Senior Terlarang

Senior Terlarang
Bagian Tiga | Abnormal


__ADS_3

Tanpa sepengetahuanku, bilik toilet yang lupa kukunci terbuka lebar menampilkan sosok-sosok yang paling tidak ingin kutemui.


"Lo?" Kedua bola matanya melotot ke arahku.


Tubuhku menegang menyadari keberadaan orang yang selama ini kujadikan objek fantasi hampir bercumbu dengan wanita lain. Belum sembuh rasa sakit tadi pagi, kini kambuh kembali dengan luka baru. Mengapa lelaki ini selalu bisa memporak-porandakan hatiku hanya dengan sikapnya saja.


Aku memegangi dadaku yang terasa nyeri. Sakit di ulu hati semakin menjadi tatkala Kak Randu dengan polosnya malah nyengir kegirangan. Dia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Kak Nisa yang napasnya kian memburu. Aku menutup mulut menyaksikan kejadian ini.


Kak Randu menatapku lekat seperti mencari-cari pembenaran. "Lo? Mahasiswi yang nangis waktu ospek fakultas itu kan?" Wajahnya menyembul dari balik tubuh Kak Nisa yang membelakangiku.


Aku mengangguk. "Kania, Kak." Ucapku lirih.


"Eh, Ran, minggir dong." Sahut Kak Nisa yang tubuhnya dihimpit Kak Randu menabrak pintu bilik toiletku.


Kak Randu mundur beberapa langkah untuk memberinya ruang. Kemudian dia duduk di wastafel setelah mematikan kerannya sementara Kak Nisa sibuk membenarkan rambutnya yang kusut serta kemejanya yang dua kancing teratasnya terbuka. Aku keluar perlahan-lahan sambil menormalkan detak jantungku yang kian menggila. Kepedihan di hatiku benar-benar memilukan. Aku tak mampu membayangkan kegiatan mereka selanjutnya.


"Lo apa kabar, Nia?" Suaranya yang renyah memecah keheningan.


"Baik. Kakak sendiri?"


Randu tersenyum. "Gini-gini aja. Belum ada perubahan yang signifikan."


"Gayanya perubahan," celetuk Kak Nisa yang sedang memoles bibirnya.


"Lo gak tau gue aja, Nis. Banyak banget visi misi yang belom gue capai selama jadi mahasiswa di sini."


Kak Randu berbalik ke belakang menatap pantulan di cermin. "Nis, minta tisu." Kak Nisa menyudahi riasan wajahnya untuk merogoh beberapa lembar tisu dari tasnya. Dia menyodorkannya pada Kak Randu. "Kalo pake lipstik jangan yang mudah luntur lah. Bibir gue jadi ternoda," Keluh Kak Randu membersihkan sisa-sisa tinta merah di bibirnya.


"Tapi rasa cherry enak juga. Manis." Tawa Kak Randu membahana di bilik toilet yang sempit.


"Ran, lo lupa. Depan lo?" Peringat Kak Nisa.


"Santai aja, lagi. Lo udah dewasa kan?"


Aku hanya mematung di tempat tak tahu harus berbuat apa. Aku melangkah kikuk menuju wastafel di samping Kak Randu untuk mencuci tangan berharap rasa gelisah ini cepat mereda.


"Iya, Kak. Anggap aja aku gak pernah liat. Lagian aku juga pandai nyimpen rahasia."


Kak Nisa yang sudah merapikan diri sudah berada di ambang pintu. "Yuk, Ran, cabut!" Ajaknya pada Kak Randu yang diamininya dengan lompat dari wastafel sampingku.


"Bye, ya. Eh tadi nama lo siapa?"


"Kenapa kak?" Tanyaku khawatir.

__ADS_1


"Gak. Nanya aja."


"Kalinka Kania Rahmadi. Ilmu Ekonomi 18." Ujarku menjaga intonasi setenang mungkin.


Kak Randu mengangguk. Dia meluncur menyusul Kak Nisa yang sudah berjalan di lorong. "Nama gue Randu. Randu Bari Wijaya. Kalo nanti papasan jangan lupa sapa." Sarannya lalu melambaikan tangan ke arahku.


"Ok. Kak,"


Aku mengeringkan tanganku dengan tisu toilet. Tubuhku lemas menghadapi situasi konyol menyiduk pasangan yang tengah bercumbu. Selisik rasa bersalah menghinggapi saat tahu orang yang kita kagumi ternyata sudah memiliki jodoh. Kukira hubungan mereka sebatas teman, rupanya lebih dari itu.


Apa seharusnya kulupakan saja perasaan bodoh ini yang mungkin tidak akan berbalas?


...****************...


"Kak gue minjem hoodie lo." Seru Shania yang menyerobot masuk ke ruang peristirahatanku.


Setelah berhasil tiba di rumah aku segera memasuki ruang semediku di lantai dua. Lelah dengan aktivitas kuliah yang menyita banyak waktu, rehat sesaat sambil berselancar di internet selalu kulakukan tiap pulang sore. Jadwal kuliahku sangat padat merapati kalenderku yang tidak pernah kosong melompong. Sepertinya kuliah lebih sibuk dibandingkan saat aku masih berseragam SMA.


"Cil, kalo mau gaya modal. Jangan top-up Unknown Cash PUBG mulu."


"Ayolah, Kak. Kali ini aja gue rela bersimpuh di kaki lo asal tolong pinjemin gue hoodie abu yang waktu itu lo beli bareng Kak Nilam. Katanya hoodie-nya keren parah. Gue butuh buat kumpul-kumpul sama tim kebanggaan gue mingdep."


Nilam si bocah tengik. Bisa-bisanya informasi sepenting ini bocor. Dasar gadis bermulut ember, awas saja jika nanti dia bertemu denganku abis itu anak.


"Ikut arus gaul tuh yang manfaat. Paguyuban PUBG aja lo ikutin. Sesat bege." Ejekku pada kegiatan adikku yang sama sekali tidak bermanfaat.


"Jijik anjir," jujurku melihat wajah Shania yang bikin illfeel. Bibirnya memberengut sedih sementara matanya berbinar seperti anak kucing. "Kalo kagak ya kagak." Tegasku dari balik ponsel.


Tak kehabisan akal dia merebut ponselku lalu melemparkannya ke sembarang arah. Ponselku terpelanting membumbung tinggi sebelum akhirnya mendarat di lantai disertai bunyi gedebuk yang cukup keras. Khawatir alat komunikasiku pecah, aku langsung bangkit mengambil benda pipih yang tergeletak di lantai. "Astaghfirullah. Nyebut dek. Ponsel kakak kalo pecah gimana?" Ungkapku tak terima benda mahal itu dijatuhkan begitu saja.


Saat itulah Shania menghambur ke arah lemariku, membukanya, lalu mengacak-acaknya. "Dek, baju gue lo apain." Protesku tak tinggal diam melihat kelakuan bar-bar adikku.


Shania memilah-milah bajuku dan aku yang berusaha menahan tangannya. Tanganku dengan mudah dikibasnya membuatku terpelanting ke belakang membentur ujung ranjang. Rupanya tenagaku kalah saing dengan tenaga adikku yang serupa badak. Walaupun tubuhnya beberapa senti di bawahku, tapi tak kukira kekuatannya sedahsyat ini.


Shania mengibarkan hoodieku ke udara sesaat setelah dia berhasil menemukannya. Hoodie abu polos yang terbuat dari bahan yang lembut. Sumpah serapah kupanjatkan dalam hati mengingat hoodie itu belum pernah kupakai.


Dasar adik luck nut.


"Kak, makasih ya lu udah mau minjemin ini ke gue," tunjuknya pada hoodie abu-abu yang berada di genggamannya.


"Bukan minjem, cil. Lu ngerampok."


Shania tertawa cekikikan. "Tar lu tagih aja ke rekening gue buat biaya perintilannya."

__ADS_1


Aku mendengus sebal mendengar candaannya. "Lagaknya kaya kaum berduit. Mau top-up aja masih melas-melas ke bunda."


Tanpa rasa bersalah, dia memelukku yang terduduk pasrah di dekat ranjang kasur. "Gue sayang banget sama lo, Kak. Love you." Shania mencium pipiku yang buru-buru kuhapus jejaknya.


"Awas aja kalo lo lupa balikin. Atau lo balikin tapi gak dicuci. Inget, ketiak lo bau, bikin gue pening." Semburku yang dibalas Shania dengan mengacungkan jari tengahnya sebelum melesat kembali ke kamarnya.


Anak itu makin hari kelakuannya makin liar. Nyalinya yang suka melawan, sikapnya yang tidak ada santun-santunnya, susah diatur, pecicilan untung sayang.


Aku kembali menaiki kasurku untuk menunaikan misi yang terlupa. Membajak akun Si Nilam yang meresahkan masyarakat. Anak itu kadang-kadang kudu di kasih pelajaran biar paham gimana kerasnya hidup di ibu kota. Terlalu polos sampe gak bisa bedain lagi antara tolol sama bego.


NILAM BEGO


^^^Woy Nilam.^^^


Kenapa, Beb? :3


^^^Kenapa lo kasih tau Shania kalo gue beli hoodie.^^^


Lah kan dia nanya?


^^^Terus kenapa lu jawab jujur?^^^


Bohong kan dosa. Gue cuma inget siksa. Neraka panas, ogah, lebih butuh surga siapa tau bisa ketemu Oppa Sehun.


^^^Jangan bermimpi terlalu tinggi. Nanti kalau jatuh sakit.^^^


Tapi tanpa mimpi orang malas berusaha. Mimpi itu ibarat bahan bakar agar orang melajukan mesinnya dalam menjalani hidup.


^^^Kesurupan jin mana, lo. Bijak amat.^^^


Bijak itu nama tengah gue.


^^^Jijik, Nilamsari Chyntia Dewi^^^


Hahaha


^^^Ketawa mampus gak tuh^^^


Hahaha 2


^^^Simak baik-baik. Besok gue mau buat perhitungan sama lo.^^^


Salah gue apa?

__ADS_1


...****************...


NB : Ada gak sih yang namain kontak temennya kaya gitu?


__ADS_2