
POV IBU
sepertinya ada yang tidak beres dengan raka. batin ibu. waktu sudah menunjukan jam 11 malam, akhirnya ibu memutuskan untuk tidur.
karena banyak sekali rencana yang ada di kepala ibu untuk menyelidiki anaknya esok hari menyebabkan tidur pun tidak nyenyak, tak terasa sudah jam 2 malam alarm di gawai ibu pun berbunyi lalu ibu pun memutuskan untuk langsung beranjak dari tidur nya dan menuju ke kamar mandi supaya mata bisa langsung segar saat terkena air wudhu, setelah selesai wudhu ibu langsung melaksanakan sholat malam dengan khusyu untuk memohon petunjuk kepada Allah agar anaknya bisa berubah menjadi lebih baik, bisa lebih mengingat Allah.
seorang perempuan terutama ibu sangatlah bahagia jika memiliki suami atau anak laki-laki yang memperjuangkan wanitanya, yang mampu membahagiakan hati perempuan, karena perempuan itu mempunyai hati yang lembut perempuan itu akan bahagia jika dia merasa nyaman dengan laki-lakinya meskipun laki-laki tersebut sedang di uji hartanya.
lepas sholat malam, ibu pun tidur kembali karena rasa kantuk yang tak tertahankan tidak lupa ibu mengatur alarm di gawainya tepat jam 4 shubuh. ibu pun terlelap hingga gawai ibu pun berbunyi kembali saat waktu shubuh tiba, ibu pun bergegas untuk melaksanakan sholat shubuh.
kemudian ibu merencanakan sesuatu di pagi hari. ya ampun, udah jam berapa ini kenapa raka belum bangun juga, kenapa cuma ratna dari tadi yang mondar mandir. gumam ibu.
"rat ratna, kamu bangunin raka dulu yah suruh dia sholat shubuh, biar ibu bantu kamu urus anak-anak dulu". ucap ibu
"i_iya bu". jawab ratna, ratna pun merasa malu dan bingung kalau suaminya belum bangun juga, benar-benar tidak bisa di jadikan panutan. gumam ratna.
" mas..mas...bangun mas, sudah jam 6 pagi mas kamu belum sholat shubuh". ucap ratna.
"emmm". jawab raka dengan wajah cemberut menunjukan sikap kesal.
heran saya sudah tua tapi tidak bisa terus berusaha menjadi lebih baik. batin ratna.
__ADS_1
"bu, mas raka sudah bangun biar anak-anak sama saya saja bu". ucap ratna
"ya sudah ibu beli sarapan dulu ya" jawab ibu
"iya bu, terima kasih ya bu" ratna merasa tidak enak karena sering merepotkan ibu mertuanya, ibu pun hanya menjawab dengan senyuman.
setelah selesai mandi dan berganti pakaian, raka pun bersiap siap untuk menjemput dewi. yah, itulah awalnya memang ratna sendiri yang kasih ijin suaminya untuk berangkat bareng dewi, karena ratna pikir rumah dewi dekat dengan rumah ratna dan saat itu memang ratna sangat membutuhkan tenaga tambahan, karena kerjaan dewi bagus jadi ratna tetap mempekerjakannya walaupun kemarin sempat terjadi perselisihan antara raka dan ratna.
sebelum pertengkaran kemarin ratna tidak pernah curiga sama raka, ratna percaya sepenuhnya kalau raka tidak pernah berbuat aneh sampai akhirnya ternyata ratna baru tahu kalau raka tidak sebaik yang ratna pikir selama ini, semenjak berdebat kemarin hati ratna tidak bisa lagi sepenuhnya percaya dan yakin kalau dia bisa bahagia bersama raka, sifat raka yang tidak gesit, dan hanya suka senang senang saja di kepalanya tanpa memikirkan atau merencanakan tempat tinggal, kendaraan dan pendidikan buat anak ke depannya harus seperti apa, itu semua jauh dari pemikirannya raka selama menjalani rumah tangga.
sedangkan cita-cita ratna banyak sekali hal yang di rencanakan oleh ratna agar keluarga bahagia dan sejahtera jauh dari hutang jauh dari kesusahan, tapi ratna sendiri bingung nyatanya pemikirannya tidak sejalan dengan raka.
cih...kalau di lihat dari gelagatnya sepertinya makin lengket. hahaha..dia pikir saya cemburu, padahal tidak sama sekali, saya berharap malah sebaliknya, yah..saya harap mereka langgeng sebab saya juga sudah malas karena sekali di bohongi rasanya sulit sekali untuk kembali percaya sepenuhnya yang ada di kepala hanya rasa curiga saja, rasa sebal apa lagi sikapnya yang tidak cocok di sebut suami atau ayah karena dia tidak serius berumah tangga. ratna bermonolog sendiri begitu lihat raka sudah berangkat jemput dewi.
"rat_ratna, fatimah sudah berangkat ya?, maaf ibu lama sebab tadi di tanya soal jahitan baju". tanya ibu
"ah iya bu, kaka sudah berangkat sama mas raka". jawab ratna
"oh untung ibu tadi beli sarapannya sedikit sebab memang sudah kehabisan juga, tukang nasi uduk nya lagi rame hari ini tumben banget". ucap ibu
"eh, tadi mereka sarapan apa dong". ucap ibu lagi
__ADS_1
" kaka sarapan telor dadar sama nasi bu, kalau mas raka gak mau sarapan sebab masih kenyang bu katanya". jawab ratna.
"ya sudah, o iya ibu mau ke pasar dulu ya sebab mau beli kancing untuk baju jahitan, biar nanti ibu sekalian antar zahra sekolah dan yang jemput nanti kamu ya, kamu mau titip sesuatu gak?" ucap ibu.
"ah iya bu, tidak bu saya tidak titip apa-apa" jawab ratna.
tidak lama zahra siap untuk berangkat ke sekolah, mumpung masih pagi aku akan selidiki kebiasaan raka kalau masih jam segini. batin ibu.
ibu pun berangkat bareng zahra, dan benar saja apa yang ada di pikiran ibu, ibu merasa kalau raka akan sarapan sama dewi di luar. ibu berhenti seketika melihat raka ada di warung nasi uduk, lalu ibu mengeluarkan gawainya dan mengambil gambar raka dan dewi, mereka nampak seperti sepasang kekasih sedang kasmaran.
ya ampun, gak bisa di biarin kalau sampai seperti itu. terlalu sekali raka, dia gak mikirin perasaan seorang ibu seperti apa. ibu bermonolog sendiri.
setelah sampai mengantar zahra, ibu pun tak lupa mampir ke toko yang menyediakan perlengkapan jahit untuk mencari kancing yang cocok untuk baju pesanan pelanggan ibu.
yah..selama ini selain mengasuh cucu nya di rumah ibu juga terima pesanan jahit baju, karena memang keahlian ibu adalah menjahit.
ibu memang perempuan yang mandiri dan taat beribadah, tapi herannya anaknya tidak seperti itu.
setelah selesai berbelanja, ibupun langsung pulang dengan pelan ibu mengendarai motornya sambil memperhatikan warung nasi uduk yang tadi ada raka dan dewi, di tengah perjalanan ibu melihat motor raka yang melaju dengan sedang dia masih bersama dewi yang duduk dengan manis nya sambil memegang pinggang raka.
pusing rasanya saya melihatnya, kenapa anak saya seperti itu ya kenapa dia tega sekali ya sama saya, kenapaaaa!!!!!. ayahnya tidak pernah berbuat seperti itu, apa salahku ya Allah sehingga anakku telah jauh dari Engkau ya Allah. tak terasa ibu meneteskan air mata, ibu sedih dan tak menyangka kenapa anaknya tidak pernah serius bertanggung jawab dan jadi panutan keluarga.
__ADS_1