SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Koma


__ADS_3

“Assalamu’alaikum ...” sapaan salam berasal dari suara merdu seorang pria yang kini tengah mematung diambang pintu, menunggu dipersilahkan.


Seorang gadis cantik yang tengah fokus pada gambar di hadapannya mendongakan kepala, tersenyum sekilas, lantas segera mempersilahkan pria tersebut untuk segera masuk.


“Waalaikumsalam, silahkan masuk” Asha tersenyum lembut.


“Apa kedatanganku mengganggumu?” Abim duduk disalah satu kursi yang ada disana.


“Tidak” Asha menggeleng, lantas mengangsurkan sekotak makanan yang dibawanya dari rumah.


“Untukku?” ada perasaan yang membuncah kala melihat sikap baik Asha, setelah pertanyaan semalam yang Abim ajukan tentang kekukuhannya untuk tetap memperjuangkan Asha tidak mendapatkan jawaban, maka bolehkah hari ini Abim berbesar hati, karena merasa Asha telah memberikan lampu hijau padanya?.


“Tentu saja, Bi Inah yang buat” ucapnya kembali menundukan pandangan, pura-pura mencoret kertas padahal sesungguhnya gadis itu tengah merasakan sedikit gugup. Oh! Ayolah! Sebelumnya Asha tidak pernah diperlakukan selembut ini oleh seorang pria, sikap Abim sungguh membuat jantungnya berdebar.


“Terimakasih banyak Sha” Abim menerima makanan tersebut, lantas segera membukanya, bersiap memakannya sebelum atensinya berpaling pada sosok menyebalkan yang tiba-tiba saja datang.


Pengganggu! Umpatnya dalam hati.


“Selamat siang Bu Asha” pria yang kerap kali di sapa boss ganteng itu tersenyum menyebalkan, menghampiri mereka yang tengah menikmati suasana canggung namun berbunga.


“Hmh” Asha melengos membuang mukanya, namun pria itu tidak peduli, tetap bebal dengan duduk di samping Abimanyu yang tengah menggaruk tengkuknya.


“Woah ... rupanya kalian tengah makan siang bersama ya? Aku juga kebetulan belum makan siang, mau makan siang bersama?” Briyan menata makanan yang berada dalam sebuah kotak makan yang tadi di bawanya, menggelarnya di atas meja Asha, hingga meja menjadi penuh oleh makanan, setelah dengan baik hati Briyan menyingkirkan segala benda yang ada disana, membuat Asha menggerutu kesal namun juga tidak bisa berbuat banyak.


“Oh ya ... tentu kita makan siang bersama” Abimanyu menyingkirkan makanannya, berbagi tempat dengan Briyan.


“Ya, daripada kalian makan berduaan” Briyan mengedikan kedua bahunya acuh, membuat Asha dan Abimanyu saling pandang tak percaya.


“Makanan ini di buat oleh Mamih, Mamih bilang makanan ini adalah makanan favorit seorang perempuan yang disayanginya” Briyan mulai berceloteh, lantas menyendokkan udang saus tiram yang ada di wadah, dan menumpangkannya di piring Asha, membuat Abimanyu mengernyitkan keningnya, melirik pada Asha yang kini rautnya sudah menegang meski berusaha untuk tetap santai.

__ADS_1


“O ya? Siapa?” Abim bertanya basa-basi.


“Ada, seorang perempuan yang dulu mengaku sangat mencintaiku” Briyan dengan penuh percaya diri membeberkan kenyataan masa lalu, membuat Asha geram berada di posisinya sekarang.


“Wah, Bry ... kamu hebat sekali, memiliki seorang perempuan yang sangat mencintaimu” Abimanyu melirik Asha yang kini tengah menunduk menatap makanannya tanpa ada minat untuk menyentuhnya, pikiran Abimanyu kembali melayang pada masa mereka ketika sekolah, santer terdengar jika Asha juga adalah salah satu perempuan yang mengejar Briyan, meski Abimanyu bukan pria yang peduli dengan hal-hal berbau gosip, namun kabar itu masih diingatnya dengan jelas, Abimanyu segera menggelengkan kepalanya, menepis pikirannya yang tiba-tiba saja menjadi bercabang tidak jelas.


“Tentu saja, aku bangga pernah menjadi pria beruntung itu” Briyan mengusap dagunya, melirik Asha sekilas lantas mengedipkan sebelah matanya, membuat jiwa bar-bar Asha kian meronta, sekelebat Asha merasa kesal dengan sikapnya dulu, heuh ... andai waktu bisa diulang, sudah tentu Asha tidak akan melakukan hal bodoh yang kekanakan seperti itu lagi.


“Apa sekarang perempuan itu masih bersamamu?” pertanyaan Abim membuat Briyan berhenti mengunyah makanannya, melirik kembali pada Asha yang kini tangannya tengah bergetar.


“Tentu, dia berada didekatku” Briyan mendatarkan suaranya.


“Apa hatinya juga masih dekat denganmu?” Abim kembali mengajukan pertanyaan yang terdengar aneh bagi Asha.


“Bisa jadi” Briyan menatap lekat pada Asha yang kini tengah mendongakkan kepalanya, menggelengkan kepalanya perlahan, menatap Briyan dengan tajam.


“Wah ... kisah cinta yang luar biasa” Abim menyudahi acara makannya, membereskan kotak makanan, lantas menatap Asha dalam.


“Oh, ya ...” Asha mengangguk menyetujui, membuat hati seseorang yang berada di sebelah Abim terasa terbakar panas.


“Kalau begitu aku duluan, Bry ... aku duluan, titip Asha” pandangan Abimanyu beralih pada Briyan yang kini masih betah duduk di kursinya.


‘Memang aku penitipan barang!’


“Oh, tentu” Briyan menganggukan kepalanya berulang kali.


Abimanyu melangkahkan kakinya menuju luar ruangan meninggalkan Briyan juga Asha yang kini tengah saling menatap tajam dalam suasana hening.


“Oh, ayolah! Jangan menatapku seperti itu, seolah-olah aku adalah penjahat yang harus kamu bunuh” Briyan memutuskan kontaknya dengan Asha, kala dirasa tatapan Asha mengandung tatapan marah disana.

__ADS_1


“Apa maumu? Kenapa menggangguku terus?!” Asha berucap dengan sinis.


“Tidak ada, hanya saja sebagai sesama muslim, bukankah aku harus menyelamatkan muslim lainnya?” Briyan tampak acuh.


“Apa maksudmu?” Asha semakin geram dengan sikap tengil Briyan.


“Berduaan dengan bukan muhrim, bukankah itu tidak boleh dilakukan oleh non muhrim?” pertanyaan Briyan membuat Asha kian geram.


“Kamu tidak melihat itu??” Asha menunjuk letak jendela yang terbuat dari kaca, tirainya terbuka sepenuhnya, terlihat di sana beberapa karyawan Briyan tengah menatap mereka, dengan raut penasaran.


“Oh yaaa ... eemmmhh” Briyan gelagapan, namun segera atensinya kembali terpecah kala mendengar nada dering ponselnya, merasa terselamatkan segera Briyan mengangkatnya. Sementara Asha hanya bisa mendengus kesal.


‘Hallo, iya Mih?’


‘ .... ‘


‘A apa??!!’


Seketika raut panik menghiasi wajah Briyan, tubuhnya sedikit gemetar, lantas dengan kasar Ia mengusap wajahnya.


‘Mamih jangan panik, aku kesana sekarang!’ Briyan menutup teleponnya dengan tergesa, segera melangkahkan kakinya, tak peduli dengan kotak makan yang masih berantakan.


Asha ikut panik kala wajah Briyan kelihatan tak bersahabat, dengan segera Asha mengikuti langkah Briyan yang tergesa.


“Ada apa?”


“Papih masuk rumah sakit, Papih koma!”


Briyan menjawab dengan tergesa, dengan wajah frustasinya.

__ADS_1


“Apa? Aku ikut!” tanpa bisa dicegah Asha mengikuti langkah kaki Briyan yang mulai berlari menapaki tangga, melewati beberapa karyawan yang menatap mereka dengan tatapan aneh, tiba di lantai bawah mereka juga tetap berlari seolah memburu waktu, melewati beberapa pelanggan butik Asha, juga menyenggol beberapa manekin yang terpajang di tengah ruangan, hingga tiba di parkiran napas keduanya begitu terengah, hanya saling tatap mereka seolah memahami isi hati masing-masing, segera memasuki mobil yang sama, menuju tempat yang sama.


Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada seorang pria yang tengah menatap mereka heran, dengan pandangan sendu. Ia adalah Abimanyu, pria yang begitu mencintai Asha, namun harus terhalang oleh ruang dan waktu.


__ADS_2