
Happy Reading !!!
Jangan lupa vote dan Komennya Kak!
...****************...
Kantin, Fakultas Ekonomi (KaFe)
Tanpa kusadari, buku-buku jemariku memutih, tanganku terkepal kuat sejak Kak Randu dihampiri teman wanitanya. Bukan sembarang wanita melainkan Kak Nisa si ketua jurusan. Tampangnya cantik, body-nya seksi, dan otaknya berisi, membuat seluruh wanita di kampus kami iri. Aku pun tidak terkecuali.
Aku kembali menggemeretakkan gigi saat tangan Kak Nisa membelai rahang tegas milik Kak Randu. Jika saja kantin ini sepi pengunjung, sudah kutarik rambut lurus sepinggang perempuan itu lalu kubenamkan wajahnya di meja professor killer karena tingkahnya yang kelewat batas. Dia pikir dirinya seorang heroine dalam sebuah novel romantis yang bebas melakukan hal-hal erotis pada kekasihnya di depan umum. Mata para jomblo akan tercemar dengan perbuatan tidak senonoh tersebut.
Sekarang aku membulatkan mataku dengan sempurna saat Kak Nisa memonyongkan bibirnya yang tidak sensual itu untuk mencium bibir ranum Kak Randu. GILA. Perbuatannya saat ini sudah melanggar kode etik mahasiswa FE. Bila dibiarkan begitu saja maka hal ini akan menjadi sebuah pembenaran. Tidak bisa didiamkan. Jika bukan aku yang menghentikannya, siapa lagi?
Jarak tempat duduk kami tidak terlalu jauh, hanya diapit satu meja kosong, setelahnya kursi yang diduduki Kak Nisa yang sedang meng-harras Kak Randu habis-habisan. Semua orang fokus dengan makanannya masing-masing, hanya aku yang memperhatikan interaksi bin*lnya yang tidak lagi bisa ditoleransi.
Tanganku meraih nomor meja yang terbuat dari plastik tebal yang menempel di tengah meja. Agak susah untuk melepas lemnya namun aku berhasil mencopotnya. Sorak-sorai bergembira meletup-letup bagai kembang api di hatiku. Asupan senjata sudah di depan mata tinggal kutembakkan.
Aku melemparkan rudal plastik itu ke udara. Dia meliuk-liuk sebentar dengan cantiknya sebelum akhirnya mendarat di kepala seseorang. PLUK. Aku berpura-pura menyedot strawberry milkshake ku yang belum terjamah sama sekali. SRUPUT. Aku sangat menikmati minuman itu karena berhasil menyabotase kebejatan seorang Nisa, Si Ketua Jurusan.
Saat aku mulai melahap siomay super pedas yang menari-nari di lidah, ku dengar suara teriakan yang menggelegar, menggemparkan hiruk-pikuk perkantinan yang damai sentosa.
"ANJIN*, siapa yang berani-beraninya melemparkan ini?"
Aku tahu ini suara siapa, tentu saja Kak Malik Mandalika, Ketua BEM Fakultas saat ini. Informasi singkat mengenai Kak Malik, orangnya tegas, disiplin, otaknya cerdas, dan perangainya baik? Pikir-pikir lagi deh jika mau berurusan dengan orang bersumbu pendek, maksud aku berkepala dingin. Upss, sorry Kak Malik buka kartu.
"JAWAB, BEG*," teriaknya. Matanya menatap nyalang ke seantero penjuru kantin. Kami, para mahasiswa tanpa jabatan, hanya terdiam membisu. Tidak ada yang berani buka mulut mengingat kebengisan orang itu. Kulihat Kak Randu berdiri lalu mendekatinya.
__ADS_1
"Woyy, santai bro, inhale-exhale," katanya sambil mengalungkan lengannya di leher Kak Manda.
"Lepasin gue, bego," Kak Malik mencoba menjauhkan lengan kekar Kak Randu.
Gak usah sok keradddd, bang.
"Cepetan lo ngaku sebelum gue obrak-abrik kantin ini," teriaknya sambil mengacungkan benda pipih yang tadi kulempar.
Kulihat semua orang di sekitarku tertunduk lesu dengan mata yang sayu, termasuk para penjaga stan makanan di pojokan kantin. Sepertinya di anatara mereka tidak akan ada yang berani untuk mengaku karena tentu saja, akulah si biang keroknya. Aku pura-pura menatap ke bawah, padahal sebenarnya mataku awas menatap kesana-kemari.
Kudengar Si Jalan*, Kak Nisa, berdeham di tempatnya. Kedua matanya memelototiku tajam. Aku tahu maksud pelototan itu. Sorot yang mengajak duel lawannya karena kami memang sudah bermusuhan sejak lama. Aku, si putri kecil, harus berhadapan dengan nenek sihir yang siap menerkamku dengan mulutnya yang beracun.
"Ngaku, BAB*. Apa perlu gue bikin komite disiplin buat ngehukum lo semua yang gagal paham makna ospek fakultas yang sesungguhnya?"
Aku mendengar suara-suara rakyat jelata di sekitarku yang redup akibat aura membunuh dari sang ketua BEM. Mereka hanya bercicit pelan bagai suara katak ditelan ular. Menyedihkan.
"Ayo dong, ngaku aja. Jangan sampai gue jadi kambing hitam. Kalau sampai gue dituduh, suram banget sisa masa perkuliahan gue diincer ketua BEM gila itu," sambar mahasiswa baru di meja samping kiriku.
"Lo tahu, Ndri. Masa ospek fakultas itu merupakan zaman 'dark age' bagi gue,"
"Ngakulah siapa, si. Heran banget cari masalah sama Tiran Kejam Tak Berperasaan,"
Dan masih banyak lagi suara-suara rakyat kecil yang tidak tersampaikan. Mungkin para jurnalis kampus sudah lelah menyuarakan opini-opini rakyat kecil yang di pandang sebelah mata.
"Manda gue boleh usul?"
Si Nisa K*mpret berjalan mendekati Kak Malik yang berdiri tidak jauh dari tempatku. Perempuan itu melemparkan senyum saat memandang ke arahku. Aku memasang muka mengiba berharap mengurangi tekanan batin yang sebentar lagi akan mendera.
__ADS_1
Jempol Kak Nisa mengacung ke arahku membuat wajahku pucat pasi. Keringat dingin mengucur dari balik anak rambutku tanpa bisa kutahan. Tubuhku bergetar dibanjiri sengatan ketakutan di sekujur tubuh. Gigi-gigiku bergemeletuk sementara hidungku kembang kempis.
Apakah saat ini merupakan akhir hidupku?
"Cewek itu, Manda. Gue liat, cewek itu yang tadi membanting benda yang lo pegang," tunjuknya pada plastik yang Kak Manda pegang.
Kak Manda melemparkan pandangannya ke arahku. Kilat amarah tercetak jelas di wajahnya. Saat itulah kurasakan bahwa hari ini memang hari terakhir bagi hidupku.
...****************...
NB : Stratifikasi sosial (kasta) di Kampus (Imajinasi) Kania
- Rakyat kecil : Mahasiswa semester 1 dan 2 yang masih memakai pita biru di pergelangan tangannya. Mereka merupakan bayi mungil paling mengenaskan di per-kasta-an ini. Dunia perkampusan itu bagi mereka merupakan sebuah hutan rimba yang susah sekali untuk dibabat habis. Mereka tidak punya peta, tidak punya pegangan.
- Kaum proletar : Mahasiswa Kupu-kupu semester 3 dan 4 yang kerjaannya cuma kuliah pulang - kuliah pulang. Mereka tidak terlalu tertindas karena waktunya di kampus cuma sebatas belajar.
- Kaum borjuis : Mahasiswa yang aktif berorganisasi baik sebagai keanggotaan maupun sebagai ketua divisi bagian dari tiap organisasi. Mereka memiliki peran untuk menyiksa rakyat kecil, namun kekuasaannya masih terhalang oleh kasta di atasnya.
- Kaum Bangsawan : Mahasiswa yang menjabat sebagai ketua di sebuah organisasi selain BEM. Karena jumlahnya yang lebih sedikit, mereka berfungsi sebagai penasihat dari para Raja.
- Raja dan Ratu : Mereka yang memiliki posisi sebagai ketua BEM kampus. Kesewenang-wenangan mereka terhadap kaum kecil tidak usah dipertanyakan. Mereka terlalu berkuasa dan tidak ada yang bisa menghalanginya kecuali 'ajal menjemput'.
- Vice of Administrator : Membantu para Administrator dalam menjalankan tugasnya. Para pemegang jabatan ini merupakan para dosen yang normal. Untuk dosen killer, dia hampir menyentuh tangga jabatan Administrator.
- Administrator : Hingga saat ini kaum ini hanya di huni oleh beberapa spesies langka, di antaranya dekan fakultas.
- The Gods : Hanya rektor yang bisa mengambil peran sepenting ini.
__ADS_1