
Flashback
Di suatu sore yang cerah, tengah berkumpul dua buah keluarga yang terlihat begitu bahagia, terlihat dari raut wajah masing-masing. Dua orang perempuan sebaya tengah tersenyum sembari me-marinasi daging yang rencananya akan dipanggang malam ini, dan dua orang laki-laki berbeda usia tengah menatap dalam pada danau yang ada dihadapan mereka dengan alat pancingan masing-masing, keduanya begitu serius memperhatikan ketenangan air, berharap mereka akan mendapatkan buruan ikan yang banyak, agar mereka bisa menikmati bakar ikan malam nanti. Sesekali mereka terlibat obrolan ringan, kadang juga berbicara mengenai bisnis masing-masing, keluarga itu terlihat begitu akrab dan harmonis, layaknya keluarga bahagia.
“Mamah! Lihat! Asha sudah bisa naik sepeda!”
Teriakan dari gadis kecil itu membuyarkan konsentrasi keempat orang dewasa yang tengah tenggelam, larut dalam kegiatan masing-masing.
Kedua pasang orangtua itu menoleh dan tersenyum melihat tangan gadis manis itu yang tengah melambaikan tangannya.
Bruuukkk!!
“Aduuuhhh! Hhuuaaaa!!”
Karena tidak terlalu fokus pada jalanan, ban sepeda gadis itu tersandung pada akar pohon, hingga membuatnya terjatuh, tersungkur, hingga membuat lututnya berdarah, seketika air matanya berlinangan, raungan tangisan-pun seketika memecah keheningan, membuat para orang dewasa merasa panik dan langsung menghampiri.
“Asha! Sayang? Kamu gak apa-apa?” Sang Ibu terlihat yang paling panik.
“Sakiiittt! Huuuaaaaa” gadis yang di panggil Asha itu seketika merentangkan tangannya, mulutnya terbuka lebar karena tangisannya.
“Sini sayang, Mamah gendong, maafin Mamah yaaaa, Mamah terlalu sibuk bikin makanan kesukaan Asha, ternyata Asha malah jatuh” sang Ibu terlihat sedih karena merasa tidak bisa menjaga putrinya. Asha adalah anak yang dinantinya selama bertahun-tahun, jadi melihatnya terluka jelas saja membuatnya begitu sedih.
“Asha gak apa-apa, hiks ...” Asha masih tersedu, terisak, namun menggelengkan kepalanya berulang kali.
“Asha itu anak kuat, jagoan Papah” sang Ayah mengambil alih tubuh Asha, sembari membersihkan kotoran yang menempel di lutut Asha.
“Mamih sama Papih obatin ya sayang” kedua orang yang sedari tadi hanya bisa tersenyum ikut meniupi luka Asha, membuat gadis itu mengerjapkan mata indahnya.
“Asha gak apa-apa” gadis itu menggeleng dengan malu-malu.
“Kemana Briyan? Bukannya tadi kalian bermain bersama?” tanya Mamih sembari memutarkan pandangannya, mencari sosok sang putra yang tiba-tiba saja menghilang.
“Kak Briyan tidak ada, katanya lebih suka baca buku daripada main sama Asha” gadis itu mengadu, lalu menundukkan kepalanya sedih.
“Anak itu!” geram Papih dengan kesal.
__ADS_1
“Bukannya jagain Asha, malah hilang entah kemana” masih kesal sang Papih terus menyalahkan anaknya.
“Gak apa-apa Nes, Asha juga kuat, dia gak apa-apa, mungkin Briyan mau jalan-jalan sebentar” Mamah Asha tersenyum sembari menggeleng, dia tidak suka jika sahabatnya Agnes menyalahkan putranya Briyan hanya karena Asha putrinya terluka.
“Sekarang kita obati dulu lukamu sayang” Mamih tersenyum lalu mengikuti Vanessa sahabatnya yang memangku Asha masuk kedalam Villa.
“Briyan! Darimana saja kamu?” Papih bertanya dengan raut marahnya, saat melihat Briyan baru saja tiba di Villa mereka dengan buku di tangannya.
“Briyan habis jalan-jalan Pih, sambil baca buku” Briyan menatap Asha yang tengah duduk di kursi, sembari dikelilingi para orangtua, lutut gadis itu sudah diperban.
“Lihat ini! Gara-gara kamu gak bisa jagain Asha, Asha jadi terluka, Papih kan sudah bilang, jagain Asha” Papih mengeluarkan unek-uneknya pada putranya yang kini tengah menundukkan kepala.
“Maaf Pih, tadi Briyan lupa ajak Asha juga” Briyan ketakutan akan Papihnya yang selalu menyalahkan dirinya, jika itu mengenai Asha.
“Asha gak apa-apa kok Kak Briyan” Asha tersenyum manis, lalu menggeleng, menandakan jika dia baik-baik saja.
“Asha jatuh dari sepeda, coba aja kalau kamu jagain Asha, gak akan terjadi hal seperti ini” Mamih menambahkan.
“Lagian udah gede masa belum bisa naik sepeda” Briyan berdecak malas, memutar kedua bola matanya dengan jengah.
“Sudah, sudah, Asha juga sudah tidak apa-apa sekarang” Mamah Vanessa melerai sembari tersenyum, mendekati Briyan dan mengelus kepala anak itu dengan sayang.
“Lain kali, kalau Briyan mau pergi, kasih tahu Mamah ya sayang, biar Mamah yang jagain Asha, Asha itu lagi nakal-nakalnya, jadi dia tidak bisa jika tidak dijaga” Mamah berkata dengan nada yang begitu lembut dan menenangkan.
“Iya Mah, maaf” Briyan menundukkan kepalanya.
“Kak Briyan! Main lagi yuk!” Asha berdiri dengan kaki terpincang, langsung mendekati Briyan dan meraih lengannya, mengajak Briyan untuk pergi dari ruang tengah Villa tersebut.
“Sha, kakimu masih sakit sayang” Mamah memperingatkan.
“Gak sakit kok, kan ada Kak Briyan yang jagain” Asha tersenyum manis, lalu menarik lengan Briyan hingga mereka berjalan menuju luar Villa.
“Hhhh ... anak itu” Mamah dan Papah hanya bisa menggelengkan kepalanya, merasa lucu dengan tingkah putrinya.
“Gak apa-apa Sa, namanya juga anak-anak,” Mamih tersenyum sembari kembali melakukan aktifitasnya yang tertunda tadi.
__ADS_1
“Aku harap, anak-anak kita bisa berjodoh, agar persahabatan kita tidak terputus, ada anak-anak kita yang akan melanjutkan” Mamah Vanessa bergumam.
“Tentu Sa, aku akan sangat bahagia jika persahabatan kita berubah menjadi besan” Mamih tergelak.
“Besan? Tidak buruk” Papah dan papih ikut menimpali sembari tertawa bersama.
***
“Kak Briyan, tunggu! Jalannya jangan cepat-cepat, kaki Asha masih sakit” Asha terlihat terengah mengejar Briyan yang tadi sempat menghempaskan cekalan Asha, meninggalkan gadis itu sendirian.
“Kamu kenapa sih Sha? Terus ngikutin aku?” Briyan menatap nyalang pada Asha, Briyan sungguh sudah sangat kesal ketika dirinya selalu disalahkan hanya karena dianggap tidak bisa menjaga Asha, padahal menurut Briyan Asha saja yang tidak bisa diam dan kelewat aktif.
“Aku suka sama Kak Briyan, kita bisa sama-sama terus kan?” Asha kembali hendak meraih lengan Briyan, namun secepat kilat Briyan segera menepisnya.
“Sha! Kamu kan anak perempuan, masa sikap kamu kayak gitu sama laki-laki” Briyan merasa geram dengan sikap Asha yang selalu menempel padanya.
“Ih gak apa-apa, kan Kak Briyan calon suami Asha” Asha mengedipkan matanya berulang kali.
“Apaan sih? Kamu masih kecil Asha, ngapain ngomongin kayak gitu, gak baik tahu” Briyan sungguh merasa heran dengan segala sikap absurd Asha yang begitu ajaib menurutnya.
“Kita bakalan nikah kalau kita sudah cukup umur nanti” Asha merapatkan tubuhnya pada Briyan.
“Sha! Jaga jarak! Jangan begini! Aku gak suka!” Briyan membentak, membuat Asha menunduk ketakutan.
“Tapi Kak Briyan ...”
“Aku gak suka sama kamu! Aku benci sama kamu!”
Briyan menghempaskan tubuh Asha, hingga gadis itu tersungkur di tanah, lalu Briyan melangkahkan kakinya meninggalkan Asha yang kini tengah merintih kesakitan, sejenak langkah Briyan terhenti, sempat melirik Asha dengan ekor matanya, lalu Briyan kembali melanjutkan langkahnya, memilih meninggalkan Asha dan tidak memperdulikannya.
“Kak Briyan ... tunggu!”
“Kak Briyan sakiiittt, hiks”
Asha meniup-niup lututnya yang kembali berdarah, akibat kembali terbentur cukup keras pada tanah.
__ADS_1
“Kak Briyaaannn ... hiks ... hiks ... hiks ... huuaaaa!”