Senandung Cinta Untuk Anaya

Senandung Cinta Untuk Anaya
SCUA-Bab 33


__ADS_3

Gwen memasuki ruang rawat putrinya dengan perasaan yang sangat hancur. Bagaimana tidak? Sudah tiga bulan lamanya, dirinya melihat putrinya tidak berdaya di atas tempat tidur pasien dengan segala alat medis yang menempel di tubuh putrinya.


Gwen mendudukkan diri di kursi yang ada di dekat tempat tidur pasien. Gwen menatap sedih keadaan putrinya yang tidak ada perubahan sama sekali selama beberapa bulan ini.


Gwen mengambil sesuatu dari dalam tasnya, yaitu alat bantu dengar, kemudian ia memasangkannya di kedua telinga putrinya. Hal inilah yang selalu ia lakukan setiap harinya, berharap jika Anaya bisa meresposnnya.


Gwen memegang tangan putrinya dengan erat. Ia menetaskan air mata saat merasakan telapak tangan Anaya begitu dingin. “Mom, berharap kamu bisa mendengar Mommy, Naya,” ucap Gwen seraya mengusap air matanya dengan cepat.


“Mom, jangan seperti ini.” Aiden menepuk pundak istrinya beberapa kali.


“Aku hanya ingin berbicara dengan putriku yang sudah tidak menyayangi kedua orang tuanya lagi. Lihatlah dia, begitu terlelap dari tidurnya sampai berbulan-bulan,” ucap Gwen berderai air mata.


“Jika dia menyayangi orang tuanya, pasti dia akan bangun dan memeluk kita.” Gwen berkata dengan lirih dan serak karena menahan tangisnya.


Aiden menghembuskan nafasnya dengan kasar. Selama ini ia sudah berusaha sabar, tabah, dan kuat untuk menghadapi cobaan ini. Dan saat ini dirinya merasa sangat rapuh dan hancur. Aiden meneteskan air mata, namun dengan cepat ia mengusapnya.


Tanpa mereka sadari, kedua sudut mata Anaya mengeluarkan air mata.

__ADS_1


*


*


*


Di sisi lain, saat ini Gerald sedang berada di rumahnya, bersama kedua orang tuanya.


“Rald, kamu ingin melanjutkan kuliah di mana?” tanya Mama Gerald.


Gerald mendongak, menatap kedua orang tuanya bergantian.


“Papa minta maaf karena selama ini sudah terlalu keras kepadamu. Kamu ingin menjadi musisi, Papa akan mengizinkannya,” jawab pria paruh baya itu.


Gerald menggeleng sebagai jawaban. “Aku tidak ingin menjadi musisi lagi. Aku akan kuliah di fakultas bisnis, seperti yang kalian inginkan,” ucap Gerald.


Kedua orang tua Gerald saling pandang, mereka tidak mengerti dengan putranya yang tiba-tiba berubah pikiran.

__ADS_1


“Kenapa kamu berubah pikiran? Bukankah selama ini kamu begitu ngotot ingin menjadi musisi?” tanya Papa Gerald.


Gerald tidak menjawab, dan pemuda itu langsung beranjak dari hadapan orang tuanya menuju kamarnya.


Sampai di dalam kamar. Gerald mengambil ponselnya, lalu membuka galeri penyimpanan foto. Bibirnya menipis dan kedua matanya berkaca-kaca saat melihat foto Anaya yang ia ambil secara diam-diam.


Gadis cantik yang sudah mencuri hatinya. Gadis cantik yang terlihat sangat sempurna. Gerald berjalan menuju balkon kamarnya. Ia mendongak dan menatap gemerlapnya bintang yang indah di langit malam. Bibir Gerald melengkung tipis saat mengingat kenangannya dengan Anaya saat pertama kali bertemu.


“Ini naiknya bagaimana? Aku ‘kan pakai rok.” Anaya kebingungan saat akan naik ke motor Gerald yang tinggi.


“Merepotkan!”


“Hei, kamu yang menawarkanku tumpangan, kenapa marah?!” omel Anaya.


Gerald rasanya ingin tergelak saat mengingat moment itu. Dari awal ia sudah tertarik dengan Anaya, karena menurutnya Anaya berbeda dengan gadis yang lainnya.


Anaya mempunyai sisi yang sangat lembut dan sabar. Senyumannya begitu manis, membuat jantung Gerald selalu berdebar saat melihatnya.

__ADS_1


Namun kini, Gerald tidak bisa melihat senyuman manis itu lagi. Hatinya merasa hampa dan tidak mempunyai semangat. Bahkan ia merasa enggan untuk melanjutkan impiannya yang ingin menjadi musisi.


__ADS_2