SETELAH KEMATIAN ISTRIKU

SETELAH KEMATIAN ISTRIKU
BAB 14 (IBU HARUS TAHU)


__ADS_3

SETELAH KEMATIAN ISTRIKU (14)


POV SADEWA


***


Pagi hari.


Aku duduk di kursi teras balkon. Menyesap rokok ditemani secangkir machiato yang masih panas.


Aku masih menata hati. Tertatih membingkai kepingan hatiku yang tercerai-berai. Hari ini, dua hari setelah kematian Kharisma. Dua hari ini pula, aku disuguhkan kenyataan mencengangkan. Masa lalunya yang tidak pernah aku usik, justru memercikkan kepedihan begitu dalam pada hatiku.


Aku mengenal Kharisma saat kuliah. Dia sebagai mahasiswi pindahan di kampus, berhasil membuatku jatuh hati pada pandangan pertama. Aku yang memang tidak pandai mendekati wanita. Meminta bantuan Guntur untuk mendekatkanku dengan Kharisma. Setelah meminta bantuan Guntur. Akhirnya aku bisa dekat dengan Kharisma.


Awalnya, aku mengatasnamakan kedekatan dengan Kharisma itu persahabatan. Namun, jangan pernah percaya. Jika dua manusia beda jenis selalu bersama, murni bersahabat, tanpa melibatkan perasaan. Itu bohong. Tidak ada persahabatan yang murni antara lelaki dan perempuan. Persahabatan itu akan berujung menjadi cinta. Seperti yang kualami dengan Kharisma.


Setelah bisa dekat dengannya dengan label sahabat. Aku sering kali berkunjung ke rumah Kharisma. Namun, Guntur tidak pernah mau ikut. Padahal, jika aku menghabiskan waktu di cafe bersama teman-teman yang lain. Guntur pun akan selalu hadir. Tidak pernah absen nongkrong di cafe bersamaku. Meski dia tidak merokok dan minum kopi sepertiku dan yang lain.


Hanya ke rumah Kharisma, dia tidak pernah mau ikut. Alasannya, dia tidak mau mengganggu pendekatanku dengan Kharisma. Haha, astaga! Kukira saat itu, semua yang dia lakukan memang tulus padaku. Ternyata itu semua hanya modus.


Kumatikan sisa puntung rokok. Lantas masuk ke dalam kamar. Membuka laci nakas dan mengambil memory card. Menyambar laptop lalu kembali ke teras balkon.


Semalam, aku tidak dapat mengontrol diri. Sehingga membanting ponsel rahasia Kharisma hingga terurai dan akhirnya padam. Namun, saat bangun tidur tadi. Aku lihat sebentar ponselnya itu. Ternyata ada memory card yang masih bisa kutelusurii isinya lewat laptop. Meski menyakitkan, tapi aku sangat penasaran.


Aku menghela nafas. Memory card sudah terpasang di card reader. Aku lantas memasangnya pada laptop.


Aku menghela nafas kuat-kuat. Apa pun yang kulihat, setidaknya aku tidak akan sampai membanting laptop. Bagaimana pun, banyak file pentingku di dalamnya. Jadi, aku yakin bisa mengontrol diriku.


Aku mulai memainkan laptop. Mencari file-file yang tersimpan dalam memory card itu. Fokus utamaku yakni pada file di galerinya.


Kembali aku menelusuri foto-foto Kharisma. Menggulirnya dari atas lalu terus ke bawah. Aku memicingkan mata, begitu sampai di foto yang ada di bagian bawah.


Foto Kharisma tengah duduk di depan meja bar dengan memegangi sloki berisi cocktail. Aku menduga, Kharisma sedang berada di dalam club malam.


Aku hanya mampu menggeleng seraya menghembuskan nafas kasar. Jadi yang Nakula katakan benar. Kalau Kharisma ternyata sering ke club malam. Karena ada beberapa foto yang menunjukkan Kharisma memang tengah berada di sebuah club dengan pakaian yang berbeda. Itu artinya, Kharisma memang sering mendatangi club malam.


Foto terakhir, menunjukkan Kharisma berswafoto tengah duduk di samping pria dengan begitu rapat. Kharisma tersenyum nakal menghadap kamera. Sementara pria itu hanya nampak dari kepala hingga punggungnya saja, itupun membelakangi kamera. Posisi duduk mereka bersimpangan.


Sejenak, aku memperhatikan pria yang hanya nampak dari belakang itu. Meski dari belakang, tapi aku sepertinya sangat hafal dengan perawakannya dan itu bukan Guntur.


Nampak dari rambutnya, pria itu memiliki potongan rambut bowl cut. Bagian rambut belakang agak ke bawah, dipotong agak tipis. Sedangkan bagian rambut tengah dan atasnya dibiarkan panjang agak tebal.


Potongan rambut seperti itu, jelas bukan potongan rambut yang Guntur sukai. Guntur dan aku dari dulu menyukai potongan rambut yang sama. Taper fade. Bukan bowl cut seperti itu. Perawakan serta potongan rambut pria dengan kaus hitam itu persis seperti ... Nakula?


Aku meraih cangkir minumanku dan meneguk machiato yang mulai menghangat. Menenangkan laju detak jantungku yang mulai tak beraturan. Kuatur nafas agar tidak sesak. Serta tetap mencoba berpikir dengan jernih.


Meski Nakula memang mengenal dunia malam. Juga perawakan serta potongan rambut pria itu sama persis dengan Nakula, tapi itu tidak mungkin. Aku yakin, Nakula tidak mungkin tega mengkhianatiku juga.


Aku menggeleng. Tidak mungkin pria itu Nakula. Dia tidak mungkin mau bermain api dengan Kakak iparnya sendiri.


Lekas aku menutup file foto. Berpindah pada file video lalu menggulir secara cepat dari atas hingga bawah. Banyak sekali yang terekam.


Jariku terulur membuka satu video yang sedari awal sudah menampakkan wajah Guntur.


Klik!


Rekaman mulai berjalan.


Guntur nampak tersenyum pada kamera di depannya. Lalu berjalan membelakangi kamera. Membiarkan kamera merekam aktivitasnya. Aku memperhatikan latar tempat yang terekam. Entah itu villa atau sebuah resort. Namun, yang jelas, terdapat sebuah kolam renang dan dua kursi kayu untuk berjemur di depan sebuah bangunan. Sepertinya tempat itu di sewa secara privat. Karena tidak ada orang lain selain Guntur yang terlihat.


Guntur berjalan menuju kursi berjemur. Dia merebahkan tubuhnya yang bertelanjang dada dan sangat atletis itu di atas kursi kayu. Selang beberapa detik, seseorang keluar dari kolam renang.


Kharisma keluar dengan swimwear potongan one piece hitam. Memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah itu basah setelah dari kolam renang.


Kamera yang merekam disimpan sedikit jauh dari mereka. Sehingga tidak ada suara yang bisa kudengar. Namun, video sangat jelas memperlihatkan apa yang mereka lakukan di sana.


Kharisma dengan tubuh basahnya. Tanpa segan dan malu mendekati Guntur di kursi kayu. Dia duduk di pangkuan Guntur, seraya mengelus-elus dada berotot di depannya itu. Sementara, Guntur membelai rambut panjang Kharisma yang basah kuyup.

__ADS_1


Guntur bangkit dari rebahnya. Hingga tubuhnya itu kini rapat dengan Kharisma. Mereka lantas berci*man.


Astaga. Mereka apa sudah gila? Selalu mengabadikan kegiatan bercintanya seperti ini? Apa tujuannya?


Aku berusaha menetralkan debaran jantungku yang berdegup kencang. Melihat posisi mereka kini telah berganti. Dengan Kharisma yang berbaring di kursi kayu dalam kungkungan tubuh Guntur.


Brukk!


Aku menutup layar laptop kuat-kuat.


"Pak, dipanggil Ibu." Tiba-tiba terdengar suara Bi Ima dari arah belakangku. Aku hanya mengangguk. Kuhembuskan nafas dengan kasar. Lalu menoleh sebentar ke belakang. Bi Ima sudah pergi.


Aku meneguk machiato ku yang sudah dingin hingga tandas. Menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan.


"Tenang, Dewa! Tenaaang!" Aku mensugesti diriku sendiri. Setelah tenang, aku beranjak dan menyimpan laptopku kembali di kamar. Lalu bergegas menemui ibu di lantai bawah.


"Ada apa, Bu?" tanyaku cepat. Ibu sudah sangat rapi pagi ini. Dengan teko kecil di tangannya.


"Wa, semalam ibu meneruskan acara tahlilan di rumah ibu. Ini air doa semalam. Ibu mau mengajakmu nyekar ke makamnya Kharisma, Wa!" ujarnya tanpa dosa.


Mataku melebar. Bisa-bisanya, Ibu masih memperlakukan perempuan murah*n itu dengan normal seperti ini. Di mana pikiran ibu sebenarnya? Apa dia tidak merasa marah sedikit pun pada Kharisma? Aneh sekali Ibu ini.


Aku memijat pelipis.


"Wa, kamu malah diem. Ayo kita segera berangkat, Wa!" ajak Ibu kemudian.


"Bu, buka mata Ibu. Kharisma nggak pantas diperlakukan seperti ini. Dia itu nal*ng, Bu! Dia tukang selingkuh! Kenapa Ibu masih menganggapnya seolah dia perempuan tanpa cela?" tanyaku tak habis pikir.


"Harusnya kamu yang buka matamu, Wa! Ibu sangat tahu menantu ibu, meski sehari-hari dia itu bekerja, tapi ibu tahu Kharisma perempuan baik-baik. Selama jadi menantu ibu, dia ngga pernah menunjukkan perbuatan yang menyimpang."


"Dan foto yang kamu tunjukkan itu. Harusnya kamu selidiki, Wa! Bisa aja, justru laki-laki di foto itu yang menjebak Kharisma. Mungkin, laki-laki itu menculik Kharisma, lalu mencecoki Kharisma obat-obatan sampai ngga sadar. Dan akhirnya, ditemukanlah mereka dalam keadaan seperti itu."


"Istri kamu itu cantik, Wa! Tubuhnya itu tetap terawat dan menawan meski sudah melahirkan. Bukan ngga mungkin, kecantikan Kharisma itu membuatnya jadi incaran pria lain, Wa! Sadar kamu harusnya!"


Aku menatap ibu dengan seksama. Tidak percaya dengan pembelaan yang keluar dari mulutnya barusan. Karen Ibu mengira bahwa Guntur seorang penjahat yang sudah membuat Kharisma tewas dalam keadaan seperti itu.


Padahal mereka itu pasangan selingkuh. Mereka melakukan semua itu atas dasar suka sama suka. Bukan kejahatan yang dilakukan orang asing seperti yang Ibu kira.


"Lalu?"


"Mereka saling mengenal, Bu. Pria itu bukan penculik seperti yang Ibu kira. Pria itu dan Kharisma telah berselingkuh di belakangku, Bu! Cinta lama mereka belum usai. Dan Kharisma merajutnya kembali tanpa memikirkan pernikahan kami, Bu! Tanpa memikirkan Davina, anak kami! Jadi, tolonglah, ibu berhenti membela Kharisma. Dia tidak sebaik yang ibu kenali selama ini!" tegasku akhirnya.


"Tahu dari mana kamu mereka berselingkuh? Kharisma itu cantik, Wa! Mungkin pria yang kamu sebut mantan pacarnya saat SMA itu yang belum bisa melupakan Kharisma. Sampai dia nekat dan akhirnya menjahati Kharisma, Wa!"


Aku mendengkus. Tetap saja ibu tidak percaya penjelasanku. Apa aku harus menunjukkan isi laptopku sekarang pada Ibu? Tapi aku takut ibu malah shock dan akhirnya drop. Namun, membiarkan ibu masih menganggap Kharisma perempuan baik-baik, itu menjengkelkan.


"Bu, apa perlu Dewa tunjukkan pada Ibu, apa yang menantu kesayangan ibu itu lakukan di belakang Dewa?" tanyaku pelan.


"Tunjukkan saja, Wa! Ibu mau tahu, apa yang akan kamu tunjukkan itu!" Ibu menantangku.


"Ibu yakin?" tanyaku memastikan.


Nampak Ibu mengangguk. "Yakin! Tunjukkan saja, kalau kamu memang bisa menunjukkan, apa yang kamu ucapkan tentang Kharisma itu memang benar!"


"Apa Ibu sanggup melihatnya?" tanyaku lagi.


Ibu memicingkan matanya. "Kamu itu mau menunjukkan apa, sih, Wa? Sampai kamu berpikir, ibu ngga akan sanggup melihatnya?!" hardik Ibu karena aku terus bertanya.


"Baik. Ibu tunggu di sini. Dewa ambil laptop dulu!" pintaku pada Ibu. Segera aku berbalik dan bergegas menaiki anak tangga menuju lantai atas. Masuk ke dalam kamar. Kemudian mengambil laptop dan kembali ke lantai bawah menemui Ibu.


Aku menghempaskan bobotku, persis di sebelah ibu duduk di sofa ruang tengah rumahku. Lantas membuka kembali laptop yang kini ada di pangkuanku. Lalu memilih file galeri kembali hingga menampilkan deretan foto-foto Kharisma.


"Silahkan Ibu lihat sendiri!" ucapku. Kupindahkan laptop ke atas pangkuan ibu.


Ibu menatap layar laptop di hadapannya. Dahinya mengerut. Lalu ibu menggeser foto-foto itu ke bawah. Terlihat mulutnya menganga. Ibu juga nampak menggeleng.


"I-i-ni ... ini foto kapan, Wa?" tanya Ibu tergagap.

__ADS_1


Aku tak menjawab. Dengan cepat, jariku menggerakkan kursor laptop untuk memperlihatkan rincian kapan foto itu diambil. Tertera dalam rincian, foto itu diambil sekitar satu tahunan yang lalu.


Ibu memandangku. Mungkin Ibu ingin bertanya, apakah foto ini valid atau tidak? Tapi kurasa, penglihatan ibu masih bisa membedakan mana foto asli atau editan. Meski diambil di dalam ruangan dan juga di club malam. Namun, foto itu nampak sangat jernih dan natural.


Ibu menggeleng. "Nggak mungkin, Wa! Mana mungkin Kharisma ada waktu untuk pergi ke club dan kamar hotel seperti ini, Wa! Kharisma itu bekerja, Wa! Malam hari, kalau dia belum pulang, itu karena dia lembur, Wa!"


"Terus yang ada di foto itu, siapa, Bu? Jelas itu Kharisma. Ibu mau mengelak apalagi?" Aku berucap dengan nada tinggi.


Ibu memijat-mijat dahinya. Terlihat entah berapa kali ibu menggeleng cepat. Aku kembali mengarahkan kursor pada file video. Kupilih video yang baru kulihat saat di balkon tadi.


Video langsung berputar. Ibu memperhatikannya. Dahinya kembali berkerut lalu matanya membelalak lebar. Ibu menggeleng. Masih melihat video yang berjalan sambil memegangi dadanya. Nafas Ibu nampak mulai tak beraturan. Cepat ku tutup layar laptop dan memindahkannya ke atas meja.


"Bu?" tanyaku mulai khawatir.


"De—de—wa ...." lirih Ibu, dan kemudian tubuhnya terhuyung ke samping sana.


"Bu!" Segera aku bangkit lalu mengguncang tubuh Ibu yang sepertinya tidak sadarkan diri.


Aku hanya bisa menghela nafas panjang. Lalu membenarkan posisi Ibu di atas sofa. Membaringkan tubuhnya dan menyangga kakinya agar lebih tinggi dengan bantal sofa. Aku bergegas mencari Bi Ima untuk meminta botol minyak kayu putih.


Setelah dapat lekas aku kembali pada Ibu. Seraya membawa segelas air putih. Ku dekatkan botol minyak kayu putih itu di hidung Ibu. Inilah yang aku khawatirkan. Ibu pasti sangat shock melihat kelakuan menantunya barusan. Bagaimana tanpa malu, mereka beraktivitas tak layak itu di kursi kayu kolam renang dan mengabadikannya dalam rekaman video.


Tapi Ibu harus tahu. Siapa sebenarnya perempuan yang begitu disayanginya itu. Perempuan itu tidak layak mendapatkan ketulusan dan kasih sayang dari Ibu.


"Bu ...." ucapku. Dengan pelan aku mengusap-usap dahinya.


"Pak, Ibu kenapa?" Bi Ima menghampiriku di ruang tengah ini.


"Gak papa. Ibu cuma shock aja, Bi!" jawabku.


"Apa ngga dibawa ke rumah sakit saja, Pak?" tanyanya khawatir.


Belum sempat aku menjawab. Ibu terlihat menggerakan kelopak matanya yang masih terpejam. Pelan, Ibu mulai menggerakkan kepalanya. Aku kembali mengusap-usap dahinya. Agar Ibu bisa segera sadar.


"Bu ...?" ujarku.


Akhirnya Ibu membuka mata. Ibu nampak kebingungan. Aku menjauhkan botol minyak kayu putih dari Ibu dan menaruhnya di atas meja.


"Bu? Sudah sadar?" tanyaku pelan.


Ibu menggerakkan kepalanya dan menoleh padaku. Nampak Ibu menggeleng. Raut wajahnya menggambarkan kekecewaan.


"Minum dulu, Bu," pintaku. Lalu membantu kepala Ibu agar bangkit dan Bi Ima membantu Ibu untuk minum.


Kembali aku membaringkan Ibu, dan berganti menyangga kepalanya dengan bantal.


"Bu?" Tiba-tiba Nakula datang ke rumahku.


"Ibu kenapa, Bang?" tanyanya, seraya mendekati Ibu.


"Kamu temani Ibu dulu, Abang mau simpan laptop ke atas!" Gegas kusambar laptop di atas meja dan membawanya kembali ke dalam kamar.


Saat aku kembali dari kamar, Ibu kini sudah duduk di samping Nakula. Bi Ima pun sudah tidak ada di ruang tengah.


"Bang, Ibu kenapa?" Nakula kembali bertanya setelah aku duduk.


"Ibu cuma shock. Kamu jangan banyak tanya dulu sama Ibu!" perintahku.


"Emm, shock kenapa, Bang? Ngasih tahu tuh yang jelas dong, Bang!" Nakula berucap nyolot.


"Ibu, habis liat bukti, kalau menantunya itu emang selingkuh selama ini dari Abang," ucapku.


"Bukti, Bang? Lo punya bukti apa selain fotonya waktu tewas di penginapan?" tanya Nakula kembali.


"Banyak! Foto dan video perempuan jal*ng itu dengan selingkuhannya. Juga foto-fotonya di club malam, seperti yang kamu bilang ke abang. Kalau dia emang sering masuk clubing," jelasku.


"Ad-ad-a fotonya ... Bang?" tanya Nakula terbata. Seketika, wajahnya nampak pias. Begitu aku mengatakan tentang foto Kharisma di club malam.

__ADS_1


Apa jangan-jangan benar, pria di samping Kharisma dalam foto itu Nakula?


*****


__ADS_2