
"Kak. Kakak?" Ujar Bunda mengetuk pintu dari luar.
"Iya, Bun."
"Udah malem, Kak. Yuk kita barengan makan," ajak Bunda.
"Iya Bun."
Aku menyimpan ponselku di atas meja nakas. Selanjutnya aku menuruni ranjang guna menghadap Bunda yang berdiri di balik pintu. Wajah Bunda kian hari kian letih seolah sedang banyak pikiran yang berkecamuk di kepalanya.
"Masak apa ni, Bun?" Tanyaku selalu penasaran dengan masakan Bunda yang lezat.
Bunda tersenyum. "Masak makanan kesukaan kamu. Sayur asem sama udang goreng tepung." Jawab Bunda.
"Ih, enak banget kayanya. Pasti aku bakal tambah nasi terus. Gagal diet deh jadinya." Keluhku berusaha menyejajari langkah Bunda yang menuruni tangga.
"Makannya dikit aja kalo gitu." Bunda memberi saran.
"Gak afdol rasanya kalo makan dikit. Ini Bunda loh yang masak. Chef favorit aku. Tiap masakannya selalu sukses bikin Kakak gak bisa berhenti makan mulai suapan pertama."
Bunda mengelus lembut rambutku. "Kakak bisa aja deh."
"Beneran deh Bunda. Kalo Bunda ikut MasterChef pasti menang." Ujarku berapi-api.
"Iya. Pasti mengantongi peringkat di urutan terakhir." Kelakar Bunda lalu kami berdua tertawa.
Kami sudah sampai di depan meja makan yang menyuguhkan lauk-pauk favoritku. Tapi, ada satu hal yang merusak suasana bahagia ini. Kehadiran ayah yang tak kunjung ada. Sudah dua bulan aku tidak merasakan kehadirannya. Rasanya ada satu sisi dalam diriku yang kosong dan sepi.
"Bunda, Ayah belum pulang?" Tanyaku hati-hati. Topik ayah terlalu sensitif di keluarga kami.
"Kakak, bisa tolong panggilkan Shania. Kita makan sama-sama ya." Ucap Bunda mengalihkan pembicaraan.
"Bun ..."
"Shania suka makan sendiri di kamar. Itu anak makin hari makin runyam sikapnya. Makan suka sendirian, jarang nyuci, bahkan jarang bersuara kalo Bunda ajak ngobrol." Celoteh Bunda yang lagi-lagi mengalihkan pembicaraan.
"Kira-kira Shania kenapa ya kak?"
Aku mendengar suara Bunda bergetar sarat akan kesedihan. Sebagai anak tertua tidak seharusnya aku mengungkit hal yang tidak pantas untuk dijadikan topik pembicaraan. Akhir-akhir ini topik ayah di keluarga kami memang sedikit sensitif.
Sudut mataku menangkap gerakan Bunda sedang mengusap wajah. Aku bisa melihat matanya yang memerah. Ada kantung mata juga di sana. Sebagaimana perasaanku saat ini tentang kepergian ayah sepertinya Bunda lebih sedih dari kuduga. Bahkan, aku bisa melihat jika pipi Bunda semakin hari semakin tirus. Kenapa aku baru menyadarinya? Kemana saja aku selama ini?
__ADS_1
Ah, aku kurang peka.
"Aku panggilin dulu ya, Bun, Shanianya." Ujarku setengah berlari.
Sebelum aku berbelok menuju ruang tengah, ku sempatkan sebentar untuk menengok Bunda yang sedang termenung di meja makan. Pilu sudah hatiku melihat Bunda menangis tertahan. Dia terisak sesenggukan di tempatnya. Aku meremas hatiku yang perih seperti diiris sembilu.
Aku benar-benar Kakak yang bodoh.
...****************...
Shania sedang telentang sambil memainkan ponselnya. Bunyi tembakan keras-keras sengaja dia umbar agar memenuhi ruang tidurnya. Makin lama bunyi tembakan demi tembakan itu benar-benar mengacaukan telingaku.
Aku menghampirinya di atas kasur. Di samping tubuhnya berserakan bungkus snack yang teronggok begitu saja tanpa mau dibersihkan. Di bawah tubuhnya juga ada. Kulihat Baju yang dia pakai seperti baju kemarin. Apa Shania tidak bisa mengurus diri?
Inisiatif aku memunguti pakaiannya yang tergeletak di mana-mana. Lantai kamar ini sudah penuh dengan sampah dan ***** bengeknya. Hidungku pun merasakan bau yang benar-benar tidak mengenakan. Ini kamar cewek episode manusia purba.
"Shania, kok kamar lo berantakan banget."
Shania yang baru saja menyadari keberadaanku menengok sebentar lalu fokus lagi ke game yang sedang dimainkan. Aku hanya mengurut dada melihat responnya kepadaku. Benar-benar apatis.
"Apa urusan lo, Kak?" Tanyanya masih sibuk dengan game-nya.
"Tumben?" Herannya masih tidak menatapku.
Aku memasukan baju-baju kotor itu ke keranjangnya. "Sumpah bau banget." Bau tak sedap menguar dari balik baju kotor itu.
"Kalo jijik ga usah dipaksa." Sinisnya kepadaku.
"Bau segini masih oke lah daripada bau ketiak lo." Tawaku mengudara disusul pelototan Shania mengenaiku.
"Lo tenang aja kak. Baju lo gak bakal gue perlakuin sama kaya punya gue." Kania mematikan ponselnya setelah bunyi chicken dinner. Dia merangsek membantuku membereskan kamarnya.
"Baju lo aman kok kak tergantung manis di lemari gue." Tunjuknya mengarah pada lemari kayu besar di samping pintu kamar mandi.
Aku membukanya. Lemari besar ini kosong tak berisi pakaian kecuali hoodieku dan kaos basket sekolah kebanggaannya. Maklum, dia merupakan ketua tim basket putri yang beberapa kali menjuarai pertandingan.
Setelah semuanya rapi aku memposisikan tubuhku menghadapnya. Kami duduk berdua di atas kasur berseprai klub basket kebanggaan Amerika itu. Ponsel aku sita sebentar supaya kami bisa ngobrol dengan serius.
"Shanala Shania Rahmadi, lo dengerin gue baik-baik gue mau ngomong serius sama lo," aku mengultimatumnya terlebih dahulu.
Dia hanya mengangguk malas. Tangannya hendak meraih earbuds yang ada di sampingnya namun segera kusentak.
__ADS_1
"Santai aja kali kak." Selorohnya.
Aku menatapnya tajam. "Gue serius. Ini ada hubungannya sama ayah."
"Ngapain sih lo bicarain orang terkutuk kaya gitu. Gue males." Protesnya sembari bangkit menuju gagang pintu.
Tanganku sigap mencegah kepergiannya. "Gue serius. Duduk dulu kita bahasa masalah ini?"
"Buat apa?" Shania berteriak di depan wajahku.
"Buat apa kita sibuk-sibuk ngabisin tenaga buat orang itu. BUAT APA?" Kali ini suaranya melengking beberapa oktaf.
"Dia ayah kita. Kakak perlu ngomong-"
"Basi, kak." Potongnya. "Lo emang Kakak gue tapi untuk masalah ini gue hilang respect sama lo." Shania mengibaskan tanganku hendak berlalu pergi.
Aku menahannya untuk yang kedua kali. "Shan dengerin gue-"
"Cukup, Kak. Gue males debat sama lo." Ujarnya menentangku.
"Memangnya sejahat itukah ayah kita?"
"Jahat. Banget. Dia udah nyakitin gue juga ngelukain Bunda." Raut wajah Shania berubah muram. Suaranya tercekat.
Kenapa reaksi Bunda dan Shania begitu dramatis?
"Emang ayah salah apa sama lo?"
"Gatau perasaan gue atau lo yang pura-pura hilang ingatan lalu nipu diri lo sendiri."
Shania menghilang ditelan pintu.
...****************...
NB : Gimana sih perasaan kalian saat keluarga kalian tertimpa musibah. Misal ada ibu atau ayah kalian yang cekcok gitu. eh terus merembet gitu dong ke seluruh anggota keluarganya.
Aku gak bisa bayangin sih gimana letihnya jadi Kania. Di satu sisi dia pun manusia jadi pasti ngerasa sedih pas ayahnya gak pulang-pulang. Namun, di sisi lain dia pun harus kuat karena menjadi anak pertama. Harus bisa dijadikan perisai keluarga. Aduh bingung
Makasih yang udah vote sama comment
Sayang kalian,
__ADS_1