
Anaya tersenyum senang ketika Gerlad menyetujui dengan tawaran guru musik mereka tempo hari yang lalu.
Anaya dan Gerald saat ini sedang berada di ruang musik selama jam istirirahat sekolah.
"Tapi, kedua orang tuamu bagaimana, Rald? Kata kamu mereka tidak akan pernah menyetujuinya?" tanya Anaya.
"Santai saja, Nay," jawab Gerald meyakinkan Anaya agar tidak terlalu cemas.
Anaya mengangguk sambil mengulas senyum tipis. Untuk sesaat mereka saling diam. Anaya dan Gerald larut dalam pikirannya masing-masing, lalu mereka saling melirik. Saling mengagumi antara satu sama lain.
Tiba-tiba rasa canggung menghampiri mereka berdua.
"Emh ... Aku balik ke kelas dulu," ucap Anaya seraya beranjak dari duduknya.
"Tunggu, Nay!" Gerald reflek menarik tangan Anaya hingga membuat gadis itu terjatuh ke atas pangkuannya.
"Ahkk!" pekik Anaya lalu segera bangkit dari atas pangkuan Gerald.
"So-sory, Nay," ucap Gerald terbata, wajahnya bersemu merah, merasa malu luar biasa.
"I-iya. Aku ke kelas dulu." Secepat kilat Anaya segera keluar dari ruangan tersebut sembari menangkup kedua sisi wajahnya yang sudah semerah tomat. Lalu meraba dadanya yang di dalam sana jantungnya berdegup tidak beraturan.
"Kamu kenapa, Nay?" tanya Ica ketika melihat temannya itu duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Nggak apa-apa," jawab Anaya, sambil menutupi wajahnya yang menghangat dan ia yakin jika wajahnya masih merona.
"Kamu kepedasan? Wajahmu merah," ucap Ica lagi, semberi memiringkan kepalanya menelisik wajah Anaya yang bersemu merah.
"I-iya, aku habis makan seblak," jawab Anaya asal, agar Ica tidak banyak bertanya lagi.
"Oh, pantas saja," ucap Ica, lalu berpesan, tidak memperbolehkan Anaya memakan makanan yang pedas lagi.
Sedangkan Gerald yang masih berada di ruang musik tersenyum mesem sendiri. Bagaimana bisa dirinya sangat lancang, berani menyentuh tangan Anaya dan lebih parahnya, gadis itu sampai terjatuh di atas pangkuannya.
Mengingat hal itu dada Gerald berdetak tidak karuan.
"Aku jatuh cinta dengan dia?" gumam Gerald.
*
*
Angel tersenyum iblis ketika selesai membaca berkas yang di berikan oleh orang suruhannya.
"Ternyata dia hanyalah seorang gadis tunarungu? Menyedihkan sekali," ucap Angel tersenyum miring.
"Sebentar lagi lo akan hancur berkeping-keping, gadis tuli!" geram Angel, pandangannya menatap lurus ke depan dan memancarkan sebuah kebencian dan dendam yang membara.
__ADS_1
Pintu kamar rawat inapnya di ketuk dari luar. Angel segera menyembunyikan berkas yang ia pegang ke bawah bantalnya.
"Sayang, Mama dan Papa datang," ucap Mama Angel yang datang bersama Ayahnya.
"Mama kenapa baru datang?" tanya Angel dengan nada manja.
"Maaf, tadi Mama menemani Papa menghadiri pesta pernikahan rekan bisnisnya," jawab Mama Angel.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya sang Papa kepada putrinya.
"Sudah lebih baik," jawab Angel tersenyum tipis.
"Papa harap setelah kamu sembuh jangan pernah berurusan lagi dengan yang namanya Anaya, dan juga kamu harus meminta maaf kepadanya," terang Papa Angel kepada putrinya.
"Cih! Aku tidak sudi!" batin Angel.
"Iya, Papa sayang," jawab Angel dengan terpaksa.
"Bagus, ini baru anaknya Papa yang cantik dan baik," ucapnya sembari mengelus pucuk kepala putrinya dengan penuh kelembutan.
Angel dalam hati mengutuki Anaya. Kenapa kedua orang tuanya sampai merasa takut dengan gadis itu. Apa kelebihannya?
Dia hanyalah gadis tuli! geram Angel di dalam hati.
__ADS_1
Angel mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.