Senior Terlarang

Senior Terlarang
Bagian Sebelas | Halu


__ADS_3

"Cewek bisa sang*an juga, ya? Kirain cowok doang yang nafsu-an," ujar Kak Randu saat memberikanku helm hitam sebelum kami mulai berkendara. Aku menerima helm itu lalu memakainya cepat demi menyembunyikan wajahku yang semakin merah padam.


"Kak, bisa bedain malu sama mupeng nggak, sih?" Cicitku dibalik helm.


"Nggak, tuh, gue nggak belajar hal kaya gituan di sekolah. Yang gue inget cuma muka satu cewek yang lagi sang*, terus wajahnya imut-imut gitu," ucap Kak Randu terkekeh. "Sial, gue lupa jepret tadi, padahal bagus banget kalau fotonya dijadiin wallpaper,"


"Kak. Wajah aku merah gini itu karena malu bukan karena aku lagi arghhhh," erangku frustasi.


Aku menaiki motor ninja merah Kak Randu yang tempat duduknya lumayan tinggi untuk ukuran kakiku. Aku harus dibantu lengan kekar pria itu saat melangkahi joknya. Setelah Kak Randu memakai helm hitamnya, dia mulai menyalakan mesin, bersiap untuk pergi.


"Malu apa mau?" Sambil menatap ke jalan, Kak Randu masih saja menggodaku.


"Udah dong, Kak, jangan goda aku terus."


"Goda gimana?" Kak Randu menengok ke belakang, menatapku dari balik helmnya yang kacanya belum ditutup. Sebelah alisnya naik turun minta ditimpuk.


"Tau ah." Balasku malas, tidak mau menanggapi lebih lanjut.


"Dih, ngambekan. Gue turunin, baru nyaho lo,"


"Terserah,"


"Kok jawabnya gitu. Nggak kreatif banget,"


"Terus kudu jawab apa?"


"Jangan turunin aku dong, sayang. Nanti nggak di kasih ***** deh,"


"Najis, itu mah enak di Kak Randu nggak enak di aku,"


"Najis apa baper?"


"Terserah,"


"Itu mulu jawabannya muter-muter terus kaya bundaran HI,"


"Terserah,"

__ADS_1


Motor kami mulai melaju di tengah dinginnya angin malam yang menusuk kulit. Aku sedikit kedinginan, terbukti dari tubuhku yang mulai menggigil. Aku tak berani merapatkan tubuhku pada pria asing ini seolah ada jarak yang memisahkan kedekatan kita. Aku menjauhkan tubuhku ke belakang agar tercipta sebuah sekat sehingga pakaian kami tak bergesekan.


Saat motor yang kutumpangi menabrak polisi tidur, refleks aku memeluk pinggang Kak Randu. Setengah karena aku merasa takut, setengah lagi karena aku kedinginan. Tubuh atasku hanya dilapisi blouse pink berbahan tipis sehingga udara malam dengan mudah menembusnya. Kurasakan pinggang Kak Randu menegang mendapat perlakuan seperti itu. Tiba-tiba saja dia menepikan motornya,


"Kenapa, Kak?" Tanyaku heran.


"Turun!" Perintahnya cepat.


Aku tidak sadar jika tanganku masih memutari pinggang Kak Randu. Walau enggan, kutarik tanganku yang lancang bergelung nyenyak di pinggang lelaki itu.


"Sorry, Kak." Ucapku lalu turun dari motor ninja itu.


Aku melihat sekitarku secara seksama. Hanya ada hutan di sisi kanan dan kiriku yang ditumbuhi pepohonan berdahan rindang. Di depannya ada danau buatan yang biasa di pakai mahasiswa kelautan sebagai tempat praktek mata kuliah. Di kejauhan ada bangunan kembar dengan tinggi yang sama yang biasa kami sebut sebagai Gedung UKM Fakultas. Namun, di sekitar tempat pemberhentian kami tidak terdapat apa-apa kecuali kegalapan dengan secuil pencahayaan dari motor. Apa Kak Randu mau berbuat macam-macam padaku lalu setelahnya membuangku ke dasar danau itu?


Aku pernah mendengar satu rumor buruk yang untungnya bisa diredam kampusku. Dahulu ada mahasiswa jurusan biologi yang amat berprestasi, baik di wilayah kampus, maupun di jenjang internasional. Kecerdasannya sudah diakui dan dilegitimasi semua pihak. Namun, sifatnya yang tinggi hati menjadi bumerang tersendiri baginya.


Suatu hari di tengah malam yang dingin, dia dibawa oleh beberapa orang temannya, entah teman organisasi atau teman ngekos, untuk melihat fenomena supermoon di dekat danau ini. Tanpa dia sadari, dua temannya membekuknya hingga dia tak sadarkan diri lalu tubuhnya yang sudah terikat ditenggelamkan di danau itu.


Saat kesadarannya muncul, dia meraung-raung meminta pertolongan, sayangnya mulutnya sudah dibekap oleh lakban hitam. Setelah proses perjuangan yang lumayan lama pada akhirnya paru-parunya terisi penuh oleh air. Dia tenggelam dan teman-temannya dengan cepat melarikan diri. Keesokan paginya, jasadnya ditemukan oleh petugas kebersihan tengah mengambang di tengah danau dengan keadaan tubuh penuh lebam dan kondisi tubuh sudah terbujur kaku.


Begitu imajinasi liarku mengambil alih, Kak Randu menepuk bahuku. "Kak Randu nggak akan ngapa-ngapain aku, kan?" Tanyaku polos.


"Yang biasanya cuma dilakukan sama cowok bejat,"


Kak Randu melihatku bingung. "Ngelakuin apa?"


"Ya itu," aku tidak mau menjelaskannya lebih lanjut. Bisa jadi ide gila ini justru mencerahkan pemikiran Kak Randu lalu memantik sisi gelap dalam dirinya.


"Itu apa?"


"Ya, itu," aku mundur beberapa langkah saat menyadari Kak Randu menyeringai.


Dalam penerangan remang-remang lampu motor, Kak Randu melepas bajunya sambil menyeringai penuh arti. Asumsi-asumsi buruk berseliweran di kepalaku. Aku menyilangkan kedua tanganku di depan dada sebagai isyarat agar pria ini tidak berbuat macam-macam.


Kak Randu sudah berhasil menanggalkan seluruh pakaian atasnya. Dia mendekat ke arahku dengan bertelanjang dada. Kakiku semakin mundur ke belakang berharap bisa merentangkan jarak. Hal itu sia-sia karena langkah Kak Randu lebih panjang daripada langkah kakiku.


"TUKANG PERKOS-"

__ADS_1


Kak Randu berlari lalu menyumpal mulutku dengan kaosnya. Aku semakin ketakutan dibuatnya. Matanya berbinar buas seperti seekor serigala yang lapar. Tangan kekarnya bahkan sudah mencengkram pinggangku yang seukuran 'guling kasurnya'?


"Mmmmmmm," aku mencoba berteriak meminta pertolongan. Aku tidak mau jika hari ini adalah hari terakhirku sebagai seorang gadis, apalagi dengan cara yang keji seperti ini. Bukan kelembutan yang kudapat tapi rasa sakit dan penderitaan. Aduh, membayangkan hal itu membuatku mual.


"Kania, diam. Lo salah paham. Astaga," Kak Randu melepaskan kaosnya yang menyumpal mulutku.


"Maksudnya apa salah paham. Jelas-jelas Kak Randu berniat memperkos* aku, kan. Bukti-buktinya mengarah ke sana,"


"Astaga, Kania. Kamu berlebihan. Aku cuma mau kasih sweater aku biar kamu pake, soalnya aku tahu kamu lagi kedinginan. Maaf nggak peka. Tadi pas aku lepas sweater-nya, kaosnya juga nggak sengaja ikut terlepas."


"Serius?" Kak Randu mengangguk membenarkan.


Aku benar-benar speachless saat ini.


"Lo ngapain, sih, harus lari segala. Mana bilang gue tukang perkos* lagi. Panik kan gue tadi,"


Aku tertawa melihat raut wajah sebal Kak Randu. Aku tidak menyangka, orang sedingin Kak Randu ternyata bisa se-ekspresif ini.


"Terus kenapa tadi pake senyum-senyum misterius kaya gitu. Sebagai cewek, wajar, kan, kalo mikir yang enggak-enggak," belaku.


"Kalo itu sih disengaja. Haha,"


Kak Randu mengulurkan sweater-nya padaku. Dia kembali memakai kaosnya sementara aku memakai sweater-nya Kak Randu. Ada harum parfum Kak Randu yang menyeruak di indera penciumanku. Baunya mirip kayu mahoni yang menenangkan. Memakai jaket Kak Randu seperti ini, aku merasa seperti sedang dipeluk saja olehnya.


"Cepet pake helmnya, kita balik." Seru Kak Randu menginterupsi lamunanku.


Aku memakai kembali helm itu dengan cepat lalu merogoh tas kecilku. Aku memeriksa ponselku, tidak ada pesan masuk. Sekarang jam menunjukkan pukul sembilan tiga puluh, sudah larut malam bagi keluargaku. Aku mengetik beberapa pesan singkat pada Mama dan Shania untuk izin pulang telat, walaupun aku tahu jika hal ini cuma formalitas belaka.


"Udah siap?" Tanya Kak Randu saat kami sudah menaiki Timothy, nama motor Kak Randu yang baru saja kuketahui.


"Sudah," balasku.


"Jadi, kita pulangnya ke tempat gue, nih?"


"Terserah," jawabku tanpa pikir panjang.


"Ok,"

__ADS_1


Motor kami kembali melaju, meneruskan perjalanan kami yang sempat tertunda.


__ADS_2