
“Selamat pagi Bu Asha ...”
Itu adalah sapaan dari para pria yang kini bermukim di gedung yang sama dengan Asha, sedikit merasa kesal karena segala kegaduhan yang ditimbulkan oleh para karyawan Briyan, cara kerja mereka cukup berisik, mereka bekerja sambil tertawa dan bercanda, membuat konsentrasi Asha kadang tiba-tiba buyar.
“Pagi” jawab Asha ketus, berjalan lurus menuju ruangannya.
“Selamat pagiiii ...”
“Eh? Bos ganteng?”
Haish!
Asha memutar bola matanya malas, kenapa juga Briyan menjadi begitu narsis? Ingin disapa dengan sapaan Bos ganteng, ya memang sih Briyan ganteng, tapi gak sebegitunya juga kali. Asha mendengus kesal.
“Ada yang belum sarapan? Aku bawain kalian donut, ada yang suka?” Briyan melirik pada perempuan dengan hijab navy tersebut, melebarkan senyuman dengan sejuta pesonanya.
“Wooaaahhh, Bos ganteng tahu saja kalau kita belum sarapan” dalam sekejap para karyawan segera menyerbu makanan yang dibawa Briyan. Asha semakin kesal melihat tingkah mereka yang berisik.
“Ada titipan dari Mamih” Briyan tiba-tiba masuk ruangan Asha dan menyodorkan sebuah kotak di meja kerja Asha.
“Bisa gak sih? Kalau masuk ruangan orang ketuk dulu pintu? Gak sopan banget!” Asha menyembur Briyan dengan ketus, Briyan hanya terkekeh, lantas segera beranjak.
“Mamih bilang harus di makan, itu masakan spesial kesukaan kamu” Briyan mewanti-wanti sebelum tubuhnya menghilang di balik pintu.
Asha mendesah pelan, lantas segera meraih kotak makan tersebut, menelitinya lalu tersenyum kala di dapatinya makanan kesukaan Asha sudah tersedia disana, Mamih memang selalu tahu makanan kesukaan Asha.
“Sha ...”
“Apalagi sih?!!”
Seketika Asha mendongak, lalu beberapa detik kemudian matanya terbelalak kaget.
“Kamu kenapa Sha? Tidak suka aku berkunjung?”
“Oh ... Abim, maaf ... aku fikir siapa?” Asha tersenyum kikuk kala mendapati Abimanyu yang kini tengah berdiri mematung di ambang pintu, memutar pandangan dapat Asha lihat jika di luar sana dari jendela kaca yang tembus keluar Briyan tengah memperhatikan mereka dengan pandangan yang entah.
“Memang siapa Sha?” Abim segera masuk kedalam ruangan Asha, memutar pandangan lantas berdecak kagum dengan ruangan baru Asha.
“Kamu tidak memberitahuku kalau kamu sudah pindahan” ujarnya merasa kecewa.
“Maaf, waktu itu dadakan, aku pun merasa terburu-buru untuk pindahan” Asha menjelaskan, Abim menganggukkan kepalanya pertanda jika dia menerima alasan Asha.
“Kamu sudah sarapan?” tanya Abim kemudian.
__ADS_1
“Yah, sudah” Asha mengangguk.
“Kamu bawa bekal? Kebetulan aku belum sarapan” Abim melirik pada bekal yang berada di atas meja Asha, Asha segera tersenyum canggung, bingung bagaimana mungkin dia harus memberikan makanan yang di masak special oleh Mamih?.
“Boleh aku makan Sha?” Abim menunjuk makanan tersebut.
“Hah? Tentu” Asha mengangguk, menyodorkan makanan tersebut, lantas Abim segera menyantapnya dengan tenang, Asha memperhatikan dengan seksama.
“Permisi Bu Asha”
Tiba-tiba pintu terbuka, Asha menoleh lantas berdecak kesal melihat siapa yang datang.
“Oh, ada Abim?” Briyan bertanya basa-basi, ekor matanya melihat pada sekotak makanan yang hampir tandas dimakan Abim, dengan kesal Briyan menatap Asha tajam yang kini juga tengah menundukkan pandangannya bingung.
“Ya, aku ingin melihat kantor baru Asha, dan katanya sekarang kalian satu kantor karena gedung ini adalah milikmu” Abim menyambut uluran tangan Briyan, meninggalkan makanannya yang tinggal separuh lagi.
“Tentu saja, kalian teman, jadi harus saling mengunjungi” ada nada penekanan dalam ucapan Briyan.
“Hah? Ya ya ... tentu saja” Abim mengangguk bingung.
“Ngomong-ngomong, gedung Briyan ini banyak juga ya, gedung yang kemarin juga bukankah milikmu Bry?” Abim berdecak kagum, namun lain halnya dengan Asha yang kini tengah memicingkan matanya, gedung yang kemarin? Gedung mana yang Abim maksud?.
“Gedung yang kemarin?” tanya Asha spontan.
“Pensil?” walau dengan hati yang bingung, Asha menyodorkan satu buah pensil yang biasa digunakannya untuk melukis sketsa.
Briyan tersenyum canggung lalu segera meninggalkan ruangan Asha.
“Briyan lucu juga ya? Kamu inget gak Sha? Dulu waktu sekolah, Briyan itu kan anaknya jaim banget, cuek, cool, datar, tapi kok sekarang jadi begitu ya?” Abim menggaruk tengkuknya merasa aneh.
“Hmh, setiap manusia selalu memiliki sisi lainnya kok"
“Bu Asha!”
Asha dan Abim kembali mendongak menatap Briyan yang kembali mendatangi ruangan Asha, kali ini apalagi yang akan dia lakukan? Batin Asha bertanya-tanya.
“Boleh saya meminjam penggarisnya? Penggaris saya patah” Briyan mengacungkan sebuah penggaris yang tinggal sepotong.
Asha mendesah kesal, apa perusahaan Briyan sebegitu ceteknya? Hingga tidak memiliki pensil dan penggaris cadangan?
Asha menyodorkan penggarisnya, membiarkan Briyan kembali keluar lalu kembali menanggapi ucapan Abim yang kini tengah menatapnya dengan raut bingung.
“Tidak perlu terlalu ditanggapi, mungkin Briyan sedang kurang piknik”
__ADS_1
Abimanyu dan Asha terkekeh bersama.
“Oh ya Sha, ada yang ingin aku bicarakan padamu, nanti malam boleh kita bertemu? Aku ingin mengajakmu makan malam bersama” pinta Abim dengan nada yang sedikit bergetar karena grogi.
Asha menunduk, merasa bingung dengan ajakan Abimanyu yang tiba-tiba.
“Bersama kedua orangtuamu lagi?” tanya Asha kemudian.
“Bu Asha!”
Asha kembali merasa kesal karena tiba-tiba Briyan kembali datang dengan wajah tanpa dosanya, mengganggu obrolan Asha dan Abim yang tengah serius. Bahkan Abim belum sempat menjawab pertanyaan Asha.
“Kali ini apalagi yang ingin Pak Briyan pinjam?” tanya Asha dengan mengeratkan giginya kesal.
“Penghapus, kebetulan penghapusku rusak, gambarku malah menjadi hitam legam kala aku menghapusnya, bukankah itu salah penghapus? Bukannya menghilangkan kesalahan, tapi malah melebarkan noda” Briyan menjelaskan dengan raut menjengkelkan.
“Ini penghapusnya” Asha menyodorkan penghapus miliknya, penghapus terbaik dengan merek ternama.
“Terimakasih” Briyan tersenyum lebar.
“Saya harap Pak Briyan tidak meminjam barang-barang saya lagi, karena saya rasa perusahaan Pak Briyan cukup besar, jadi tidak mungkin kekurangan ATK” ucap Asha dengan geram.
“Tentu saja, aku tidak jatuh bangkrut, hanya saja aku tidak ingin turun ke bawah, berpanas-panasan untuk membeli sebuah penghapus” ucap Briyan dengan nada yang masih sama.
“Bukankah Pak Briyan memiliki pegawai yang bisa disuruh untuk membeli keperluan kantor?” Asha memicingkan matanya.
“Tentu saja, tapi Bu Asha tahu sendiri, kalau aku bukan orang yang ingin selalu merepotkan oranglain” ucap Briyan kemudian, membuat Asha semakin memutar kedua bola matanya dengan malas.
Nasib! Kenapa harus begini? Jeritan hati Asha sudah mengudara.
“Kalau begitu saya pamit dulu ke ruangan saya lagi, karena saya tidak ingin menjadi orang ketiga untuk kalian berdua, tahukan? Kalau yang ketiga antara yang sedang berdua itu adalah setan?” Briyan melirik Abim dengan tatapan kesalnya.
“Hah?” Abim gelagapan.
“Tidak baik berdua-duaan di ruangan seperti ini, kalian bukan muhrim, bisa saja terjadi fitnah untuk kalian berdua” ujar Briyan kemudian, membuat Asha dan Abim saling pandang kemudian mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan sikap Briyan.
“Oh ya, kalau begitu aku permisi dulu Sha, nanti aku hubungi lagi” merasa tersindir, Abimanyu segera pergi, bergegas meninggalkan ruangan Asha.
“Hah? Oh ya ...” Asha mengangguk bingung.
Briyan kembali melirik wajah Asha yang tengah menatapnya dengan tatapan tajam, mengedipkan sebelah matanya lalu beranjak pergi begitu saja.
Sekarang, sudah bisa kita tebak! Hati siapa yang paling kesal!.
__ADS_1