SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Lima Tahun Telah Berlalu


__ADS_3

Di muka bumi ini, sejatinya tidak ada manusia yang ingin patah hati, karena kita semua tahu betul seperti apa rasanya patah hati, begitu pula dengan Briyan Alexander, pria dewasa yang kini sudah menjelma menjadi pria mapan. Tubuh atletis, wajah tampan, harta melimpah, kedudukan tinggi semuanya terlihat sempurna dalam pandangan manusia, namun ... sedikit orang yang tahu seperti apa Briyan melewati harinya. Patah hati membuatnya terlena, butuh waktu lebih dari lima tahun untuknya bisa melewati fase dimana dia harus membenci dirinya sendiri, dia sadar dirinya terlalu bodoh hingga harus dicampakkan seorang perempuan yang begitu dicintainya.


Hari ini, adalah hari pertamanya bekerja di sebuah perusahaan yang tengah dirintisnya, sebelumnya pria itu sempat melanjutkan studinya, mengambil jurusan impiannya yakni jurusan arsitektur, menurut Briyan Alexander, setiap manusia itu memiliki daya khayalnya masing-masing, dan Briyan memanfaatkan segala imajinasinya sebagai ladang untuk mencari pundi-pundi uang, terbukti, beberapa tahun merintis usahanya, Briyan sudah bisa menggaet beberapa client yang mau menggunakan jasanya.


“Selamat pagi Pak”


Itu adalah sapaan dari beberapa karyawannya, karyawan Briyan belum terlalu banyak, hanya beberapa puluh orang, dan itu sudah mencakup seluruh pekerjaan. Briyan berjalan dengan tegap, wajahnya terlihat datar dan dingin, namun tidak ada yang tahu jika di balik kaca mata hitam yang tengah digunakannya, mata Briyan begitu sendu, sorot kesedihan dan sedikit amarah karena kecewa pada sendiri terlihat disana.


“Selamat pagi Pak”


Itu adalah suara Roy, dia adalah sekretaris juga asisten Briyan, kenapa Briyan memilih sekretaris seorang lelaki, alih-alih memilih sekretaris perempuan dengan penampilan seksi, alasannya karena Briyan tidak ingin ada drama affair antara boss dan sekretarisnya, itu saja. Kadang imajinasi Briyan juga bisa membuatnya melakukan hal-hal di luar nalar.


“Pagi” Briyan melewati Roy begitu saja.


“Pak ini adalah agenda Bapak hari ini” Roy menyodorkan sebuah ipad pada Briyan, lantas membacakan kegiatan Briyan hari ini.


“Oke, nanti sore tolong luangkan waktuku untuk mendatangi proyek yang tengah aku kerjakan itu, kamu paham maksudku kan Roy?” Briyan membuka kacamata hitamnya, menatap Roy yang tengah mengangguk mengerti, dua tahun Roy mengikuti Briyan, jelas membuat Roy sedikit paham apa yang menjadi problem sang Boss.


“Baik Pak” Roy mengangguk lalu memundurkan langkahnya, meninggalkan Briyan yang tengah memijit keningnya.


Mata Briyan terpaku pada sebuah sketsa yang berada di hadapannya, tangannya mengelus hasil karyanya lembut.

__ADS_1


“Izinkan aku menunaikan janjiku Sha” gumamnya, sudut bibirnya terangkat, namun ujung matanya mengembun. Selalu saja begitu, lima tahun Ia habiskan untuk sebuah penyesalan tak berujung.


***


Sementara itu di sebuah bandara, seorang gadis cantik baru saja menginjakan kakinya di lantai selepas perbangannya beberapa jam yang lalu, matanya memindai sekitar, sementara itu tangannya masih menyeret sebuah koper berukuran sedang. Kacamata hitam bertengger di atas hidung mancungnya, perlahan tangannya meraih kacamata tersebut, sejenak gadis tersebut menghirup udara lalu menghembuskannya perlahan.


Hari ini adalah hari pertama Ia kembali ke tanah air, setelah lima tahun lalu Ia memutuskan untuk pergi. Sebetulnya pulang ke Indonesia bukanlah pilihan yang tepat, inginnya dia menghabiskan waktu di tempat sebelumnya Ia menimba ilmu, namun ... keinginannya untuk membuat usaha di tempat kelahiran kedua orangtuanya membuat Ia merasa terpanggil, mimpinya masih sama, mewujudkan mimpi sang Ibunda untuk mendirikan sebuah butik besar di tanah kelahirannya.


Gadis itu menyeret kopernya keluar dari bagian kedatangan dan tiba-tiba saja mendapati seorang gadis yang tengah berdiri di depannya, mengacungkan sebuah kertas dengan tulisan “WELCOME ASHA CEREWET” gadis itu melompat girang kala pandangan mata mereka telah beradu, kertas yang sedari tadi di acungkannya, segera di lemparnya begitu saja, berlari lalu merentangkan kedua tangan hingga tubuh mereka berbenturan, saling berpelukan untuk menghilangkan rasa kangen yang mendera hati mereka lima tahun terakhir.


“Sha! Gue kangen banget sama Lo, jahat! Jahat! Kenapa gak pulang-pulang?” oceh gadis itu sembari memberengut.


“Gue juga kangen sama Lo Dis, maaf gak bisa dateng di acara nikahan Lo sama Vidi” bisik Asha pelan, sembari tersenyum lembut.


“Maaf ...” Asha kembali tersenyum lembut.


“Wait! Kenapa Gue baru sadar? Lo berubah Sha!” Gendis mengurai pelukan, lalu menilik penampilan Asha dari atas hingga bawah, memindai berulang kali dengan tatapan kagum.


“Whhoooaaaaa! Daebak! Lo berubah seribu derajat Sha, Lo cantik banget, apalagi dengan hijab Lo ini!” Gendis berjingkrak heboh, menguyel pipi Asha yang kini semakin tirus dari terakhir kali.


Secara fisik, Asha kini memang menjadi lebih cantik, lebih lembut, juga lebih santun, bertahun-tahun tinggal di negri orang, ternyata membuat sosok Asha menjadi sosok yang lebih dewasa, namun tidak ada yang bisa melihat kedalaman hatinya.

__ADS_1


“Gue yakin, si Briyan pasti nyesel banget udah ... ooppsss!” Gendis menutup mulutnya dengan segera kala menyadari mulutnya tengah keceplosan, namun jauh dari dugaan Asha hanya tersenyum, lalu kembali berjalan menggandeng tubuh Gendis.


“Its oke” ucapnya menenangkan raut wajah Gendis yang terlihat merasa bersalah.


“Ngomong-ngomong gimana persiapan pembukaan butik Lo? Uuwwaaahhh ... Gue bangga banget sama Lo Sha, Lo beneran udah bisa move on dengan cara yang baik, kemaren Gue lihat pertunjukan pagelaran busana Lo via YT yang di unggah perusahaan tempat Lo kerja dulu” Gendis berulangkali berdecak kagum, kini tangannya tengah mengemudikan mobilnya, membawa mereka keluar dari parkiran di bandara tadi.


“Emmhhh, baru sekitaran lima puluh persen, masih terlalu banyak hal yang harus aku urus, bantuin aku ya Dis” ucap Asha lembut.


“Of course, tentu saja! Bakalan aku bantuin” Gendis berucap dengan penuh semangat, membuat gadis dengan hijab pashmina pink di sampingnya terkekeh geli.


“Makasih banyak Dis, ngomong-ngomong aku bawain oleh-oleh buat kamu dan Vidi, anggap saja sebagai kado pernikahan dari aku” Asha menoleh pada paper bag besar yang kini sudah berada di jok tengah mobil Gendis.


“Waawww! Thank you!” Gendis kembali berucap dengan gaya jenaka, membuat Asha kembali terkekeh geli.


“Kamu gak dateng di acara pernikahanku, sekarang aku mau minta kamu buat ganti rugi!” Gendis mengerucutkan bibirnya kesal.


“Kamu mau apa lagi dari aku Dis?” Asha tersenyum lembut,


“Traktir makan siang di tempat kita biasa nongkrong dulu!” pinta Gendis mutlak.


“Tapi Dis ...” oh! Tentu saja banyak ketakutan di benak Asha kala mereka harus kembali mendatangi tempat-tempat yang ingin dihindarinya.

__ADS_1


“No debat!” perintah Gendis mutlak tak terbantahkan, jika sudah begini lantas Asha bisa apa?.


__ADS_2