Sekilas Takdir

Sekilas Takdir
Omongan Tetangga


__ADS_3

Riana yang masih berada di kebun, tiba-tiba saja ada ibu-ibu yang menghampirinya, ada apa ini kenapa mereka sinis saja ke Riana.


"Duh masih muda kok mau sih jadi istri kedua, tega banget merebut suami orang mbak" jika tidak terjadi kesalahan pada waktu malam itu mana mungkin dia akan menikah dengan Hadi.


"Iya nih, jadi simpanan kok bangga gak kasihan sama anak dan istrinya" siapa yang mau diposisi seperti ini yang selalu dianggap remeh oleh orang-orang bahkan keluarganya sendiri.


"Cari aja yang bujang mbak, jangan cari suami orang apa karena pak Hadi kaya jadi mau, mau sama duitnya aja" Riana yang dicaci-maki hanya diam benar perkataan orang jika disini dirinya yang salah.


Tiba-tiba Hadi berada di depannya, bahkan ia menatap tajam ketiga ibu-ibu yang ada didepannya ini sudah puas kah menghina istrinya.


"Apa kalian semua tidak ada pekerjaan hingga mengurusi rumah tangga kami, asal anda tahu hubungan saya dan istri saya sangat baik-baik saja, dan istri muda saya tidak pernah merebut saya dari Sinta, ingat itu baik-baik jika saya dengar kalian menghinanya lagi saya tidak akan tinggal diam" seharusnya tidak perlu Hadi membela Riana, karena disinilah dia yang salah jika tidak ada kejadian itu mungkin hidupnya masih aman saja.


"Pak, istri salah kok dibelain sih" ibu bertiga meninggalkan Hadi dan Riana, untuk apa mendengarkan orang yang tidak tau akan cerita mereka.


"Kenapa membelaku,benar kata orang saya disini yang salah mas lihatlah keluarga saya juga membenci saya bahkan mengusir saja apa anda paham apa yang saya rasakan, bahkan keluargamu juga membenciku kan" Riana menjauh dari hadapan Hadi, bagaimana caranya membuat Riana diterima di keluarganya lagi.


"Cukup, saya akan usahakan agar keluargamu menerima kamu lagi dan sebaliknya keluarga ku menerima mu sebagai menantu" tak bisa Riana bendung air mata ini, bagaimana kecewanya kedua orangtuanya bahkan dianggap rendah oleh orang-orang sekitar, lalu siapa yang akan mempercayainya.


"Jangan menangis Riana, saya gak mau kamu putus aja hanya gara-gara omongan orang seperti ini, lihatlah ini hanya rintangan semata selanjutnya pasti akan ada rintangan yang lebih berat" jujur saja Hadi tidak tega melihat Riana yang menangis di depannya,ia hapus air matanya dan ia dekat tubuh mungil Riana.


Bagaimana bisa pelukan sehangat ini bisa Riana lepaskan,tapi ini di muka umum bagaimana jika ada yang melihat mereka.

__ADS_1


"Saya rindu orang tua saya mas, tapi saya mau pulang takut" menyakinkan orang tua adalah hal yang paling sulit bagi Riana, setelah dirinya di usir bagaimana bisa ia kembali ke rumah.


"Ayo pulang dulu ya, besok kan Sabtu-Minggu kita bicarakan lagi" Hadi mengajaknya untuk pulang, namun dirumah sepi Siska mengabarkan bahwa dia dan anak-anak menginap dirumah orang tua Siska.


"Mas kok sepi, dimana mbak Siska dan anak-anak" Riana mencarinya di dapur namun kosong, dimana mereka biasanya ada di dapur tapi dapur saja kosong.


"Mereka menginap dirumah orang tua Siska, jadi kemungkinan seminggu dan anak-anak akan berangkat dari rumah neneknya" katanya orang tua Siska hanya berjarak 2 jam, lalu sekolah anak-anak bagaimana.


Apakah anak-anak akan bolos sekarang, masak iya dia dirumah saja berdua dengan Hadi, semakin canggung ketika hanya berdua dirumah Hadi.


"Mas saya tidur duluan ya, ngantuk banget lagi mana capek"Riana meninggalkan Hadi yang masih menonton televisi itu.


Riana yang sudah tertidur pulas, tidak tau akan kehadiran Hadi dan Hadi langsung saja tidur di sampingnya, sepertinya istrinya kecapekan sampai tidur lama.


Omg ternyata Riana sedang datang bulan, lihatlah seprei ada noda merah, sedangkan Riana masih saja tertidur pulas, Hadi membangunkannya karena merasa ada yang aneh.


"Bangun, lihatlah kamu sedang haid ya" Hadi melirik seprei yang ada darah sepertinya tembus kan.


"Astaga, iya kah mas minta tolong beliin pembalut ya soalnya udah habis stoknya" Riana mencoba duduk walaupun akan meninggalkan bekas di seprei nya.


"Siska aja gak pernah nyuruh saya, dan kamu berani-beraninya nyuruh saya Riana" Hadi beranjak dari tidurnya langsung menuju supermarket depan rumah, iya dia membelikan beberapa pembalut entah merk apa yang Riana pakai bahkan Hadi tidak tau apa yang istrinya pakai.

__ADS_1


Hadi membawa dua keresek yang berisi pembalut dan satu lagi berisi snack, iya jadinya tiga kresek entahlah Hadi kemungkinan memborong semua.


Riana sudah menganti seprei yang lama dengan seprei yang baru, dah tak lupa ia menyemprotkan parfum ruangan yang baunya kopi, Hadi masuk ke kamar mereka sangat suka dengan bau parfum ini.


"Mas apa yang dibawa, kenapa tiga kresek ini" Riana segera mengambil pembalut dan memasuki kamar mandi, ia lega karena ia datang bulan dan artinya dia tidak hamil anak Hadi sedangkan dia tidak meminum obat pencegah kehamilan.


"Sudah, yakin tidak tembus seperti tadi" secara juga hari pertama wajar saja Riana tidak mengetahuinya.


"Kok pengen makan, bakso mie yang pedes ya mas di perempatan kan ada ya mas, kita beli disitu yuk mas makan ditempat" Riana mengajak Hadi untuk makan bakso mie yang pedas, awalnya Hadi mencegahnya untuk makan pedas tapi kan apa salahnya juga.


Setelah selesai makan bakso keduanya menonton televisi bersama, hingga hari larut malam Riana berpamitan untuk tidur terlebih dahulu Hadi pun langsung mematikan televisinya, tak lupa untuk mengunci rumah dan kamar kan.


"Loh mas kok tidur sini, saya kan lagi libur" Riana menolak kedatangannya,tapi bagaimanapun Hadi disini sendirian kan.


"Tenang saya akan puasa selama seminggu,dan selesai itu akan saya minta lagi jatah saya pokok sampai kamu isi saja, lagian saya hanya mau tidur memeluk kamu saja emang gak boleh" Hadi tidur menghadap ke Riana memeluknya, di pagi hari Riana merasakan perutnya yang nyeri memang seperti ini saat Riana awal-awal haid.


"Kenapa sakit sekali, bagaimana aku ingin memasak jika perutku saja nyeri" Hadi yang mendengarnya pun langsung bangun, bagaimana tidak Riana terlihat pucat dan memegangi perutnya terus-menerus.


"Astaga Riana, apa yang terjadi" Hadi semakin panik, tapi Riana justru menenangkannya dia mengatakan ini adalah hal yang biasa.


Syukurlah tidak perlu ada yang dikhawatirkan, Hadi mengelusi perut Riana yang sedang nyeri karena datang bulan itu, dan nyerinya sedikit mereda berkat elusan tangan Hadi.

__ADS_1


"Apakah ini meringankan nyeri diperut" Hadi semakin telat mengelus perut Riana, bahkan hingga Riana tertidur lagi.


"Mungkin kehidupan saya, jika tidak bertemu denganmu tidak akan berwarna dan berubah, kamu perempuan yang masih muda sedangkan saya sudah sangat cukup umur, mengapa takdir mempertemukan kita dengan cara yang mungkin membuat kamu menyesalinya" Hadi mengecup kening Riana lalu kembali tidur memeluk Riana.


__ADS_2