
"Bye, Ica. Lain waktu main ke sini lagi ya," ucap Anaya kepada temannya itu sembari melambaikan tangan kanannya kepada Ica yang sudah melajukan motornya keluar dari gerbang rumahnya.
"Kenapa kamu tidak menyuruh sopir untuk mengantarkan Ica pulang?" tanya Aiden yang bergabung bersama anak dan istrinya di dekat pintu rumah.
"Tadi sudah di tawarkan, tapi dia menolak, Dad," jawab Anaya, sembari berjalan masuk ke dalam rumah.
"Tapi, ini sudah malam hari loh," terang Aiden lagi.
"Daddy kenapa jadi perhatian?!" judes Gwen kepada suaminya.
Aiden menjadi gelagapan, bukan karena salah tingkah namun ia merasa di curigai oleh istrinya karena kejadian sore tadi, di mana ia bertelanjang dada.
"Sayang, bukan seperti itu maksudku. Dia perempuan, sama seperti Anaya. Bayangkan kalau putri kita berada di posisi Ica. Apa kamu akan membiarkan pulang sendiri di malam hari seperti ini?" jelas Aiden, seraya merangkum pundak istrinya dengan mesra, menuntun istrinya itu masuk ke dalam rumah.
"Benar juga. Aku tidak akan membiarkan Anaya pergi sendiri di malam hari seperti ini," jawab Gwen, setelah beberapa saat terdiam mencerna ucapan suaminya.
"Kamu tidak sedang cemburu 'kan?" tebak Aiden, kepada istrinya.
"Daddy oh Daddy, mana mungkin aku cemburu kepada anak kecil," jawab Gwen sambil tertawa garing. Ia berusaha menyangkal.
"Hem? Benarkah? Tapi ekspresi wajahmu mengatakan kalau kamu cemburu." Aiden mencolek dagu istrinya, lalu mengecup pipi Gwen dengan mesra.
__ADS_1
"Masa sih? Memangnya ada apa dengan wajahku?" ucap Gwen seraya melepaskan tangan suaminya yang merengkuh pundaknya itu. Ia berjalan menuju ruang makan untuk membantu pelayan beberes.
Aiden tersenyum menatap punggung istrinya. "Gwen ... Kamu tidak pernah berubah, jadi tambah cinta," gumam Aiden, gemas dengan tingkah istrinya.
*
*
Sementara itu Anaya yang sudah berada di dalam kamar mengambil ponselnya yang tergeletak di meja belajar. Di saat yang bersamaan, Gerald mengirimpan pesann
"Besok sudah siap, Nay?" isi pesan yang di kirimkan oleh Gerald.
"Bersiap untuk apa?"
Ting
Gerald yang sedang mengetuk-ngetuk layar ponselnya terkejut saat ponselnya bergetar. Bibirnya tersenyum saat Anaya membalas pesannya.
"Kita sudah mulai latihan, untuk kompetisi bernyanyi." balas Gerald.
Sebenarnya ia hanya sekedar basa-basi saja, dan juga sebagai alasan untuk berbalas pesan dengan gadis tersebut.
__ADS_1
Anaya sedang mengetik ....
Gerald dengan setia menunggu balasan Anaya.
Ting
"Hampir saja lupa, terima kasih sudah mengingatkan ☺." balas Anaya di akhiri dengan emoticon wajah bersemu merah.
Membaca pesan tersebut, tentu saja membuat Gerald menjadi gregetan. Mungkin jika berada di dekat Anaya, ia akan mencubit kedua pipi gadis cantik yang sudah berhasil mencuri hatinya.
"Kamu sudah makan? Sekarang lagi apa?" balas Gerald.
Pesan sudah terkirim, dan centang biru dua bertanda jika pesan itu sudah di baca oleh Anaya.
"Aduh! Kenapa aku bertanya seperti ini. Ini garing banget!" keluh Gerald, ingin menghapus pesannya juga tidak mungkin, karena Anaya sudah membacanya.
"Sudah makan, sekarang lagi di rebahan di kamar. Kamu sendiri sudah makan? Jangan telat makan Gerald ☺."
Jantung Gerald berdebar-debar ketika membaca balasan dari Anaya. Bahkan kedua ibu jarinya yang di gunakan mengetik menjadi gemetar.
"Apakah dia sedang perhatian kepadaku?" gumam Gerald, sembari menghembuskan nafasnya berulang kali agar tidak gugup.
__ADS_1