SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Keras Sekali Hatimu Sha


__ADS_3

Kabar yang Asha dengar membuat jantung Asha terasa berhenti berdetak, teringat akan kisah masa lalu indah yang pernah mereka lewati bersama, antara Papih dan juga Asha, Papih yang selalu baik, pria bijaksana yang selalu menemaninya setelah orangtuanya pergi ke hadapan Illahi, Papih mengambil tanggung jawab Papah Asha sebagai seorang Ayah.


Papih yang selalu tersenyum, Papih yang selalu menggendong Asha ketika Asha bersedih, Papih yang selalu datang ketika Asha kesulitan, bahkan ketika Asha menciptakan banyak masalah di sekolah, Papih yang selalu Asha banggakan pada dunia, kini tengah terbaring di sebuah brankar rumah sakit, matanya terpejam, wajahnya layu, tidak sesegar seperti hari sebelumnya, hari dimana lima tahun yang lalu Asha memutuskan untuk pergi meninggalkannya juga segala kenangan manis dan luka yang pernah putra Papih torehkan di hati Asha.


“Papih ...” Asha tidak lagi mampu membendung air matanya, buliran bening itu turun berjatuhan mengenai tangan Papih yang tengah Asha genggam. Bunyi dari monitor yang memantau detak jantung Papih terdengar, Papih dinyatakan koma setelah sebelumnya Papih sempat pingsan karena penyakit yang dideritanya. Tidak ada yang tahu, apa yang akan terjadi pada Papih selanjutnya. Karenanya perkara usia bukanlah urusan manusia.


“Maafin Asha yang belum bisa membalas semua kebaikan Papih” tangis Asha mulai terdengar, dalam hatinya mengutuki semua yang telah terjadi, hanya karena rasa sakit yang Asha derita akibat Briyan, Asha menjadi abai pada mantan mertuanya tersebut. Tidak ada masalah antara orangtua Briyan dengan Asha, hanya saja rasa sakit yang ditorehkan oleh Briyan-lah pemicu dari semua kemelut yang terjadi.


“Sha ...” tangan lembut itu kini memegang erat bahu Asha yang tengah bergetar.


“Papih selalu bilang, kalau Papih sayang Asha, Papih juga bilang katanya Papih minta maaf karena gak bisa jagain Asha, seperti ketika Asha masih tinggal di dekat kami”


Asha mendongakkan kepalanya, menatap Mamih yang kini juga tengah menatap Papih yang masih terdiam, mata Mamih begitu sembab, mungkin sebelumnya Mamih terlalu banyak menangis karena Papih, katanya sebelumnya Mamih juga sempat pingsan beberapa saat yang lalu.


“Asha juga sayang Papih, maaf Asha udah mengabaikan Papih” Asha kembali terisak, tak kuat lagi mengatakan apapun, Asha tenggelam dalam rasa sedihnya, sekelebat bayangan kala Papah meninggalkan Asha untuk selamanya berkelebat dalam ingatan, membuat trauma Asha kembali, hingga membuat Asha merasakan ketakutan yang teramat.


“Papih tahu kalau Asha sayang Papih” Mamih menepuk pundak Asha menenangkan.


Hening ...


Beberapa saat yang terdengar hanya bunyi dari alat-alat penunjang untuk tubuh Papih, Asha dan Mamih memilih untuk diam, tenggelam dalam lamunan masing-masing.


Sementara itu, di luar ruangan tempat Papih di rawat Briyan tengah mengacak rambutnya frustasi, merasa telah gagal menjadi seorang anak yang bisa membahagiakan orangtuanya, Briyan memilih untuk memukuli tembok berulang kali sebagai pelampiasan kekesalannya. Hingga seruan alam terdengar, Briyan menyadari satu hal, bahwasannya Papih dan semua yang berada di muka bumi ini adalah milik Allah, Briyan tidak menyesali ataupun merasa memiliki, karena sejatinya semua hanyalah titipan yang maha kuasa, semuanya akan kembali diambil jika waktunya sudah tiba.

__ADS_1


Berjalan gontai, Briyan memilih untuk meninggalkan tempat tersebut, melangkah menuju sebuah mushola, Briyan tahu, untuk saat ini Papih hanya butuh do’a.


***


Kkrriiiieettt ...


Pintu di buka, terlihat di sana Asha masih terduduk di sebuah kursi di samping Brankar Papih dengan tangan Papih masih dalam genggamannya, perempuan berhijab itu ikut tertidur di samping Papih dengan sisa isakan yang kadang masih terdengar, sementara di sebuah kursi yang tidak jauh darinya, Mamih juga tengah terduduk dengan mata terpejam, rupanya terlalu lama menangis membuat kedua perempuan beda generasi tersebut merasa lelah dan tidak sadar terlelap.


Briyan menghela napas berat, di lihatnya di samping Asha juga ada sebuah al-quran yang masih terbuka, kemungkinan sembari menunggui Papih, Asha tadi sempat membaca al-quran, Briyan merasa tersentuh, dadanya menghangat melihat Asha sekarang, kekaguman Briyan kian membuncah, dan semua perasaan itu tidak bisa Briyan cegah.


“Sha ...” Briyan mencoba membangunkan Asha dengan pelan, takut mengganggu istirahat Mamih.


Namun, Asha tidak bergeming, tetap tertidur dengan begitu pulasnya, padahal posisi tidurnya sangat tidak nyaman, bisa dipastikan Asha akan mengalami pegal dan kaku ketika bangun nanti.


Tangan Briyan sudah mengamang hendak membangunkan Asha, namun segera urung kala dilihatnya mata bening Asha mengerjap, Asha menggisik matanya, lantas segera mengedarkan pandangan, meraba tengkuknya yang terasa kaku, pandangan Asha terhenti pada sosok Briyan yang kini tengah menatapnya tanpa berkedip.


Asha tersentak kaget, sudah malam? Rasanya tadi masih sore, kenapa waktu cepat sekali berlalu? Asha mengusap wajahnya, segera dia merapikan penampilannya, meraih tas yang dibawanya dan mulai beranjak hendak meninggalkan ruangan, setelah sebelumnya sudah berpamitan pada Papih yang masih tertidur entah sampai kapan.


“Sha, aku anterin, ini sudah malam, gak baik perempuan keluar malam sendirian” Briyan menawarkan dengan baik hati.


“Tidak perlu, aku bisa sendiri” Asha menolak secara terang-terangan.


“Sha, bahaya kamu ...”

__ADS_1


“Aku mau naik taksi online, kamu tenang saja, semuanya akan baik-baik saja” Asha menepis tangan Briyan, dengan suara rendahnya Asha kembali menolak tawaran Briyan.


“Jangan ngeyel Sha, ini sudah sangat malam, di luar bahaya buat kamu”


Tanpa basa-basi Briyan menarik ujung baju lengan Asha, lantas membawanya keluar ruangan menuju tempat parkir, tak ingin banyak drama, Asha memasuki mobil Briyan dengan terpaksa.


Sepanjang jalan, suasana begitu hening, tidak ada yang berniat untuk memulai kata, keduanya tenggelam dalam lamunan masing-masing, hingga tiba di pekarangan rumah megah Asha Briyan menghentikan laju mobilnya.


“Terimakasih sudah menemaniku hari ini Sha”


“Aku pergi karena aku sangat menyayangi Papih, bukan karena aku sengaja ingin menemanimu” Asha menegaskan, membuat Briyan sedikit terhenyak namun juga tidak bisa menyangkal ucapan pedas Asha.


“Baiklah, terimakasih untuk kasih sayangmu untuk Papih” Briyan meluruskan, lebih baik mengalah daripada Ia harus kembali jauh dari Asha.


“Sudah sepantasnya aku melakukan hal tersebut untuk Papih, bagiku Papih adalah Papah” ucap Asha seraya membuka pintu mobilnya, keluar dari sana meninggalkan Briyan yang kini tengah mencengkram setir mobilnya dengan kuat.


“Keras sekali hatimu Sha” Briyan menggumam kesal.


Sementara itu, Asha mulai berjalan menuju rumahnya, tak peduli lagi pada Briyan yang masih berada di dalam mobilnya, tidak ada niatan basa-basi meminta Briyan untuk mampir dulu ke rumahnya, Asha tidak peduli dengan hal itu.


Langkah Asha sempat terhenti kala Ia baru menyadari ada banyak bunyi notifikasi pada ponselnya, perlahan Asha membuka ponselnya, matanya terbelalak kala melihat betapa banyaknya panggilan dan chat dari orang yang sudah di beri janji olehnya siang tadi.


‘Sha? Kamu dimana? Aku menunggumu’

__ADS_1


Abimanyu ...


Batin Asha meringis menahan tangis.


__ADS_2