Senior Terlarang

Senior Terlarang
Bagian Dua | Luka Hati


__ADS_3

...P E M B U K A A N...



Now playing : Hanindhya - Pupus


...****************...


"Apabila model regresi linier memenuhi asumsi-asumsi berikut, maka taksiran yang diperoleh dengan metode Ordinary Least Square mempunyai sifat BLUE (Best Linier Unbiased Estimator). Hal ini bisa terjadi ..."


"Woy, Nia. Kania" Sebuah suara berbisik di telingaku.


"Kania." Kali ini agak keras disertai senggolan di pinggangku.


"KANIA kamu mendengar suara saya?" Suara Pak Jamal menggelegar memecah ketenangan batinku. Tamat sudah riwayatku. Pasti sehabis ini aku bakalan jadi bulan-bulanan Pak Jamal ke depannya. Dosenku ini punya kebiasaan menandai mahasiswanya saat dia tidak menyimak kelas. Parahnya, nilai E bisa dia torehkan di SIAK (Sistem Informasi Akademik) mahasiswa jika kekesalannya sudah memuncak. Lagian, bisa-bisanya aku kehilangan konsentrasi di kelas guru killer tersebut.


"Bisa, Pak."


"Saya rasa kamu perlu cek ke dokter THT, barang kali gangguan pendengaranmu bermasalah."


"Maaf, Pak." Lirihku pelan.


"Memang kamu ada salah apa sama saya?" Kedua alisnya selalu dinaik-turunkan saat sedang menghakimi mahasiswa. Tak lupa sorot matanya yang tajam membuat nyali kami ciut.


"Saya tidak memerhatikan bapak ketika sedang menerangkan mata kuliah."


"Boleh tolong di besarkan lagi suaranya? Suara kamu tidak sampai di gendang telinga saya?"


"SAYA TIDAK MEMERHATIKAN BAPAK SAAT BAPAK SEDANG MENGKHOTBAHI KAMI."


"Kamu ngomong apa sih? Meracau tidak jelas." Dalam hati aku memaki kasar dosen ini.


"Kamu tahu kan adab berbicara dengan orang yang lebih tua."


"Tahu pak,"


"Coba sebutkan!"


"Maksud bapak?"


"Kamu masih paham bahasa Indonesia kan?" Aku mengangguk. "Coba kamu berdiri. Hilangkan rasa kantuknya. Lalu sebutkan adab-adab ketika berhadapan dengan orang yang lebih tua."


Aku berdiri mengikuti perintahnya kemudian menyebutkan adab-adab itu sampai jam kuliah kami berakhir.


"Gue rasa itu dosen udah kena gejala Narcissistic Personality Disorder." Ungkapku saat membereskan meja, bersiap-siap keluar ruangan.


"Lagian lo sendiri kebo. Udah gue kasih isyarat malah anteng sendiri." Bela Helmi, teman satu UKM-ku (Unit Kegiatan Mahasiswa, semacam ekstrakulikuler).


"Mbok ya, negur tuh pake cara baik-baik. Ga usah ngegas juga." Sebalku mengingat kejadian yang tadi.


"Mabok riset ilmiah pasti tuh orang. Pantes aja belom nikah-nikah. Percuma otak encer kalau rapor akhlaknya belum tuntas."


"Hush. Nanti ada yang denger." Dian memperingatkanku.

__ADS_1


"Tapi, kan Yan,"


"Menurut gue Pak Jamal gak salah. Justru lo yang salah di sini," celetuk Winda yang juga sedang merapikan meja.


Dian menyenggol lengan Winda.


"Maksud lo apa Win?" Nadaku naik satu oktaf. Kok Winda malah bela si Dosen Killer.


"Lo tuh keterlaluan sebagai mahasiswa. Lo di sini yang gak ada akhlak. Gitu-gitu juga dia yang ngasih ilmu sama kita. Gak ada syukur-syukurnya lo jadi orang."


"Tapi kan gue juga bayar di sini. Gak gratis. Gue gak minta macem-macem juga. Setidaknya hargai gue kaya manusia pada umumnya. Apa itu salah?"


"Gila hormat. Itu yang salah." Sanggah Winda menertawai sikapku.


Aku merangsek mendekatinya. Tanganku menggebrak mejanya keras. Kulirik dia sama sekali tak gentar. "Bisa gak si lo jadi mahasiswa yang santun. Lo di rumah di ajari tata krama kan sama orang tua?"


"Lo kali yang gak di ajarin tata krama. Cewek kok bar-bar banget. Mau jadi preman kampus kak?"


"Eh, mulut lo ya?"


"Ada apa sama mulut gue?"


"LIMBAH banget si ngomongnya."


Refleks Winda menjambak rambutku dan aku balik menjambak rambutnya yang hitam berkilau bagai artis iklan shampoo. Aku menggulungnya karena rambutnya begitu halus, licin, dan terawat. Aku menariknya keras membuat wajahnya terkantuk meja chitos.


"Anarkis banget si lo?" Tangan Helmi menyerobot tanganku yang masih memegangi rambut Winda.


"Mau jadi pahlawan lo? Lepasin tangan gue!"


"Lepasin dulu tangan lo dari Winda!" Tantangnya.


"Udah-udah jangan pada bertengkar." Dian menengahi perseteruan kami. Dian menyentuh bahuku lembut lalu mengusapnya. Perlahan-lahan ada sebuah ketenangan yang menjalar.


Aku melonggarkan cekalanku yang langsung disentak keras oleh Helmi ke belakang. Tanganku membentur meja belakang disusul bunyi BUKK cukup keras.


"Sakit bego!" Aku bersungut-sungut mengobas-ngibaskan tanganku ke udara.


"Azab orang zolim," Cetus Winda puas memamerkan senyum bejatnya.


"Nyari perkara lagi lo?"


Helmi melompat ke depan Winda, memblokadenya, takut-takut aku akan menyerangnya lagi. Alih-alih adu jotos kembali tawaku mengudara, "kayanya kalian cocok kalo jadi pasangan."


"GAAAKKKK" teriak mereka berbarengan.


...****************...


Aku melangkah gontai melewati beberapa ruang kelas yang kosong. Sore ini begitu melelahkan. Aku ingin segera pulang lalu merebahkan tubuhku di kasur. Melepas penat sambil mendengarkan musik hingga akhirnya jatuh tertidur.


"Kok lo belum pulang?" Sapa Nilam di koridor saat kami berpapasan.


"Keliatannya?"

__ADS_1


"Hehe,"


"Rajin amat si cengengesannya. Dikurang-kurangi ya. Mulut lo bau." Celetukku sarkas.


Dia meletakkan tangannya di depan wajah lalu meniupnya. "Emang iya?"


Aku hanya tertawa.


"Sore ini ada acara?" Tanyaku basa-basi.


"Iya. Mau ngewawancarain junior yang mau ikut kepanitiaan di pelataran gedung B."


"Lo mau langsung pulang?"


"Iya tapi mau ke toilet dulu."


Mendengar kata toilet Nilam menyunggingkan senyumnya. "Hati-hati Kania. Jam segini di toilet banyak penunggunya."


"Ih lo apaan si."


"Gue ngomong jujur ya. Gue denger review toilet kampus kita dari senior gue. Waktu itu, dia pernah sendirian ke toilet pas jam asdos. Terus ..."


"Ya udah bye ya, sukses buat junior lo." Potongku sebelum dia men-spill out cerita horror yang selalu sukses membuatku merinding.


Setelah sampai di kubus toilet, aku segera memasuki bilik kosong. Segera setelah menuntaskannya, aku merasa lega.


Aku harus cepat pulang.


Di bawah pencahayaan temaram lampu kamar mandi, sayup-sayup aku mendengar seseorang membuka pintu. Disinyalir dari langkah kakinya sepertinya tidak sendiri. Setidaknya aku tidak sendirian di kamar kecil ini. Kuurungkan niatku untuk segera keluar. Aku kembali duduk di kloset sambil memasang pendengaran kuat-kuat. Kebiasaanku sedari SMP, suka mendengar orang lain meng-ghibah.


Keran wastafel tiba-tiba dinyalakan. Dua-duanya mengucurkan air. Dari dalam bilik, kudengar ada suara hantaman punggung yang menyentuh dinding. Lumayan keras hingga mengeluarkan bunyi.


Apa yang sedang mereka lakukan?


Ketakutanku semakin bertambah kala mendengar bunyi kaca yang pecah. Jantungku berdetak tak karuan. Aku menaikan kakiku hingga kini berada di atas kloset. Tanganku menutup mulutku yang menganga. Sebisa mungkin aku menahan suaraku agar tidak keluar.


"Ahhhh," aku mendengar suara erangan wanita. Aku semakin takut menghadapi ini semua. Ucapan-ucapan Nilam tadi kini terngiang-ngiang di telingaku. Membuatku berimajinasi yang tidak-tidak. Kurapatkan tubuhku ke pelukanku mencari kekuatan. Sepertinya seluruh tenagaku terkuras habis.


Tanpa sepengetahuanku, bilik toilet yang lupa kukunci terbuka lebar menampilkan sosok-sosok yang paling tidak ingin kutemui.


"Lo?" Kedua bola matanya melotot ke arahku.


...****************...


Author Note : Selamat datang di karya pertamaku. Terimakasih udah mampir, maaf kalo ceritanya nggak sesuai ekspektasi kalian. Makasih juga buat yang udah vote sama comment nya.


Kalo ada kritik dan saran boleh banget diketik dikolom komentar. Aku penulis pemula jadi mari kita sama-sama belajar.


Maaf kalo aku juga pake castnya oppa korea. soalnya aku secinta itu pada mereka. Haha, jangan ditiru.


^^^Love you,^^^


^^^Mahkota_Hijau^^^

__ADS_1


__ADS_2