
Aku menghembuskan napasku menahan kekecewaan. "Tapi kan bukan itu maksudku. Kakak ngerti, kan?"
"Iya gue tau," ucap Kak Randu menenangkanku.
Kak Randu mendekapku yang berurai air mata.
"Sejujurnya gue ngerasa senang lo belain gue. Tapi bener kata Nilam, kalo Bang Randu gak muncul dan NeBe-in (nahan badan) dia gue udah jadi cowok paling brengsek yang bisa nyakitin perempuan." Ryan bangkit menuju pintu. "Kania, bisa lo anterin Bang Randu ke klinik. Gue mau pergi buat nenangin diri dulu." Mohonnya padaku. "Bang Randu sekali lagi gue minta maap sama lo," lanjutnya.
"Sans aja lagi,"
Ryan menghilang di balik pintu meninggalkan aku dengan Kak Randu berdua. Akibat kami yang hanya duduk bersisian, lahirlah suasana canggung yang meliputi ruangan ini. Aku memilin-milin ujung bajuku berharap rasa maluku menguap. Nyatanya keberanian itu hanya ada di angan-angan saja.
Aku mendengar Kak Randu merintih kesakitan walau suaranya agak samar-samar. Kuberanikan wajahku untuk menatapnya. Sialnya, Kak Randu ternyata memerhatikanku entah sejak kapan. Mata kami bertemu. Ketika hendak mengalihkan pandanganku wajahku di tahannya. Kami lama berpandangan. Secara naluriah, dia semakin mendekatkan wajahnya kepadaku. Semakin wajah kami tak berjarak semakin membuatku gelisah.
Kak Randu menutup matanya menyejajarkan bibir kami akan bertemu. Sepersekian detik lagi bibir kami akan bersentuhan, aku mendorangnya. Aku berdiri dan Kak Randu mendongak menatapku dengan heran. Jelas sekali wajahnya mencetak rasa ketidakpuasan. Aku menggigit bibirku tak tahu harus melakukan apa.
Sosok di bawahku kini ikut berdiri. Wajahnya memandangku dengan tatapan aneh. Sejurus kemudian, tangannya mengelus puncak kepalaku.
"Gue suka lo ngasih gue tantangan."
Aku mengerutkan kening.
"Udah gak usah banyak mikir. Cepet bantu gue ke klinik?" Dia meregangkan sebelah tangannya.
Aku hanya diam.
"Lo orangnya gak peka ya," tuturnya lalu menyampirkan tangannya di bahuku.
Aku menyipitkan mata.
"Walaupun lo orangnya gak pekaan, malah buat gue makin suka," dia berdeham beberapa kali saat ku tatap wajahnya. "Jangan buat gue salting. Yuk jalan," titahnya yang langsung kusanggupi.
Kami berjalan terseok-seok, terutama karena keseimbangan tubuhku yang salah. Setelah drama pemapahan seorang pesakitan, tiba juga kami di halte bus depan gerbang fakultas. Bangunannya kecil, hanya tempat duduk dari keramik yang diapit dua tiang di kanan-kiri. Di sampingnya, ada tong sampah berwarna merah, hijau, dan kuning.
Awal sesi jam kuliah seperti ini kondisinya sepi, beda sekali dengan akhir sesi. Biasanya mahasiswa sering memadati fasilitas kampus satu ini. Apalagi jika waktu pagi saat berangkat kuliah atau sore hari. Mahasiswa yang jumlahnya bejibun akan saling berdesak-desakan untuk menaikinya. Seperti kasus KRL saja.
Melihat tempat duduk yang kosong, Aku memutuskan agar kami duduk berjauhan. Awalnya Kak Randu sempat protes mengapa aku duduk berjarak dengannya tapi aku mengatakan kalau lebih baik seperti itu. Dia bahkan berpura-pura pusing dan meminta tolong untuk memijatkan pelipisnya, namun aku diamkan karena tahu semua itu hanya tipu dayanya.
"Gue nunggu bikun (bis kuning) sendiri aja." Cetusnya setelah berpura-pura sakit kepala.
"Tapi aku gak bisa ninggalin kakak sendiri. Aku khawatir kalo kakak kenapa-napa."
Dia berdiri lalu merentangkan kedua tangannya. "See, gue gak apa-apa." Sialnya darahnya malah mengucur kembali.
"Modal keras kepala gak bakal bikin sembuh, Kak," Aku langsung menuntunnya untuk duduk kembali.
__ADS_1
Kak Randu mengangguk. "Thanks,"
"Lo gak ada sesi?" Kak Randu membuka obrolan.
"Nanti sesi empat jam setengah tiga."
"Oh..." Dia mengangguk-angguk.
"Lo kupu-kupu (kuliah-pulang) ya? Kok gue jarang liat lo di kampus."
Aku mengedikkan bahu. "Kakak aja kali yang jarang di kampus. Terlalu banyak ikut organisasi juga gak baik kan?"
"Iya sih tubuh harus diforsir biar gak kecapean. But, gue itu anaknya gak bisa diem. Kalo jadwal gue kurang padat justru kaya ngerasa ada yang aneh gitu,"
Kak Randu melepaskan tanganku di hidungnya. "Thanks. Gue bisa sendiri."
Aku mengangguk. "Aneh ya. Aku baru ikut beberapa organisasi aja udah berasa mampus. Pas balik, badan tuh pegel semua." Kak Randu manggut-manggut.
"Kayanya lo kurang olahraga." Tebaknya tepat sasaran.
Aku nyengir lebar. "Kalo kita balik ke rumah cuma buat rebahan, jelas aja tubuh pasti cepet capek." Terangnya.
"Gini deh, kalo misal lo mau, gue ajak olahraga bareng gimana?"
Kak Randu mengangguk lalu mengambil ponselku yang berada di saku jaket denim. Dia menuliskan beberapa angka lalu menyerahkannya lagi kepadaku.
"Itu nomer gue. Lo chat aja,"
Aku tersenyum senang. "Eh tapi kak, kok nama kontaknya-"
"Keberatan?" Potongnya mencercaku.
"Gak. Gak jadi." Senyumku semakin terbingkai lebar melihatnya menuliskan nama kontaknya sendiri.
"Lo kayaknya seneng banget." Kak Randu menjawil hidungku. Wajahku semakin berseri-seri.
Sepuluh menit berlalu, tapi kendaraan yang kami tunggu tidak kunjung datang. Kak Randu hanya memainkan ponselnya dan aku menatap ujung jalur tempat mobil itu melaju. Tidak kelihatan hilalnya sama sekali.
"Tahu gini gue tadi bawa mobil." celetukku pada diri sendiri.
"Lo gak nyaman ya nunggu lama-lama bareng gue."
"Eh-"
Apa tadi aku berbicara keras-keras?
__ADS_1
"Aku bukan gak nyaman. Aku cuma takut kakak malah tambah kesakitan kalo lama diobati." Ralatku.
Kak Randu menyeringai. "Lemah amat ya gue jadi cowok. Padahal selama itu bareng lo, gue fine-fine aja tuh."
"Huhh?!" Ucapku tak mengerti.
Dia malah mendiamkanku dan melihat sekawanan mahasiswa yang berjalan di seberang. Dia melambai-lambaikan tangannya ke atas. Jumlahnya sekitar lima hingga tujuh orang, aku tak tahu tepatnya.
"Hi, Ran," sapa seorang cowok yang duduk di sebelahku. Sontak aku merapatkan tubuhku ke samping Kak Randu memberinya tempat.
"Hi," kini giliran cewek cantik yang menyapa. Dia memilih tempat duduk di sebelah Kak Randu memancing rasa tidak sukaku. Kenapa sih Kak Randu itu selalu saja di kelilingi cewek-cewek cantik?
"Lo ngapain Ran mesra-mesraan di sini. Mana hidung lo dicucuk segala lagi." Pernyataan cowok berbadan gempal yang aku sangka pasti temannya Kak Randu.
"Ini junior gue," tunjuknya padaku. "Tadi ada insiden. Hidung gue mimisan."
"Alay banget si lo," timpal salah satu cowok yang ikut nimbrung percakapan.
Kak Randu meninju pelan cowok itu. "Anjin* lo."
Mereka tergelak menyisakan aku yang kebingungan di tempat.
"Mereka temen-temen gue dulu pas di BEM. Tapi ya emang gitu, gak ada akhlaknya." Tawanya mengudara disusul teman-temannya. "Lo gak ngerasa asing kan?"
Aku menggeleng. Sejujurnya iya, tapi kutahan saja dalam hati.
"Eh itu mobilnya udah ada. Kuy naik," Tunjuk gadis cantik yang ada di sebelah Kak Randu pada bikun berplat biru.
"Ayo, Kak." Ajakku.
Aku kalah cepat dari cewek berambut sebahu itu saat berlomba menggapai bahu Kak Randu. Akhirnya aku hanya mengikuti keduanya dari belakang. Saat menaiki bikun, Kak Randu tertawa akan lelucon yang dilontarkan cewek itu.
Aku benar-benar tidak suka.
...****************...
NB : Stok gambar abis **. Eh ada gak sih di real life cewek macam Kania ini yang apa-apa cemburuan liat doi nya di sentuh pria lain. Aku sendiri prihatin sih sama sifat posesif kaya gitu tapi kalo doinya seganteng Randu sih? Hmm? Bisa dimaklumi.
Kania lo kalo dapetin Randu beruntung banget bisa memperbaiki keturunan. Lah gue?? Menghalu mulu.
Komen kalian untuk part ini?
^^^Sayang kalian,^^^
^^^Mahkota_Hijau^^^
__ADS_1