
SETELAH KEMATIAN ISTRIKU (5)
***
Plukk!
Karina melempar tepat mengenai wajahku, surat keterangan kepolisian yang diremasnya. "Semua ini karena elo, Bang!" ucapnya lantang seraya berdiri.
Aku yang tersulut emosi, juga berdiri. "Apa-apaan kamu hah?" tanyaku geram.
"Kak Risma selingkuh itu, gara-gara elo, Bang! Elo gak bisa jadi suami idaman! Elo gak bisa bahagiain kakak gue! Elo itu lemah di atas ranjang! Bukan Kakak gue yang murahan. Tapi elo yang nggak bisa puasin dia! Makanya dia selingkuh dari elo!" pungkas Karina menyudutkanku.
Tanganku mengepal mendengar ucapan Karina barusan.
Apa Karina sudah tahu kalau Kharisma itu selingkuh? Sialan!
"Elo itu payah dalam urusan ranjang, Bang! Jadi bukan salah Kharisma, kalau dia cari kepuasan dari pria lain!" hardik Karina kembali.
PLAKKK!
Amarah yang sudah di ubun-ubun, membuatku akhirnya menampar adik ipar tidak punya etika seperti Karina ini.
"Kamu anak kecil, nggak usah sok tahu dengan urusan rumah tangga orang!" ucapku seraya menunjuk wajah Karina.
Karina memegangi pipinya yang terkena tamparanku. Karina mendecih dan tersenyum sinis padaku.
"Duduk Dewa, duduk! Sudah, kita bicarakan baik-baik!" titah Ibu seraya menarik-narik lenganku.
Sedangkan Papa dan Mama mertua terlihat menenangkan Karina.
Aku menepis tangan Ibu. "Nggak, Bu! Orang seperti Karina nggak bisa diajak bicara baik-baik. Dia harus diajari sopan santun. Bagaimana seharusnya bicara yang benar dengan yang lebih tua!"
"Nggak salah lo, Bang? Ngajari gue sopan santun? Harusnya elo yang diajari, gimana supaya jadi suami yang bisa bahagiain istri!" hardik Karina lagi.
"Tahu apa kamu tentang kebahagiaan Kharisma? Semua sudah aku lakukan, agar bisa memenuhi tuntutan hidup Kharisma! Semua aku berikan untuknya! Tapi kamu lihat sendiri 'kan, balasan apa yang Kakak kamu beri hah? Dia justru mengkhiantiku. Dia dengan mudahnya tidur dengan lelaki lain! Dan seenaknya, kamu menuduh aku tidak bisa membahagiakan kakakmu? Mikir Karina! Mikir!" bentakku pada Karina.
"Tapi elo nggak bisa membahagiakan batinnya, Bang! Elo itu sibuk dengan bisnis! Sampai lo lupa memperhatikan kebahagiaan batin istri lo! Lo lemah syahw*t! Makanya Kharisma selingkuh dari lo!"
"Kurang aj*r!"
Brangggg
"DEWAAA!" Ibu berteriak.
__ADS_1
Refleks kulempar vas bunga yang ada di atas meja ke arah Karina.
"Dewa! Keterlaluan kamu!" sungut Papa mertua.
Karina benar-benar sudah menghinaku. Kulihat pelipis Karina berdarah. Tapi itu tidak seberapa, dibanding luka hatiku.
"Jaga mulutmu, Karina! Seenaknya kamu menuduhku lemah syahw*t! Aku normal, Karina! Aku lelaki sehat! Aku sanggup memuaskan Kharisma!" teriakku pada Karina.
Mama mertua nampak beranjak dari ruangan yang terasa sesak ini. "Bi Imaaa … ambilkan kotak P3K, Biii!" teriak Mama mertua.
Papa mertua menatapku dengan nyalang. Sedangkan Karina, membiarkan darah yang keluar dari pelipis dan dahinya.
Karina justru menyeringai. "Kenapa lo marah, Bang? Kalau bener, lo sanggup memuaskan istri lo! Kenapa sampai ada foto seperti ini, Bang? KENAPA?!" bentaknya, seraya melempar foto tak senon*h itu tepat di wajahku.
"Kalau elo sanggup memenuhi kebutuhan batinnya. Kalau elo mengaku sehat! Terus kenapa Kharisma sampai khianati, lo? Sadewa Arthayuda?!" teriak Karina seperti orang tidak waras.
Aku mengepalkan tangan dan rahang yang semakin mengeras. Mama mertua sudah kembali. Mengobati luka yang dialami Karina.
"Itu karena Kakak kamu terlalu murahan Karina! Bukan aku yang tidak bisa memuaskannya. Tapi Kakak kamu yang ternyata tidak lebih dari j*lang!" Aku berteriak ke arah Karina.
"Cukup, Dewa! Cukup! Hentikan! Berhenti menjelekkan putri Papa!" jawab Papa mertua.
"Seharusnya Karina, yang Papa suruh berhenti menuduhku yang tidak-tidak, Pah! Aku tidak terima dia menuduhku seperti itu! Atas dasar apa dia menuduhku sekeji itu, Pah?" ujarku tidak terima.
"Aakhhh!" Aku mengibaskan tangan di udara. Kemudian berlalu dari hadapan mereka.
"Bi Imaaaa kopiiiii!" teriakku, gegas aku menaiki tangga. Lalu keluar menuju balkon.
***
Aku kembali menyesap rokok di teras balkon. Menyesapnya kuat lalu menyemburkan kepulan asapnya di udara. Lantas, ku seruput kopi susu yang mulai menghangat.
Kusimpan batang rokok di pinggiran asbak. Lantas merebahkan punggung pada sandaran kursi. Kupijat pelipis dengan teratur. Kuredam gemuruh dalam dada.
Aku mendesah.
Karina Benar-benar kurang aj*r. Atas dasar apa dia menuduhku lemah syahw*t? Sehingga membenarkan tindakan Kakaknya yang jelas-jelas telah mengkhianatiku.
Kharisma? Apa yang sebenarnya kamu lakukan selama ini di belakangku?
Kenapa setelah kematiannya, justru banyak hal mengejutkan yang seolah baru aku ketahui? Kenapa setelah kematiannya, aku merasa, seakan-akan dia bukan Kharisma yang kukenal selama ini.
Kharisma, istriku yang kukenal sangat manis. Selalu lembut setiap bertutur kata denganku. Aku tidak menyangka sama sekali, di balik sikapnya yang begitu manis dan lembutnya, ternyata tersimpan rahasia besar.
__ADS_1
Rahasia yang membuat persendian tulangku terasa tak berfungsi.
Kembali kuambil batang rokok dari pinggiran asbak. Menyesapnya dan kemudian mengepulkan asapnya.
Hanya cara ini yang bisa memberiku ketenangan. Merokok ditemani secangkir kopi. Aku yang pecandu rokok serta kopi addict. Bertolak belakang dengan Kharisma yang memilih gaya hidup sehat.
Setelah rokokku habis. Aku mematikannya. Kembali aku merebahkan punggungku. Lantas memejam.
Bayang-bayang Kharisma tiba-tiba hadir kembali di pelupuk mata. Bayangan tentang Kharisma yang selalu menyambut kepulanganku dengan lingerie super seksinya saat di dalam kamar.
"Mas …." Dia menutup pintu kamar. Lalu menuntunku agar duduk di tepi tempat tidur. Dengan manjanya, dia duduk di pangkuanku. Melingkarkan kedua tangannya di leherku.
Aku hanya diam. Hanya memperhatikannya dari dekat. Aku bisa menghidu aroma shampoo dari rambutnya yang hitam legam. Serta wangi parfum vanilla yang masih menempel di tubuhnya.
Di saat seperti itu, artinya Kharisma sedang menginginkan haknya.
"Dek, Mas capek, cafe sedang ramai-ramainya. Tubuh Mas terasa sangat lelah."
Kharisma menggigit bibir ranumnya. Andai aku pun sedang ingin. Maka, aku akan segera mencumbunya saat melihatnya melakukan hal seperti itu. Namun, aku sedang tidak ingin berhubungan.
"Sebentar saja, Mas," pintanya memelas.
"Aku kangen lho, Mas," ucapnya lagi. Lalu mulai membuka kancing kemeja yang aku kenakan.
Setelah kancing bagian atas kemejaku terbuka. Kharisma mengelus-elus dadaku. Mendaratkan kecupan-kecupan kecil di area leherku. Kharisma menggodaku.
Lantas Kharisma berhasil membaringkan tubuhku. Dia yang menind*hku. Lalu mendaratkan bib*rnya di bib*rku.
Namun hanya sebentar. Dia menghentikan aksinya. Dia bangkit dari tubuhku. Berlalu dari hadapanku dan membanting pintu kamar mandi dengan keras.
Hasratku yang mulai naik, terhempas begitu saja. Tapi tidak masalah. Lagipula aku memang tidak sedang ingin bercinta. Hasratku akhirnya mereda dengan sendirinya. Namun, Kharisma belum juga keluar dari kamar mandi.
Dia marah. Dia tidak suka. Saat berci*man, di bibirku menyisakan bau asap rokok yang tidak disukainya. Kharisma akan menuntut agar aku menggosok gigi lalu berkumur dengan cairan mouthwash berperasa mint pilihannya.
Tapi aku sudah bilang sejak awal, kalau aku capek dan tidak ingin berhubungan. Kalaupun aku ingin, tanpa diminta, aku tahu apa yang harus kulakukan sebelumnya. Aku akan ke kamar mandi terlebih dulu. Membersihkan diri dan menghilangkan sisa-sisa rokok yang aku sesap seharian, seperti tuntutan Kharisma.
Aku membuka mataku. Mengenyahkan bayangan-bayangan Kharisma yang meminta haknya dari ingatan.
Karena hal itu, membuat hatiku kembali berdarah-darah. Kharisma memang agresif. Mungkinkah, Kharisma sama agresifnya saat bersama Guntur?
Arrggh. Si*l!!!
__ADS_1