SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Tidak Sadarkah?


__ADS_3

Asha membuang pandangannya kala netranya menatap sosok yang tengah mengumbar senyum padanya, menyapanya dengan panggilan yang kini Asha benci.


“Ayang ...” Briyan mendekat lantas terkekeh sendiri, Asha memalingkan wajahnya. Briyan sengaja memanggilnya seperti demikian hanya karena ingin mengingatkan Asha tentang masa lalunya.


Mamih yang melihat interaksi keduanya segera memecah rasa canggung yang terjadi.


“Bry ... jangan goda Asha, ayo ikut makan sama Mamih dan Asha” Mamih bersiap meraih piring untuk Briyan, namun dengan segera Asha berdiri, hingga gerakan tangan Mamih urung dilakukan.


“Mih, Asha pulang dulu, kasihan Bi Inah di rumah nungguin Asha” Asha beralasan, tersenyum tipis lantas bersiap pamitan.


“Tapi Sha, kamu masih belum menghabiskan makanannya lho” Mamih melirik mangkuk Asha yang baru dimakan separuhnya.


“Kalau kamu gak nyaman karena ada aku, aku pergi aja” Briyan berucap lesu, wajahnya terlihat begitu sendu, dan terlihat sangat sedih, hingga membuat Asha merasa tidak enak dan merasa bersalah.


“Eh, bukan begitu, aku memang sudah selesai” Asha menggeleng. Dalam hati dia merutuki, kenapa juga harus ada rasa ini di saat seperti ini?. Hhuuuhhh ...


“Mih Asha pamit pulang” Asha meraih tangan Mamih, mencium punggung tangannya, lantas memeluk Mamih sebentar.


“Sha, ini sudah malam, sebaiknya kamu pulang diantar Briyan saja, tidak baik anak perempuan keluar malam sendirian” Mamih menawarkan sesuatu yang jelas-jelas membuat Asha merasa tengah memakan buah simalakama. Dituruti jelas Asha tidak menyukai kehadiran Briyan, tidak dituruti bagaimana mungkin? Asha tidak enak dengan Mamih.


“Tidak apa-apa Mih, Asha bawa mobil kok, lagipula jarak rumah kita kan dekat” Asha menolak dengan lembut, sementara Briyan hanya menyimak, dalam hati berdebar tak karuan, berharap Asha menganggukkan kepalanya, lantas mengatakan ‘YES’.


“Begitukah? Padahal Mamih sangat mengkhawatirkan Asha” Mamih mengulas senyum kecewa, membuat Asha tidak enak hati melihatnya.


“Ya sudah, Asha diantar Briyan saja” Asha akhirnya mengangguk setuju, meski dalam hati terus mengutuki keadaan, kenapa harus seperti ini???.


YES!

__ADS_1


Sekarang, bisa kita tebak hati siapa yang paling bahagia kini.


Hening.


Itu yang terjadi di dalam mobil yang ditumpangi Asha dan Briyan, mereka sama-sama tenggelam dalam kenangan masa lalu juga khayalan masa depan, bagi sebentuk hati lainnya bersama seperti ini adalah hal yang begitu menyakitkan, namun bagi sebentuk hati lainnya hal seperti ini adalah sebuah impian yang berubah menjadi kenyataan. Tuhan mendengarkan doa-doanya, memberikan kesempatan untuknya untuk mengatakan sesuatu yang tidak pernah tersampaikan. Ini adalah kesempatan emas baginya. Kedepannya belum tentu kesempatan ini bisa kembali terulang. Maka berterimakasihlah Ia pada sang Ibunda tercinta yang telah mendukungnya sepenuh hati tadi.


“Sha ...”


Itu suara Briyan, pria itu mencoba memecah keheningan, menyapa Asha dengan suara paling lembut miliknya.


“Hm” Asha menggumam singkat, seperti enggan menanggapi apapun yang bersumber dari suara Briyan.


“Ada hal yang ingin aku katakan” Briyan menelan ludahnya kelat, kenapa juga sekarang semuanya terasa sulit? Bahkan untuk mengatakan hal yang ingin dia sampaikan.


“Aku rasa, aku merasa canggung kala harus duduk sedekat ini dengan mantan suamiku, terlebih di masa lalu hubungan kita tidak pernah baik, diam akan menjadi solusi terbaik untuk hubungan kita sekarang, kedepannya jangan lagi muncul dihadapanku, untuk urusan apapun itu” suara ketus Asha membuat Briyan merasa terhempas, susah payah mencari momen seepik ini, lantas Asha mengatakan hal kejam seperti ini? Oh ... bolehkah Briyan mengutuki kata-kata Asha?.


“Tapi Sha ...”


Sial! Kenapa juga jarak antara rumah Asha dan Briyan begitu dekat? Hingga mereka begitu cepat tiba, padahal Briyan masih menginginkan terus bersama Asha.


“Mobilnya mogok lagi Den?” suara itu mengagetkan Briyan, Briyan segera menoleh, ternyata satpam yang tempo hari Briyan tipu tengah berdiri di sampingnya.


Briyan mendengus kesal, lantas mengambil beberapa uang kertas berwarna merah, lalu memberikannya dengan kesal.


“Buat tutup mulut!” ucapnya lantas segera kembali melajukan mobilnya untuk kembali pulang ke rumahnya.


Satpam yang di sawer uang oleh Briyan jelas saja gelagapan menerima uang tersebut, mau di tolak Briyan sudah berlalu, mau dibuang sayang, jelaslah sudah kemana uang itu akan berakhir. Jelaslah! Masuk kedalam saku bajunya. Bersiul pelan, sang satpam mengucapkan terimakasih dalam hati pada Briyan.

__ADS_1


Sementara itu ...


Di dalam rumah, Asha mengurut dadanya, rasa cemas, gelisah, benci, rindu, semuanya melebur jadi satu, hingga membuat Asha merasa tidak nyaman. Segera gadis itu berlari menuju kamarnya, mengeluarkan sesuatu dari tasnya, meraih beberapa butir obat, lantas langsung menenggaknya, hingga tubuhnya terasa normal dan tenang.


“Aku mencintai diriku sendiri, aku bisa melupakan semuanya” gumamnya pelan.


***


“Selamat pagi Bu!”


Asha tersenyum pada beberapa karyawan yang kini tengah menyapanya, memutuskan untuk berangkat ke butiknya di pagi ini adalah keputusan terbaik, di depan buku sketsa Asha merasa tengah berada di dunia lain yang mampu mengalihkan perhatiannya dari segala kemelut yang mendera hidupnya. Bertemu dengan beberapa client membuatnya mampu melupakan segala beban yang menumpuk di pundaknya. Berinteraksi dengan beberapa pegawai juga bisa mengembalikan senyuman Asha. Sungguh, Asha butuh itu semua untuk bisa membuat dirinya menjadi lebih waras lagi.


“Pagi ...” Asha menjawab ramah, lantas segera beranjak menuju ruangan pribadinya.


“Bu, tadi ada kiriman buat Ibu” seorang pegawai memberitahu sebelum Asha benar-benar memasuki ruangannya.


“O ya? Siapa pengirimnya?” Asha mengernyit merasa tidak pernah memesan apapun.


“Saya kurang tahu Bu, mungkin penggemar Ibu” jawabnya cengengesan, Asha hanya tersenyum lalu menerima kiriman tersebut dengan raut penasaran.


“Terimakasih”


***


‘Hay ... selamat makan! Sengaja aku kirimin kamu sarapan pagi ini, agar kamu semangat menjalani hari, semangat bekerja, semangat menata masa depan, terlebih jika itu bersamaku! Jangan merasa terbebani, karena sesungguhnya apa yang aku katakan adalah kebenaran! Haha. Kamu melarangku untuk tidak menemuimu lagi, tak apa. Tapi aku masih bisa menemuimu lewat sarapan, makan siang, dan makan malam yang akan aku kirim setiap hari. Jangan cemberut! Kamu makin cantik jika cemberut, dan aku tidak suka kamu terlihat cantik di hadapan pria lain. Jangan lupa tersenyum (Emot smile).’


Dari B.

__ADS_1


Asha meremas kertas yang terselip di antara boks makanan yang kini ada di hadapannya, tanpa ingin membukanya, Asha sudah tahu siapa yang mengiriminya makanan pagi ini. Asha segera memanggil salah satu karyawannya, memberikan padanya, dan memintanya untuk segera menghilangkan jejak dari makanan tersebut, Asha sungguh membenci Briyan, bisa-bisanya pria itu begitu gencar mendekatinya.


Tidak sadarkah Briyan? Apa yang sudah dilakukannya di masa lalu?.


__ADS_2