
“Mamih sangat rindu sama kamu sayang”
Seorang perempuan hampir paruh baya merangkul gadis cantik yang kini penampilannya menjadi agak sedikit dewasa.
“Asha juga” tidak seperti biasanya, gadis cantik yang biasa selalu ceria, mudah tertawa dan selalu berisik ini hanya menjawab seadanya.
“Kamu kemana saja sayang? Briyan mencarimu sedari kemarin” Mamih mendaratkan bokongnya di salah satu kursi yang berada di taman kota tersebut.
Beberapa waktu lalu, di cuaca yang begitu terik ini Asha meminta bertemu dengan Mamih, tapi dengan syarat jangan memberi tahu siapapun, Mamih menyanggupinya, dan akhirnya disinilah mereka sekarang.
“Asha ada Mih” Asha menjawab dengan datar, hidupnya sudah bagaikan rumah tak berpenghuni, jiwanya kosong, pikirannya kalut, hatinya hancur bertubi-tubi menerima kenyataan yang harus dia telan sendiri.
Ini menyangkut orang-orang yang begitu dicintainya, mereka semua pergi dari hidup Asha dengan cara yang menyakitkan, mental Asha tidak kuat untuk menanggung beban sedemikian berat.
“Asha sudah membuka kunci ingatan Asha”
Deg!
Mamih terpaku sejenak, bagaimanapun hal tersebut adalah hal yang paling ditakutkan olehnya, sekarang Mamih mengerti kenapa Asha menghilang, dia menghilang bukan karena perselingkuhan Briyan, namun dia sadar jika kematian kedua orangtuanya ada sangkut pautnya dengan Briyan. Mamih begitu menyayangi Asha bagaikan anak sendiri, namun nyatanya mengetahui Asha sudah mengingat semuanya, mamih hanya bisa pasrah.
“Maafin Mamih, Mamih gak ada saat Asha mengalami rasa sakit yang luar biasa” Mamih terisak, kembali memeluk Asha dengan sayang, bertahun-tahun hidup bersama Asha membuat kasih sayang itu nyata adanya, namun Mamih sadar kesalahan yang dilakukan putranya juga begitu menyakiti Asha.
“Gak apa-apa, pada kenyataannya Asha bisa melewati semua ini sendiri” Asha tersenyum miris, di usianya yang masih begitu muda, Asha harus kehilangan bimbingan dan kasih sayang dari kedua orangtuanya, tidak ada keluarga yang mendampinginya, satu-satunya keluarga yang bisa Asha andalkan adalah Briyan, namun Briyan juga sudah mengkhianatinya dan menolaknya terang-terangan, lantas Asha bisa apa?.
“Maafin Mamih Sha, kemarin Mamih harus mendampingi Briyan dia ...”
__ADS_1
“Asha sudah mengajukan gugatan cerai untuk Briyan Mih, maaf Asha melakukan ini tanpa berdiskusi dulu dengan Mamih dan Papih”
Deg!
Bagai tersambar petir Mamih hanya bisa menganga, keputusan Asha ini sebetulnya sudah diprediksi Mamih sedari awal jika Asha sudah mengetahui semua kebenarannya, terlebih sikap buruk Briyan pada Asha selama ini pasti begitu menyakiti gadis itu.
“Tapi kenapa Nak? Semuanya bisa dibicarakan baik-baik, sedari kemarin Briyan mencarimu, dia sekarang sudah ...”
“Maaf, Asha gak bisa Mih, Asha tahu Briyan mencintai wanita lain, dan Asha tidak ingin merenggut kebahagiaan Briyan, seperti Briyan yang sudah merenggut kebahagiaan Asha”
Mamih melebarkan matanya, bagaimana mungkin? Kemarin Asha masih gadis polos yang pemalu dan manja jika bicara dengannya, selang beberapa waktu kini Asha sudah bisa bicara sedatar dan setegas sekarang.
“Briyan yang menjadi jembatan kematian kedua orangtua Asha, bagaimana mungkin Asha hidup dengan orang yang sudah menjadi perantara kematian kedua orangtua Asha Mih?” tangis Asha pecah, gadis itu menangis pilu, Mamih hanya bisa menghela napas berat, lalu menghembuskannya kasar, entah ujian macam apalagi yang akan menimpa putranya, entah bagaimana reaksi Briyan jika dia mengetahui kenyataan ini.
“Sayang, mamih mohon pikirkan kembali semuanya, semua masih bisa dibicarakan baik-baik Nak, kamu salah paham, ada hal yang tidak kamu tahu, Briyan juga sama menderitanya denganmu” Mamih mencoba menjelaskan pada Asha dengan lembut.
“Sayang, semuanya salah Mamih, maafin Mamih, fikirkan dulu semuanya baik-baik Nak, pikirkan kembali dengan matang, agar suatu hari nanti kamu tidak menyesal sayang, Mamih mohon” Mamih memohon dengan sangat, tidak hentinya perempuan itu terisak perih, menangisi nasib anak dan menantunya yang terlibat dalam situasi yang sangat rumit.
“Meskipun aku dan Briyan sudah bukan suami istri lagi, tapi Mamih tetaplah Mamih aku, pengganti Mamah yang sangat aku sayangi” Asha memeluk tubuh ramping itu, lalu mereka tergugu dalam pilu, menangis bersama meluapkan segala gundah yang sama.
***
“Sha ...”
Sentuhan lembut itu datang dari jemari lentik seorang gadis manis yang tengah memandangi Asha dengan tatapan iba.
__ADS_1
“Briyan membunuh kedua orangtua Gue Dis” wajah itu masih tertelungkup di atas kasur dengan bantal yang juga menutupi kepalanya.
“Sha, Briyan gak bunuh kedua orangtua Lo, yang membunuh mereka itu adalah preman-preman itu” Gendis mengelus rambut Asha, merasa begitu kasihan pada nasib yang menimpa sahabatnya itu.
Beberapa saat lalu Gendis yang berada di apartemennya di telpon oleh Asha, dan setibanya di sana Asha datang dengan keadaan yang kacau balau, lalu dengan terisak Asha menceritakan segalanya pada sahabatnya itu, kini tidak ada orang yang bisa mendengarkan keluh kesahnya selain Gendis sahabatnya.
“Kalau Briyan tidak lari, kalau Briyan tidak meminta pertolongan pada Mamah dan Papah, kalau Briyan ...”
“Sha, Lo hanya mencari pelampiasan dari semua rasa sakit Lo, Lo menuduh Briyan hanya agar hati Lo tahu siapa yang harus Lo salahkan atas semua sakit yang Lo derita, Sha ... semuanya adalah takdir Sha, gak ada kaitannya dengan Briyan” Gendis mencoba menjelaskan, namun hati Asha sudah mengeras, Asha masih tetap pada pendiriannya, jika Briyan adalah penyebab dari semua kekacauan di hidupnya, sekilas terbayang kembali bagaimana perlakuan Briyan juga pengkhianatannya, Asha semakin marah hingga Dia mengacak semua benda yang berada di kamar Gendis.
***
“Sha! Aku tahu kamu di dalem Sha! Aku bakalan nungguin kamu sampai kamu turun Sha!” Briyan masih menyerukan nama Asha dengan wajah mendongak ke atas, tepat pada balkon kamar Asha, Briyan tidak ingin menyerah, pemuda itu masih ingin menjelaskan banyak hal pada Asha, rasa bersalah juga cinta yang tiba-tiba menyelinap di relung hatinya, membuat Briyan begitu tersiksa, dan obat dari rasa menyiksanya sekarang adalah pertemuannya dengan Asha, namun sayang satu hari menunggu di depan rumah Asha, Asha tidak kunjung menemuinya.
“Sha! Aku sakit Sha!” Briyan kembali berteriak, biasanya Asha akan kembali berlari pada Briyan jika dia tahu suaminya itu tengah sakit atau terluka.
‘Ayang sakit? Aaauuuhh ... ini terlihat begitu menyakitkan, aku obatin yaaa’
‘Aku suapin ya? Atau Ayang mau mandi dulu? Mau aku mandiin?’
‘Aku tiupin ya?’
‘Aku tungguin Ayang sampai sembuh’
Kata-kata itu terlintas di benak Briyan kala saat itu Briyan tengah mengalami sakit.
__ADS_1
“SHA! KELUAR SHA! ATAU AKU BAKALAN BERDIRI DISINI SEPANJANG MALAM DAN KEHUJANAN DAN AKU BAKALAN SAKIT SHA!”