Senandung Cinta Untuk Anaya

Senandung Cinta Untuk Anaya
SCUA-Bab 36


__ADS_3

Jika Tuhan sudah berkehendak maka apa pun bisa terjadi. Seperti hari ini, tidak di sangka dan tidak di duga jika Anaya membuka mata setelah sekian lama terpejam. Namun ke dua sorot mata gadis itu menatap kosong seolah tidak ada kehidupan di sana.


Gwen dan Aiden merasa sangat bahagia dan sedih melihat putrinya sudah tersadar dari koma, akan tetapi Anaya terdiam seperti patung.


"Dokter, bagaimana dengan putri kami?" tanya Gwen kepada Dokter yang baru saja memeriksa keadaan Anaya.


"Semua baik-baik saja. Hanya saja Anaya butuh beradaptasi terlebih dahulu karena ia baru bangun dari tidur panjangnya," jawab Dokter sambil mengulas senyum, merasa bahagia karena pasiennya sudah sadar kembali. "Sering-seringlah berbicara dengannya, misalnya membicarakan hobi, teman-temannya, atau keluarganya," jelas Dokter kepada Gwen dan Aiden.


"Baik, Dok. Terima kasih, banyak," ucap Gwen.


"Kami hanya melakukan tugas kami, Nyonya. Selebihnya karena doa Nyonya, Tuan dan keluarga yang selalu yakin jika putri kalian akan sembuh, bahkan kami Tim Dokter sempat menyerah," ucap Dokter lalu segera berapamitan dari ruangan tersebut, karena ada pasien lain yang membutuhkannya, namun masih ada dua perawat di sana yang sedang melepaskan semua alat medis yang menempel di badan Anaya, dan tersisa selang infus yang menempel di punggung tangan kanan Anaya.

__ADS_1


Anaya sudah melewati masa kritisnya. Gwen dan Aiden sangat bahagia, tidak lupa mereka segera memberikan kabar baik itu kepada kepada keluarga yang ada di Indonesia.


"Nyonya, semua alat medis sudah kami lepaskan, dan sebentar lagi putri Anda akan di pindahkan ke ruang rawat VIP," ucap salah satu perawat yang ada di sana.


"Baik, terima kasih," jawab Gwen tersenyum bahagia.


"Kalau begitu kami permisi." Kedua perawat tersebut segera keluar dari ruangan tersebut.


"Kamu bisa mendengar suara Daddy?" tanya Aiden seraya mengusap lembut pipi putrinya yang terlihat sangat tirus.


Anaya tidak menjawab namun gadis itu merespon ucapan ayahnya dengan meneteskan air matanya. Mungkin karena sudah lama tertidur panjang membuat semua syaraf di tubuhnya terasa kaku, bahkan saat ingin menggerakkan bibirnya saja tidak sanggup.

__ADS_1


Gwen ikut menteskan air matanya lalu mengambil tisu untuk menghapus air mata putrinya. "Jangan menangis, Sayang," ucap Gwen menatap putrinya yang kini juga meliriknya namun masih dengan tatapan yang kosong.


Gwen tersenyum lalu mengecup kening Anaya dengan penuh kasih sayang. "Jangan membuat Mommy cemas lagi. Cepatlah pulih, marena kamu adalah sumber kabahagiaan kami." Gwen berkata sambil membekap mulutnya. Nyatanya ia yang tidak bisa menahan tangisnya saat melihat keadaan putrinya seperti patung hidup.


Anaya meneteskan air matanya semakin deras, dan bibirnya bergetar seolah ingin mengucapkan sesuatu namun dirinya tidak sanggup.


"Mommy," batin Anaya sangat sedih karena melihat kedua orang tuanya menangis karenanya.


"Sayang, jangan menangis seperti ini. Karena kamu akan membuat putri kita menjadi sangat sedih." Aiden menghampiri istrinya lalu memeluk Gwen dengan sangat erat.


"Daddy benar, seharusnya aku memberikan senyuman kepada putri kita, bukan tangisan seperti ini." Gwen mengurai pelukan suaminya, lalu mengusap air matanya dengan kasar.

__ADS_1


__ADS_2