
SETELAH KEMATIAN ISTRIKU (7)
***
Aku menelan saliva. "Gi, gue nggak tahu Guntur udah married! Yang gue tahu dan terakhir gue ketemu dia, 5 tahun yang lalu, Gi! Waktu dia mau pindah ke Jepang!"
"Serius, lu? Emang lu nggak ada komunikasi lagi?" tanyanya dengan raut wajah terheran-heran.
"Serius, Gi! Kalo komunikasi, ya, cuma sekedar lewat handphone. Tapi, kabar nikahan dia, gue ngga tahu sama sekali! Emang kapan nikahannya?"
"Wah, parah sih! Elu kan sohibnya waktu zaman kuliah! Kok bisa lu ngga tahu! Si Guntur udah balik, tiga tahunan yang lalu, Wa! Dia balik juga karena mau nikahan. Masa sih, lu nggak tahu juga?"
Aku membeku, demi mendengar penuturan Argi. Tiga tahun katanya? Dan aku baru mengetahuinya sekarang. Setelah kematiannya bersama istriku?
Kebenaran apalagi yang akan aku dapati?
"Wa?!" Suara Argi menyandarku dari kebekuan. Argi terlihat mengibaskan tangannya di depan wajahku.
"I ... iya ... iya, Gi? Kenapa?" Aku tergagap menjawabnya.
"Kok, kenapa? Ada juga lo yang kenapa, Wa? Lo beneran nggak tahu, pernikahan sahabat lo sendiri?" Lagi-lagi, Argi tidak percaya, kalau aku memang tidak tahu pernikahan Guntur.
"Sumpah, Gi! Gue nggak tahu! Lo salah kali, yang nikah tiga tahun lalu bukan si Guntur!" sanggahku.
"Ck, bentar!" Argi mendecak. Lantas mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Kemudian memainkan ponselnya itu.
Aku kembali menyulut sebatang rokok, dan menyesapnya dalam-dalam lalu mengepulkan asapnya melalui mulut. Ah, menenangkan sekali.
"Lo liat, Wa! Itu foto waktu nikahan si Guntur!" ujarnya, seraya menyodorkan ponsel miliknya.
Aku memperhatikan. Ku perbesar foto di layar ponselnya itu. Seketika dahiku mengerut. Karena foto di ponsel Argi yang kuamati sekarang, memang foto pernikahan Guntur.
"Gue dikirimin foto itu sekitar tiga tahun yang lalu. Liat aja tanggal sama tahunnya! Gue udah 4 tahun nggak ganti hape, Wa! Jadinya, foto itu masih ada!" sambungnya.
Aku tak berucap sepatah katapun. Guntur yang kuanggap sahabat, bahkan sudah seperti saudaraku. Kenapa tidak memberitahuku, kabar pernikahannya?
Kenapa dia tidak membagi berita bahagianya kepadaku? Apa hanya aku yang menganggapnya sahabat. Sedangkan dia tidak?
Dalam foto pernikahan Guntur, nampak teman-teman kuliah yang lain. Memang tidak banyak. Hanya beberapa saja, dan aku mengenali mereka yang nampak dalam foto.
Hanya aku dan Kharisma yang tidak hadir. Karena menang aku tidak diundang. Jangankan diundang, tahu saja tidak! Padahal, sejak kepergiannya ke Jepang 5 tahun lalu. Aku dan Guntur, masih berkomunikasi.
Meski aku menyadari, setelah cafe ku berhasil berdiri. Aku membalas pesan darinya, seperlunya saja. Karena aku disibukkan dengan cafe dan juga kemitraan yang aku jalankan.
Aku menggeleng tak percaya, seraya meletakkan kembali ponsel Argi ke atas meja.
Argi terlihat menghela nafasnya. "Tapi gue salut sama lo, Wa! Kalian bisa ya, sahabatan kek gitu. Secara, waktu SMA, si Guntur sama si Risma, 'kan pernah pacaran, Wa!" jelas Argi.
"Apa lo, bilang? Mereka pernah pacaran?" tanyaku cepat.
"Astaga, Sadewa! Hal sekecil itu aja, lo nggak tahu? Ck. Payah lo!" Argi mencibir.
Aku menggeleng. "Gue emang nggak tahu, Gi! Yang gue tahu, mereka itu emang temen satu SMA dulunya!" balasku lemas.
Argi mengangguk. "Lo nggak tahu, atau lo nggak pernah nanya?!" ucapnya, menohok.
Aku memang tidak pernah menanyakan pada Kharisma tentang masa lalunya.
Karena aku tidak mempedulikan itu. Setiap orang memiliki masa lalu. Dan masa lalu itu bagian dari hidupnya. Jadi, biarkan saja. Yang terpenting adalah meraih dan melangkah bersama-sama menuju masa depan.
Terdengar Argi mencebikan bibirnya seraya menggeleng. "Wa, saat SMA dulu, semua tahu hubungan si Guntur ma si Risma. Mereka pacaran dari kelas 10 sampe kelas 12. Tapi, pas udah lulus SMA, si Risma 'kan nggak di Bandung lagi, Wa! Gak tahu, deh, mereka masih lanjut pacaran atau nggak!" jelas Argi lagi, membuatku kembali bungkam. Jadi, hubungan mereka sudah bersemi sejak masa abu-abu.
"Wa! Lo kenapa, sih? Lo keknya shock banget denger mereka pernah pacaran?! Gue minta maaf deh, kalo bikin lo jadi nggak nyaman! Tapi, yudahlah, itu cuma masa lalu. Sekarang yang penting 'kan, rumah tangga lo sama istri lo baik-baik aja. Iya 'kan!" ujar Argi kembali.
Seandainya Argi tahu, bahwa aku memang sangat shock mendengar penuturan-penuturannya barusan. Argi sepertinya belum tahu, kalau Kharisma istriku, sudah meninggal. Meninggal bersama Guntur.
Aku berdehem. Berusaha bersikap biasa saja. Padahal hatiku sudah tak karuan rasanya. Mendapati kenyataan baru lagi. Kenyataan yang meluluhlantakkan hatiku saat ini.
"Lo nggak perlu minta maaf, santai aja, Gi! Mungkin emang gue juga yang salah, nggak pernah mau cari tahu masa lalu istri gue. Jadinya gue tahu dari lo, Gi!" ujarku, berpura-pura tegar.
Argi mengangguk. "Ya udah, udah sore ini, Wa! Gue pulang dulu. Thanks ya, Wa! Moga usaha gue kali ini, bisa sesukses usaha, lo!" ujarnya, sambil mengangkat dua jempolnya.
Lantas berjabat tangan denganku. Aku hanya mampu tersenyum seraya mengangguk. Kemudian Argi beranjak dari kursinya. Berjalan menjauh dari mejaku. Hingga punggungnya itu lenyap setelah menuruni anak tangga.
Setelah kepergian Argi dari hadapanku. Aku menyentak kasar nafasku. Menyandarkan punggung dengan bahu yang terkulai lemas.
Kupijat-pijat keningku. Kepalaku rasanya berdenyut nyeri, karena kata-kata Argi yang masih terngiang jelas.
__ADS_1
Aku datang ke cafe, untuk menenangkan diri. Karena di rumah, masih ada ibu. Aku ke sini, untuk menyenangkan diri. Melupakan kemelut yang tengah melanda. Melupakan sejenak beban pikiranku tentang masalah ini. Tapi, bukannya ketenangan. Bukannya kesenangan yang aku dapat di sini. Melainkan kenyataan yang mencengangkan.
Kharisma. Kenapa begitu banyak, hal yang baru aku ketahui?
Apa Kharisma memang sengaja menyembunyikan masa lalunya bersama Guntur dariku? Atau memang aku yang tidak pernah peduli terhadap masa lalunya? Atau aku, yang terlalu menganggap Kharisma sosok wanita sempurna tanpa cela. Hingga tidak pernah sedikitpun, menaruh curiga padanya.
Ya, Tuhan ini menyakitkan.
Kini, aku sudah berada di depan rumahku, masih diam di dalam mobil. Aku memilih pulang dari cafe. Kulihat di depan pintu rumah sana, Bi Ima tengah berbicara dengan seorang pria berjaket kulit hitam.
Entah siapa aku tidak tahu. Pria itu terlihat menyerahkan sebuah koper pada Bi Ima.
Aku memicingkan mata. Itu seperti koper milik Kharisma, yang dibawanya saat izin pergi waktu itu. Bi Ima menerimanya, setelah itu, si pria tadi bergegas pergi dari teras rumahku.
Setelah pria tadi benar-benar meninggalkan rumahku. Segera aku turun dari mobil. dan melangkah menuju teras rumah.
"Bi Ima!" seruku secepatnya dari ambang pintu.
Bi Ima menghentikan langkahnya. Lalu berbalik. "Iya, Pak Dewa?"
Aku melangkah masuk ke dalam rumah. Berjalan ke arah Bi Ima yang berdiri sambil memegangi dorongan koper.
Bi Ima menyerahkan koper itu padak. Jadi benar, koper ini memang milik Kharisma.
"Pak, bibi permisi ke dapur lagi. Pekerjaan masih banyak," pamitnya. Aku mengangguk tanda mempersilahkan.
Lekas Bi Ima memutar tubuhnya dan berjalan ke arah dapur. Aku bergegas menaiki anak tangga, menuju kamar dengan membawa koper milik Kharisma.
Saat melewati kamar Davina, putriku itu baru selesai dimandikan dan tengah diurus pengasuhnya, dengan pintu kamar dibiarkan setengah terbuka. Pemandangan seperti itu, memang pemandangan yang sudah biasa aku lihat.
Davina nampak anteng-anteng saja diurus Bu Titi. Tidak rewel, mungkin Davina sudah hafal dan nyaman dengan bau tangan pengasuhnya.
Di kamar, Davina hanya berdua dengan Bu Titi. Tidak ada ibu. Barusan di bawah pun, aku tidak melihat ibu. Apa ibu sudah pulang ke rumahnya? Ah baguslah. Setidaknya, mungkin aku bisa sedikit tenang di rumahku sendiri, tanpa mendengar ocehan dan omelan dari Ibu.
Aku beranjak dari ambang pintu kamar Davina dan melangkah masuk menuju kamarku. Menutup dan mengunci pintunya. Lekas kusimpan koper Kharisma di dekat lemari.
Kujatuhkan tubuh di atas tempat tidur. Kutarik nafas kuat-kuat. Menghembuskannya perlahan. Rasanya aku sudah lelah untuk berpikir lagi. Aku butuh istirahat. Sampai akhirnya, aku merasakan kantuk dan tertidur.
~~
__ADS_1
TOK TOK TOK!
TOK TOK TOK!
Aku mengerjap. Suara ketukan pintu berulangkali, membuatku terbangun.
"DEWA! BUKA PINTU!"
Aku menghela nafas. Itu suara ibu. Aku menggeliat di atas tempat tidur.
"Dewaaa! Kamu denger ibu tidak!" teriak Ibu di luar sana. Aku mengusap wajah. Lantas bangkit dari posisiku dan berjalan menuju pintu. Dengan malas, aku membuka pintu kamar.
"Ada apa, sih, Bu? Aku lagi tidur!"
Mata Ibu melotot. "Tidur? Jam segini kamu tidur? Di bawah, Ibu sama mertua kamu lagi sibuk siapin buat tahlilan yang akan mulai sebentar lagi. Kamu malah enak-enakan tidur! Bantuin dong, Wa! Kamu 'kan suami Kharisma. Mana tanggung jawabmu, Wa?!"
Aku memutar bola mata malas mendengar pertanyaan ibu. "Kan udah ada Ibu, Bi Ima, kedua besan ibu juga udah bantuin! Ya, kalian aja yang urus! Dewa nggak mau!"
"Dewa! Nggak bisa begitu dong! Kamu suaminya, kamu yang bertanggung jawab seharusnya, Wa!"
"Bu, Dewa akan bertanggung jawab. Dewa akan melakukan apa yang seharusnya Dewa lakukan, tanpa Ibu suruh sekalipun! Dewa tahu, apa kewajiban dan tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga. Tapi Dewa akan melakukan kewajiban Dewa, jika istri yang Dewa penuhi kewajibannya itu, meninggal secara wajar, Bu! Tapi untuk Kharisma, jangan harap Dewa mau mengurusnya! Dewa nggak sudi, Bu! Kalau Ibu mau mengurusnya, silahkan saja! Tapi ingat, jangan libatkan Dewa!" pungkasku. Cepat kututup kembali pintu.
"Keterlaluan kamu, Wa!" hardik Ibu dari balik pintu. Kudengar langkahnya mulai menjauh dari depan kamarku.
Kulihat jam dinding kamarku. Setengah tujuh malam. Gegas aku ke kamar mandi dan membersihkan diri. Kembali aku menikmati kucuran air shower yang membasahiku saat ini.
Entahlah, rasanya, duduk di bawah kucuran air seperti ini, sedikit memberiku ketenangan. Setelah tubuhku bersih, aku menyelesaikan ritula mandiku dan keluar dari kamar mandi.
Saat membuka lemari pakaian. Mataku tertuju pada koper yang masih belum aku bongkar isinya. Sejenak, aku memperhatikan koper berwarna hitam itu. Koper itu, diberi gantungan huruf 'Kh' yang menandakan inisial nama Kharisma. Juga dipasangi gembok yang memakai kode.
Selain koper, ada juga tas wanita milik Kharisma, yang sudah lebih dulu aku bawa, tapi belum sempat aku bongkar.
Secepatnya aku memasang pakaianku. Membiarkan rambutku tetap basah. Lantas mengambil pisau lipat yang ada di dalam laci nakas paling bawah.
Kemudian berjongkok di depan koper hitam milik Kharisma. Menggulingkannya, lalu membredel kain tepat di bawah resletingnya. Dari ujung hingga ujung sampai robek. Sekali sentakan dengan ujung pisau, terbukalah koper itu saat ini.
Di tumpukan paling atas, kudapati lipatan kain berhiaskan renda. Kuularkan tangan untuk menyentuh lipatan kain berwarna merah menyala itu, dan menariknya ke atas.
"Lingerie?"
__ADS_1