
SETELAH KEMATIAN ISTRIKU (11)
***
POV KARINA
~
"Bang Dewa, gil*!" Aku merutuk di depan cermin rias dalam kamarku. Melihat dahi serta pelipisku yang ditutupi perban, akibat harus dijahit.
Aku menghela nafas panjang. Lantas mengambil bingkai foto di atas nakas. Terbingkai fotoku bersama Kak Risma.
"Kak, gue tahu, elo ada main ma si Guntur. Tapi kenapa sampai lo ma-ti juga bareng dia, sih? Lo cinta mati sama dia? Gil* lo, Kak!" umpatku pada foto dalam bingkai.
"Gue tahu, lo itu keras kepala. Tapi, gak semestinya juga, lo ma-ti bareng si Guntur, Kak! Gue 'kan udah sering bilang sama lo, Kak. Lo ngomong baik-baik sama Bang Dewa, kalo lo pengin cerai dari dia. Lo jujur sama dia. Kalo lo gak bahagia sama dia. Tapi lo terus aja lanjutin hubungan lo sama si Guntur dan bohongin Bang Dewa. Lo lebih denger bisikan se tan daripada kata-kata gue, Kak!"
"Coba aja, lo ada di sini! Udah gue jitak kepala lo, Kak!" Aku terus saja merutuki potret Kak Risma di dalam foto.
"Lo liat nih dahi gue sampai harus dijahit," ucapku seorang diri, sambil menunjuk-nunjuk dahi dan pelipisku.
"Gue berantem sama Bang Dewa, demi belain elo, Kak. Meski gue tahu elo salah karena udah selingkuh. Tapi gue nggak terima, Bang Dewa ngata-ngatain lo. Gue gak terima lo direndahin suami lo. Karena lo selingkuh ma si Guntur juga, gak lepas dari salahnya Bang Dewa. Kalian berdua itu sama-sama salah!" Sekali lagi, aku mengumpat kesal. Urusan rumah tangga mereka terlalu pelik. Tapi mereka seolah tidak mencari jalan keluarnya.
Aku menghela nafas dalam-dalam. Aku tidak habis pikir dengan apa yang Kak Risma perbuat. Kak Risma lebih milih main gila dengan Guntur, karena bosan dengan sikap Bang Dewa yang cuek dan terlalu mementingkan bisnis cafe miliknya.
Aku tahu dia sudah sejak lama selingkuh dengan Guntur. Mantan pacarnya saat masih SMA. Pacar yang sudah merusak masa depannya. Aku sudah memperingatkannya berulang kali. Tapi Kak Risma terlalu keras kepala. Apalagi suaminya, Bang Dewa. Terlalu sibuk dengan bisnisnya itu. Kadang aku pun heran dengan Abang iparku itu. Apa dia tidak curiga sedikitpun kalau istrnya selingkuh?
Apa memang benar yang Kak Risma bilang. Kalau Bang Dewa itu terlalu sibuk dengan cafe yang dimilikinya. Sampai sering mengabaikan Kak Risma?
Kak Risma yang selalu mendambakan suami romantis. Suami pengertian. Suami yang macho, perkasa, dan gagah. Tidak didapatkan dari sosok Bang Dewa. Makanya dia lebih memilih mantannya kembali. Apalagi setelah kembali ke Indonesia. Guntur menjelma menjadi sosok yang seperti Kak Risma harapkan.
Guntur memang lelaki macho. Dengan dada berotot. Perutnya bak roti sobek yang bisa membangkitkan fantasi liar kaum wanita. Kulitnya eksotis. Serta yang paling Kak Risma sukai, Guntur jauh dari rokok.
Aku menopang dagu. Menatap diriku sendiri di cermin. Aku gagal menasehati Kak Risma. Mulutku rasanya sudah sampai berbuih setiap kali memperingatinya. Kak Risma ternyata tidak bisa diingatkan. Dia pasti terbujuk rayuan Guntur.
Kuhela nafas dalam-dalam.
Dari masa SMA dulu. Mama dan Papa tidak suka Kak Risma berpacaran dengan Guntur. Tapi Kak Risma tidak menggubris sama sekali. Sampai menjelang kelulusan masa SMA-nya. Kak Risma justru dinyatakan positif hamil. Alih-alih menikahkan Kak Risma sesegara mungkin dengan Guntur saat itu. Setelah pengumuman kelulusan Kak Risma. Papa justru lebih memilih untuk pindah sejauh mungkin dari kota ini. Untuk menyembunyikan aib.
Papa menjual toko grosirnya di pasar yang ada di kota besar ini. Lalu pindah dan tinggal jauh di pinggiran kota kecil.
Namun, di tempat tinggal yang baru, ternyata Kak Risma keguguran. Entahlah. Mungkin dia frustasi, karena Papa tidak juga menikahkannya dengan Guntur. Papa dan Kak Risma itu sama. Satu tipe. Tipe egois dan kadang keras kepala.
Setelah dua tahun, kami tinggal di tempat baru. Kak Risma merengek pada Papa. Kalau dia ingin kembali ke kota besar ini. Jika Papa tidak menurutinya, Kak Risma mengancam akan pergi sendirian kembali ke kota besar. Kak Risma mengancam akan kabur.
Akhirnya Papa menyetujui. Dengan syarat, Kak Risma harus menjauh dan memutus segala komunikasi dengan Guntur. Kak Risma sepakat. Jadilah, kami kembali ke kota ini lagi.
__ADS_1
Papa memasukkan Kak Risma ke kampus dengan menyelesaikan persyaratan untuk mahasiswi pindahan. Masa kuliahnya, semua aman. Tidak ada lagi Guntur di hidup Kak Risma. Justru Kak Risma mengenalkan Bang Dewa sebagai teman dekatnya saat kuliah. Papa dan Mama mendukung hubungan Kak Risma dan Bang Dewa itu. Sampai akhirnya mereka pacaran. Bang Dewa lebih sering berkunjung ke rumah.
Hubungan mereka terus berlanjut hingga lulus kuliah. Lalu tiga tahun kemudian, Bang Dewa melamar Kak Risma untuk dijadikan istrinya. Tentu saja Papa dan Mama merestui.
Karena Bang Dewa sudah mapan. Dia sudah merintis bisnis cafe sejak lulus kuliah. Dia sudah punya rumah serta mobil dari bisnisnya itu. Bang Dewa bisa dikatakan sukses dalam menjalani bisnis cafe-nya.
Setelah menikah dengan Bang Dewa. Kak Risma tinggal di rumah besar milik Bang Dewa. Sedangkan aku, tinggal di sebuah kost dekat kantorku bekerja. Tempat kost yang hanya berjarak setengah jam dari rumah yang Kak Risma dan Bang Dewa tempati.
Sehingga Kak Risma sering datang ke tempatku. Hubunganku dan Kak Risma memang sangat dekat. Kak Risma menceritakan apa pun padaku. Aku dengan senang hati mendengarkan setiap kisahnya.
Kak Risma cantik. Tubuhnya tinggi semampai dengan aset-aset yang terawat. Kulitnya putih bersih. Matanya yang bulat serta hidung bangirnya, turunan dari Papa yang rupawan. Kadang sikapnya seperti batu. Persis sekali dengan Papa.
Apa pun yang dia alami. Dia ceritakan padaku. Termasuk urusan ranjangnya dengan suaminya. Dia tidak segan dan tidak malu menceritakannya denganku.
Aku ingat, memasuki tahun ketiga pernikahannya dengan Bang Dewa. Kak Risma mulai kembali ke dunia liarnya.
Seperti malam itu …
FLASHBACK ON
Tok tok tok! Tok tok tok!
Aku yang baru bisa tidur, terpaksa harus bangun akibat ketukan di pintu kamar kost yang aku sewa. Aku mengucek mata yang rasanya sangat lengket.
Tok tok tok!
Memutar anak kunci, lalu membuka pintu kamar kost-ku.
Kesadaran yang masih belum sepenuhnya. Serasa dimasukan dengan paksa dalam ragaku saat ini. Melihat Kak Risma dengan matanya yang teler serta jalannya yang sempoyongan.
"Astaga, Kak! Elo mab*k?!" tanyaku seketika. Mataku yang tadi begitu lengket. Mendadak melek setelah kedatangan kakakku ini.
Kak Risma tidak menjawab. Kak Risma menerobos masuk ke dalam kamarku. Hingga menubruk bahuku, karena aku masih berdiri di ambang pintu.
Kak Risma menjatuhkan dirinya di pinggir kasur berukuran single milikku yang tanpa dipan. Badan hingga kakinya tergeletak di lantai. Sedangkan kepalanya, dia tempatkan di atas tempat tidur.
"Uhukk uhukk!"
Aku segera menutup pintu kamar kost. Lalu menghampiri Kak Risma yang setengah oleng. Aku melepaskan tas wanita dari pegangan tangannya juga melepas plat shoes di kakinya.
"Kak, lo kenapa sampe mabok kek gini? Kalo suami lo tau, gimana?" desisku pada Kak Risma.
Kak Risma hanya nyengir. Dengan matanya yang benar-benar teler. "Uhukk uhhukk!"
Kak Risma justru kembali terbatuk. Bau alkohol seketika menguar dari mulutnya. "Sstt! Anak kecil gak usah berisik! Biarin kakak menikmati hidup kakak!" jawabnya.
__ADS_1
Entah dia sadar atau tidak dengan ucapannya barusan. Setahuku, orang mabuk biasanya kehilangan kesadarannya. Terus, kenapa Kak Risma bisa ingat jalan ke kost-an ku malam ini dalam keadaannya yang seperti ini?
Aku mengusap wajahku dengan kasar. Ini pertama kalinya dia datang ke kamar kost-ku dalam keadaan mabuk.
Saat aku tengah memikirkan dirinya. Terdengar dengkuran halus dari Kak Risma.
"Ah, elah! Mata gue udah melek gini, lu malah tidur, Kak! Mana sembarangan lagi tidurnya! Ya, ampun," gerutuku seorang diri.
Aku mengacak rambutku karena kesal. Aku yang capek, sehabis lembur bekerja. Terbangun karena kedatangan Kak Risma. Setelah aku bangun, Kak Risma justru tertidur pulas. Untung dia kakakku. Kalau bukan, sudah kudepak dia dari kamarku.
Aku masih duduk di hadapannya. Sambil memeluk lututku. Kupandangi wajah kakakku yang make up-nya hampir memudar. Apa sebenarnya yang membuat Kak Risma sampai mabuk seperti ini?
Tinggg!
Tanganku terulur pada meja nakas. Mengambil tas wanita milik Kak Risma yang tadi kusimpan. Lalu mengambil ponsel di dalamnya. Tertera pesan dari nomor tidak di kenal. Karena penasaran, aku pun membukanya.
[Selamat malam, Sweety] emot cium.
Dahiku mengerut. Siapa yang mengirim pesan seperti ini pada Kak Risma? Pasti bukan Bang Dewa. Karena Kak Risma tidak menyimpan kontaknya. Apa mungkin hanya orang iseng dan salah kirim saja?
Ting!
Saat aku tengah berpikir. Kembali ada pesan masuk dalam ponsel Kak Risma.
[Senang bisa menikmati kembali vod** denganmu, Cantik!]
Glek!
Aku hanya bisa menelan ludah. Menikmati kembali vod**? Meski aku belum pernah mabuk seperti Kak Risma. Tapi sedikitnya aku tahu, itu jenis minuman beralkohol yang bisa memabukkan.
Jadi, orang yang mengirim pesan ini, tidak salah kirim? Dan juga orang yang sudah menemani Kak Risma minum malam ini? Tapi siapa?
Cepat aku menelpon nomor pengirim pesan itu. Namun ternyata sudah tidak aktif. Lantas, segera aku menelusuri aplikasi gagang telepon berwarna hijau di ponsel Kak Risma yang saat ini kupegang.
Menggulirnya dari atas hingga bawah. Tapi tidak ada chat yang mencurigakan di dalamnya. Lalu aku penasaran dengan chat dari suaminya Kak Risma. Kontaknya hanya diberi nama Sadewa. Tidak ada romantisnya sama sekali dengan pasangan.
[Malam ini, Mas ngga pulang. Ada urusan di cafe cabang yg ngga bisa dihandle karyawan] Dikirim Bang Dewa jam 18.00 tadi.
Aku lalu memanjat untuk membaca chatnya yang lain. Tidak ada chat romantis dari Bang Dewa untuk istrinya itu. Isi chat dari Bang Dewa nampak hanya seperlunya saja. Kontras sekali dengan pesan dari nomor tidak dikenal tadi.
Aku lantas memasukkan kembali ponsel Kak Risma ke dalam tasnya. Kemudian menaruh tas itu di atas nakas kembali.
Aku melirik Kak Risma yang tengah tertidur pulas di sebelahku.
Aku lantas mengambil selimut dari dalam lemari pakaian plastik. Kemudian menyelimuti tubuh Kak Risma yang tidur dengan posisi sembarangannya itu. Lalu naik ke atas tempat tidurku.
__ADS_1
"Malam ini, lo berutang penjelasan sama gue, Kak! Untung aja gue besok libur kerja. Jadi besok pagi, gue bisa nagih utang lo!" gerundelku pada Kak Risma yang semakin pulas saja.