
"hallo pak, pak tadi pagi pas kita sarapan itu kayaknya imas melihat kita deh sebab tadi aku rasa mba ratna juga tau kalau kita berdua sarapan bareng". ucap dewi langsung bicara intinya.
kalau di dekat toko dewi tetap memanggil raka dengan sebutan 'bapak', sebab untuk menghargai kalau raka adalah pemilik londri. tapi kalau saat berdua saja dewi memanggil raka dengan sebutan 'mas' biar tambah mesra.
"hmmm...biarlah ratna tau juga gak masalah sebab dia sudah tidak marah lagi sama saya, saya juga sudah bosan dengan sikapnya yang suka mengatur saya seenaknya, saya mau kita makin dekat karena kamu sangat perhatian sama saya, nanti malam saya antar pulang ya." jawab raka panjang lebar supaya tidak terlalu lama ngobrolnya karena dia masih belum terbuka dengan ratna soal kedekatannya dengan dewi, sebab kemarin dia sudah berjanji ke ratna kalau dia mau berubah menjadi lebih baik untuk anak-anak.
kalau author bilang sih, lebih baik menurut raka belum tentu baik buat ratna iya kan readers. tapi ya sepertinya ratna juga sudah males dengan kelanjutan rumah tangganya. males seperti apa ya, yuk kita lanjut aja ya...
"ok pak, saya tunggu di warteg saja ya biar imas tidak kepo" ucap dewi
" iya" jawab raka singkat karena ada pelanggan datang lalu langsung di matikan begitu saja ponselnya.
POV Ratna
'perasaan ku gak enak banget, setelah aku bilang ke teh imas kalau ma jemput zahra aku langsung menuju ke toko suami ku, yah aku mau lihat dari jauh apa saja yang di lakukan suami ku dan ternyata dugaanku benar kalau suami ku dan dewi janjian setelah pulang kerja'.
hufff ku hembuskan nafas kasar, tidak ku sangka suamiku berubah, gaya nya doang pendiam tapi ternyata dia merasa bosan dengan ku dan segampang itu dia ngomong sama dewi kalau dia bosan.
dia pikir hanya dia saja yang bosan, dia pikir aku juga gak jenuh rasanya juga percuma aku berusaha untuk mencapai sejahtera kalau sendirian yah aku juga kesepian karena selama ini hanya aku yang memikirkan semuanya, hanya aku yang banting tulang supaya usaha maju. aku hanya perempuan biasa yang lemah yang sangat membutuhkan laki-laki yang bisa memimpin keuarganya laki-laki yang bisa jadi panutan laki-laki yang dengan lembut memberikan perhatian dan pengertiannya.
lagi lagi aku terlalu banyak berkhayal mengharapkan mendapatkan lelaki yang sayang dan mau berjuang untuk ku tapi ternyata tidak itu hanya halu tidakkkkkkkkk!!!!!!
aku berteriak dalam hati, dan itu membuat dadaku sesak.
ku lihat sudah jam 11 siang, aku nyalakan motor ku langsung menuju ke sekolah zahra selama dalam perjalanan aku berkata dalam hati, lebih baik aku menyudahi saja pernikahan ku tapi bagaimana dengan anak-anakku mereka masih kecil atau aku pulang kampung saja ya di kampung lebih tenang dan damai tidak seperti di kota yang bising. tak terasa aku udah sampai depan sekolah lalu ku parkirkan motorku dan aku mencari zahra di ruang tunggu yang ada di sekolah.
'mana ya zahra, ah itu dia zahra...zahra...ayo pulang nak.
__ADS_1
"zahra kita tunggu kaka sekalian ya kaka sebentar lagi pulang kita tunggu di toko ya sebentar" ucap ratna
"lama gak mah?" jawab zahra
"gak kok sebentar aja, ok" ucap ratna lagi
"ok mama". zahra mau mengerti kalau mama nya sibuk.
'hufff panasnya'. batin ratna tapi mau beli es nanti zahra minta lagi dan repot nanti kalah dia sakit aku juga ya bingung, ah nanti saja deh kalau gak sama anak-anak.
akhirnya ratna sampai toko lagi
"hmmm sial kenapa si dewi lagi minum es sih, gak tau apa saya bawa zahra" batin ratna.
" mama...mama...aku mau es mah kaya teh dewi, mau ya mah". zahra bicara sambil memohon supaya di belikan es.
"iya mama beliin tapi nanti zahra maem nasi ya sama mbah uti" ucap ratna
zahra memang agak susah makan jadi ratna berkata seperti itu untuk merayu dia supaya mau makan. zahra jawab dengan manggut-manggut semangat karena sudah membayangkan es.
memang cuaca jaman sekarang itu sangat extreme ya terkadang panas tapi panas sekali dan tiba-tiba hujan jadi terkadang manusia lebih mudah sakit. sepertinya aku harus beli vitamin buat anak-anak. ratna terdiam sambil berpikir, kemudian ratna melirik dewi yang sedang tersenyum sendiri. 'kenapa dia, selingkuh kok bahagia ya' batin ratna.
'mas..mas..sudah tua kok masih saja banyak tingkah, pakai alasan kalau saya membosankan segala, cihh....dasar buayaaaaa'. ratna gerammm sendiri saat melihat tingkahnya dewi.
biar saja aku kasih jalan saja mereka, karena percuma saja aku mengharapkan dia berubah sebab kalau bukan dari niat dalam hatinya sendiri akan sulit untuk berubah. mungkin selama ini dia gak pernah cinta sama saya, saya nya saja yang terlalu terobsesi dengan dia, mulai sekarang saya akan kubur rasa cinta saya buat dia lagi pula hati saya sudah mati rasa dengan nya.
kalau gitu aku akan minta imas lagi buat ngikutin mereka nanti malam. aku harus kumpulkan bukti perselingkuhan mereka.
__ADS_1
kemudian ratna mendekati dewi yang masih cengengesan sendirian tidak jelas memikirkan sesuatu seperti orang lagi kasmaran.
"ehm...ehm...teh dewi, kok mesam mesem sendirian ada apa nih?". tanya ratna hanya iseng saja padahal tadinya mau tanya soal kerjaan.
"eh..anu..mba ratna saya cuma inget film komedi saja kok" jawab dewi mencoba kasih alasan yang masuk akal, 'semoga mba ratna gak curiga' batin dewi.
" oh...kirain apaan, o iya teh mau tanya dong. londrian atas nama reyhan sudah rapi belum"
"sebentar mba saya cek dulu ya, barangnya agak banyak mba. ada bantal, bad cover dan sprei. mba mau kirim sekarang?"
"oh..saya mau konfirmasi orangnya dulu teh, ya sudah lanjutkan dulu kerjaannya. saya mau jemput fatimah dulu ya sekalian pulang sebentar nanti saya balik lagi".
"ok mba"...
************
sehabis jemput fatimah, ratna pun pulang antar ke dua anaknya terlebih dahulu. sesampainya di rumah, ratna sholat dan makan terlebih dahulu setelah selesai ratna istirahat sebentar sambil menghubungi reyhan untuk konfirmasi.
tut..tut..tuuutttt....tuuuttttt
"Hallo Assalamualaikum" reyhan menjawab panggilan dari ponselnya.
"ya Hallo pak, saya ratna dari londri mau konfirmasi kalau londrian bapak sudah jadi ya pak, bapak mau ambil sendiri atau di antar pak?" tanya ratna.
" oh iya mba...bisa tolong di antar saja mba kebetulan saya ada di rumah tapi kalau bisa di antar sekarang saja ya mba, sebab sebentar lagi saya mau keluar mba".
"oh baik pak, kalau gitu saya jalan sekarang ya pak, terima kasih"
__ADS_1
"ok mba, sama-sama".