
Pada akhirnya setelah selesai menempuh pendidikan, Shireen kini sudah kembali ke rumahnya dimana rumah yang ia tinggalkan selama 5 tahun ini, lihatlah masih sama hanya saja cat sudah berbeda.
Dimana kedua orangtuanya dan abangnya, apakah masih tidur tapi ada mobil yang terparkir oke kali ini Shireen yang akan membuat suprise, Shireen menyamar menjadi satpam kompleks agar mereka tidak curiga.
"Apa ada orang dirumah ini, jika ada keluarlah saya ingin mendata jumlah penduduk disini" oke gaya Shireen sudah bagus dan keluarlah mama, mama yang Shireen rindukan ingin sekali dia memeluknya tenang sabar Shireen.
"Tapi baru saja kemarin petugas mendata kami pak, apa bapak tidak salah" tanya mama Fania terjebak juga mama masak percaya sih.
Setelah perdebatan yang sekian lama membuat mama Fania jengkel, dia memanggil papa untuk menghadapi aku, oke kini papa Arisko tapi tidak tega jika terus seperti ini.
Setelah mereka masuk Kerumah, barulah Shireen memasuki ruang ganti iya dia dandan seperti Shireen agar mereka mengenalnya, Shireen mengetuk pintu rumah dan keluarlah mama.
"Shireen anakku, ini beneran kamu nak" mama Fania tidak percaya akan apa yang ia lihat, di depannya ini adalah putrinya kenapa tidak bilang jika dia akan pulang.
"Mama gak mengenali putri mama, oke Shireen kembali aja deh" baru saja Shireen ingin menyeret kopernya mama sudah memeluknya.
"Masuk nak, jangan tinggalin mama papa lagi mama merindukanmu nak" tangis bahagia yang mama Fania rasakan atas kepulangan putri bungsunya, bagaimana tidak setelah sekian lama akhirnya mereka bisa berkumpul kembali dirumah ini.
"Shireen,ini beneran Shireen anak papa" papa Arisko memelukku, bahkan aku juga mengeratkan pelukannya, papa yang selalu ada saat aku susah maupun senang.
"Apa ini beneran Shireen,dek kamu pulang abang kangen sama kamu" Varis tak kuasa menahan air matanya, kepulangan adiknya sangat membuat kejutan bagi keluarga karena tidak ada dia mengabari nya.
"Abang, aku mengabari kak Aulia bahkan dia tau atas kepulangan ku" memang Shireen sangat akrab dengan kakak iparnya itu, bahkan sudah seperti bestinya sendiri.
__ADS_1
"Maaf, Shireen sengaja membuat suprise untuk mama papa" Aulia merasa tidak enak karena sudah membohongi mertuanya bagaimanapun dosa juga ini gara-gara Shireen.
Shireen menatap anak perempuan itu, sepertinya dia adalah keponakannya bukan anak dari bang Varis, cantik sekali mirip dengan bang Varis, dia adalah Dhea Tiara Zia Sabira Varischo, sekarang usianya sudah 10 tahun astaga dulu saat Shireen berangkat dia masih sangat lucu.
"Dhea, tante rindu astaga makin cantik aja" Dhea memeluk Shireen dengan erat, bahkan Dhea juga dekat dengan Shireen seperti anak dan ibunya.
"Tante makin cantik aja, idaman para siapa nih" sengaja Dhea menggoda tantenya itu, tapi lihatlah ada anak perempuan yang berusia 5 tahun, siapa dia yang sedang bermain dengan keponakannya yang berusia 5 tahun juga.
Devano Arka Tristan Ahmad Varischo, dia adalah keponakan ku kedua setelah Dhea, tampan seperti bang Varis, tapi lihatlah dia lebih mirip kak Aulia.
"Ini onty Shireen, cantik kayak papa" lagi dan lagi Devano memuji Shireen, jadi malu kalau seperti ini lalu anak perempuan itu siapa.
Shireen masih bertanya-tanya akan kehadirannya, tidak pernah Shireen tau bahwa abangnya memiliki sepasang anak kembar, tapi sepertinya bukan.
Akbar seperti tidak asing menatap perempuan itu, sepertinya mereka pernah bertemu tapi dimana dan siapa dia mengapa dia sangat akrab dengan keluarga ini.
"Nak Akbar pasti kaget melihatnya bukan, dia adalah putri bungsu papa yaitu Shireen murid kamu dulu" papa Arisko mengenalkan Shireen lagi dengan Akbar, oh tidak apa mungkin ini adalah sebuah pertanda bahwa Akbar sedang sendiri.
"Astaga, Shireen sudah sangat berubah dia tumbuh menjadi perempuan yang dewasa dan mandiri, lihatlah kecantikannya bahkan lebih cantik dari mamanya sendiri, apakah dia sedang sendiri ataupun sudah mempunyai calon suami, jika kami ditakdirkan untuk menjadi bersama maka aku siap memiliki hatinya " Akbar bergeming sendiri dalam hati.
sama-sama masih terpaku satu sama lain, masih saling bertatapan karena sangking lamanya tidak berjumpa, jadi Akbar sudah menikah dan mempunyai anak oh syukurlah dia bisa mohe on dari Shireen.
"Apa kabar Shireen, sehat-sehat kan" Akbar mulai basa-basi untuk memecahkan suasana yang hening saat ini, ya walaupun terlihat agak canggung ketika mereka bersama.
__ADS_1
"Seperti yang anda lihat pak Akbar, saya baik-baik saja dan sehat silahkan duduk jangan mematung disana" jika ditanya apakah Shireen masih dendam, jawabannya tidak mengapa dia harus dengan kepada Akbar toh udah lama juga.
Seorang anak perempuan kecil, menghampiri Akbar dan memanggilnya papa iya dia adalah putri kecil Akbar dengan Eva, awalnya mereka tidak saling cinta namun perlahan cinta juga hadir diantara keduanya, Raissa Vitalia Sandra Akbar nama putri kecil Akbar.
"Papa tante ini cantik ya, lebih cantik dari mama sayangnya Raissa tidak tau dimana mama" apa yang Shireen dengar dan lihat tidak salah dimana istri Akbar sebenarnya apa masih ada atau tidak jika ada mana mungkin anaknya disini.
"Dhea tau sama dia, memang sering disini ya selama tante diluar negeri" kini Shireen berbisik-bisik dengan Dhea Keponakannya bahkan Dhea juga paham apa yang ditanyakan oleh tantenya itu.
"Boleh saya mengajak Shireen untuk keluar om, mungkin di taman dekat komplek saja jika diizinkan" Akbar mengajak Shireen untuk keluar, awalnya ia menolaknya tapi karena papa yang menyuruhnya mau tidak mau Shireen pun mengiyakannya.
Berdua tanpa putri kecilnya, mereka jalan kaki saja toh untuk apa naik sepeda taman komplek saja sangat dekat dengan rumahnya.
"Kamu stay disini saja " tanya Akbar dia membelikan Shireen es krim yang mungkin Shireen akan menyukainya.
"Iya stay disini lah pak ngapain saya pulang kalau gak mau stay disini, ya kerja disini" Shireen yang menerima es krim tersebut tak lupa mengucapkan terimakasih kepada Akbar, banyak yang Akbar tanyakan bahkan tentang hubungannya dengan Farhan.
Sangat kepo bukan emang dia kepo, setelah sudah mulai malam Akbar mengajaknya pulang malas sekali jalan berdua dengannya, apalagi setelah dia menikah dengan Eva membuat Shireen semakin benci akan Akbar.
"Panggil saya Akbar saja jangan bapak" apa Akbar terlalu tidak sopan bagi Shireen.
"Bagaimana sih ya harus tetap pak Akbar lah, kan anda guru saya mana mungkin saya memanggil nama saja, yaudah itu gampang mau bapak kek atau papa itu terserah" Shireen sudah semakin jengkel dengan Akbar dan lihatlah Akbar malah terkekeh melihat Shireen yang kesal.
"Iya papa dari anak-anak kita" apa tidak salah dengar papa dari anak-anak kita, omg jangan sampai hal ini terjadi jika terjadi kemungkinan Shireen tidak akan menerima takdirnya.
__ADS_1