
Andai ... dalam perjalanan kali ini Asha mau satu mobil dengan Briyan, sudah pasti Asha akan mendengar bagaimana degup jantung Briyan bertalu dengan tak karuan. Briyan tidak mampu mengubah apapun yang sudah menjadi keputusan Asha, termasuk untuk berangkat dengan mobil masing-masing kala mereka dalam perjalanan menuju puncak, saat ini Briyan hanya bisa berharap, apa yang akan dia lakukan nanti bisa membuat hati Asha lebih luluh lagi.
Mobil melaju dengan pelan kala Briyan mengendarainya, sesekali matanya menilik pada kaca spion, memastikan jika Asha sungguh ada di belakang mereka.
“Gak usah ngintip terus, nanti bintitan!”
Suara Bintang menginterupsi kegiatan Briyan yang tak fokus menyetir, dan malah terus menatap ke belakang, rasanya ingin sekali Briyan membawa Asha agar mau duduk di sampingnya menggantikan Bintang.
“Meskipun kamu lihatin Asha terus, Asha gak akan mau bareng sama kamu lagi, bukan muhrim” suara Mamih menambahkan.
“Sabar, nanti juga ketemu, kalau Allah menghendaki” Papih tak mau kalah, ikut menyumbangkan suara, membuat Briyan menjadi geram, tapi tak mampu mengatakan apapun, Briyan terus mengemudi tanpa sepatah kata, hanya mata yang mampu bicara, bagaimana Briyan memendam segala rasa pada perempuan yang kini tengah menyetir sendiri di belakang mobil mereka.
Setelah melewati perjalanan beberapa jam dari rumah mereka menuju puncak, akhirnya mereka tiba di halaman sebuah Villa, Villa ini sudah sangat lama tidak mereka kunjungi, tidak banyak yang berubah, karena Papih memang menugaskan seseorang untuk rutin merawat Villa-nya, Villa masih terlihat rapih, bersih, dan terawat.
Briyan turun dari dalam mobilnya, lalu di susul oleh Mamih, Papih dan Bintang, Briyan memutarkan pandangannya, memejamkan matanya sejenak, masih teringat dengan jelas, di Villa ini, Briyan membodohi Asha, berbohong padanya jika Briyan akan menuntut ilmu di luar negeri, padahal Briyan merencanakan perselingkuhannya dengan Raisya, sungguh tidak ada hal yang lebih menyesakkan bagi Briyan selain daripada segala penyesalannya di masa lalu.
“Mamih sama Papih masuk duluan ke dalam” Mamih menepuk pundak putranya yang masih anteng menatap danau buatan yang berada tidak jauh dari Villa, di tempat itu juga, Briyan dan Asha kecil sempat menghabiskan waktunya bersama, dimana Briyan yang selalu bersikap kurang baik pada Asha, dan Asha yang tidak ingin menyerah pada sikap Briyan. Terlalu banyak kenangan antara dirinya dan Asha di tempat ini, hampir di setiap sudut tempat ini memiliki kenangan tersendiri, baik itu bagi Briyan maupun bagi Asha.
Briyan sama sekali tidak menyangka jika hari ini akan tiba, hari dimana rasa penyesalan begitu terasa mencekik lehernya sendiri.
“Semuanya tidak ada yang berubah ...”
Briyan membuka matanya, lantas menoleh pada sumber suara yang kini sudah berada di sampingnya, menyisakan jarak beberapa langkah darinya, Asha tengah menatap pemandangan yang sama dengan Briyan, gadis itu terlihat semakin cantik dari waktu ke waktu, hijab pashmina berwarna pink peach membuat Asha terlihat semakin fresh dan nampak lembut dan anggun.
__ADS_1
“Ada” Briyan menyahuti tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Asha, yang hanya bisa dilihatnya dari samping.
“Apa?” Asha kembali bertanya tanpa menoleh pada Briyan, angin semilir menerpa wajahnya, udara sejuk dan segar seketika memenuhi rongga dadanya.
“Perasaanku buat kamu”
Asha terdiam, gadis itu tidak ingin lagi mendengarkan ucapan Briyan selanjutnya, Asha berniat memutar tubuh untuk segera pergi dari sisi Briyan, namun suara Briyan kembali mengurungkan niat Asha.
“Dulu, mungkin aku terlalu naif, di usiaku yang masih terlalu kanak-kanak aku sudah harus menjalin hubungan serius dengan kamu, aku tidak bisa berpikir panjang, tolong maafin aku Sha, rasanya aku hampir gila karena semua beban yang harus aku tanggung kala itu, namun ... setelah kamu pergi dan aku menyadari semua kesalahanku, rasanya aku ingin mati karena aku harus menanggung perasaanku sendirian, aku ... sangat mencintai kamu Berliana Asha” hati Briyan terasa lega setelah mengucapkan kata tersebut, setelah pertemuannya kembali dengan Asha, Briyan belum sempat mengatakan apa yang ingin dia katakan, tentang penyesalannya, kata maafnya, perjuangannya, juga cinta dan kasih sayangnya terhadap Asha setelah Asha memutuskan untuk pergi dan melepaskannya.
“Semuanya sudah berlalu, apa yang sudah berlalu tidak akan pernah kembali lagi” Asha mengepalkan tangannya kuat, lantas memejamkan matanya, kala dirasainya dadanya bergemuruh tak karuan, segala bayangan perlakuan Briyan, pengorbanan orangtuanya, juga pengorbanan Asha yang tak pernah dianggap oleh Briyan terus menghantui pikirannya.
Menarik napas pelan, Asha mencoba tersenyum, Asha harus kuat! Asha harus ikhlas agar hatinya kembali bahagia.
Asha kembali mengurungkan niatnya untuk kembali menjauh dari Briyan, kini posisi Asha sudah memunggungi Briyan sepenuhnya.
‘Masa lalu yang mana?’ hati Asha merasa kesal sendiri merasai dadanya yang kian tak terarah.
“Sha, aku mau kita ...”
Asha tidak ingin lagi mendengarkan penuturan Briyan, gadis itu memilih untuk pergi meninggalkan Briyan dengan segala ucapannya yang menggantung, Asha tidak sanggup mendengarkan ucapan pria yang telah menorehkan luka juga cinta dihatinya, semuanya telah membekas dihati Asha, dan mungkin tidak akan pernah kembali utuh seperti semula.
***
__ADS_1
“Kak Asha makin cantik aja ya?” ucapan Bintang membuat Briyan yang tengah mengipasi ayam bakar menoleh pada objek yang tengah dibicarakan Bintang.
Saat ini sudah malam hari, dan mereka memutuskan untuk melakukan barbeque di halaman samping Villa, Briyan dan Bintang bertugas untuk mengipasi ayam, ikan, juga sosis, sementara Mamih dan Asha bertugas menyiapkan makanan juga bumbu di dapur yang hanya memiliki sekat kaca pada halaman belakang, sementara Papih hanya melihat setiap aktivitas mereka, sembari sesekali berkomentar tidak penting, suasana begitu hangat dan ceria, candaan Bintang ternyata mampu mencairkan suasana, di tambah lagi dengan jokes receh dari Papih dan Mamih membuat suasana menjadi agak menghangat, sementara Asha terlihat lebih banyak diam, hanya sesekali tersenyum menanggapi, dan Briyan, pria itu hanya terdiam, enggan berkomentar sama sekali.
“Sejak kapan kamu manggil Asha jadi Kakak?” Briyan mengernyitkan keningnya bingung.
“Sejak dia minta maaf dan menjelaskan tentang kesalah fahaman di masa lalu, setelah aku pikir-pikir, semuanya memang salahku, aku yang tidak bisa berfikir dewasa, aku juga yang berfikir kekanakan” Bintang mengakui kesalahannya.
“Sekarang aku nyesel pernah berhubungan buruk dengan Kak Asha setelah tahu betapa baiknya Kak Asha” Bintang menundukkan kepalanya dengan helaan napas beratnya.
“Emang Asha ngelakuin kebaikan apa sama kamu?” Briyan bertanya dengan raut penasaran.
“Kak Asha bikinin aku gaun pengantin, tapi ternyata sebetulnya ...” Bintang menggantungkan ucapannya, napasnya terdengar seperti sesak.
“Sebetulnya?” Briyan amat penasaran ternyata.
“Gaun pengantin itu bukan dirancang khusus buat aku” Asha menghentikan tangannya yang tengah mengipasi daging di hadapannya.
“Lalu?” Briyan menatap adiknya dengan intens, ekspresi tak sabar mulai mendominasi.
“Gaun pengantin itu dirancang Kak Asha untuk pernikahannya sendiri, tapi Kak Asha bilang, mungkin seumur hidupnya, Kak Asha gak akan pernah gunain baju impiannya”
Ucapan Bintang membuat Briyan terperangah, dalam hati sejuta tanya langsung menyerbu kepalanya.
__ADS_1
“Kenapa?”