
Asha berjalan gontai melewati lorong rumah sakit, pikirannya berkelana entah kemana, suara permohonan Mamih masih terus terngiang di telinganya, langkah apa yang harus Asha ambil? Asha tidak pernah tahu jika hari ini akan tiba, hari dimana untuk pertama kalinya Mamih memohon padanya. Selama ini Mamih selalu bersikap baik pada Asha, memberikan dan mengabulkan semua pinta Asha, menyayangi Asha dengan tulus semenjak kedua orangtua Asha pergi untuk selama-lamanya, namun Mamih sama sekali tidak pernah meminta apapun pada Asha. Membuat Asha menjadi tidak nyaman sekaligus tidak enak hati sendiri jika Asha harus mengabaikan permintaan Mamih.
“Asha?”
Asha menoleh pada sumber suara, langkahnya terhenti kala netranya bertemu pandang dengan seorang perempuan paruh baya bersama dengan beberapa perempuan dengan usia kisaran serupa. Mereka tampak antusias menatap Asha lekat dengan tatapan menilai yang berlebihan, membuat Asha menjadi sedikit risih.
“Oh, Tante?” Asha menghampiri, lantas segera mencium punggung tangan perempuan tersebut, mencium pipi kiri dan kanan dengan sopan.
“Asha kenapa di rumah sakit? Apa Asha sedang sakit?” perempuan itu bertanya dengan raut khawatir.
“Tidak Tante, Asha baru saja menjenguk saudara Asha yang tengah sakit”
“Oh begitu? Dimana saudara Asha, bisa Tante juga menjenguknya?”
Hah?
Asha gelagapan, segera kepalanya menggeleng bingung, kenapa juga Asha harus bertemu dengan Ibu-nya Abimanyu di saat seperti ini? Takdir macam apa ini?.
“Tidak perlu Tante, jam besuknya sudah habis” Asha beralasan, dan segera di angguki Ibu-nya Abimanyu.
“Baiklah kalau begitu, maaf Tante tidak bisa menjenguknya”
“Tidak apa-apa Tan, Tante sendiri kenapa ada disini?” Asha melirik pada Ibu-Ibu yang sedari tadi sibuk berbisik-bisik di belakang Ibunya Abim.
“Tante habis jenguk teman arisan Tante” ucapnya menjelaskan.
“Jeng? Siapa ini? Kenalin dong sama kita-kita” tiba-tiba si Ibu bertubuh montok menyenggol tubuh Ibunya Abimanyu. Membuat Ibu Abimanyu mengerjap tidak enak pada Asha.
__ADS_1
“Emmmhh, ini Asha, Asha ini calon menantu saya”
Deg
Asha terdiam kaku, menatap pada wajah Ibu dari Abimanyu yang kini tengah tersenyum cerah, dengan bangga memamerkan Asha bahwa Asha adalah calon menantunya, padahal sudah jelas jika Asha belum memberikan keputusan apapun untuk Abimanyu dan keluarganya.
Tak kuasa jika harus mengecewakan Ibu Abimanyu Asha hanya tersenyum canggung kala segerombolan Ibu-Ibu tersebut tengah bergantian menyalaminya dengan dalih berkenalan, lantas satu persatu memuji Asha dengan senyuman tulus di wajah mereka.
Asha menghela napas berat, entah apa yang harus Asha lakukan sekarang, hatinya kini tengah bersengketa, harus memilih antara Abimanyu pria tulus yang mau menerima segala kekurangannya, pria baik yang mau memperjuangkannya, atau mempertimbangkan permintaan Mamih yang juga sudah teramat baik sedari Asha kecil dulu. Semuanya membuat Asha pusing, berulang kali mendesah pelan Asha begitu frustasi.
***
“Gue bingung banget Dis”
Asha menutup kepalanya dengan bantal kala gadis itu menyambangi rumah Gendis sahabatnya, kebetulan hari ini Vidi sedang bekerja dan Gendis mempersilahkan Asha untuk berkunjung ke rumahnya.
Asha menceritakan segala kemelut di hatinya, dimana Asha sedang dalam mode bingung memberikan jawaban pada dua lelaki yang berharap padanya, sibuk memikirkan jawaban terbaik yang tidak akan menyakiti hati Mamih maupun hati orangtua Abimanyu.
“Kenapa harus bingung sih?” Gendis melirik pada Asha yang masih menggulingkan tubuhnya di atas karpet bulu-bulu.
“Ya coba Lo bayangin, Mamih maupun Ibu Abimanyu, kedua orangtua itu berharap banyak sama Gue, berharap bisa menerima anaknya biar jadi pendamping hidup Gue, Gue harus jawab apa Dis?” Asha kembali merengek.
“Kok Lo masih mikirin gimana perasaan mereka sih? Sekarang Gue mau tanya deh, gimana perasaan Lo? Gimana hati Lo?” Gendis bertanya dengan nada tegas.
“Maksudnya?” Asha mengerutkan keningnya dalam.
“Maksud Gue, maunya hati Lo sekarang gimana? Lo nyaman tinggal sama siapa Sha? Sama Briyan atau sama Abimanyu? Lo pilih salah satunya, terus Lo putusin buat milih siapa, jangan karena Lo ngerasa gak enak, terus Lo mutusin buat tinggal bersama orang yang salah, sama seperti sebelumnya, Lo itu masih muda Sha, Lo berhak bahagia” Gendis memaparkan pendapatnya dengan tenang, menghadapi Asha tidak harus dengan kekerasan, namun harus dengan kelembutan yang juga tegas. Asha kehilangan kasih sayang orangtuanya sedari kecil, Asha akan sangat tidak nyaman jika harus dikasari, atau Asha akan semakin bersikap aneh.
__ADS_1
“Tapi Dis serius Gue ngerasa gak enak sama Mamih juga Ibunya Abim, tatapan mereka penuh harap, Gue gak bisa gitu aja buat mereka kecewa” Asha kembali menenggelamkan wajahnya di bantalan sofa.
“Asha! Sha! Coba dengerin Gue!” Gendis melempar bantalan sofa yang betah di peluk Asha, hingga memperlihatkan wajah kusut Asha.
“Gak gitu konsepnya Sha!” Gendis menggeleng menatap Asha dalam, membuat Asha mengerutkan keningnya dalam.
“Maksudnya?” Asha masih dengan raut bingungnya.
“Sha, gak gitu cara hidup, sebelum Lo membuat oranglain bahagia, Lo harus bahagiain diri Lo sendiri, sebelum Lo mencintai oranglain, cintai dulu diri Lo sendiri, sebelum Lo sayang sama oranglain sayangin diri Lo sendiri Sha” Gendis dengan tegas berucap.
“Tapi Dis Gue gak bisa, hati Gue terasa ada yang mengganjal kalo misalnya Gue gak bisa membuat orang yang udah sayang sama Gue kecewa” Asha meronta kala pundaknya di pegangi oleh Gendis.
“Gak gitu Sha, Lo harus bahagia dengan cara Lo sendiri, bukan dengan cara oranglain, konsep bahagia itu bukan membuat oranglain bahagia lantas membuat hidup Lo menderita!”
“Move on Sha! Bangun! Bangkit! Jangan terus menerus ada di jurang yang sama, lima tahun Sha! Lima tahun Lo terpuruk setelah perceraian Lo! Apa Lo gak bisa move on? Apa pesona Briyan begitu menenggelamkan kewarasan Lo? Sampai sekarang Lo masih aja dengan berbesar hati menjadikan Briyan sebagai bahan pertimbangan, iiieeewww kalo Gue nih ya! Udah digituin sama laki, ogah balik lagi, jangankan balik lagi ketemu aja udah males!” dengan gemas Gendis terus mengguncang tubuh Asha.
“Tapi hati Gue gak selamanya kuat Dis! Gue gak b ...”
“Biasakan Sha! Paksakan! Push! Jangan terlalu lama ada di zona nyaman Lo, atau Lo bakalan bablas ada di tempat mengerikan selamanya, Lo mau kejadian tempo lalu terulang lagi? lo mau ketergantungan sama obat, Lo mau terus melakukan serangkaian tes dan teraphy buat jiwa Lo, atau Lo mau terus ... “
“Nggak Dis, nggak!” Asha menggeleng kencang, air matanya sudah berhamburan.
“Orang yang beneran sayang sama Lo bakalan nerima Lo apa adanya, orang yang beneran cinta sama Lo gak akan pernah pergi meskipun Lo memintanya Sha” Gendis memeluk tubuh Asha yang kini tengah bergetar kuat.
Ternyata sekuat apapun Asha menyembunyikan luka dan rasa sakitnya, di hadapan Gendis sahabat Asha satu-satunya Asha adalah perempuan lemah, tak berdaya, hatinya terlalu rapuh untuk bisa menerima semua kenyataan yang ada.
.
__ADS_1