Senior Terlarang

Senior Terlarang
Bagian Sepuluh | Absurditas


__ADS_3

Suara derap langkah kakiku bergema di ruangan ini. Mahasiswa yang lain sudah mengosongkan kelasnya menyisakan aku yang terisak sendiri. Setelah kelas asistensi (kelas pengayaan dengan senior) selesai, aku tak kunjung beranjak dari kelas hingga semua orang pergi. Ketika hendak pulang, gedung ini sudah kosong, tidak berpenghuni.


Saat menyusuri lorong sepi, ingatanku terlempar pada kejadian hari ini. Begitu banyak hal yang tidak aku pahami hingga detik ini. Rumah, kuliah, teman, hubungan, semuanya membuatku pening. Aku memijat kepalaku berharap beban-beban itu bisa terangkat walau sekejap.


Jika Tuhan mewujudkan sebuah keinginan, tanpa pikir panjang aku akan meminta sebuah mesin waktu di mana aku bisa sesuka hati mengubah masa lalu. Jika mesin waktu terasa mustahil untuk dikabulkan, mesin pemusnah ingatan sekalipun juga tidak apa-apa. Aku ingin menghilangkan ingatanku tentang cinta juga kekaguman pada pria bodoh yang tidak peka dengan perasaanku. Terutama masalah tadi siang. Sejujurnya, aku tidak berminat membuat Kak Randu marah.


Pemandangan Kak Nisa dan Kak Randu memberi porsi rasa sakit tersendiri. Keinginan bodoh yang terus menggema di kepalaku pada akhirnya membuahkan rasa sakit. Kata orang, kebahagiaan itu adalah pilihan. Kitalah yang menentukan ingin terus berada dalam kubangan kesedihan atau lepas menuju senyuman.


Aku tidak tahu.


Membayangkan tidak ada Kak Randu di sisiku membuat kepalaku sedikit pening. Kenapa aku selalu merunyamkan masalah bukannya mencari solusi.


Huh, bodoh.


"Aw," seseorang menabrakkan tubuhnya padaku membuatku terhuyung. Buku-buku di dalam goodie bag ku berserakan.


"Sorry,"


Aku melihat sosoknya meskipun dalam gelap. Jelas-jelas siluet Nilam yang sudah tercetak jelas di otakku. Nilam yang tadi meninggalkanku di ruang himpunan jurusan. Nilam yang sekarang memunguti buku-bukuku.


"Sorry banget, ya, gue lagi buru-buru," Nilam mengulurkan buku-buku itu kepadaku.


Aku menerimanya lalu kami sama-sama berdiri untuk membereskan diri. Saat Nilam hendak pergi untuk meneruskan kembali langkahnya, aku menahan tangannya.


"Lam, gue minta maaf," ucapku tulus.


Tubuh Nilam menegang saat mendengar suaraku yang bergetar. Dia tidak menyadari orang yang dia tolong adalah aku. Dia membalikkan badannya lalu melemparkan senyum palsu.


"Kamu gak perlu minta maaf, Kania. Aku harusnya instrospeksi diri sebelum nge-judge kamu seperti itu." Nilam meletakkan sebelah tangannya di atas tanganku yang mencekal tangan kirinya. Dia mengusapnya lembut lalu melepas cekalanku.


"Aku pergi dulu," ucapnya buru-buru.


"Nilam, tunggu," belum sempat aku mengejarnya, Nilam sudah berlari menuju tangga di ujung lorong.


"Nilam,"


Mungkin Nilam masih sakit hati dan butuh ruang sendiri. Tapi aku juga membutuhkannya. Aku ingin mencurahkan keluh kesah selama ini yang berusaha kupendam rapat-rapat. Aku butuh teman curhat. Aku butuh dirinya, sahabatku yang paling berharga.


Apa aku sudah menukar persahabatanku dengan cinta yang tak kunjung selesai?


...****************...


Rumah.


Mendengarnya saja membuatku mual. Aku takut pulang. Masalahku dengan Shania belum selesai. Saat ini aku tidak mampu berpikir logis. Yang kuinginkan hanyalah melarikan diri. Melarikan diri dari masalah. Melarikan diri agar tidak bertatap muka dengan orang-orang yang kukenal. Bahkan melarikan diri dari dunia.


Kak


Aku mengetik pesan pada Kak Randu. Entah apa motifnya yang jelas aku hanya ingin memperbaiki hubungan kami dan berharap Kak Randu tidak menampiknya. Perasaan bersalah terus mengetuk-ngetuk nuraniku. Aku akan menanyakan hubungan Kak Nisa pada Kak Randu lalu memperjelas batas di antara kami jika terbukti status mereka lebih dari teman. Aku ingin menyudahi cinta bertepuk sebelah tangan ini yang melukai banyak pihak. Aku ingin membumihanguskan perasaan ini hingga ke akar-akarnya.


Aku menunggu balasan Kak Randu dengan cemas. Jam menunjukkan pukul tujuh malam. Di halte fakultas, sendirian, menunggu bus kampus yang lewat.


Lo di mana?


Halte. Lagi nunggu bus kampus.


Halte mana?


FE (Fakultas Ekonomi)

__ADS_1


Ada jeda dua puluh menit. Ponselku menyala. Panggilan masuk dari Kak Randu.


"Hal-"


"Lo masih di situ kan?" Potong Kak Randu dengan nada cemas? Benarkah yang kudengar barusan. Apa gendang telingaku rusak mendengar Kak Randu melunakkan suaranya dan terselip rasa khawatir?


"Iya, Kak, aku masih di halte."


"Bukannya lo bawa mobil?"


Aku menghela napas. "Mobil aku mogok, tadi udah diderek sama pihak bengkel."


"Jadi lo pulang gimana?"


"Nunggu bikun,"


"Gak nge-crab aja? Ini udah malem loh,"


Aku melihat belakang halteku yang gelap gulita. Pohon-pohon yang rimbun beserta dedahanannya yang saling bertaut menaungi tanah di bawahnya. Semilir angin yang sesekali bertiup menggoyang daun-daunnya.


"Dompet aku ketinggalan," akuku merasa malu.


"Perlu gue jemput?"


Aku terhenyak. "Ummm gak us-"


"Tunggu gue," potongnya.


"Kak Randu masih di kampus?"


"Nggak." Jawabnya singkat.


"Kosan temen." Aku membulatkan mulutku.


"Woy, gue balik dulu yah," aku mendengar Kak Randu pamit pada teman-temannya.


"Gak asik lo, baru juga ngumpul," keluh teman-temannya.


"Ada perlu,"


"Tempat Nisa?" Celetuk salah seorang temannya membuat hatiku panas.


"Bukan,"


"Cewek baru lagi?" Tebak yang lain. Kak Randu tidak menjawab.


"Wah, kayanya bener, nih. Pajaknya jadiannya mana?" Goda beberapa temannya.


"Masih dalam proses,"


"Apanya?"


"Duluan." Tanpa menghiraukan rasa penasaran teman-temannya dan aku juga, kudengar Kak Randu menghidupkan motornya. Apa Kak Randu tidak sadar jika dari tadi panggilan kami masih tersambung?


"Halo? Kak?"


"Eh, belom gue matiin, ya?"


"Kak, kayanya gak usah jemput. Bus kampusnya udah,"

__ADS_1


TUT TUT TUT


Panggilan terputus yang artinya Kak Randu segera menjemputku padahal aku belum menyiapkan hati untuk bertemu dengannya. Mendengar perkataannya tadi dengan teman-temannya membuat harapanku bersemi kembali. Aku tersenyum. Senyum penuh kemenangan.


Setengah jam kemudian Kak Randu datang lalu memarkirkan motor merahnya. Aku menyimpan ponselku ke tas saat Kak Randu menghampiriku. Dia meletakan kantong kresek di sampingku membuatku penasaran dengan isinya tapi lebih penasaran mengenai ucapannya tadi.


"Sorry, lama," ucapnya lalu duduk di sisi kananku.


Aku mengangguk. "Nggak papa, kak. Lagian salah aku juga udah ngerepotin Kakak."


Kak Randu mengacak-acak rambutku. "Jangan mikir kaya gitu. Lo gak ngerepotin gue dan gue juga gak ngerasa direpotin."


Huh, maksudnya?


"Tentang omongan temen-temen gue, jangan lo pikirin ya,"


Aku terdiam. Apa kali ini Kak Randu hanya memberi harapan palsu? Apa aku tidak boleh memperjuangkan rasa ini dan lebih baik memangkasnya sebelum rasa ini semakin membengkak?


"Jangan banyak mikir. Tuh, makan dulu martabak telornya. Abis itu kita balik." Tunjuknya pada kantong kresek hitam yang terkulai di sebelahku.


Aku membukanya dengan lesu. "Entar aku ganti ya, Kak."


Kak Randu tersenyum? "Bisa lawak juga, ya,"


"Bercanda? Aku serius," sungutku sebal sembari memasukan sepotong martabak itu ke mulutku.


"Iya iya percaya. Tapi, gue sendiri yang mau minta kompensasinya apa? Lo paham kan?"


"Asal jangan yang aneh-aneh," Kak Randu menyeringai.


"Nggak bakal, justru lo bakalan berterima kasih banget sama permintaan gue?"


"Tuh kan dikasih ngutang lagi? Aku gak enak kalo harus ngerepotin mulu,"


Aku mengacungkan tanganku yang memegang martabak ke atas dan secara spontan Kak Randu menggigitnya. Dia juga mengulum singkat ibu jariku. Mendapat respon seperti itu tubuhku bergeming. Sisa gigitan martabak itu meluncur jatuh mengenai celana jeans nya. Aku tersadar saat telunjuk Kak Randu menyusuri bibirku yang berminyak.


"Kak," aku menjauhkan tubuhku ke belakang. Melihat celana Kak Randu kotor aku berinisiatif membersihkannya dengan tisu.


"Celananya kotor biar aku bersihkan," tawarku masih menunduk memerhatikan celana jeansnya.


Kak Randu hendak menahan tanganku tapi aku menepisnya. Aku masih malu jika kami harus beradu pandang. Lebih baik aku melakukan aktivitas untuk mengalihkan desiran aneh di dalam hati. "Kania, lo gak usah," terlambat aku sudah mengusap permukaan jeansnya yang baru kusadari ternyata aku mengusap bagian-


Aku menarik tanganku karena malu. Malu setengah mati. Wajahku sudah memerah seperti kepiting rebus. Sumpah, aku tidak sengaja.


"Gimana punya gue. Gede kan?" Godanya yang membuat wajahku semakin pucat pasi.


...****************...


NB: Randu boleh gak sih kalo gue tampol tuh muka. Kok lo ngeselin banget sih jadi cowok. Kania illfeel baru nyaho loh wkwkwk


Kesan kalian buat part ini?


Kalo visual kalian siapa si, boleh kasih tau gak? Lagi bingung nyari visual. Soalnya semua orang kan cakep ya dengan caranya masing-masing. Ashiapp.


Makasih yang udah vote, like sama komen


^^^Sayang Kalian,^^^


^^^Mahkota_Hijau^^^

__ADS_1


__ADS_2