
Dokter memeriksa keadaan Anaya. “Ini suatu perkembangan yang luar biasa, setelah beberapa bulan saraf otaknya tidak merespons keadaan sekitarnya, bahkan kami Tim Dokter ingin menyerah, namun Tuhan memberikan keajaiban. Keadaan putri kalian jauh lebih baik dari sebelumnya,” jelas Dokter dengan wajah yang berseri-seri.
“Syukurlah.” Gwen dan Aiden berpelukan dengan penuh kebahagiaan. “Terima kasih, Dokter,” ucap Gwen saat dokter dan perawat pamit undur diri.
“Terima kasih, Tuhan, engkau telah mengabulkan doa-doaku selama ini,” batin Gwen dengan penuh kebahagiaan.
“Dad, marahi anak bandel itu lagi, agar dia cepat bangun,” ucap Gwen kepada suaminya yang tengah memeluknya dengan erat.
*
*
*
Ica, Gerald, dan Lucky sedang berada di sebuah Kafe. Mereka bertiga membicarakan tentang Anaya yang sampai saat ini belum mereka diketahui keberadaannya.
“Apakah Anaya akan kembali ke Indonesia?” tanya Ica kepada dua temannya itu.
“Aku harap sih begitu,” jawab Gerald sembari mengaduk-aduk makanannya.
“Rald, Ky, orang tua kalian ‘kan pebisnis, kenapa tidak minta tolong kepada mereka saja untuk membantu mencari tahu tentang Anaya? Misalnya mendekati keluarga Anaya,” ucap Ica.
__ADS_1
“Sudah, Ca,” jawab Gerald dan Lucky bersamaan.
“Keluarga Anaya sangat sulit di dekati. Apalagi setelah kecelakan dan bullyan yang di alami Anaya, membuat mereka semakin menutup diri,” jawab Gerald, mendesah frustrasi di ujung kalimat.
“Benar, bahkan ayahku saja berusaha mengajukan kerja sama dengan perusahaan raksasa itu, namun langsung di tolak mentah-mentah.” Lucky menimpali ucapan.
“Ah, aku merindukan Anaya.” Ica bertopang dagu di atas meja. Ia merasa sedih karena harus kehilangan sahabat terbaiknya, dan ia berharap jika ia bisa bertemu dengan Anaya lagi di suatu hari nanti.
“By the way, kalian sudah menentukan fakultas apa yang akan kalian ambil?” tanya Lucky mengalihkan pembicaraan saat melihat Ica sedih.
“Bisnis,” jawab Gerald dengan singkat.
Ica dan Lucky menoleh dan menatap Gerald bersamaan.
“Kamu yakin? Apakah karena Anaya hingga kamu mengubur impianmu?” tanya Ica.
“Salah satunya itu,” jawab Gerald dengan pelan. Rasanya ia tidak mempunyai semangat lagi untuk meraih impiannya.
Lucky menepuk pundak Gerald dengan pelan. "Apa pun keputusanmu, aku pasti akan mendukungmu," ucap Lucky.
"Terima kasih," jawab Gerald, kepada Lucky.
__ADS_1
Lucky mengangguk lalu tersenyum lebar, "itulah gunanya teman."
"Kamu sendiri mengambil fakultas apa?" tanya Gerald kepada Ica yang duduk berseberangan dengannya.
"Fakultas kedokteran," jawab Ica.
"Woah, serius?" Lucky sangat antusias mendengarnya.
"Iya, salah satu alasanku ingin menjadi dokter adalah karena Anaya," jawab Ica dengan wajah yang sendu.
Gerald dan Lucky mengangguk bersamaan. Kehadiran dan kepergian Anaya menjadi pengaruh besar untuk mereka.
*
*
Senyum di wajah Gwen kini sudah kembali, wanita yang berusia 36 tahun itu merasa sangat bahagia karena keadaan putrinya semakin membaik.
"Mom, harap kamu besok akan sadar. Kamu tidak merindukan Mommy dan Daddy?" ucap Gwen kepada putrinya yang masih terpejam, namun kali ini Anaya merespons ucapannya dengan menggerakkan kelopak mata, terkadang menggerakkan jari-jari tangannya.
"Oh, iya, kamu masih ingat dengan temanmu yang bernama Ica? Mommy dengar dia akan mengambil kuliah di fakultas kedokteran," ucap Gwen lagi sambil menggenggam tangan putrinya yang kini mulai terasa hangat.
__ADS_1
***
Jangan lupa like, komentar, dan kasih Gift seikhlasnya saja. Terima kasih❤