
...P E M B U K A A N...
Now playing : G-Friend - Mago
...****************...
Ayo sini kalo berani," tantang Nilam.
Nilam maju selangkah di susul oleh Ryan di depannya. Mereka berdiri berhadapan. Tinggi keduanya sangat jomplang di mana Nilam hanya sebatas dada si jangkung Ryan.
"Cowok pengecut kaya lo yang beraninya sama cewek gak pantes hidup." Teriak Nilam sambil mendekat mengarahkan tinjunya. "Pantesnya lo dikebiri terus burung lo gue kasih ke kucingnya Dian."
Mendengar itu habis sudah kesabaran Ryan. Di sampingnya, aku tak tahu harus berbuat apa. Aku berlari ke arah pintu berharap ada orang di lorong gedung UKM fakultas yang siaga melerai perseteruan dua bocah labil. Nihil. Tidak ada siapa-siapa. Aku memandang ke belakang. Dress selutut Nilam sudah dicekal kuat bagian lehernya oleh Ryan. Di sisi lain Nilam sudah mengambil ancang-ancang untuk mendaratkan tinjunya.
Aku menutup mataku dengan dua telapak tangan saat ku dengar suara hantaman kepalan tangan yang sepertinya mengenai tulang pipi seseorang. Alangkah terkejutnya aku menyadari ada darah yang keluar dari hidung orang tersebut.
Aku menutup wajahku dengan dua telapak tangan saat mendengar bunyi hantaman keras membentur tulang pipi. Ngilu sekali suara remuk yang tertangkap indera pendengaranku. Karena penasaran aku menyingkirkan sedikit jemari untuk mengintip apa yang ada di baliknya. Alangkah tercengangnya aku melihat darah bersimbah dari hidung orang yang terkena bogem tersebut. Anehnya orang itu bukan Ryan mau pun Nilam, tapi orang yang paling tidak aku inginkan kehadirannya. Kak Randu.
Sejak kapan Kak Randu ada di sini?
Nilam dan Ryan sudah berhamburan memeriksa kondisi Kak Randu. Mereka panik setengah mati. Nilam sudah mengaduk-aduk tas kecilnya untuk mencari tisu. Tidak menemukan apa yang dicari dia menumpahkan seluruh isi tasnya ke lantai.
"Gak ada," Nilam menggeleng.
Ryan dengan tangan kosong menekan hidung Kak Randu kuat. "Gue cuma bisa berbuat sebatas ini buat menghentikan pendarahan yang terus keluar." Ujarnya panik membuat Kak Randu terkekeh.
"Eh monster, lu ngapa cuma berdiri doang di situ?" Tanya Ryan ke arahku yang mematung di samping pintu.
Aku yang kebingungan akhirnya mendekat. "Gue gatau kudu gimana? Baru liat darah ngucur, ngeri banget." Ucapku yang bersimpuh di depan Kak Randu.
"Eh ngayanya ngita mernah ngetemu?" Racau Kak Randu tak jelas karena hidungnya dipencet Ryan.
__ADS_1
"Bang udah jangan banyak ngomong. Lo kudu segera diobatin." Saran Ryan yang masih setia menekan hidungnya.
Kak Randu menyingkirkan tangan Ryan dari hidungnya. "Mimisan gini belum cukup buat lukain gue." Otomatis darahnya mengucur mengotori lantai.
"Bang, tapi lo kan?"
"Aku Kania. Jujur aku bingung harus ngelukain apa?" Aku menyela Ryan dengan suara lirih.
Nilam melotot padaku. "Ya diobatinlah, oneng," dia menoyor kepalaku pelan.
Aku balas memelototinya.
"Lo gak papa kan?" Tanya Randu pada Nilam khawatir. Ada selisik rasa cemburu yang merayapi tubuhku jika Kak Randu perhatian dengan perempuan lain. Nyatanya aku tidak berhak merasakan itu karena aku bukan siapa-siapanya Kak Randu.
Nilam menggeleng. "Justru keadaan lo Kak yang lebih meresahkan," Ujarnya sambil mengambil kapas yang ada di kotak P3K. Karena tadi panik, kotak yang berada di pinggir lemari buku-buku itu sempat terlupakan.
Nilam hendak menghapus jejak darah di hidung Kak Randu namun aku segera merebut kapasnya. Nilam melihatku sekilas lalu tersenyum penuh arti. Jangan sampai Nilam tahu perasaanku yang sebenarnya pada Kak Randu.
Rasa cemburu yang bodoh, rutukku.
"Lo gugup banget kayanya depan gue?" Selidik Kak Randu menatapku.
"Gak kok Kak," kilahku sambil mengalihkan pandangan.
"Astaga, lo demam. Wajah lo merah banget?" Nilam yang bersuara, mau tak mau aku menatapnya tajam.
Tanpa berberat hati, Kak Randu menempelkan jemarinya di dahiku membuat detak jantungku semakin menggila. "Eh, kok gak panas, ya?" Herannya. Dia memastikan sekali lagi lalu mengusap-usap pelan tangannya di sana. "Gak ah ga panas sama sekali."
Luluh lantah semua pertahananku dari tadi. Sentuhan Kak Randu membuatku benar-benar kehilangan kendali atas tubuh bodoh ini. Kapas di tanganku yang menutup lubang hidung Kak Randu terjatuh. Tubuhku limbung dan hampir terjengkang ke belakang. Untung saja Ryan segera menyadari itu lalu menopang tubuhku.
"Lo kenapa si, gak biasanya? Lo beneran sakit?"
Aku menggeleng pelan.
__ADS_1
Ryan menegakkan tubuhku. Nilam kini duduk di sebelahku, dia berbisik. "Kania, gue harus ke kelas. Sesi dua, lima menit lagi mau mulai. Gue ada hutang absensi di kelas ini, ga bisa bolos. Jatah gue udah abis kepake lomba sama kepanitiaan." Aduh aku bingung harus menjawab apa.
"Eh cewek kasar. Lo bentar lagi ada kelas kan?" Seru Ryan yang menggantikanku menekan hidung Kak Randu. Menghentikan pendarahannya yang tak kunjung mereda.
"Heh! Lu yang kasar. Lu bogem ni Kak Randu yang coba lindungi gue." Nilam tersenyum pada Kak Randu dan pria itu membalas. Lagi, denyut sakit itu intens memenuhi hatiku. Aku bukannya tidak merasa lega Nilam ada yang menolong. Tapi jika penyelamat itu adalah Kak Randu, aku merasakan kesal.
"Eh tapi kan lo yang mulai duluan," entah kenapa di posisi ini aku malah mendukung Ryan.
Nilam membekap mulutnya, tak percaya dengan apa yang barusan kuucapkan. "Lo kok jadi lindungin cowok itu?"
"Tapi kan emang lo yang salah. Gue lihat dari tadi lo yang mulai terus,"
Nilam menelan ludah. "Gue emang salah. Tapi gak seharusnya lo belain cowok yang mau nonjok cewek. Lo gila? Gimana kalo posisi Kak Randu di balik jadi gue. Apa gue bisa nahan kaya Kak Randu sekarang? Belum tentu Kania," jeritnya frustasi. Matanya berkaca-kaca.
"Tapi kalo lo gak mulai semua ini gak bakal terjadi," aku terus menyalahkan Nilam.
"Lo masih temen gue kan?" Erangnya di tengah isak tangis yang sebentar lagi tumpah.
Sebelah tangan Kak Randu mengusap punggungku. "Lo temen gue, tapi Ryan juga temen gue. Gue gak bisa berat sebelah." Tegasku membela diri.
Setetes air mata meluncur dari wajah Nilam. "Gue kira hubungan kita lebih dari itu? Rupanya gue doang yang nganggep kalo kita cuma sahabat." Nilam menyebut kata cuma penuh penekanan. Dia menyeka wajahnya lalu berlari menuju ambang pintu.
"Maksud gue bukan kaya gitu, Nilam." Ujarku hendak bangkit yang ditahan oleh Kak Randu. Nilam sudah pergi entah kemana.
"Dia butuh ruang sendiri."
Aku menghembuskan napasku menahan kekecewaan. "Tapi kan bukan itu maksudku. Kakak ngerti, kan?"
"Iya gue tau," ucap Kak Randu menenangkanku.
...****************...
NB : Aku ngebayangin cerita ini tuh ada di kampus kuning, ya, yang lokasinya di depok itu. Mudah-mudahan setelah lulus SMA ini aku lulus di sana. Doa in ya wan kawan. Kuy pejuang PTN merapat. Semoga apa yang kita cita-citakan saat ini bisa tersemogakan ya.
__ADS_1
Sayang kalian,
Istrinya Oppa Lucas