SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Ratu-ku


__ADS_3

Seorang anak kecil memundurkan langkahnya manakala melihat genangan darah di hadapannya, dunianya terasa berputar tidak karuan kala melihat orang-orang yang telah membelanya tengah sekarat dan hampir meregang nyawa di tempat, matanya sempat kembali mengerjap kala terdengar sebuah teriakan histeris meneriakan nama kedua orangtuanya.


“Mamah!”


“Papah!”


“Tolooonnnggg!!” raungan itu serupa auman yang mampu menembus gendang telinganya dimanapun dia berada, tak peduli seberapa jauh jarak mereka kini, namun teriakan itu masih terdengar nyata.


“SHHHAAAA!!!”


Huh ...


Huh ...


Huh ...


Briyan bangkit dari tidurnya, malam ini dia kembali mimpi buruk, entahlah ... tidak ada yang tahu, bagaimana dia harus melewati ratusan malam dengan ribuan mimpi menakutkan dalam tidurnya, hingga berakhir Briyan menjadi kurang tidur, terlebih dari itu Briyan sudah lama tidak mampu membuka dirinya sendiri untuk orang asing, dalam pandangannya semua orang asing sama saja, sama-sama jahat seperti para pembunuh itu.


Darah yang menggenang, mata membeliak menahan sakit, rintihan tertahan, juga kerjatan pada kaki yang berusaha melepaskan rasa sakit yang mungkin tidak ringan, suara teriakan Asha, tangis pilu gadis itu, rasa traumanya, juga ... pelecehan terhadap Asha, semuanya adalah kesalahan Briyan, itu yang Briyan tahu semenjak ingatannya kembali, rasa bersalah itu begitu menumpuk, hingga sampai saat ini, bayangan Asha selalu mengunci setiap pergerakan Briyan, tidak ada yang bisa Briyan lakukan selain daripada mengejar Asha dan kembali menjadikan gadis itu miliknya.

__ADS_1


“Sekarang apalagi yang harus aku lakukan Sha? Aku mencintaimu, sungguh! Terlebih dari semua yang pernah terjadi pada kita di masa lalu.” Briyan meraba matanya sendiri, indahnya dunia ini tidak akan pernah dia lihat jika mata ini tidak pernah diberikan oleh Papah Asha.


***


Pagi ini mentari bersinar cukup terang, cuaca cerah meski sebagian penduduk bumi tidak sesemangat mentari pagi yang tengah melaksanakan tugasnya untuk menghangatkan bumi.


Asha berjalan perlahan menuju gedung tempat butiknya berada, gadis itu kembali dihentikan oleh salah seorang pegawai yang membawa sebuah bungkusan makanan. Asha memutar bola matanya malas, kenapa juga Briyan sudah beberapa hari terakhir tidak ada bosannya mengiriminya makanan, entah itu sarapan, makan siang, atau makan malam dengan menu yang berbeda, tentunya dengan note yang berbeda pula, kadang Asha pernah berpikir dari mana Briyan bisa belajar kata-kata dengan gaya alay seperti itu? Bukankah dulu Briyan adalah si pria kaku yang dingin dan galak? Ah ... Asha lupa, Briyan bersikap demikan kan hanya padanya, entah jika bersama Raisya? Bisa jadi Briyan juga melakukan hal yang sama. Mengingat semua kenangan pahit itu membuat Asha menggelengkan kepalanya berulang kali, merasa geram sendiri.


“Makan saja sarapannya Salsa, aku harus pergi ke suatu tempat sekarang” Asha memutar tubuhnya, meninggalkan sang pegawai juga makanan yang bahkan belum sempat di bukanya.


Asha melajukan mobilnya menuju sebuah pemakaman umum, turun dari mobil Asha menenteng dua buah buket bunga segar, berjalan dengan gamang gadis itu melangkahkan kakinya dengan ragu, air mata sudah mengembang meski tempat yang ditujunya masih lumayan jauh.


“Ah ... hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan Mamah dan Papah yang ke tiga puluh, harusnya kita bisa merayakannya bersama, Asha akan menjadi anak yang paling bahagia karena memiliki orangtua sebaik Mamah dan Papah, andai Asha bisa merasakan kasih sayang Mamah dan Papah lebih lama lagi” air mata Asha berjatuhan sepanjang jalan. Hingga langkah kakinya terhenti kala melihat seorang pemuda menggunakan pakaian serba hitam tengah berjongkok di hadapan makam kedua orangtuanya tengah bergumam dalam isakannya.


Asha tertegun, selama ini bukan hanya dirinya yang tersiksa dengan bayangan kelam tersebut, tapi Briyan juga? Asha baru tahu itu. Asha bisa merasakan seberapa tersiksanya berada dalam sebuah trauma yang begitu sulit dilupakan.


“Mamah, Papah ... Briyan janji, Briyan akan membahagiakan Asha, akan melindunginya, juga akan membuatnya nyaman dan menjadikannya satu-satunya ratu di kehidupan Briyan, bantu Briyan untuk itu”


Deg!

__ADS_1


Hati Asha berdesir mendengar permintaan Briyan dan niatnya untuk membahagiakannya, Asha sudah tidak tertarik untuk hidup bersama Briyan, bagi Asha masa lalu adalah sesuatu yang harus Asha lupakan dan tinggalkan, bagi Asha kembali pada masa lalu sama saja dengan kembali pada kebodohan yang sama.


Asha masih setia berdiri di belakang tubuh Briyan, sementara Briyan masih belum menyadari keberadaan Asha, Briyan masih mencurahkan isi hatinya di depan makam kedua orangtua Asha. Asha tidak pernah tahu, sejak kapan Briyan sering mengunjungi makam kedua orangtuanya?.


Lama menunggu, akhirnya Asha memutuskan untuk meninggalkan Briyan dengan segala curahan hatinya, tidak ingin mengganggu moment Briyan, Asha memutuskan untuk meninggalkan pemakaman dan berniat akan kembali lagi nanti.


***


“Bu, ada kiriman makan siang” Asha mendongakan kepalanya, lantas menatap Salsa yang tengah berdiri di ambang pintu, menunggu perintah selanjutnya, biasanya Salsa yang akan menyantap makan siang enak itu, namun hari ini, Asha sepertinya berminat untuk menyantap makanan tersebut, terbukti dengan Asha yang memintanya untuk menyodorkan bungkusan tersebut. Salsa meninggalkan ruangan Asha, lantas gadis itu segera membuka bungkusan tersebut.


‘Cantik! Kamu cantik ketika menggunakan baju warna pink kesukaanmu’


Seketika Asha celingukan, darimana Briyan tahu kalau dirinya menggunakan baju warna pink?


‘Gak usah celingukan begitu, aku tahu apapun yang kamu kenakan, apapun yang kamu lakukan, dan apapun yang ada dalam hatimu, aku hebat bukan? Haha ... selamat menikmati makan siangmu Ratuku.’


Asha menghela napas sebal, bagaimana mungkin Briyan sama sekali belum ada tanda untuk menyerah? Aiiiihhhh ... Asha mengutuki semua hal yang membuat hatinya sempat merasa terenyuh! Ingat! Harus jaga hati baik-baik! Jangan sampai perlakuan Briyan membuat Asha kembali tergoda hingga kembali luluh dengan segala pesona Briyan Alexander.


Tanpa berminat untuk memakan makan siangnya, Asha segera meraih ponselnya, berniat untuk memesan makanan untuk makan siangnya sendiri, sementara makan siang kiriman Briyan, seperti biasa, makanan itu akan bernasib sama dengan hari-hari sebelumnya, berakhir di perut karyawannya.

__ADS_1


Bertepatan dengan itu, sebuah chat masuk dari Abimanyu. Asha sempat mengerutkan keningnya, Abimanyu memang setiap hari tidak absen untuk menyapanya meski hanya lewat pesan, namun kali ini Abimanyu meminta sesuatu pada Asha?.


‘Sha, siang ini bagaimana jika kita makan siang bersama?’


__ADS_2