
Hari berganti minggu dan minggu berganti dengan bulan. Hari ini tepat tiga bulan lamanya, Anaya sudah pergi tanpa kabar. Dan hari ini juga adalag hari kelulusan kelas 12.
Ica memegang sebuah kerangka bunga dan sebuah piagam sebagai bentuk penghargaan yang di berikan oleh pihak sekolah, karena ia adalah siswi teladan yang mendapatkan nilai terbaik di sekolahan tersebut. Seharusnya ini adalah hari membahagiakan untuk dirinya, namun nyatanya perasaannya sangat sedih, karena mengingat sahabatnya.
"Anaya, aku bisa mencapai ke titik ini karena kamu," ucap Ica di dalam hati.
"Ca, selamat ya," ucap Gerald dan Lucky bergantian mengucapkan selamat dan menyalami gadis berkaca mata itu.
"Terima kasih," jawab Ica dengan lirih, menahan tangis.
"Kita semua mengingatnya." Gerald menjadi ikut sedih, karena mengingat Anaya yang tidak pernah ada kabarnya.
"Rald, coba sekali lagi kita temui keluarganya," pinta Ica dengan nada memohon.
Gerald menghela nafas kasar, karena keluarga Anaya sepertinya telah menutup semua akses tentang Anaya. Gerald pernah bertemu langsung dengan Xander Clark, bahkan sampai memohon, tapi tetap saja mereka tidak memberikan informasi tentang keberadaan dan kabar Anaya.
Dan Ica juga pernah berkunjung ke rumah Anaya, namun ia tidak di izinkan masuk, dan langsung di usir oleh satpam yang berjaga di sana.
"Kamu ada ide, Ky?" tanya Gerald kepada Lucky.
"Otakku buntu. Kita sudah mencoba berbagai cara namun hasilnya tetap Zonk, keluarga Clark tidak mudah untuk di dekati," jawab Lucky, mendesah frustrasi.
__ADS_1
Ica menundukkan kepalanya, ia merasa bersalah kepada Anaya karena tidak bisa melindungi temannya itu.
"Yang aku heran, beasiswa Ica tetap berlanjut 'kan? Tidak di cabut oleh ayahnya Anaya?" tanya Lucky.
"Iya, bahkan tadi kepala sekolah mengatakan jika ayahnya Anaya akan membiayai aku sampai S1," jawab Ica.
Ketiga orang itu terdiam sesaat, namun beberapa saat kemudian mereka melotot dan saling pandang, lalu berlari menuju ruang kepala sekolah.
*
*
"Maaf, saya tidak bisa memberitahu keberadaan Anaya kepada kalian," ucap Kepala Sekolah kepada ke-tiga muridnya dengan sesal.
"Kalian harus tahu ini, kecelakaan dan bullyan yang di terjadi kepada Anaya menyisakan luka yang sangat dalam untuk keluarganya. Jadi, inilah alasan mereka untuk menutupi Anaya dari publik dan dari segala kekurangan yang dia miliki," jelas Kepala Sekolah.
"Tapi, apakah kami boleh mengetahui kabar Anaya, Pak?" tanya Ica dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Yang terakhir saya dengar, Anaya masih mengalami koma," jawab Kepala Sekolah.
kedua pipi Ica sudah banjir dengan air mata, ia tidak menyangka jika sahabatnya akan menderita selama ini.
__ADS_1
*
*
Hospital, Amerika Serikat.
"Aku ingin putriku tetap hidup dengan semua alat bantu yang melekat di tubuhnya!" bentak Gwen kepada dokter yang mengatakan jika Anaya sudah tidak bisa di pertahankan lagi.
"Kamu pikir, kamu adalah Tuhan yang bisa menentukan hidup dan matinya seseorang?!" bentak Gwen lagi kepada Dokter yang menundukkan kepala di depannya.
"Sorry, tapi putri Anda sudah koma selama tiga bulan, dan--"
"Kita cari rumah sakit lain yang bisa menangani putri kita!" ucap Gwen kepada suaminya, tanpa ingin mendengarkan penjelasan Dokter.
"Nyonya! Kami akan berusaha semampu kami untuk menyembuhhkan putri Anda," ucap Dokter tersebut, saat melihat suami istri itu akan keluar dari ruangannya.
Aiden mengangguk sebagai jawaban, sedangkan Gwen sudah keluar dari ruangan tersebut.
"Dad, aku rasanya ingin mati saja, jika putriku tidak tertolong," ucap Gwen menumpahkan tangisnya kepada suaminya saat mereka berada di depan ruang rawat putrinya.
"Mom, semua yang terjadi sudah menjadi kehendak-Nya," jawab Aiden lalu memeluk istrinya dengan sangat erat.
__ADS_1
"Aku tidak ikhlas," jawab Gwen terisak perih di pelukan suaminya.