Senior Terlarang

Senior Terlarang
Bagian Enam | Kesalahan


__ADS_3

...P E M B U K A A N...



Now playing : NCT U : Make a Wish


...***************...


"Bunda." Pekikku.


"Bunda kok gak pernah cerita."


"Ya, kan Kakak pulangnya sore. Abis itu Kakak pasti kecapekan dan langsung masuk kamar. Bunda mana sempat cerita sama Kakak."


DEG.


Jadi sepeninggal Ayah pergi, Bunda bekerja sekeras itu. Pantas saja pipinya semakin tirus dan tubuhnya semakin ringkih. Kalau saja aku tahu hal ini lebih awal. Tapi jika aku tahu lebih awal dampaknya apa? Toh jadwal kuliah serta kegiatanku di kampus sangat padat.


"Bun ..." Gumamku lirih merasa bersalah.


"Udah Kakak gak perlu khawatir. Kakak jalani aja kuliajnya yang bener yah." Pinta Bunda disusul senyum yang memamerkan lesung pipinya.


"Justru sikap Bunda ini yang bikin aku khawatir. Aku takut Bunda sakit. Bunda kan udah gak muda lagi. Bunda harus mulai memerhatikan kondisi kesehatan." Racauku penuh kekhawatiran.


"Bun, boleh aku marahin Shania biar dia bantu Bunda selepas sekolah?"


Bunda menggeleng. Tangannya memegang kedua tanganku yang berada di meja. Mengusapnya perlahan.


"Kenapa?" Tanyaku gemas.


"Dia lagi kerja sambilan."


JLEB. Fakta kedua yang tidak pernah aku ketahui. Bagaimana mungkin anak yang kutahu selama ini hanya berlabel pemalas berubah menjadi sosok yang begitu mandiri. Sebenarnya mereka yang berubah atau justru aku yang berubah tidak mengenal keluarga ini lagi. Kenapa hal ini bisa terjadi?


"Kenapa Shania nyari uang. Bukannya uang kita lebih dari cukup buat menghidupi keluarga kecil ini?"


Bunda tersenyum. Sebuah senyum yang memilukan. "Nanti kamu juga tahu sendiri."


Aku hanya diam duduk membisu. Sesekali Bunda menyuapiku, namun selera makanku sudah hilang. Aku terpaksa menelannya susah payah. Pikiranku berkelana ke sana ke mari. Aku bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga ini. Kenapa semuanya tutup mulut dan membiarkanku menebak-nebak hal yang tidak pasti.


Sebelum semuanya terlambat aku harus menemukan benang merahnya. Harus.


...****************...


"Nih," Nilam menyodorkan sekotak bekal nasi padaku saat kami bertemu di ruang himpunan fakultasku.


Himpunan fakultasku terdapat di gedung dua lantai yang diisi deretan ruangan-ruangan UKM serta organisasi fakultas. Himpunan jurusanku ada di lantai dua, sayap kiri paling pojok.


"Ini apa?"


"Ya kotak nasi lah. Bego banget si,"

__ADS_1


Hal paling menyakitkan di dunia ini adalah di katai bego oleh orang yang lebih bego dari kita.


"Dalam rangka?"


"Aqiqah."


"Eh anjim yang bener lah. Ngeselin banget si,"


Tanpa sempat melawan terlebih dahulu, pundakku tiba-tiba digeplak agak keras. Aku sedikit kaget. Ryan sang pelaku sudah berdiri di sebelahku menyampirkan tangannya di bahuku.


"Bocah ngapa si?" Celetuknya.


"Eh, Ryan gue bukan bocah ya," seru Nilam tak terima. "Lo tuh yang bocah. Maen nyentuh-nyentuh orang aja. Lo cowok jangan maen pegang aja bukan muhrim." Tegasnya seraya melepaskan tangan Ryan yang mengalungi bahuku.


"Sobat lo kenapa si Na?" Ryan menyenggol pinggangaku. "Kebelet kawin?"


"Kucing kali, kebelet kawin." Bisikku di telingannya.


"Na-na-na-na. Namanya Kania bukan nana?" Sergahnya.


Ryan menepuk jidat.


"Kek nya emang iya ni si Nilam kebelet kawin. Lo mau?" Tawar gue yang dibalas Ryan dengan ekspresi mau muntah.


"Cantik sih iya. Tapi, gimana ya ngomongnya. Pinter sih. IP nya juga paling gede sejurusan. Dapet beasiswa pula dari Bank Indonesia. Tapi, apa ya?" Ryan tampak berpikir. "Ogebnya itu loh kebangetan."


Tak mau dikatai begitu, Nilam mengambil ancang-ancang lalu menjewer telinga Ryan. "Anjir telinga gue mau buntung." Pekiknya kesakitan. "Tolongin gue, Na," bukannya menyelamatkan Ryan dari keganasan Nilam, aku malah mengabadikan momen ter-absurd itu. Lucu sekali mereka berdua. Setidaknya tingkah kocak mereka sedikit demi sedikit mampu menaikkan moodku yang tadi pagi sempat anjlok.


"Lepasin gue Nilam ogeb. Lo tuh emang ogeb. Sekeras apapun usaha lo menjewer telinga gue, keogeban lu gak bakal sembuh-sembuh. Ahhhh kok makin keras." Pekik Ryan kesakitan.


Aku menyentuh pelan tangan Nilam. "Nilam, udah. Kasian kali si Ryan,"


"Biarin," potongnya.


"Nilam, udah. Tuh lihat telinganya ampe merah gitu." Tunjukku pada telinga Ryan yang membebaskan semburat kemerahan.


Nilam yang kalang kabut segera menyadari hal itu lalu dengan cepat melepaskan jewerannya. "Maaf," ucapnya lirih yang dibalas dengusan oleh Ryan.


Aku dan Ryan kemudian duduk di pojok sementara Nilam masih menungguku di pintu. Aku diperintah mengipasi telinganya dengan kipas angin mini milik cowok itu. Kata Ryan kedua telinganya terasa panas sekali. Atas perintah Ryan juga, aku disuruh meniupkan napasku di telinganya.


"Woy jangan modus." Bisik Nilam yang berdiri tak jauh dari kami.


Karena ruangan yang biasa kami gunakan sebagai tempat kumpul ini terbilang kecil, suara selirih apa pun dengan mudah bisa terdengar.


"Modus-modus pala lo peyang. Dasar cewek kasar. Kayanya lo reinkarnasi tukang pukul dulunya kalo gak pasti anak setan."


Aku rasa Nilam merasa bersalah. Dia hanya mematung di tempatnya tak berani mendekat.


"Masih lama belom Kania?" Tanya gadis yang memakai mini dress warna hitam selutut tersebut.


Aku melihat ke arah Ryan. "Masih lama," bisiknya.

__ADS_1


"Kasian jir anak orang," aku berbisik menimpali.


Ryan ini memang tipe orang pendendam sepertinya. Kasihan sekali Nilam berdiri gelisah di tempatnya. Sesekali Nilam melirik jam tangannya.


"Lo kenapa sih meriksa jam mulu? Ada acara?"


"Mau masuk bentar lagi sesi 2." Cicitnya memberi tahu.


"Ya masuk tinggal masuk aja. Ribet. Udah gede kali kagak usah dianter segala. Lagian kan lo anak akun, gak sekelas juga sama Nana. Sana pergi." Ujar Ryan panjang lebar memotong percakapanku dan Nilam.


"Bener kata Ryan. Lo mendingan cepetan gih ke kelas, entar telat. Gue kelasnya nanti sesi tiga."


Nilam bergegas menuju pintu keluar. Belum beberapa saat tiba-tiba dia kembali lagi menghampiri kami. "Nih buat lo," Nilam menyodorkan bekal nasinya pada Ryan. Aku mengamatinya dari samping.


"Ambil," perintahnya.


"Lo bisa kan pake nada baik-baik gak usah ngegas segala."


"Itu kan bekal gue? Lo tadi ngasih bekal itu buat gue kan?" Selaku.


"Gak jadi." Pungkasnya lalu melempar bekal itu ke pangkuan Ryan.


"Lo apaan si,"


"Tinggal diterima aja apa susahnya."


"Ya jangan maksa juga. Emang menurut lo gue mau?"


Nilam berkacak pinggang. "Ribet amat sih lo jadi cowok."


"Maksud lo apa?" Kali ini Ryan yang duduk di sampingku ikut-ikutan berdiri.


"Tinggal diterima aja apa susahnya,"


"Lah? Kok maksa?"


Aku harus segera memisahkan mereka sebelum perang dunia ketiga dimulai kembali. Nilam sudah siap-siap melontarkan jawaban dan Ryan sudah membusungkan dada di hadapannya.


"Kalo ga suka tinggal nolak aja susah. Itu mulut dipake bukan dianggurin."


Ryan mulai menyingsingkan lengan kemejanya. "Sompral banget si mulut lo. Lo pikir gue gak berani sama cewek? Gue berani kalo ceweknya modelan lu."


"Ayo sini kalo berani," tantang Nilam.


...****************...


NB : Gimana sih adegan scene berantem-berantem gitu? ajarin dong? Aku mah orangnya kalo di sekolah tuh soalnya pendiem. Duduk aja di pojokan paling belakang atau gak di depan banget biar merhatiin guru.


Berasa gak ada kenangan huhu pengen balik lagi ke bangku sekolah.


^^^sayang kalian,^^^

__ADS_1


^^^Mahkota_Hijau^^^


__ADS_2