
Sepulang sekolah, Anaya mengajak Ica untuk main ke rumahnya.
"Kamu yakin mau membonceng di motor aku?" tanya Ica kepada Anaya.
"Yakin banget, Ca," jawab Anaya.
"Tapi, pegangan dengan erat ya." Ica takut kalau Anaya jatuh dari motor.
"Siap," jawab Anaya segera duduk di belakang Ica, dan memegangi pinggang temannya itu.
Sepulang sekolah, Anaya mengajak Ica untuk main ke rumahnya.
Ica melajukan motornya dengan perlahan, keluar dari pintu gerbang sekolahan tersebut.
"Kasih tunjuk jalannya ya, Nay," ucap Ica sedikit keras.
"Iya, kamu lurus saja, nanti ada pertigaan lampu merah belok kiri," jawab Anaya sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, agar Ica bisa mendengar suaranya.
Maklum di jalan raya sedang padat, suara kendaran dan klakson bersahutan, membuat mereka harus berbicara lebih keras dari biasanya.
Dari belakang Gerald dan Lucky mengikuti kedua gadis itu.
"Ngapain sih Rald. Kayak nggak ada kerjaan saja jadi penguntit kayak gini," keluh Lucky sambil berdecak kesal.
"Lo kalau mau pulang, pulang saja sana," ucap Gerald ketus.
"Susah kalau ngomong sama orang yang sedang jatuh cinta!" cibir Lucky.
__ADS_1
"Bacot!" umpat Gerald, sedikit mempercepat laju kendaraanya, agar tidak ketinggalan jejak Anaya.
Sebagai sahabat sejati, Lucky tetap mengikuti Gerald walau pun dalam hati dongkol.
*
*
Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, akhirnya Motor yang di kendarai Ica memasuki perumahan Elit.
Gerald menghentikan motornya di dekat pintu gerbang perumahan itu, begitu pula dengan Lucky.
"Udah gitu doang? Kenapa nggak di samperin saja sekalian?" tanya Lucky, mendengus ketika Gerald tidak berkedip melihat punggung Anaya yang semakin menjauh.
"Nggak. Gue 'kan cuma memastikan keselamatan Anaya," jawab Gerald, membuat Lucky tercengang.
"Asli banget lo bikin gue naik darah tahu nggak!" geram Lucky dengan logat khas jawanya.
"Fiks! Kena Virus bucin dia!" kesal Lucky.
*
*
"Nay, ini rumah kamu?" tanya Ica, berdecak kagum ketika dirinya memasuki rumah yang megah, dan super mewahb itu.
"Iya," jawab Anaya terkekeh geli saat melihat bibir Ica terbuka dengan lebar.
__ADS_1
Ica seperti memasuki sebuah istana. Ia tidak menyangka jika Anaya adalah seorang Crazy Rich.
Ica mengedarkan pandangan di seluruh rumah tersebut. Matanya terhenti pada foto pernikahan Aiden dan Gwen yang terbingkai dalam figuran yang sangat besar terpajang di dinding ruang tamu. Di sebelah figuran besar itu, terdapat foto keluarga Clark.
"Nay, ini siapa? Kok mirip dengan Tuan Aiden?" tanya Ica menunjuk foto yang seorang pria wajahnya sangat mirip dengan Aiden.
"Oh, itu Daddy Nathan," jawab Anaya.
Ica menganggukkan kepala, dapat menyimpulkan jika Aiden mempunyai kembaran.
"Kembar identik ya?" tanya Ica.
"Daddy aku kembar empat. Ca," jawab Anaya lalu menunjuk satu persatu saudara kembar Aiden yang ada di foto keluarga itu.
"Bingung aku," ucap Ica sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jangan di pikirkan. Ayo, ke kamar aku," ajak Anaya.
"Nay, ini sungguh tidak apa-apa kalau aku main ke sini?" tanya Ica berjalan mengikuti Anaya dari belakang.
"Iya, sebelumnya aku sudah bilang saam Mommy dan Daddy," jawab Anaya.
"Bi, buatkan minum untuk teman aku. Jangan lupa cemilannya juga, antar ke kamar aku ya," seru Anaya kepada salah satu pelayan yang kebetulan melintas menuju dapur.
"Iya, Nona," jawab Bibi.
"Naya, jangan repot-repot. Aku nggak lama mainnya," ucap Ica tidak enak hati, mengikuti Anaya yang menaiki anak tangga.
__ADS_1
"Santai saja. Mommy sedang ikut Daddy ke kantor. Mereka sebentar lagi pulang. Kamu harus kenalan dengan Mommy aku," jawab Anaya.
"Iya," jawab Ica, patuh.