nurut meskipun serasa Bimbang melangkahkan kan kakinya pergi ke danau....
...Namanya juga anak-anak rasa bimbang pada Ahan bertahan sekejap, saat itu cuma rasa senang yang ada padanya setelah berhasil lompat ke danau....
...Sore yang cerah telah bergantian dengan sore yang redup. Mega merah begitu menjulang di ufuk Barat. Sudah setengah jam tiga anak kecil tadi berkutat di danau. Melompat, menyelam dan kejar-kejaran mengisi rasa senang mereka....
...Namun kala suara lantunan qiroah terdengar jelas di gendang telinga mereka, guru-guru akhan mengajak Iwan dan dana untuk segera pulang....
__ADS_1
...“Awas ya. Kalau nanti kita kena hukuman sama ustad!" Umpat memperingati Iwan di sela-sela memasang bajunya....
..."Hah Kenapa juga mau!" Balas Iwan lalu pergi duluan meninggalkan Ahan dan dana....
...Ahan mulai geram, dana hanya santai titik mereka berdua pun lari mengejar Iwan dan pulang ke rumahnya....
...Salat Maghrib telah usai di sebuah masjid Intan manusia di dalamnya ada yang bubar keluar dan ada yang masih tetap fokus pada sang Ilahi titik di tengah-tengah dalamnya masjid terdapat sekelompok anak-anak duduk bersila melingkar, memegang kitab suci Alquran sembari membaca dengan dibimbing seorang Ustaz....
...Beberapa detik kemudian datang 3 anak mengucapkan salam dan menyalami tangan ustad....
...“Ahan, Dana dan Iwan nggak salat magrib di masjid? Dan Kenapa lambat? " tanya Ustadz kepada mereka bertiga....
...Mereka hanya nunduk, diam tak bersuara dan saling menyenggol lengan nya....
...“Hei jawab!”...
...“Eh iya ustad.” Ucap pelan mereka bersamaan. ...
...“Dan tadi karena kami masih mandi di danau tad.” Tambahnya Dana....
...“oh yaudah adek Ahan, Dana dan Iwan dipersilakan berdiri dulu ya? Sampai ngajinya selesai!” suruhnya sang ustad tak kala pelan dan lembut kepada meraka. Ketiganya pun menuruti walau terasa sangat malas. ...
...“Ustad.. Saya mau bertanya?” Dana mengacungkan tangan untuk bertanya. ...
...“Yak lanjut Dana!” ucap sang ustad. ...
...“Ustad apakah benar manis itu pertemuan dan pahit itu perpisahan?”...
...Sang ustad tidak langsung menjawabnya. Sedikit lama mencerna Kemudian mulai bersuara....
...“Ya Dana.. Hal itu benar. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Kiai saya di pondok, kiai Tohir pernah berdalih “Jika anda merasakan manjanya pertemuan maka anda akan merasakan pahitnya perpisahan.” Jeda sekejap sang ustad. ...
...“Artinya Tad?” seloroh Iwan....
...“Nah artinya.. Manis dalam pertemuan itu identik dengan adek-adek bila sudah bertemu seseorang kemudian kenal, akrab dan selalu bersama, saling mencintai dan menghargai itu di katakan manis. Lah kenapa manis? Karena hati adek-adek sudah dibuat bahagia bersamanya. Ibarat Ahan, Iwan dan Dana. Mereka bahagia terus. Yak kan Dek Han, Wan Dan?” ...
...Mereka bertiga mengangguk bersama....
...“Terus untuk pahit Tad?” lagi-lagi Iwan menyeloroh. ...
__ADS_1
...“Pahit itu jika adek berpisah dengan seseorang tadi. Seperti ustad tigas, terutama saya ... Yang hampir berpisah dengan Adek-adek nih. Itu pahit. Kenapa pahit? Ya karena bila sudah berpisah adek-adek pasti merasa sedih. Betulkan?”...
...“Betul Tad.” Jawab kompak bersamaan....
...“Tapi kalau saya bahagia kok Tad” sanggah Iwan, membuat sorot mata tertuju padanya. ...
...“Iya lah.. Bahagia. Karena iwan kan gak punya rasa sedih, bahagia terus kayak orang setengah kepala tuh(gila)” Balas sang ustad dengan gurau. ...
...“yahaahahaa” anak-anak tertawa geli. ...
...“em.. Tapi ustad Agan tidak percaya kalau nanti kami, Ahan, Dana Iwan akan berpisah. Karena kami selalu bersama dan bahagia dan berjanji sampai tua , punya anak, dan anak kita juga bersama. Ya kan Wan, Dan?” ucap jelas Ahan sambil saling tos tangan dengan dua sahabatnya. ...
...Sang ustad hanya menggelengkan kepala....
...“HP iya sekarang .. Nanti kalin akan merasakannya. Biarlah waktu Terus menemani dan yang akan menanti” ujar sang ustad lalu menutup pertemuannya dengan menyuruh anak-anak membaca doa setelah belajar....
...“kita tak kan berpisah oke” lirihnya kali ini Iwan. ...
...“yup” balas Ahan dan Dana. ...
...Waktu terus berputar mengikuti porosnya. Detik berlalu menjadi menit. Menit berlalu menjadi jam. Jam pun menjadi hari. Hari-hari berganti menjadi bulan dan bulan pun kini menjadi tahun. 2 tahun kemudian, masing-masing tiga anak kecil yang tidak percaya akan perpisahan, kini sudah tidak lagi bersama. Sebab pijakan pijakan kaki mereka berbeda-beda menyusuri masa depannya. Dengan pasti rasa pahit perpisahan telah dirasakan oleh mereka bertiga Ahan, dana dan Iwan....
...2022...
...Aku yang dulunya berkata"kita tidak akan berpisah, kita harus bersama sampai tua punya anak, anak kita juga harus bersama berteman bersahabat" ini mungkin hanya perkataan belaka yang dibuat pahit dan dibuat Kesan Indah bagi pikiran engkau kawan Iwan dan dana....
...Begitu juga engkau kawan Iwan dulu berkata"kalau kita berpisah Maka aku harus mati"" dan aku juga harus mati"timpalnya juga Dana, mungkin hal itu hanya kenangan kenangan indah bagi fikiranku....
...Teruntukmu Iwan dan dana Tetaplah menjadi seorang yang aku kenal....
...BIONARASI...
...Nur Hasan di panggil HASAN atau AHSAN. Pria berkulit putih, blasteran Jawa Madura, yang hobi 2M 1o (menulis, membaca) (olahraga) ini berasal dari kota jember yang sekarang tinggal di sebuah desa kecil bejuta cerita yang berada di Pamekasan Madura Jawa timur. Be kelahiran tanggal 25 April 2004. Masih aktif sebagai siswa Ipa MA MAMBAUL ULUM BATA-BATA. Jika ingin akrab Anda bisa menyapanya di no wa 085236281802 dan fb\ig San elqhoyry ...
... ...
... ...
... ...
__ADS_1
... ...