Senior Terlarang

Senior Terlarang
Chapter Lima | Tanpa Status


__ADS_3

...P E M B U K A A N...



...****************...


Suasana pagi ini begitu hampa. Sejak makan malam kemarin semua orang tutup mulut, tidak ada yang berani membuka suara. Hanya kunyahan dan ******* napas Shania yang menyelingi kesunyian kami. Sedangkan Bunda hanya menatap makanan di piring tanpa selera.


Selepas kucuran air mata Bunda semalam, aku berharap banyak hal pada keluarga ini. Masalah serumit apa pun jika kita menyelesaikannya bersama pasti akan selalu ada jalan keluar. Hanya harapan itu yang bisa kupercaya saat ini. Aku ingin membina kembali hubungan rumah tangga kami yang mulai retak. Terutama Bunda dan Shania yang terkena imbas atas hilangnya sosok Ayah yang genap dua bulan, hari ini.


Sarapan sebagai ritual harian pun tidak terasa menggembirakan. Jika dulu momen ini adalah momen yang kutunggu-tunggu kehadirannya, sekarang rasanya hambar. Hanya menjalankan rutinitas setiap pagi sebelum kami beraktivitas. Tidak ada canda, tidak ada tawa, tidak ada cengkrama yang menggema di meja makan. Suasana dingin lah yang membungkus sekitar kami.


Apa hanya perasaanku saja kalau hubungan kami justru terlihat seperti orang asing?


Aku melihat Shania mulai menuruni anak tangga. Tangan kirinya menenteng tas selempang dengan buku-buku yang menyembul keluar sementara tangan kanannya sibuk mengucek mata. Wajahnya masih kusut tanda dia tidak membersihkan diri.


Melihatku dan Bunda yang sudah duduk duluan di meja makan dia menyapa. "Pagi Kak. Pagi Bun," aku tersenyum membalas.


"Semalam tidur jam berapa?"


"Entah gak ngitung." Jawabnya enteng.


Bunda menyodorkan sepotong roti serta selai cokelat yang diterima Shania dengan malas. Aku melotot hendak menegur sikap Shania tapi Bunda di sampingku mengelus tanganku lalu menggeleng pelan. Bunda selalu membendung pertikaian kami yang akan berlangsung.


Di depan tempat dudukku, Shania begitu kesusahan. Sebelah tangannya masih mengucek mata sambil berusaha mengolesi roti dengan selai. Satu tangan lagi memeriksa buku-buku pelajaran di tas.


Alih-alih memarahinya karena semalaman begadang aku justru mendekatinya untuk membantu. "Sini Kakak bantu," tawarku yang dibalas anggukan olehnya.


Tanganku dengan lihai mulai mengolesi selai milik Shania memudahkan kedua tangannya yang bebas untuk memeriksa buku. Aku membagi roti itu ke dalam beberapa potong agar mudah di makan. Aku memberikan satu suapan ke mulutnya yang langsung dia lahap seketika.


Dari sudut mataku, Bunda mengulum senyum melihat interaksi kami. Aku melihat Bunda sekilas balas tersenyum. Senyuman itu menjalar ke Shania yang tiba-tiba tersenyum juga.


"Bunda jadi inget dulu waktu kecil, Kakak suka nyuapin adek."


"Iya, Bun. Shania emang selalu jadi anak kecil di mata aku." Aku kembali menyuapi Shania yang tengah memegang gelas susu.


Shania meminumnya hingga tandas namun menyisakan bekas putih di sekitar mulutnya. Refleks aku mengambil sapu tangan lalu menyeka bibirnya.


"Dek, lo tuh sebenernya cantik tau kalo wajahnya di rawat." Cetusku di sampingnya.


"Buat apa rawat wajah, skin care kan mahal. Mending aku beli voucher buat top-up." Gumamnya kesal.

__ADS_1


"Lah kita kan cewek. Aset kita ya wajah." Terangku.


Shania membulatkan matanya sekilas setelah berhasil menutup ritsleting tasnya. "Ngaca kak. Lo gak cantik-cantik amat perasaan." Tukasnya sambil tertawa.


"Seenggaknya kalo enggak punya wajah cantik, minimal badan tuh bersih, gak beraroma tidak sedap. Terlebih otaknya juga gak dodol-dodol amat."


Shania menatapku tanpa ekspresi. Cukup lama hingga aku tersadar kalau sudah melakukan hal bodoh. Spontan, aku menutup mulutku tidak sengaja menyindirnya keras.


"Dek, gue gak maksud buat-"


"Bun, Shania berangkat dulu." Potong Shania.


"Shania," panggilku berusaha mengejarnya. "Kakak antar ya," tawarku gelagapan. Shania terus melangkah tanpa ada niatan untuk menghentikannya.


"Kakak minta maaf," sesalku membuat Shania berhenti di depan pintu. Aku mendekatinya lalu melingkari bahunya yang gemetaran. "Kakak minta maaf. Kakak salah. Kakak sudah membuat Shania tersinggung." Ucapku tulus.


Shania tidak perlu repot-repot menengok ke belakang, hanya tangannya yang bergerak cepat untuk melepaskan bahunya dari pelukanku.


"Bisa lepasin aku, Kak. Bentar lagi aku telat."


Ketika panggilan kami berubah jadi aku-kamu itu artinya kami sedang tidak baik-baik saja.


"Kalo gitu kakak antar, ya?" Tawarku yang di balas gelengan kepala olehnya.


Shania menghampiri remaja lelaki itu lalu berbicara sebentar. "Kak, izin bawa adiknya yah?" Pinta bocah lelaki itu setengah berteriak yang kujawab dengan anggukan.


"Hati-hati," lelaki itu hanya membalasnya dengan lambaian sebelum akhirnya melesat pergi membelah jalanan ibu kota yang masih sepi. Setidaknya sedikit kekhawatiranku lenyap. Lelaki yang mendekati Shania bukan bocah berandalan brengsek. Aku pun balas melambaikan tangan walaupun siluet mereka sudah hilang ditelan jalan.


...****************...


Lunglai kakiku melangkah menuju ruang makan, lesu tak berdaya. Di tempat duduknya, Bunda menatapku hangat. Ternyata aku masih punya tempat yang bisa kusebut rumah.


"Makasih, Kak, udah mau ngertiin Shania." Ucapnya saat aku duduk di sampingnya.


Aku mengangguk. "Iya, Bun. Bener kata Bunda sikap Shania akhir-akhir sedikit berubah."


"Maklumi aja, Kak."


"Iya, Bun, paham. Di usia segini emang masanya puber. Emosi kadang gak ke kontrol. Masa-masa pencarian jati diri. Termasuk aku juga masih ada di tahap itu."


"Bunda senang kamu makin dewasa dalam menyikapi segala hal, Kak." Aku tersenyum lalu mencium pipi Bunda.

__ADS_1


Aku mengoles rotiku yang sama sekali belum tersentuh. Sejak tadi aku hanya mengolesi roti Shania dan mengabaikan sarapanku.


"Bunda akhir-akhir ini rumah jadi aneh, kan?" Ungkapku jujur.


"Aneh gimana?"


"Ya, aneh. Gak kaya biasanya. Bunda ga ngerasa?"


Bunda menggeleng.


"Masa si?" Tanyaku memastikan. Lagi-lagi Bunda menggeleng.


Aku berusaha membeberkan fakta-fakta yang selama ini hanya menjadi konsumsiku sendiri. "Gini, Bun. Pertama, Bi Minah kok belum balik-balik ke rumah padahal pulang kampungnya udah lama tiga apa empat bulanan yang lalu gitu. Kedua, sopir Ayah dan para tukang pergi. Ketiga..." Bunda dan Shania berperilaku aneh seperti sedang menyembunyikan sesuatu, tapi urung kukatakan.


"Itu cuma perasaan kakak aja kayanya. Masalah Bi Minah gak balik-balik Bunda yang ngelarang buat ke sini lagi, termasuk semua pekerja di rumah ini." Terang Bunda padaku yang justru semakin membuatku heran. Rumah sebesar ini jika hanya dirapikan oleh Bunda seorang pasti capek.


"Maksudnya Bunda mecat Bi Minah?"


Bunda mengelus puncak kepalaku. "Bukan memecat tapi lebih ke pemberhentian sementara. Mungkin suatu saat nanti Bunda bisa panggil mereka lagi. Bunda nyimpen semua kontaknya kok."


Aku menggeleng. "Terus siapa yang ngebersihin rumah sama pekarangan kita siapa?"


Bunda memamerkan gigi serinya ynag mebuatku berkali-kali lipat khawatir.


"Shania kalo pulang sekolah suka bantu?"


Aku menyinggung anak pemalas itu. Kerjaannya hanya maen game, makan, dan jajan. Nanti harus kuberi arahan sesekali agar dia tidak membangkang.


"Seingat Bunda belum pernah. Selama ini Bunda yang ngelakuin semuanya sendiri."


"Bunda." Pekikku.


"Bunda kok gak pernah cerita."


...****************...


NB : Mau tau dong reaksi kalian setelah baca chapter ini?


Boleh ditulis ya hehe


^^^Sayang Kalian,^^^

__ADS_1


^^^Mahkota_Hijau^^^


__ADS_2