
Setelah membopong tubuh Kak Randu hingga duduk di kursi depan, cewek tadi tiba-tiba duduk di sebelah kursiku di deretan kursi paling belakang. Dia menyodorkan tangan kanannya dengan segan aku menjabatnya. "Gue Fara,"
"Kania."
Kulihat dia mengeluarkan ponselnya, membuka ruang chatnya. Masih memainkan ponselnya dia berkata, "Lo ceweknya Randu?" Todongnya. Sontak aku menggeleng.
"Terus?" Pancingnya menaikkan sebelah matanya.
"Cuma adik tingkat,"
Dia menaruh kembali ponselnya ke tas kecilnya. "Eh, serius?" Dia menatapku tak percaya.
"Gue kira, lo ceweknya Randu." Aku tersenyum tipis.
"Berarti sia-sia ya usaha gue," sesalnya pada diri sendiri.
"Usaha apa, Kak?" Tanyaku refleks.
Alih-alih merespons keingintahuanku dia mengalihkan pembicaraan. "Gue gabut nih. Lo mau gibahin Randu gak? Gue nyimpen banyak banget aibnya?"
Walaupun masih merasa dongkol, mendengar hal-hal privasi pria itu aku sedikit antusias. Tepatnya sangat tapi gengsi menutup rapat harga diri. Kalo boleh aku ingin tahu apapun itu tentang Kak Randu. Sesederhana bagaimana posisi tidurnya, kebiasaan makannya, bahkan caranya menguap menahan kantuk. Meski kata orang itu cuma fakta remeh, aku tak peduli.
Tapi ada gundah yang membayangi mengingat kedekatan Kak Fara dengan Kak Randu. Berderet asumsi negatif tentang hubungan keduanya. Sedekat apa perempuan ini dengan Kak Randu. Walau bisa aja Kak Randu yang selalu ganjen terhadap semua cewek.
Aku melihat sekilas Kak Randu di kursi bikun paling depan sedang berceloteh dengan teman prianya. Dia melihat ke arahku sehingga mata kami bertubrukan lalu dia tersenyum. Aku mengalihkan pandanganku karena malu.
"Belom gue kasih tau apa-apa wajah lo udah merah,"
"Sebelum gue bahas lebih jauh, ada yang mau lo tanyain gak?" Pancingnya padaku yang memiliki segudang pertanyaan jika itu menyangkut senior.
Aku mengerutkan dahiku pura-pura berpikir. "Emm kalo hubungan Kak Nisa sama Kak Randu itu apa ya?"
"Loh, kenapa nanya 'itu'?" Dia menekankan kata itu.
Aku mengerutkan dahi tidak bisa menebak maksudnya.
"Hubungan Nisa sama Randu. Bukannya mereka itu udah terkenal di seantero kampus ya? Udah jadi rahasia umum, kan?"
Aku menggigit bibir bawahku. "Enggak ada alasan khusus sih, Kak. Aku cuma penasaran aja."
"Yakin?" Godanya memamerkan senyum terjahilnya.
Aku diam seribu bahasa.
Apa dia mulai curiga?
Mengerti dengan kebisuanku, dia melanjutkan, "Setau gue, mereka tuh deket banget kaya satu jiwa dalam dua badan. Gak bisa dipisahin. Di mana ada Nisa di situ pasti Randu muncul dan sebaliknya meski gak setiap saat karena mereka juga punya kesibukan masing-masing. Tapi yang aneh tuh hobi mereka tuh sama. Komunitasnya juga. Otaknya sebelas dua belas. Tipe idealnya..." Aku menelan ludah, semoga jawabannya beda.
"Sama." Pupus sudah harapanku.
"Tapi daripada jadi pasangan sih, gue sebagai teman mereka lebih ngedukung mereka cukup di status sahabatan aja. Soalnya mereka tuh udah kaya saudara kembar. Seleranya semua sama. Dan ..."
__ADS_1
Saudara? Saudara apa yang hampir melakukan adegan sosor-menyosor.
"Huh? Randu sama Nisa *******?" Teriaknya heboh memenuhi satu penjuru bikun.
"Kak," aku benar-benar merutuki mulutku yang membocorkan privasi orang lain. Tidak mengindahkan peringatanku, dia malah memanggil Kak Randu.
"Randu ..."
***
"Kak, tunggu," seruku mengejar Kak Randu yang melangkah setengah berlari.
"Kak, plis dengerin dulu,"
"Kak,"
Kak Randu menghentikan langkahnya membuat tubuh kami bertabrakan. Secara naluriah, Kak Randu melingkarkan lengannya di pinggangku. Menahan tubuhku agar tidak mencium aspal. Aku mendongak menatap reaksi wajahnya. Dia hanya tersenyum kecut.
Tubuhku mundur mengurai keintiman di antara kami. Aku memegang dadaku yang berdetak tidak karuan. Jika kami masih melekat kemungkinan besar Kak Randu pasti bisa merasakannya. Hal itu tidak boleh terjadi. Aku belum siap untuk mengungkapkan isi hati karena sekarang bukan waktu yang tepat.
"Kak dengerin aku dulu,"
"Nisa ..."
"Randu. Lo ngapain di sini,"
Tanpa menghiraukanku, Kak Randu bergegas melewatiku mendekati Kak Nisa yang berdiri tepat di belakangku. Jantungku seperti ditikam sembilu. Nyeri sekali. Untuk kesekian kalinya hatiku sakit karena pria ini.
"Ada si cuma gue bolos hehe," Melihat Kak Nisa yang nyengir polos, Kak Randu mengacak-acak rambutnya.
Aku yang berdiri di belakang seperti benalu di antara dua orang yang tengah di mabuk asmara.
"Ih jangan diberantakin bege. Cape-cape nata rambut di salon, kalo lu berantakin lagi." Bibir Kak Nisa mengerucut, tangannya terlipat di depan dada. Kak Randu tertawa. Tawa yang renyah yang bisa semua orang tafsirkan sebagai tawa bahagia.
Melihat kedekatan yang nyata itu, air mataku tumpah tanpa bisa kutahan. Aku melangkah ke belakang hendak kabur namun sial hal itu disadari Kak Nisa.
"Lo, cewek toilet itu kan? Nagapain sama si Randu?"
"Cuma kebetulan ketemu," Aku mengusap wajahku kasar mengumpati setiap air mata yang lolos.
"Sorry kak gue duluan ya," Kak Randu bahkan tidak mau repot-repot menatapku.
"Ya udah. Hati-hati ya." Bukan suara Kak Randu tapi Kak Nisa.
Aku melambaikan tangan bersiap meninggalkan mereka.
...****************...
NB : Kasih spoiler yaks
Aku mengetik pesan pada Kak Randu. Entah apa motifnya yang jelas aku hanya ingin memperbaiki hubungan kami dan berharap Kak Randu tidak menampiknya. Perasaan bersalah terus mengetuk-ngetuk nuraniku. Aku akan menanyakan hubungan Kak Nisa pada Kak Randu lalu memperjelas batas di antara kami jika terbukti status mereka lebih dari teman. Aku ingin menyudahi cinta bertepuk sebelah tangan ini yang melukai banyak pihak. Aku ingin membumihanguskan perasaan ini hingga ke akar-akarnya.
__ADS_1
Aku menunggu balasan Kak Randu dengan cemas. Jam menunjukkan pukul tujuh malam. Di halte fakultas, sendirian, menunggu bus kampus yang lewat.
Lo di mana?
Halte. Lagi nunggu bus kampus.
Halte mana?
FE (Fakultas Ekonomi)
Ada jeda dua puluh menit. Ponselku menyala. Panggilan masuk dari Kak Randu.
"Hal-"
"Lo masih di situ kan?" Potong Kak Randu dengan nada cemas? Benarkah yang kudengar barusan. Apa gendang telingaku rusak mendengar Kak Randu melunakkan suaranya dan terselip rasa khawatir?
"Iya, Kak, aku masih di halte."
"Bukannya lo bawa mobil?"
Aku menghela napas. "Mobil aku mogok, tadi udah diderek sama pihak bengkel."
"Jadi lo pulang gimana?"
"Nunggu bikun,"
"Gak nge-crab aja? Ini udah malem loh,"
Aku melihat belakang halteku yang gelap gulita. Pohon-pohon yang rimbun beserta dedahanannya yang saling bertaut menaungi tanah di bawahnya. Semilir angin yang sesekali bertiup menggoyang daun-daunnya.
"Dompet aku ketinggalan," akuku merasa malu.
"Perlu gue jemput?"
...****************...
**NB : Bantu kasih saran dong. Kalo misalnya jadi si Kania yang apa-apa di baperin mulu sama doi, capek gak sih? Apa dia harus memperjuangkan cintanya yang tidak ada kepastian atau harus menyerah aja karena di gantung gitu?
Plis-plis jawab ya. Buat riset akuh juga, sekalian bagi pengalaman biar gak tergelincir buat ngambil jalan yang salah.
Aku masih muda.
Dunia ini bagaikan hutan rimba.
Aku butuh peta.
Untuk melangkah ke masa depan.
Makasih
Sayang Kalian,
__ADS_1
Mahkota_Hijau**