SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Side Story Gendis


__ADS_3

Bonchap 3


“Haiii Tante ...” seorang pria bertubuh jangkung kini sedang melambaikan tangannya di hadapan perempuan paruh baya yang tentu saja disambut dengan senyuman ramah.


“Vidi, ada apa Nak?” perempuan tersebut mengerutkan keningnya kala melihat Vidi tengah menggaruk tengkuknya bingung. 


“Ini, aku mau titip ini buat Gendis” Vidi menyodorkan sebuah kotak berisi coklat dengan merk brand ternama, terlihat menggiurkan, mengingat coklat adalah makanan kesukaan Gendis. 


“Gendis ada di dalam, kamu tidak langsung memberikan padanya?” Mamah Gendis mengerutkan keningnya semakin bingung. 


“Gak apa-apa, nitip Tante aja, lagian Gendis sekarang pasti lagi belajar buat ulangan kan Tan?” Vidi tersenyum malu-malu. 


“Ah, ya ... Vidi perhatian sekali Nak, padahal kamu juga pasti sedang sibuk dengan urusan kuliahmu” Mamah tersenyum senang, melihat ada yang memberi perhatian pada putrinya Mamah merasa tersanjung. Lagipula, Vidi bukan pria sembarangan, dia pria tampan dan berasal dari keluarga yang jelas bibit, bebet, dan bobotnya. Bahkan Mamah membayangkan, jika saja suatu hari nanti Vidi dan putrinya bisa bersama, maka Mamah adalah orang pertama yang akan mengumandangkan restunya.


“Tidak Tante” Vidi tersenyum kikuk, lalu setelahnya pemuda itu berpamitan, meninggalkan Mamah yang masih tersenyum sendiri, berharap dia kembali pada masa mudanya dulu. Menggelengkan kepalanya, Mamah segera menepis bayangan aneh yang melintas di kepalanya, lantas perempuan Ibu dari Gendis tersebut terkekeh geli karena tingkahnya. 


Gendis menuruni anak tangga dengan senandung riang yang dia gumamkan, gadis itu terlihat acak-acakan dengan pakaian setengah terbuka yang digunakannya, di rumah jarang ada orang, Papah sibuk bekerja dan akan kembali petang, dan Mamah memang seringkali bepergian ke luar rumah, entahlah Mamah selalu memiliki acara bersama teman-teman se-geng-nya. 


Saat hendak menuangkan air di dapur, mata Gendis melirik pada sebuah kotak yang berada di dekatnya, melirik aneh, lalu menatapnya lama, kotak tersebut terlihat cantik, dengan warna berwarna-warni yang terlihat lucu dan menggiurkan, Gendis segera membuka kotak tersebut, dan seketika mata Gendis berbinar saat melihat bahwasannya isi kotak tersebut adalah coklat, makanan kesukaannya. 


“Coklat!” Gendis berseru girang. 


“Ya ampuuunn, siapa yang beliin Gue coklat ini?? Ini bener-bener bisa naikin mood Gue banget, tahu aja Gue lagi pusing sama pelajaran, hihi” Gendis terkikik geli, perlahan tangannya segera mencomot coklat tersebut, memasukkannya kedalam mulut, seketika matanya terbelalak merasakan betapa lumernya coklat tersebut, membuat bibirnya menyunggingkan senyuman. 


“Woooaahhh enak banget! Heh! Siapapun kamu yang beliin aku coklat ini aku harap kita jodoh” Gendis tergelak dengan sayembaranya sendiri. 


“Itu Vidi yang beliin buat kamu” tiba-tiba Mamah datang sembari mengedikkan mulutnya, merasa heran dengan kelakuan putrinya sendiri. 


“What?? Tiddaaaakkk!!”


“Tidak, tidak, tapi coklatnya sudah mau habis kamu makan!” Mamah berdecak kesal, menatap kotak coklat yang hampir musnah tak bersisa. 

__ADS_1


“Aku fikir yang beliin itu Kak Ilham Mah, huaaaa”


“Halah, drama!” 


Mamah bergegas meninggalkan dapur dengan masker wajah di tangan yang baru saja diambilnya dari dalam kulkas, pasti akan terasa mengegarkan wajahnya, daripada harus melihat tingkah labil putrinya. 


*** 


“Oi! Mau kemana Lo?” Vidi tiba-tiba menghadang tubuh Gendis yang kini tengah menaiki sepedanya, bersiap menggoes. 


Gendis memutar bola matanya kesal. Namun, di seberang sana terlihat Kak Ilham tengah menatap interaksi mereka, mau tidak mau Gendis harus terlihat anggun dan kalem. 


“Mau Goes” Gendis terlihat menggeram kesal, saat melihat Vidi memainkan stang sepedanya. 


“Oohhh ...” Vidi memanggutkan kepalanya. 


Gendis mendengus kesal, sudah bisa ditebak memang kehadiran Vidi hanya akan mengusik ketenangan jiwa dan raganya. 


Sedari dulu, semenjak Gendis kedatangan tetangga baru di sebrang rumahnya, Vidi adalah sosok paling menyebalkan yang pernah Gendis kenal, berbeda dengan Kakaknya, yaitu Kak Ilham, pria itu terlihat calm, ramah, perhatian, juga lembut dalam waktu bersamaan, benar-benar type Gendis banget, jauh beda dari si ... tengil!.


Mulut Gendis baru saja akan terbuka lebar untuk protes, namun netranya kini sudah menangkap pemandangan yang membuat hatinya terpotek-potek, sakit tapi tak berdarah, kala matanya menatap seorang perempuan cantik kini tengah tersenyum pada Kak Ilham, perempuan tersebut turun dari sebuah mobil mewah. 


Benar-benar definisi cantik, membuat Gendis merasa insecure kala menatap tubuhnya sendiri. 


“I itu siapa?” Gendis bertanya dengan gagap, membuat Vidi menatap ke arah seberang dimana sang Kakak kini tengah berbicara dengan gadis cantik. 


“Itu Kak Ratih, calon ISTRI nya kak Ilham”


Deg!


Sekretika tubuh Gendis melemah, hampir saja tubuh gadis itu oleng, jika Vidi tidak menahan sepedanya. 

__ADS_1


“Kenapa Lo? Sedih? Karena Kak Ilham udah punya calon istri?” Vidis menatap sinis pada Gendis yang kini tengah berjuang menahan air matanya, tengah berjuang berusaha keras menahan gejolak di dadanya. 


Gendis patah hati bahkan sebelum dia mengungkapkan isi hatinya, kalau ibarat bunga, Gendis sudah mati bahkan sebelum mekar. 


“Makanya jadi cewek jangan kebanyakan halu! Suka sama cowok yang sudah tua dan mapan kayak Kakak Gue” Vidi mencebik kesal. 


“Apaan sih?” Gendis yang suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja langsung menepis tangan Vidi yang sedari tadi memegang sepedanya.


Tidak memperdulikan Vidi yang meneriakan namanya, Gendis menggoes sepedanya dengan kesal, air mata berjatuhan membuat Gendis terlihat kacau.


“Kenapa sih ya Allah? Kenapa gak dengerin doa aku?” Gendis meracau kala dia harus menerima kenyataan, bahwasannya calon imam yang dia impikan ternyata sudah memiliki makmum lain dihatinya.


“Ish! Menyebalkan!” Gendis merutuki dirinya sendiri, tangannya berusaha mengusap air matanya, sementara kakinya tetap menggoes sepedanya dengan kuat, hingga Gendis tidak menyadari ada sebuah batu yang menghalangi jalannya. Gendis oleng dan tidak bisa menyeimbangkan laju sepedanya. 


Bruk!


Gendis beserta sepedanya oleng dan terjatuh di jalanan aspal, kaki dan tangan Gendis terluka, membuat Gendis seketika meraung, tangan dan kakinya yang terluka mungkin sakit, namun hatinya jauh lebih sakit lagi. ayolah! Pangeran impiannya kini sudah dimiliki putri lain, memang siapa yang tidak akan merasa sedih?.


“Makanya kalau suka sama orang itu yang kira-kira dong!” seseorang menghampiri Gendis, lalu meraih tubuhnya, membawanya ke pinggir jalan di bawah pohon rindang. Masih sesenggukan Gendis menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria yang menolongnya. 


Tapi, tunggu!


Wangi parfum ini rasanya tidak asing, siapa dia? Gendis membuka kedua matanya, seketika matanya mengerjap bingung.


Vidi?


“Kenapa? Terpana sama pesona Gue?”


Gendis memelototkan matanya kesal, hingga tangannya memukul dada bidang Vidi yang telah menolongnya. Vidi hanya tertawa lalu mulai mengobati luka Gendis. Menempelkan plester pada luka di lutut dan siku Gendis, Gendis hanya bisa meringis menahan perih. 


“Heran, seneng banget di tempelin plester sama Gue” Vidi terkekeh. 

__ADS_1


“Lagian ngapain sih suka sama Kak Ilham, kenapa gak suka sama Gue aja Dis?”


“Hah?”


__ADS_2