
"ampun mah..maaf saya khilaf..maafin saya mah"
"dasar!!! anak kurang ajar, bagaimana bisa setelah menciumnya kamu bilang khilaf, lebih baik mama pergi saja dari rumah ini karena mama telah gagal didik anak". jantung ibu berpacu cepat napas ibu sesak dan ibu pun jatuh pingsan.
"mamaaaaa..." raka teriak kaget
"bun..bun...tolongin mama bun, mama pingsan"
"Astaghfirullah" ratna langsung lari dari kamar karena kaget raka teriak memanggilnya.
sebenarnya ratna sudah bangun semenjak raka datang hanya saja ratna memilih untuk pura-pura tidur karena ratna malas bicara dengan raka, tapi saat mendengar ibu marah ratna pun langsung duduk di tepi ranjang tapi ratna tidak ikut campur pembicaraan ibu dan anak, ratna memilih diam dan mendengarkan yang mereka bicarakan, ada perasaan senang saat ibu lebih memilih berpihak ke ratna tapi ada perasaan tidak tega juga kepada ibu sebab walau bagaimanapun ratna juga seorang ibu yang merasakan jika anaknya kurang ajar terhadap perempuan hati ibu akan sakit sekali, tapi sepertinya raka tidak pernah tahu dan tidak mau tahu perasaan perempuan.
"bu ibu...bu..." ratna menepuk pipi nya ibu supaya cepat sadar dan memberikan aroma minyak angin ke dekat hidungnya.
"agh... Astaghfirullah kepala ku sakit banget nih. hiks...hiks...hikss...maafkan saya bapak...saya gagal didik raka untuk jadi orang sholeh...ya Allah ampunilah dosa saya...."
"mah..maafin aku mah" raka bicara sambil menangis tersedu karena menyesali perbuatannya.
"pergi kamu, saya benci anak kaya kamu"
"jangan gitu mah...raka janji mau berubah..tolong mah maafin raka"
saat ibu sadar ratna langsung pergi ke dapur untuk membuat teh manis hangat supaya perut ibu terasa hangat dan juga bisa membantu menenangkan hati ibu.
" bu..di minum dulu teh nya"
__ADS_1
ibu pun minum tanpa bicara, dan benar saja hati ibu agak sedikit lega. setelah melihat ibu sedikit tenang ratna pun mulai bicara membahas masalahnya.
"bu, sudahlah tidak usah di pikirkan. ratna gak papa kok bu, kalau memang raka tidak bisa melanjutkan pernikahan ini, ratna ikhlas".
"saya yang tidak ikhlas, kelakuan raka itu mencerminkan orang yang sudah jauh dari iman, jauh dari agama, saya malu tau gak. kalian paham tidak, sebagai orang tua saya itu malu".
"tapi kayaknya anak saya itu tidak punya malu, otaknya udah kepentok tembok kali sampai gak ada otaknya"
"sekarang mama mau tanya sama kamu raka, kamu masih menganggap mama itu orang tua kamu apa bukan?"
"iya mah masih mah, maafin raka mah" raka bicara sambil mencium kaki ibu nya
'cih, bagus aja masih inget sama ibu nya jadi masih bisa lah di betulin sedikit kepalanya' batin ratna
"iya mah bisa...insya Allah saya berubah". raka mencium tangan ibu nya kemudian mencium tangan ratna.
"maafin saya ya bun, insya Allah saya berubah" ucapnya
'sial, saya gak butuh kamu berubah karena saya tahu kamu tuh tidak pernah mengerti dan tidak pernah mau mengerti perasaan saya, karena saya sudah paham benar siapa kamu. sudah bagus aturan kita pisah saja, karena saya sudah lelah mengalah terus sama kamu' batin ratna lagi untuk kesekian kalinya ratna harus mengalah semua demi anak-anaknya.
memang dasarnya sifat raka itu tidak mau mengerti kalau ratna sedang mengalami kesusahan, raka itu jarang ngobrol dengan ratna kalau lagi berdua, raka lebih baik memilih diam karena raka pikir kalah bicara sama ratna itu hanya selalu di salahkan padahal memang caranya dia itu salah apalagi dalam hal mengelola usaha.
ratna sering berdebat dengan raka kalau saat mengatur londri, menurut ratna caranya tidak pas dan ratna juga sudah pernah bilang baik-baik kalau raka itu tidak cocok usaha londri tapi raka tidak mau mendengarkan setelah bicara seperti itu ratna pun tidak pernah membahas londri lagi dengan raka.
kadang ratna itu merasa kesal dengan raka karena setiap ratna memberikan pendapatnya raka selalu menolak dengan seribu alasan.
__ADS_1
POV Author
saya mau menceritakan sedikit ya kepribadian raka, jadi raka itu sifatnya pelupa kurang disiplin, mager dan suka merintah tanpa lihat situasi.
sedangkan ratna itu cerewet, aktif, agresif tapi semenjak punya anak ratna agak sedikit melemah, dia merasa gampang lelah makanya dia bingung kalau dia pisah dari raka maka dia harus tinggal di mana dengan ketiga anaknya, tapi kalau tidak pisah mau tidak mau dia harus bisa menerima dan memaafkan kelakuan raka, serba salah kan selalu perempuan jadi korbannya tapi kenapa sih perempuan lebih suka nyerang perempuan lain aneh yah tapi kenyataan nya memang seperti itu terkadang ada yang menikmati untuk menjadi pelakor huff ya ampun, untungnya author gak gitu besti.
cus ah lanjut ceritanya....
ratna masih diam tanpa berkomentar apapun, karena di satu sisi dia lihat seorang ibu sedang sakit tapi di sisi lain ratna pun tidak mau bertahan.
"saya butuh waktu" akhirnya ratna memutuskan untuk memikirkannya lagi.
"saya akan berikan jawaban secepatnya, untuk sementara ini saya tidak akan pergi karena ibu sedang sakit, tapi bukan berarti saya melupakan masalah kita dan saya harap kamu jangan menyentuh saya, karena saya belum bisa percaya lagi sama kamu, saya mau urus anak-anak dulu".
ratna pergi dengan perasaan kesal karena untuk kesekian kalinya ratna harus mengalah.
'ya Allah kenapa sulit sekali menjadi istri sholeha' ratna bermonolog sendiri di dalam kamar sambil terisak, kemudian fatimah mendekati ratna dan bertanya " bun, sabar ya. kenapa sih ayah kok gitu sama bunda"
"gitu bagaimana ka?" ratna mencoba tenang saat bicara dengan anak nya.
"ya gitu, kenapa ayah itu malah mikirin pacaran terus padahal udah setua itu umurnya, kok ayah tega sih sama bunda"
di lihatnya fatimah hampir saja menangis kalau ratna tidak segera menghiburnya.
"husshh, kamu jangan ngomong kaya gitu. sejelek apapun ayah kamu, beliau tetap orang tua kamu walaupun dia orang jahat sekalipun tugas kamu sebagai anak itu hanya satu yaitu berbakti dan mendoakan orang tua supaya di ampunin dosanya, tapi kalau orang tua kamu berbuat salah kamu tetap harus mencoba mengingatkan dengan bahasa yang baik".
__ADS_1