
Pov Riana
Malam harinya Riana pun makan bersama dengan Hadi, Siska beserta kedua putrinya, seperti anak sulung bukan dirinya disini.
Sengaja Siska mengajak semua untuk makan bersama,dan malam ini Siska membiarkan Hadi untuk tidur dengan Riana, agar mereka semakin dekat dan Riana memberikan penerusnya Hadi.
"Ibu masakannya enak, apakah tante Riana yang memasaknya" Sasya memang cukup dekat dengan Riana ya mungkin cocok lah menjadi anaknya.
"Iya enak kan masakannya sayang, ayo habiskan" Siska pandai untuk merayunya bahkan kedua putrinya sangat lahap menikmati masakan Riana.
Sedangkan Hadi menatap istri-istrinya yang duduk bersebelahan hanya tersenyum manis, entah apa yang pernah ia impikan hingga memiliki istri dua seperti ini.
"Benar-benar pintar masak, sudah cantik multitalenta lagi beruntung saya menikahi kamu Riana" Hadi bergeming dalam hati.
Setelah selesai makan, Riana ingin membereskannya tapi Siska melarang, dia menyuruh Riana untuk masuk ke kamarnya, Riana pun menurut dengan perkataan Siska ia langsung memasuki kamar.
"Sasya Maura ibu tidur sama kalian ya, ibu pengen tidur sama kalian nih" dengan nada manja kepada kedua putrinya,lalu kedua putrinya menganggukkan kepalanya.
Siska memberikan kode kepada Hadi untuk memasuki kamar Riana, ada apa dengannya mengapa dia menyuruh Hadi untuk sekamar dengan Riana.
Riana yang tau akan kehadiran Hadi, langsung saja menaruh buku yang barusan ia baca, apakah malam ini harus tidur dengannya aduh kenapa gugup sekali.
"Suka baca buku ya, kapan-kapan kita ke Gramedia ya" Hadi yang tau bahwa istrinya mengoleksi beberapa buku pun berniat akan mengajaknya keluar.
"Bapak ngapain disini, harusnya kan dikamar mbak Siska pergi sana" apa bapak lucu sekali sedangkan mereka adalah suami-istri.
"Terserah saya dong mau tidur dimana,ini rumah saya lagian" mentang-mentang rumahnya berkata seperti itu.
"Yaudah tidur aja di kamar ini, saya mau tidur diruang tamu" Riana beranjak dari tempat tidurnya,tapi ingin membuka pintu kenapa pintunya terkunci.
__ADS_1
Sengaja Hadi kunci agar tidak ada yang mengganggunya,ini adalah waktu berdua untuk mereka agar lebih dekat dan romantis seperti pengantin baru.
"Loh, pak kenapa dikunci buka dong saya mau keluar" Riana menghentakkan kakinya,merasa kesal dengan ulah suaminya itu.
"Ambil aja sini, ayo ambil" bagaimana mengambilnya sedangkan tingginya saja mencapai 185 sedangkan Riana hanya 155, mustahil Riana mendapatkan kunci itu.
"Saya tidak sampai pak, ayo berikan kenapa juga sih harus digituin" bukanya panik justru Hadi malah terkesima melihat istrinya yang cemberut.
Hadi mendekati Riana, hingga tubuh Riana pun berada di penghujung tembok, apa ini Hadi semakin dekat hingga tidak ada jarak diantara mereka.
Hadi mengendong tubuh Riana dan menidurkan nya di ranjang, dan kunci kamar sengaja Hadi taruh pada ketinggian yang tidak mungkin Riana jangkau.
"Dasar pria tua mesum, lepasin" Riana yang tidak bisa lepas dari pelukan Hadi pun merasa kesal, bagaimana tidak pelukannya erat sekali hingga membuatnya sulit bernafas.
"Hei pria tua ini suamimu, yang akan memberikan bayi disini sayang" Riana yang dipanggil sayang pun merasa geli, bagaimana tidak jarak mereka 16 tahun.
"Lepas pak, saya ingin tidur di sofa" Riana memberontak pun percuma tenaga suaminya sangat kuat.
Benar saja Hadi melakukannya lagi, ini adalah kedua kalinya mereka melakukan, Hadi berharap hadirnya anak di pernikahannya dengan Riana.
Hingga keesokan harinya, dimana pagi hari yang sangat terik kedua pasangan suami-istri itu masih saja tidur pulas dengan posis yang saling berpelukan dalam satu selimut yang tebal.
Riana yang bangun terlebih dahulu, ia segera ke kamar mandi untungnya tidak se nyeri saat awal mereka lakukan, sedangkan Hadi yang mendengar gemericik air langsung saja menyusul di kamar mandi sayangnya tidak dikunci oleh Riana.
"Keluar pak, saya ingin mandi kenapa bapak malah masuk" Riana mencoba mendorong Hadi, tapi sayangnya pintu dikunci lagi.
"Sekali lagi memanggil saya bapak, kamu akan mendapatkan hukuman sayang " Hadi merebut shower ditangan Riana, sangat lama bukan mandi 1 jam, setelah itu mereka siap-siap.
"Hmm mas mau kemana" Riana yang kepo akan kesehariannya akhirnya bertanya juga.
__ADS_1
"Mau ke sawah dan kebun,ngecek gimana hasil panen dan bibit yang datang kenapa kangen ya" sengaja menggoda istri mudanya, tersipu malu kan.
"Saya boleh ikut, dirumah bosen boleh ya" semoga saja dibolehin,Hadi pun mengangguk artinya Riana boleh ikut dengannya.
Mereka turun secara bersamaan, Sinta melihat keduanya sangat senang tanda-tanda mereka sudah dekat bukan.
"Mbak saya ikut mas Hadi ya, gpp kan mbak saya bosen dirumah" Riana berpamitan kepada kakaknya itu ya walaupun bukan kan.
"Boleh dong,nih udah aku siapin makan siang buat kalian berdua ayo sarapan dulu anak-anak udah berangkat tadi, maaf ya kalian sarapan berdua soalnya aku udah makan sama anak-anak" Sinta meninggalkan mereka berdua, Hadi dan Riana hanya saling bertatapan di meja makan, bagaimana untuk memulainya ini.
"Mau saya ambilkan mas, atau mau ambil sendiri " lancang sekali Riana menawarkan aduh semakin saja hubungan ini.
"Boleh, mau dong dilayani istri sendiri " Riana pun mengambilkan makanan untuk Hadi, dah setelah itu mereka makan bersama, selesai makan Riana membereskannya.
Ternyata Hadi tengah memanasi motornya, mereka mengendarai motor untuk pergi ke kebun, diperjalanan banyak warga yang menatap mereka.
"Oh ini yang merebut pak Hadi" kata warga yang sedang membeli sayuran.
Wajah Riana berubah ketika mendengarnya, bagaimana ini dirinya di cap sebagai pelakor, Hadi meliriknya ia paham apa yang sedang Riana rasakan.
"Jangan dipikirkan ayo kesana" ajak Hadi Riana hanya membututi suaminya itu, ternyata menyenangkan berada di kebun.
"Mau metik teh atau buah" metik teh seru memanen buah juga seru tapi kalau berdua sepertinya lebih seru.
"Mas temenin kan tapi, gak mungkin dong sendirian" Riana mencoba pendekatan dengan Hadi, walaupun ia agak takut dengan suaminya ini.
"Ayo, mau tetep disini aja" tanpa disangka tangan Hadi memegang tangan Riana, kenapa sangat nyaman tidak ingin Riana lepaskan seperti ini, tapi tiba-tiba Hadi melepaskannya, kecewa sungguh kecewa seperti ini.
"Padahal nyaman tapi kenapa dilepas seperti itu" Riana menatap telapak tangannya bekas dipegang suaminya itu.
__ADS_1
"Kenapa cemberut,ayo jalan" lagi lagi Riana hanya diam saya Hadi bertanya ada apa dengannya.
"Kenapa dilepas, pegang lagi mas saya gak mau dilepas" semakin aneh tingkah laku Riana, membuat Hadi geleng-geleng kepala, Hadi pun mengandeng tangan Riana lagi lalu mereka berjalan beriringan,banyak pekerja yang menatap ke arah mereka, bagaimana tidak yang ia tau istrinya Hadi adalah Siska bukan Riana.