
SETELAH KEMATIAN ISTRIKU (8)
***
Secepatnya aku memasang pakaianku. Membiarkan rambutku tetap basah. Lantas mengambil pisau lipat yang ada di dalam laci nakas paling bawah.
Kemudian berjongkok di depan koper hitam milik Kharisma. Menggulingkannya, lalu membredel kain tepat di bawah resletingnya. Dari ujung hingga ujung sampai robek. Sekali sentakan dengan ujung pisau, terbukalah koper itu saat ini.
Di tumpukan paling atas, kudapati lipatan kain berhiaskan renda. Kuularkan tangan untuk menyentuh lipatan kain berwarna merah menyala itu, dan menariknya ke atas.
"Lingerie?"
Nafasku terasa memburu. Kurentangkan kain merah menyala, yang aku duga adalah lingerie. Ya, ternyata memang benar.
Setelah aku merentangkannya. Terpampang di hadapanku, lingerie dengan aksen renda di bagian depannya. Dengan belahan dada super rendah.
Jika dipakai oleh Kharisma yang tinggi semampai. Maka lingerie itu hanya sampai menutupi lututnya. Otomatis akan memperlihatkan, kaki jenjangnya yang putih dan mulus. Lingerie merah menyala, sangat kontras di kulit Kharisma yang putih.Jika Kharisma memakainya, tentu akan memperindah lekuk tubuhnya.
Aku menelan saliva dengan susah payah. Tenggorokanku tercekat. Tanganku yang masih memegangi lingerie, terasa gemetar. Lekas kulempar dengan asal, benda itu dari tanganku.
Aku melanjutkan memeriksa barang lain yang masih di dalam koper. Sejenak aku tertegun. Karena setelah lingerie merah menyala itu ku singkiran dari tumpukan isi koper.
Kini aku mendapati sebuah ponsel.
Cepat aku mengambil lalu membolak-baliknya. Kenapa ponsel ini ada dalam koper Kharisma? Apa ini ponselnya? Tapi aku belum pernah melihatnya sama sekali. Ponsel yang kupegang saat ini, tidak lebih canggih dari ponsel yang dimiliki Kharisma. Juga tidak jauh lebih bagus dari ponsel Kharisma sekarang. Lantas kucoba menyalakannya.
Deg!
Astaga. Aku sampai melongo. Jantungku berdetak lebih kencang, begitu melihat wallpaper ponsel yang baru saja aku temukan.
Foto Kharisma yang memakai gaun tidur berwarna pink, tengah dipeluk seseorang dari belakang. Mereka dengan percaya diri, berfoto di depan cermin besar sebuah lemari.
Saat jariku menekan tombol galeri. Ponsel di tanganku keburu mati. Ah, sialan! Cepat aku berdiri dan menuju meja nakas. Mengambil charger lalu memasangnya. Setelah terpasang, daya ponsel itu memnag sudah habis. Lantas ku tinggalkan, dan kembali menuju koper yang masih terbuka.
Aku kembali memeriksa. Lagi-lagi, kudapati lingerie berbeda model juga warna. Tapi tak kalah seksinya. Ada empat lingerie yang kutemui. Lalu pouch make up dan hanya satu stel baju biasa.
Tidak salah lagi. Pasti Kharisma membawa baju kekurangan bahan seperti ini, untuk dipakainya saat bersama Guntur di penginapan.
Seperti yang sering dia lakukan di hadapanku. Menggodaku begitu manja, seraya memakai lingerie seksi itu.
Keterlaluan. Benar-benar wanita murahan. Ternyata, tidak hanya aku yang menikmati keindahan tubuhnya. Aku suaminya, yang berhak atas segala sesuatu dalam dirinya. Tapi Kharisma juga melakukan hal itu di depan Guntur. Ya Tuhan, sesak sekali dadaku.
Aku beringsut mundur. Menyandarkan punggung pada dipan kasur, seraya menutup wajah. Aku menggeleng tak percaya dengan apa yang baru saja aku dapati.
Istri yang kukira setia. Istri yang kukira sangat patuh padaku. Istri yang kupercayai sepenuhnya.Ternyata mengkhianatiku begitu dalam.
Dia mengkhianatiku bersama sahabatku sendiri. Sahabat yang ternyata menusukku dari belakang.
Amarahku rasanya sudah di ubun-ubun. Dengan dada yang bergemuruh. Aku beranjak untuk membuka lemari pakaian. Lalu melihat tempat penyimpanan pakaian milik Kharisma. Bergantung banyak sekali lingerie di dalamnya. Berbagai warna serta model. Merupakan koleksi lingerie-nya.
Entah kenapa, dia sangat suka membeli pakaian-pakaian tidur seksi, yang memperlihatkan keindahan tubuhnya itu.
Aku menariknya dengan kasar. Lalu menghempaskannya ke lantai. Pandanganku beralih pada meja rias bercat putih. Meja rias yang selalu dipakai Kharisma bersolek setiap harinya.
__ADS_1
Braaaak!
Dengan satu tangan, segala sesuatu yang ada di atas meja rias itu, aku seret hingga terhempas dan berserakan di lantai.
Aku lantas menatap cermin riasnya dengan dada yang naik turun.
Pranggg!
Cermin itu pecah dengan sekali hantaman tanganku. Membuat tanganku yang mengepal, terkena pecahannya.
Aku bergegas membuka pintu kamar. "Bi Imaaaa!" teriakku memanggil Bi Ima.
Namun, tidak ada jawaban.
"Biibiiii!" teriakku lagi, lebih keras.
"Iyaaaa, Pak!" terdengar suara Bi Ima menyahut.
"Kemari cepat!" pintaku.
Tak lama, Bi Ima muncul setelah menaiki anak tangga. Bi Ima berjalan ke arahku.
"Iya, Pak?"
"Bibi ngapain aja sih? Lama banget!" sentakku kesal.
"Maaf, Pak! Bibi lagi tanggung, nyiapin buat acara tahlilan, sebentar lagi pada mau datang, Pak," jelasnya.
Aku mendengkus. "Sini, Bi!" pintaku seraya masuk ke dalam kamar. Bi Ima pun mengekor.
"Bibi bakar semua barang-barang ini, Bi!" perintahku pada Bi Ima.
"Ba-ba-kar, Pak?" tanyanya terbata.
"Iya, Bi! Bakar semuanya! Ini juga," imbuhku, seraya menendang perlengkapan bersolek yang sudah berserak di lantai.
"Semua yang berserakan ini, Bibi bakar, sekarang juga! Jangan banyak bertanya!" pungkasku. Gegas aku meninggalkan Bi Ima, dan keluar dari kamar.
Terdengar ucapan salam dari orang-orang di bawah sana. Secepatnya aku menuruni anak tangga menuju lantai bawah.
Ternyata, para tetangga dan pak Ustadz sebagai penuntun doa tahlil yang datang.
Ibu dan Mama mertuaku terlihat duduk di atas karpet yang digelar di ruang depan rumahku.
"Pak Ustadz!" seruku, seraya melangkah mendekat pada Pak Ustadz yang masih berdiri. Selesai bersalaman dengan Papa mertua.
Pak Ustadz tersenyum padaku.
"Pak Ustadz, acara tahlilnya dibatalkan!" ucapku tanpa basa-basi.
"Apa-apaan kamu, Wa?!" hardik Papa mertua terkesiap.
"Tidak ada tahlil malam ini. Jadi, Pak Ustadz dan bapak-bapak, bisa meninggalkan rumah saya! Karena acaranya dibatalkan!" ujarku lantang.
__ADS_1
"Dewa! Jangan seenaknya kamu!" sungut Ibu, yang kini sudah berada di dekatku.
"Iya, Dewa! Pak Ustadz bersama yang lain sudah menyempatkan waktunya datang ke tahlilannya Kharisma, seenaknya aja kamu mengusir mereka!" Kali ini, Mama mertua yang mengoceh.
Tetanggaku nampak kebingungan. Begitu juga dengan Pak Ustadz.
"Pak Ustadz, jangan dengarkan anak saya. Silahkan duduk dan kita mulai saja tahlilannya!" seru Ibuku.
Aku menggeleng. "Saya pemilik rumah ini. Saya yang berhak atas kegiatan yang ada di rumah saya sendiri. Malam ini, tidak ada tahlilan! Jadi, silahkan Bapak-bapak sekalian meninggalkan rumah saya!" tegasku kembali.
"Dewaaa!" Ibu memekik. Namun aku tak mengubah keputusanku.
Kulihat para tetangga, serta Pak Ustadz yang belum sempat duduk, perlahan pergi meninggalkan ruangan depan rumahku, dengan raut wajah yang kebingungan.
"Dewa! Jangan gila, kamu! Suruh mereka kembali, Wa! Acaranya baru akan dimulai!" rengek Ibu kemudian.
"Iya, Dewa! Kamu jangan keterlaluan," sambung Mama Mertua.
"Kalian dengar! Ini rumahku. Aku yang berhak di rumah ini——"
"Dan Kharisma, itu istri kamu, Wa! Dia juga berhak didoakan di rumahnya," sela Ibu, memotong perkataanku.
"Aku yang berhak di rumah ini. Aku yang memiliki keputusan di sini. Kalian dengar! Aku tidak sudi, rumahku dijadikan tempat untuk mendoakan pengkhianat dan penipu seperti Kharisma! Aku tidak mau! Kharisma tidak pantas didoakan di sini. Ini rumahku. Hasil keringatku. Dan aku tidak mengizinkan, jal*ng itu didoakan di sini!"
PLAKKK!
Entah darimana datangnya. Bocah tengil Karina tiba-tiba sudah ada di hadapanku, dan baru saja menampar pipiku.
"Berhenti lo menjelek-jelekkan Kakak gue! Lo boleh berkuasa di rumah ini, tapi jangan lo hina Kakak gue!" bentaknya.
Tanganku mengepal kuat. Ku tatap bocah tengil kurang aj*r di hadapanku saat ini. Nampak dahi dan pelipisnya ditutupi perban. Kepalanya angkuh terangkat. Apa perlu aku hantam lagi dia? Belum cukupkah dia mencari ribut denganku?
Aku menatapnya tajam. "Aku berbicara kenyataan! Dia itu jal*ng, dia murahan!" bentakku pada Karina, dan menekan kata-kataku.
"Elo——!"
Aku mengarahkan tanganku pada Karina. Agar dia berhenti berkata!
"Pergi kalian dari sini! Pergi dari rumahku!" perintahku.
"Dewa!" Lagi-lagi ibu membentakku.
"Silahkan pergi. Kalau Ibu masih terus membela perempuan jal*ng itu. Ibu juga silahkan tinggalkan rumah Dewa dan pulang ke rumah Ibu! Dewa muak mendengar kalian terus membela perempuan murahan itu!"
"Pergi kalian semua! PERGI!!!" teriakku kemudian.
Karina menatapku nyalang. Kedua mertuaku tak bersuara. Hanya menunduk lesu.
"Tunggu apalagi? Segera tinggalkan rumahku!" gertakku lagi. Mereka lantas berjalan ke arah pintu rumah
"Keterlaluan!" geram Ibu, seraya menyusul kepergian besannya dari rumahku. Setelah mereka benar-benar sudah pergi dari rumahku, gegas aku menutup pintu.
Brankk! Brankk! Brankk!
__ADS_1
Aku membanting piring-piring berisi suguhan.
"Aarrrggg!"