
Aku kembali ke atas tempat tidur. Setelah menghabiskan dulu sebatang rokok di teras balkon. Sekarang aku sudah kembali ke kamar. Aku kembali mengambil ponsel yang tadi kubanting di atas tempat tidur. Aku yakin, dalam ponsel ini, pasti banyak sekali bukti perselingkuhan Kharisma dan Guntur. Hanya saja, aku perlu menguatkan hati jika masih ingin melihat semua file yang ada dalam ponsel itu.
Kuhirup nafas dalam-dalam. Menguatkan diriku sendiri, untuk mencari tahu, apalagi yang Kharisma lakukan selama ini di belakangku.
Pelan, aku menekan tombol kunci benda pipih yang ada di tanganku saat ini. Memilih tombol menu. Tidak banyak aplikasi di dalamnya. Hanya ada aplikasi gagang telpon hijau.
Jariku secara refleks memilih aplikasi tersebut. Kolom chat kosong, hanya ada pesan yang diarsipkan. Begitu pun status. Panggilan apalagi. Daftar kontak hanya ada satu. Siapa lagi kalau bukan Honey-nya itu.
Aku menghela nafas. Kemudian membuka chat yang diarsipkan. Chat itu memang dari satu nomor. Tidak ada nomor lain lagi. Aku menggulirnya hingga naik ke isi chat paling atas.
[Mimpi indah, Sweety] Dikirim pukul 23.00.
Begitu isi chat paling atas.
Ya, Tuhan. Mataku membulat, begitu melihat kapan chat itu dikirim. Sejak dua tahun yang lalu. Jadi ponsel ini sudah ada sejak dua tahun yang lalu? Tapi dimana Kharisma menyimpannya hingga dia bisa menyembunyikan begitu rapat dariku selama ini.
Kenapa aku tidak tahu sama sekali, kalau Kharisma memiliki dua ponsel? Apa karena aku terlalu sibuk mengurusi cafe-cafe milikku?
Hingga hal seperti ini saja, aku tidak tahu. Tapi semua itu aku lakukan untuk Kharisma. Aku bekerja siang malam untuknya. Untuk membahagiakannya.
Dia ratu di hatiku. Dia sempurna di mataku. Kenapa dia tega sekali melakukan semua ini padaku? Apa salahku? Apa? Aku hanya bisa menghela nafas.
Kembali aku menelusuri isi percakapan di dalam chat. Hanya chat biasa, ucapan-ucapan selamat dari pagi hingga malam. Memang kurang kerjaan. Apa setiap menjelang pagi hingga malam, perlu berkirim pesan?
Karena hanya isi chat dua manusia kurang kerjaan. Segera kutekan tombol keluar dari aplikasi gagang telepon hijau itu. Kemudian memilih folder galeri. Bergeser pada album video. Cukup banyak video yang tersimpan di ponsel ini.
Apa aku akan membukanya satu per satu? Apa aku sanggup melihatnya?
Aku meraup wajah dengan kasar. Berpikir sejenak. Teruskan atau tidak, untuk melihat isi videonya yang cukup banyak. Bagaimana kalau isinya ternyata sangat menjijikan? Apa aku siap?
Aku menghela nafas. Menyiapkan hatiku sebentar. Aku harus kuat. Apa pun yang kulihat dan kudengar dalam video itu sebentar lagi. Mungkin saja, ada hal lain lagi yang kudapati, yang selama ini tidak aku tahu. Meski resikonya, hatiku berdarah-darah, dan porak poranda.
Kuhembuskan nafas. Lalu memilih video kedua, dari video yang pertama sudah kulihat.
Klik.
Rekaman sudah berjalan. Menampakkan dua pasang kaki yang hanya betisnya. Satu pasang kaki dengan betis putih mulus, yang mepet di dinding. Sedangkan satu pasang kaki di hadapan kaki putih itu, berwarna kecoklatan dan berotot, sangat kontras dengan warna betis di hadapannya.
Rekaman terus berjalan, tapi belum terdengar suara apa pun. Hingga terdengar suara rintik air, lalu video itu memang menunjukkan dua pasang kaki itu memang tengah diguyur air. Sepertinya sedang berdiri di bawah pancuran air shower.
__ADS_1
Aku menekan full volume suara pada ponsel. Namun memang belum ada suara yang aku tangkap, selain suara kucuran air.
Aku menutup mata dengan satu tanganku. Tidak habis pikir, sudah sejauh ini mereka mengkhianatiku.
"Kamu masih ingat, kapan pertama kali kita lakukan seperti ini?"
Aku menjauhkan tangan dari wajah. Kembali menatap layar ponsel setelah mulai terdengar suara di sela-sela kucuran air. Suara barusan, suara siapa lagi kalau bukan suara Guntur. Aku kembali menajamkan pendengaranku. Karena video itu masih hanya menampilkan dua pasang betis seperti tadi.
"Apa rasanya hmm?" Suara Guntur kembali terdengar.
"Sakit, Honey!" Terdengar suara Kharisma menyahut.
"Apa suami kamu ngga pernah tahu, kalau kamu udah ngga virg*n? Aku masih ingat, Risma. Akulah yang mendapatkan kamu seutuhnya saat kita masih berseragam abu-abu!"
Deg!
Mataku membelalak mendengar ucapan Guntur barusan. Kharisma sudah tidak virg*n?
Dia yang pertama kali menyentuh Kharisma saat masih masa abu-abu.
Jantungku rasanya ingin melompat dari tempatnya. Mana mungkin? Ingatanku dipaksa terlempar pada malam pertama pernikahanku dengan Kharisma.
"Ck, udah ah kamu gak usah bahas dia di sini, Honey! Di sini kita mau senang-senang, bukan mau bahas dia, 'kan?!" seru Kharisma dengan manja.
Kucuran air sudah tidak lagi terdengar. Mungkin dimatikan.
"Jawab aku, Sweety! Apa yang membuat Dewa bisa menerima kalau kamu udah ngga virg*n? Padahal seharusnya, Dewa melepaskan kamu. Dan kamu menjadi milikku lagi!" Guntur berucap. Jelas sekali kudengar, karena sudah tidak diiringi suara kucuran air.
"Aku pake darah peraw*n palsu." Kharisma menjawab seraya terkekeh.
"Kamu serius?" Guntur bertanya tidak percaya.
Namun, tidak lagi kudengar sahutan dari Kharisma.
"Terus, dia juga ngga tahu dan ngga curiga, kalau kamu pernah keguguran anakku?" tanya Guntur lagi.
Dug dug dug!
Jantungku berdegup semakin kencang.
__ADS_1
Keguguran anaknya?
Ya, Tuhan. Jadi Kharisma pernah hamil anak Guntur? Perempuan seperti apa Kharisma sebenarnya? Saat kuliah, aku belum pernah melihat kelakuannya yang menjurus pada pergaulan bebas.
Tapi tidak ada jawaban dari Kharisma.
"Kamu milikku, Sweety! Kamu seharusnya hanya milikku. Kenapa kamu malah menikah dengan Dewa, Sweety? Kenapa hmm? Kamu sudah tidak mencintaiku? Kamu lebih mencintai Dewa?" Terdengar kembali suara milik Guntur.
"Gimana lagi? Papa ngga pernah menyetujui hubungan kita. Iya, awalnya aku mencintai Mas Dewa. Makanya aku mau menikah dengan dia."
"Terus sekarang? Kalau kamu mencintai Dewa, kenapa kamu mau main gila denganku? Kita sama-sama punya pasangan saat ini."
"Awalnya aku memang mencintai dia. Tapi setelah menikah, ternyata Mas Dewa bukan suami idamanku, Tur. Dia memang pekerja keras. Tapi dia lupa, kalau aku ini istrinya. Butuh kasih sayang. Butuh belaian. Butuh perhatian, Tur! Aku ini bukan patung, loh. Aku lebih sering dianggurin, Tur. Makanya aku cari kesenanganku sendiri. Sampai akhirnya, aku ketemu lagi sama kamu! Cuma kamu yang tahu, apa yang aku mau!" tutur Kharisma.
"Dan satu lagi, dia perokok. Dia ngga bisa berhenti dari rokok dan kopinya. Aku paling ngga suka, saat berhubungan, ada sisa-sisa asap rokok dari mulutnya itu, Tur!" sambung Kharisma lagi.
Aku hanya bisa menggeleng tidak percaya mendengarnya. Kharisma memang sering memintaku berhenti merokok dan minum kopi. Tapi tidak pernah aku gubris.
Aku sudah mengenal rokok sejak awal kuliah. Nongkrong di cafe dengan teman yang lain sambil menikmati kopi. Itu sudah hobiku. Sampai aku bercita-cita memiliki cafe sendiri dan akhirnya terwujud. Tapi seharusnya, itu tidak menjadi alasan Kharisma untuk mengkhianatiku.
Terdengar kembali gemericik air dan rintik air kembali terlihat dalam video.
"Kembali padaku, Risma. Jadilah milikku, dan kamu akan mendapat apa yang tidak bisa Dewa beri selama ini."
Terlihat kedua kaki Kharisma terangkat ke atas. Ditarik oleh kedua tangan Guntur. Tersisa hanya betis Guntur yang nampak dalam layar ponsel.
Tidak ada lagi suara orang bercakap. Berganti dengan suara ******* saling bersahutan. Diiringi suara gemericik air.
PRANGGGG!
Aku benar-benar membanting ponsel itu ke lantai.
"Aarrrrghhhh! Manusia lakn*t! Menjijikan!" Aku meremas rambut dengan kasar. Dadaku sesak. Rasanya aku kehabisan nafas.
Secepatnya aku berjalan ke teras balkon. Berdiri di dekat tembok penghalang.
Kukepalkan tangan begitu kuat. Lalu melayangkan tinju di udara. Seraya menghirup oksigen kuat-kuat. Mengisi dadaku yang sangat sesak agar kembali bisa bernafas dengan baik.
Aarggh!"
__ADS_1
Tidak aku sangka. Kharisma hanya mempermainkanku selama ini. Aku sudah ditipu mentah-mentah. Kedua mertuaku pasti tahu apa yang terjadi pada anaknya. Tapi mereka bungkam. Mereka tutupi semua itu dariku. Tidak bisa kubiarkan!