
SETELAH KEMATIAN ISTRIKU (13)
POV KARINA
******
FLASHBACK ON
Takut-takut, aku memutar kepala, untuk menengok keranjang sabun yang kusimpan di atas bak mandi ini.
Aku membelalak, saat melihat apa yang sedang kupegangi. "KAK RISMAAAAA!"
Refleks aku berteriak dan menepis keranjang sabun hingga tercebur ke dalam bak mandi.
"Rin! Karina! Kamu kenapa?"
Kak Risma menggedor pintu kamar mandi dari luar. Cepat aku membukanya.
"Kenapa, Rin? Ada apa?" tanyanya khawatir.
Aku menelisik wajah cantik di hadapanku saat ini. Membuat Kak Risma mengibaskan tangannya di depan wajahku. "Karina?!"
"Kak, elo bener-bener stress! Lo pake dild**?" geramku.
Kak Risma tidak menjawab. Dia menerobos masuk ke dalam kamar mandi. Menuju bak mandi, lalu tanpa ragu dia mengambil benda yang membuatku risih pagi ini.
Kak Risma kembali ke arahku sambil memegangi benda itu. Dia menggeleng, dengan tawa meledek terurai di bibirnya. Aku memicingkan mata melihat tingkahnya itu.
"Liat beginian, kamu sampai segitunya, Rin?" ujarnya tanpa dosa. Lalu melengos keluar dari kamar mandi. Berjalan menuju nakas. Memasukkan dild** itu ke dalam tas. Semalam, aku hanya mengambil ponselnya. Tidak mengecek apa saja isi tasnya itu. Ternyata ada benda begitu.
Aku kembali membasuh muka dan batal memakai facial wash. Lalu menyusul Kak Risma yang sudah duduk di atas tempat tidurku.
"Lo ngapain pake yang begitu, sih, Kak? Buat apa?"
"Tadi 'kan Kakak udah bilang, Rin! Masa' kamu ngga ngerti juga?"
"Ya, ampun, Kak! Lo itu wanita dewasa. Harusnya lo omongin apa yang terjadi dalam rumah tangga lo dan Bang Dewa. Cari solusinya! Bukan lo cari pelampiasan kayak begini, Kak! Lo mab*k, pake dild**. Apa untungnya buat lo?"
Kak Risma seketika menatapku. Dia menyipitkan matanya. "Buat apa? Kamu masih nanya buat apa? Kakak butuh pelepasan, Rin. Kakak butuh kepuasan yang Kakak ngga dapat dari Mas Dewa!"
Bahuku terkulai lemas mendengar jawaban Kak Risma. "Emang yang bikin lo puas itu yang gimana, sih, Kak? Lo ngga risih apa pake yang begitu?"
Kali ini Kak Risma tersenyum. "Kamu belum pernah tahu rasanya, jadi kamu ngga akan tahu, mana yang bisa bikin kita puas, mana yang nggak, Rin!"
"Kenapa lo ngga minta Bang Dewa buat berobat Kak? Bang Dewa banyak duit, pasti ada obatnya buat mengatasi keluhan dia?!"
Kak Risma nampak menggeleng. "Dia ngga pernah sadar dengan masalah dalam dirinya, Rin! Dia merasa dirinya baik-baik aja! Meski Kakak selalu perlihatkan ketidakpuasan Kakak setelah bercinta sama dia. Tapi dia anggap semuanya seakan baik-baik aja! Kalo dia sadar, udah dari kapan hari dia cari obatnya sendiri!" jawabnya.
Lalu dia mengambil ponsel dalam tas dipangkuannya. Entah apa yang dia lihat di ponselnya. Seketika keningnya berkerut, namun detik berikutnya, senyuman mengembang di bibirnya.
"Kamu buka-buka ponsel Kakak?" tanyanya, tapi dia masih fokus dengan layar ponsel.
"Itu pesan dari siapa, Kak?" tanyaku balik.
__ADS_1
Dia tidak menjawab. Sibuk mengetik di layar ponselnya dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.
"KAK!" teriakku.
"Hmmm?"
"Itu pesan dari siapa?!"
Kak Risma memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Terlihat dia menghela nafasnya. "Dari Guntur, Rin!" jawabnya enteng.
Aku membelalak tak percaya dengan jawabannya. "Guntur lo, bilang? Guntur mantan lo waktu SMA 'kan?"
"Emang temen Kakak yang namanya Guntur ada berapa?"
Aku menggeleng. "Ngapain lo berhubungan lagi sama dia, Kak? Udah bagus dia itu hilang dari hidup lo. Harusnya lo menutup diri dari dia, Kak! Jangan ada sedikitpun celah untuk dia masuk di kehidupan lo lagi!" cecarku pada Kak Risma.
"Sssttt! Anak kecil berisik banget!"
"Kak, lo ngga bisa kayak gini! Lo harus menyelesaikan awal dari permasalahan lo sama Bang Dewa! Lo harus inget, Bang Dewa suami lo. Dia itu nerima lo, Kak! Meski lo itu udah ngga virg*n waktu Bang Dewa nikahin lo. Bang Dewa juga ngga pernah tahu kalo lo itu pernah hamil dan akhirnya keguguran. Dia baik banget sama lo, Kak! Gak sepantasnya lo kayak gini di belakang dia!"
"Aduh, Rin! Kamu kok jadi belain Mas Dewa? Kamu harusnya ngertiin gimana tersiksanya batin Kakak? Gimana Mas Dewa itu ngga ada waktu untuk Kakak? Kakak ini manusia, yang butuh perhatian. Bukan patung yang hanya dijadikan pajangan, Rin!" Kak Risma membela dirinya.
"Lo emang batu jadi orang! Udah ah gue mau mandi!" Aku berdiri dan menyambar handuk lalu segera ke kamar mandi.
**********
FLASHBACK OFF
Sejak kedatangannya dalam keadaan mabuk malam itu. Sejak saat itu pula, dalam seminggu entah berapa kali, Kak Risma datang ke kamar kost-ku dalam keadaan mabuk parah. Dia teler hingga akhirnya tepar dan tertidur di lantai kamar kost-ku. Dalam tidurnya, dia mengigau dengan menyebut-nyebut nama Guntur.
Dari situlah terungkap. Bahwa Kak Risma memang kembali berhubungan dengan Guntur karena merasa selalu diabaikan oleh Bang Dewa.
Ah, Bang Dewa. Pria tampan dengan tatapan tajam seperti elang itu. Kenapa dia tidak sedikit saja menaruh curiga pada istrinya? Seandainya Bang Dewa menaruh curiga pada istrinya. Mungkin semua perbuatan Kak Risma belum terlambat dan masih bisa dihentikan. Mungkin Kak Risma tidak akan meninggal seperti itu.
Ternyata semua yang Kak Risma adukan itu benar. Bang Dewa terlalu sibuk dengan bisnisnya. Sampai istri selingkuh saja dia tidak tahu.
Aku menjauhkan tanganku dari wajah. Lalu kembali bercermin. Kuhela nafas dalam-dalam.
Drrt Drrt!
Ponselku bergetar. Panggilan masuk dari Nakula. Cepat aku menerimanya. "Hallo?"
"Kamu udah pulang, Yang? Gimana keadaan kamu? Kata Ibu, kamu dilempar vas bunga sama Bang Dewa?" tanya Nakula, dengan nada penuh kecemasan.
"Udah. Udah di rumah. Emm iya sih, aku emang ada berantem sama Bang Dewa! Sampe harus dijahit ini. Lagian kamu kemana aja, sih, Naku?" Aku merajuk.
"Maafin Bang Dewa, Yang! Dia pasti terpukul banget sama kejadian ini!"
"Aku sibuk di outlet, Yang. Karena harus siapin pemakamannya Kak Risma, aku ngga sempat ke outlet. Makanya pas pemakaman udah selesai semua. Aku langsung pergi. Sorry ya?"
"Oh, jadi yang siapin pemakaman Kak Risma itu, kamu? Bukan Bang Dewa? Jadi kamu udah tahu? Terus kenapa kamu gak ngasih tahu aku?" cecarku.
"Bang Dewa yang minta aku buat rahasiakan dulu kematiannya Kak Risma. Dia shock banget, Rin! Dia butuh ketenangan. Apalagi 'kan Kak Risma meninggal sama ... selingkuhannya!"
__ADS_1
"Owh gitu. Iya aku ngerti, Naku! Aku cuma ngga rela, Bang Dewa hina-hina Kak Risma. Gimanapun juga, dia kakakku! Kak Risma emang salah, tapi kalo seandainya Bang Dewa bisa peka, Kak Risma juga gak akan sampai sejauh itu."
"Aku ngerti, Rin! Masalah mereka itu terlalu rumit dan mereka ngga sadari. Sampai akhirnya meledaklah sekarang," ujarnya lagi.
"Apa semua ini akan berpengaruh sama hubungan kita?" tanyaku takut-takut.
"Kamu tenang aja, Yang! Hubungan kita pasti baik-baik aja!" jawabnya penuh keyakinan.
"Emm, Naku?" tanyaku ragu-ragu.
"Iya, Yang? Kenapa?" balasnya.
"Apa setelah kejadian ini, kamu berpikir kalau aku sama dengan Kak Risma?" tanyaku kemudian.
Terdengar Nakula terkekeh. "Enggaklah, Yang! Meski kamu adik kandungnya, aku yakin, kamu beda sama Kakak kamu. Kalo kamu sama, mungkin kita udah lakuin waktu di hotel, Yang? Tapi enggak 'kan? Kamu nolak aku habis-habisan waktu itu. Jadilah aku makin yakin buat milih kamu, Yang!" jawabnya.
"Aku yakin kamu juga setia, Yang!" sambungnya lagi.
Aku menghela nafas lega. Nakula ternyata tidak memiliki pikiran buruk tentangku.
"Sama seperti aku dan Bang Dewa. Meski adik kakak, tapi sikap kita berdua berbeda, Yang!" pungkasnya kemudian.
"Iya. Aku cuma takut aja, kamu ikut mikir yang enggak-enggak tentang aku, karena ada kejadian ini."
"Enggaklah, Yang. Yudah kalo kamu baik-baik aja. Aku mau lanjut cek kerjaanku, ya! Daah sayang, love you."
"Oke, byeee!"
Tutt!
Telepon diakhiri.
Nakula Arthayuda. Adik dari Kakak iparku. Dia sangat berbanding terbalik dengan sang kakak. Nakula sosok yang hangat dan romantis. Setiap pekan, ada saja hadiah yang dia kirim padaku.
Hampir satu tahun, aku dan Nakula menjalin hubungan. Hubungan diam-diam, bahkan saat Kak Risma masih hidup saja. Dia tidak tahu. Meski diam-diam tapi aku dan Nakula serius menjalaninya.
Sebenarnya bukan karena hubungan ini terlarang. Hubungan ipar dan ipar ini diperbolehkan. Sah sah saja. Hanya saja, aku menutupi hubunganku dengannya, karena usianya yang tiga tahun di bawahku.
Karena baru kali ini, aku ditaksir berondong dan dikejar-kejar. Namun, akhirnya aku pun luluh juga karena kejarannya yang tak main-main.
Nakula benar. Meski mereka adik kakak, tapi mereka sangat berbeda. Sama sepertiku dan Kak Risma. Jika Kak Risma selalu bilang, kalau Bang Dewa itu dingin dan cuek. Maka Nakula sebaliknya. Dia sangat perhatian dan juga sangat cerewet.
Bang Dewa sebenarnya sangat tampan. Kulitnya putih bersih. Sorot matanya tajam. Dia kalem tapi serius dalam bekerja. Terbukti dengan dia yang berhasil menegelola cafe-nya hingga memiliki banyak cabang. Saking kalemnya, hingga dia tidak sadar, kalau Kak Risma sudah membohonginya beberapa tahun ini.
Sementara Nakula. Wajahnya biasa saja. Kulitnya pun sawo matang. Tidak putih bersih seperti Bang Dewa. Tapi Nakula sangat sweet. Tidak cuek seperti Bang Dewa. Itulah kenapa akhirnya aku luluh dan mau menjalani hubungan dengannya.
Nakula sempat mengajakku check-in di hotel. Dia ingin meminta apa yang belum haknya. Dengan tegas, aku menolaknya. Aku sangat menjaga apa yang aku miliki. Aku tidak akan menyerahkan sebelum waktunya.
Nakula berniat akan melamarku bulan depan nanti. Dia akan memberitahu hubungan ini pada keluarganya juga keluargaku. Namun, justru ada kejadian seperti ini. Membuat hubunganku dengan Bang Dewa semakin tidak baik saja.
Membuatku jadi dilema.
****
__ADS_1