
"Silahkan pergi. Kalau Ibu masih terus membela perempuan jal*ng itu. Ibu juga silahkan tinggalkan rumah Dewa dan pulang ke rumah Ibu! Dewa muak mendengar kalian terus membela perempuan murahan itu!"
"Pergi kalian semua! PERGI!!!" teriakku kemudian.
Karina menatapku nyalang. Kedua mertuaku tak bersuara. Hanya menunduk lesu.
"Tunggu apalagi? Segera tinggalkan rumahku!" gertakku lagi. Mereka lantas berjalan ke arah pintu rumah.
"Keterlaluan!" geram Ibu, seraya menyusul kepergian besannya dari rumahku. Setelah mereka benar-benar sudah pergi dari rumahku, gegas aku menutup pintu.
Brankk! Brankk! Brankk!
Aku membanting piring-piring berisi suguhan.
"Aarrrggg!"
Prank Prankk!
Gelas beserta tekonya pun aku banting ke lantai. Hingga pecah semuanya. Apapun yang ada di dekatku saat ini, aku hancurkan. Sehingga ruangan depan ini, seperti diterpa badai.
Secepatnya aku kembali menaiki tangga, masuk ke dalam kamar yang belum selesai Bi Ima bereskan. Mengambil bungkus rokok, lalu ke teras balkon. Duduk di kursi teras seraya menyulut sebatang rokok, dan menyesapnya.
Semua ini membuatku benar-benar frustasi.
Kusesap dan kuhembuskan asap rokok perlahan, yang akhirnya terasa begitu menenangkan.
Aku salah. Seharusnya, aku tidak membiarkan Ibu, mengadakan dan menyiapkan acara tahlilan. Dari awal, seharusnya aku melarang keras pada Ibu. Aku tidak sudi, rumah yang aku beli dari hasil kerja keras dan hasil keringatku ini. Dijadikan tempat untuk mendoakan wanita pengkhianat itu.
Rumah ini sudah aku miliki, satu tahun sebelum aku menikah dengan Kharisma. Tidak ada sedikitpun uang Kharisma dalam pembelian rumah ini.
Andai Kharisma meninggal tidak dalam keadaan yang memalukan seperti itu. Andai Kharisma meninggal tidak dalam keadaan sedang mengkhianatiku. Pasti aku akan mendoakan kepergiannya itu. Pasti aku akan membiarkan rumahku ramai oleh bacaan-bacaan tahlil para tetangga yang datang.
Aku kembali menyesap dalam-dalam rokok di jepitan jariku. Setelah penguburan tadi siang. Nakula belum terlihat lagi. Nakula berhutang penjelasan padaku, tentang ucapannya bahwa Kharisma sering ke club.
Ya, Tuhan. Kenapa setelah kematiannya, seolah membawaku pada satu tabir yang selama ini tertutup. Nyaris aku tidak mengenali siapa Kharisma. Siapa istriku selama ini. Istri yang menemaniku selama 4 tahun. Aku merasa sudah mengenalnya sangat-sangat baik. Aku merasa bahwa akulah yang tahu luar dan dalam istriku. Aku merasa, bahwa aku sudah sangat benar dalam mengenali sifat dan sikap istriku selama ini.
Ck. Ternyata aku salah. Kharisma rupanya sangat rapi menutupi keaslian sifatnya. Kharisma rupanya sangat pandai berbohong. Entah sejak kapan, Kharisma dan Guntur mengkhianatiku.
Argi bilang, Guntur sudah kembali ke Indonesia dan menikah sejak 3 tahun yang lalu. Serta hanya aku dan Kharisma, yang tidak hadir, lebih tepatnya tidak diundang di pernikahan Guntur.
Dan dia menyembunyikan kepulangan serta pernikahannya dariku selama 3 tahun ini? Hh, benar-benar luar biasa gila!
Aku memijat pelipisku. Kepalaku pening luar biasa. Setelah semua kebenaran tentang Kharisma terungkap. Apa yang akan aku dapati? Apa yang bisa aku lakukan? Andai aku dapati kenyataan ini, Kharisma dan Guntur masih hidup. Aku pastikan, kedua tanganku yang akan menyeret dua manusia tidak bermoral itu ke dalam kuburnya langsung.
Kumatikan sisa rokok. Beranjak dari teras balkon, menuju kamar. Mengambil ponsel di atas nakas, lalu menelpon Nakula.
Tuuut tuuut!
Tidak ada jawaban. Kutelpon sekali lagi, dan masih sama. Aku menghela nafas panjang, kemana Nakula?
Kumasukkan ponsel ke dalam saku celana. Menyambar kunci mobil dan keluar dari kamar. Saat melewati kamar Davina, kulihat Bu Titi sedang mengayun-ayunkan putri kecilku itu.
Bu Titi dengan telaten menepuk-nepuk seraya mengayun Davina dalam gendongannya. Mungkin Davina terganggu sejak tadi, dengan keributan yang aku buat.
Gegas aku menuruni anak tangga. "Bi Imaaa?" panggilku, setelah berada di lantai bawah.
Bi Ima tidak menyahut. Juga tidak mendatangiku. Aku lantas berjalan menuju halaman belakang. Ternyata Bi Ima memang sedang di halaman belakang. Berdiri di hadapan kobaran api di dalam sebuah drum bekas.
"Bi?" panggilku.
Bi Ima berbalik badan. "Iya, Pak?" jawabnya disertai anggukan.
"Saya mau keluar. Bibi cari orang, buat ngeluarin meja rias di dalam kamar saya. Malam ini juga meja itu harus sudah hilang dari kamar saya!"
"Apa harus dibakar juga, Pak Dewa?"
"Terserah mau bibi apakan. Asalkan meja itu tidak ada lagi di rumah ini, apalagi di kamar saya! Jangan biarkan Ibu dan kedua mertua saya, kembali masuk ke rumah! Paham, 'kan?!"
Bi Ima nampak mengangguk. "Paham, Pak," jawabnya.
"Bagus! Lanjutkan tugas, Bibi!" seruku. Segera aku meninggalkan Bi Ima di halaman belakang. Gegas keluar dari rumah dan menuju mobilku.
Sudah setengah jam aku membawa mobil hitamku membelah jalanan malam. Namun, tidak sampai di tujuannya. Karena aku pun tak tahu harus kemana. Rasanya pun malas untuk ke cafe.
Pikiranku tidak bisa fokus. Semua tentang Kharisma dan juga Guntur selalu hadir dalam ingatanku. Aku selalu merasa, bahwa keluargaku adalah keluarga yang sempurna dan penuh cinta. Nyatanya terlalu menyedihkan.
Jalanan malam ini tidak begitu ramai. Aku menaikan kecepatan laju mobilku.
Cekiitttt! Brukk!
"Astaga ...." Saat mobilku melaju dengan kecepatan tinggi. Tiba-tiba seseorang lewat begitu saja di depan mobilku. Membuatku harus mengerem spontan, dan badanku terlonjak ke depan.
Aku menurunkan kaca mobil. Lalu melongok ke luar. "Hey! Mau mati?!" teriakku tak suka.
__ADS_1
Namun, tidak ada sahutan. Orang yang tadi terkena benturan mobilku pun tidak ada tanda-tanda bangkit.
Aku mengusap wajah dengan kasar. Segera aku keluar dari mobilku, lalu menemui siapa yang ada di depan mobilku ini.
"Bisa nggak, kalo nyebrang itu, lihat-lihat dulu. Apa gak lihat, mobil saya sedang melaju dengan kencang?" dumelku.
Orang yang kini terduduk di aspal jalan di depan mobilku, ternyata perempuan berkerudung hitam. Perempuan itu nampak mengurut bagian punggung serta mata kakinya. Aku belum melihat wajah perempuan di hadapanku itu.
Kemudian, si perempuan itu akhirnya berdiri. "Maaf ...." ucapnya lirih dan pelan.
Aku bisa melihatnya kini. Perempuan berkerudung itu ... seperti pernah aku melihatnya. Tapi dimana? Aku coba mengingat lagi.
Ya, aku ingat sekarang. Perempuan itu kembali menundukan kepalanya dan hendak pergi dari hadapanku.
"Tunggu, kamu yang waktu itu di kamar penginapan 'kan?"
Perempuan berkerudung itu hanya mengangguk.
"Kamu ...?" ucapku terhenti. Ingin bertanya, siapa dia sebenarnya.
"Aku Alwina, istri Guntur," jawabnya pelan.
Aku menelan saliva dengan susah payah. Jadi, perempuan yang telah lebih dulu datang di penginapan waktu itu, dia istrinya Guntur.
"Aku Sadewa!" ujarku.
"Emm, tunggu," ucapku. Alwina menghentikan langkahnya. Aku segera menghampirinya.
"Apa kamu tahu, tentang hubungan pasangan kita?" tanyaku hati-hati.
Alwina mendongak. Aku dapat melihat gurat kesedihan di kedua bola matanya. Dia pasti sama terlukanya denganku.
Alwina kembali merunduk. Terdengar dia menghela nafas panjang. Lantas menggeleng. "Aku hanya tahu, bahwa hubungan Mas Guntur dengan sekertaris pribadinya itu sudah berakhir. Tapi ternyata, Mas Guntur sudah berbohong."
"Sekertaris pribadi?" tanyaku tidak mengerti.
"Kharisma itu sekertaris pribadi Mas Guntur di kantornya. Perusahaan property yang dikelola Mas Guntur sepulangnya dari Jepang tiga tahun yang lalu, dan Kharisma menjadi sekretaris pribadi Mas Guntur sejak setahun lalu."
"Kamu serius?"
"Dalam hal seperti ini, apa yang bisa dijadikan bahan untuk bercanda?"
Aku menelan saliva dengan susah payah. Satu tahun lalu, Kharisma bekerja sebagai sekertaris pribadi. Setahuku, Kharisma itu seorang staff acounting di perusahaan manufaktur. Bukan sekertaris di perusahaan property.
Ya, Tuhan. Sejauh ini aku dibohongi dan aku tidak sadar. Menyedihkan sekali.
"Lalu, apalagi yang kamu tahu tentang mereka?"
Alwina menyipitkan matanya. "Apa kamu kira, aku tahu semuanya, dan aku membiarkan hubungan mereka tetap berlanjut?" tanya Alwina.
__ADS_1
"Aku di sini, sama sepertimu. Aku dibohongi habis-habisan oleh suamiku sendiri," imbuhnya.
"Apalagi saat aku menelusuri isi ponsel suamiku. Ck," decak Alwina. Dia menyeka sudut matanya.
"Menjijikan," sambung Alwina disertai tawa meledek.
"Kalau kamu berharap, aku tahu mengenai hubungan mereka selama ini. Kamu salah. Aku sama sepertimu. Hatiku hancur saat mengetahui suamiku tewas bersama Kharisma di penginapan waktu itu. Hanya mereka yang tahu dosa mereka. Jadi, aku tidak bisa memberitahu lebih banyak padamu. Karena aku pun juga dibohongi! Maaf sudah mengganggu perjalananmu. Silahkan lanjutkan dan permisi," ucapnya, lalu pergi dari hadapanku.
Alwina berjalan menjauh. Jalannya sedikit cepat sampai akhirnya tubuhnya hilang di sebuah belokan.
~~
Akhirnya aku kembali ke rumah. Setelah berkeliling tak tentu arah. Kuambil ponsel yang hanya terisi daya tidak sampai setengahnya. Padahal aku rasa, sudah lama ponsel itu aku charge.
Aku duduk bersandar pada kepala kasur, sambil membolak-balik ponsel yang saat pertama kali kutemukan. Mampu membuat emosiku hingga di ubun-ubun. Apalagi jika aku menelusuri isinya sekarang. Tapi aku harus tetap mencari tahu.
Setidaknya, hanya emosiku yang meledak. Jantungku masih aman.
Pelan, jariku memilih galeri ponsel. Sehingga muncul deretan foto-foto di layar ponsel yang kupegang saat ini. Banyak sekali foto Kharisma sedang memakai lingerie dalam bermacam gaya.
Aku memilih satu gambar. Dimana Kharisma tengah memakai lingerie hitam dan duduk sangat menggoda di atas tempat tidur beralas putih. Dengan kaki jenjangnya yang terbuka, menyentuh lantai. Memperlihatkan betisnya yang putih mulus tanpa cacat sedikitpun.
Kharisma duduk dengan kedua tangannya, memegangi rambut panjangnya, seolah-olah tengah menguncirnya.
Aku lantas terfokus pada background foto itu, yang sepertinya diambil di sebuah kamar hotel mewah. Kutarik nafas dalam-dalam. Lalu bergeser pada file video.
Kutekan dari mulai yang paling atas.
Klik.
"Ahhh ...." Terdengar suara \*\*\*\*\*\*\* manja dari video yang kupilih. Namun, layar video hanya menampilkan gambar berupa langit-langit sebuah ruangan.
"Mendes\*hlah lebih keras, Sweety!" Kali ini suara pria yang terdengar.
"Achhh ... kamu memang hebat, Honey!" balas si wanita. Namun, layar masih sama. Masih menampilkan langit-langit sebuah ruangan.
Hanya suara yang terdengar jelas dalam video itu. Meski tanpa melihat siapa pelaku dalam video tersebut, tapi aku yakin, suara-suara itu adalah suara Kharisma juga Guntur.
"Katakan, siapa yang bisa membuatmu puas? Aku atau suamimu?" tanya Guntur.
"Ssshhh ... suamiku itu payah! Dia loyo. Lembek. Aku tidak puas!"
"Dari dulu, hanya kamu yang paling hebat dalam urusan ranjang, Honey!" sambung Kharisma.
Telingaku terasa panas. Kucengkram ponsel di tangan begitu kuat. Dadaku bergemuruh mendengar suara Kharisma dalam video itu. Bagaimana dia menghinaku dan memuji Guntur dengan terang-terangan.
"Arghhh!" Lantas ponsel itu kubanting di atas tempat tidur.
Wanita sial\*n!!!
__ADS_1