SETELAH KEMATIAN ISTRIKU

SETELAH KEMATIAN ISTRIKU
POV KARINA


__ADS_3

SETELAH KEMATIAN ISTRIKU (12)


POV KARINA


***


FLASHBACK ON


-


Aku membuka mata perlahan. Saat mendengar suara deburan air di kamar mandi kecil yang ada di kamar kost-ku. Kulihat tempat Kak Risma tidur semalam, sudah kosong. Jam dinding menunjukkan sudah pukul 05.00 pagi. Hawa pagi ini begitu dingin. Dan Kak Risma sudah mandi sepagi ini?


Aku menggeliat di atas tempat tidur. Malas untuk bangun. Apalagi hari ini aku libur bekerja. Jadi aku bisa santai. Kutarik kembali selimut hingga dada. Lalu kembali memejam.


Klek!


Terdengar pintu kamar mandi dibuka. Mata ini akhirnya kubuka kembali. Tak jadi memejam. Nampak Kak Risma sudah keluar dari kamar mandi.


Dia terlihat begitu segar. Wajahnya begitu cerah. Dia berjalan mendekat ke arah meja rias minimalis yang kupunya. Tubuhnya yang aduhai, hanya tertutup handuk dari dada hingga lututnya. Memperlihatkan keseksian tubuhnya. Apalagi yang masih basah karena sehabis mandi barusan.


Kak Risma melepaskan handuk kecil yang menutupi kepalanya. Menggerai rambut basahnya ke kanan lalu kiri.


"Rin, kamu masih ngga punya hairdryer?" tanyanya.


Aku hanya menggeleng di tempat tidurku.


Kak Risma lalu mengeringkan rambutnya secara manual dengan menggosokan kain handuk.


"Rambut Kakak bisa rusak ini. Mana handukmu bau banget, sih, Rin!" gerutunya.


"Ck! Makan tuh handuk dah sebulan gak gue cuci!" sungutku kesal.


Blukk!


Kak Risma melempar handuk kecil itu pada wajahku.


"Jorok banget kamu, Rin!" ujarnya seraya bergidik. Dia lalu membuka lemari pakaian milikku. Tangannya sibuk mengobrak-abrik isi lemari plastik itu.


"Lu cari apaan, sih, Kak?" tanyaku heran.


"Daleman, Rin! Tapi punyamu kecil semua. Kayaknya gak ada yang muat di Kakak!" jawabnya masih terus mengobrak-abrik lemariku.


"Salah siapa aset lu gede, Kak!"


"Kamulah yang salah, Rin! Badan kok cungkring gitu, sih! Perawatan dong, Rin. Biar badanmu bagus gitu loh!" jawabnya seraya kembali ke kamar mandi.


Aku masih meringkuk dalam selimut. Kak Risma menyalahkan badanku yang memang tipis, sehingga dia tidak bisa menemukan barang milikku yang pas di tubuhnya. Tak lama, Kak Risma sudah keluar dari kamar mandi. Kali ini, dia sudah kembali memakai dalaman miliknya.


"Lu cari apalagi, sih, Kak?" Aku bertanya kesal. Karena Kak Risma kembali mengobrak-abrik isi lemariku.

__ADS_1


"Kakak mau pinjam baju. Tapi kok bajumu kaus semua begini, sih, Rin? Ngga ada blouse atau dress gitu?" protesnya, seraya mengeluarkan baju-baju kaus milikku.


"Warnanya juga hitam semua lagi. Mana kaus pada longgar gini, gak salah kamu badan cungkring begitu, pake kaus selonggar ini?" tanyanya seraya menggeleng. Tapi akhirnya dia pakai juga kaus yang katanya terlalu longgar itu.


Apa dia tidak lihat, dadanya yang tetap busung meski kaus ku itu longgar? Memang, aku dan Kak Risma berbeda jauh masalah selera pakaian.


Kak Risma cenderung feminin dalam berpakaian. Dia sangat menyukai pakaian yang memperlihatkan lekuk keindahan tubuhnya. Sementara aku, lebih menyukai pakaian simple seperti kaus dan celana jeans saja.


"Bener-bener ya, kamu, Rin! Celanamu jeans sama boxer semua. Mana muat ini di Kakak? Rok juga gak punya? Astaga, Karina!" omelnya lagi.


Dengan malas, aku membuka pintu laci nakas paling bawah. Mengambil rok panjang navy polkadot, lalu melemparkannya pada Kak Risma. "Tuh, rok satu-satunya yang dibeliin Mama. Lo pake deh, ngga demen gue!"


Kak Risma memungut rok yang jatuh di kakinya itu. Lalu memakainya. "Lumayan lah, dari pada pake boxer atau celana jeans!" ujarnya lagi.


Aku lalu menyingkap selimut dan duduk di tempat tidur. Memperhatikan Kak Risma yang kini tengah menyisir di depan cermin rias minimalis. Rambut Kak Risma selain panjang, tapi juga hitam dan tebal. Dia sangat merawat rambutnya itu. Bukan hanya rambut saja. Hingga ujung kakinya pun tak luput dari perhatiannya.


"Kak?"


"Iya?"


"Semalam lo mab*k?!"


Kak Risma tidak segera menjawab. Sehingga terjadi keheningan kini. Kak Risma masih terus menyisir rambut panjangnya yang masih nampak basah itu.


"Dikit, Rin!" jawabnya kemudian.


"Kelebihan dikit, Rin! Kakak lupa kontrol," kilahnya.


"Lo kenapa, sih, Kak? Kenapa lo sampe mab*k segala? Kalo suami lo tahu, gimana?" tanyaku.


"Ckk! Mana pernah Mas Dewa tahu, apa yang kakak lakuin, Rin! Dia mana pernah peduli."


Aku memicingkan mata mendengar jawabannya barusan. "Maksud, lo, Kak?"


Kak Risma tak menjawab. Dia telah selesai menyisir rambut panjangnya itu. Lalu mematut tampilan dirinya di depan cermin.


"Kak!" teriakku.


"Apa, sih, Rin?"


"Jelasin. Kenapa lo sampai mab*k kek semalem?!"


Kak Risma menghela nafas panjang. Lalu berjalan mendekat ke arahku. Lantas menghempaskan bobotnya di sebelahku. Aku dapat mencium wangi shampoo serta sabun mandi milikku yang dipakai Kak Risma. Ya, dia pasti memakainya semaunya. Bisa-bisa, shampoo serta sabun mandiku habis sebelum awal bulan nanti.


"Kakak bosen, Rin. Mau tiga tahun usia pernikahan, tapi gini-gini aja," ujarnya lesu.


"Gini gini aja, gimana, Kak?" tanyaku tak mengerti.


"Yaa, Kakak 'kan udah sering cerita sama kamu, Rin! Mas Dewa itu terlalu sibuk. Entah cuma cari-cari kesibukan," adunya.

__ADS_1


Aku menaikkan sebelah alis. "Ya elo 'kan tahu sendiri. Kalo suami lo itu punya bisnis cafe. Lagi rame-ramenya. Seharusnya, lo sebagai istrinya, mendukung dong, Kak!"


Kak Risma menoleh padaku. "Gitu, ya, Rin? Apa cuma cafe yang penting buat Mas Dewa? Apa cuma cafe yang jadi prioritasnya? Apa pagi, siang dan malam, cuma cafe dan cafe yang ada di pikirannya?" tanyanya.


"Lah, kok elo nanya gue, Kak! Mana gue tahu pikiran suami lo? Tapi menurut gue, suami lo kerja siang malam juga itu buat lo, Kak! Buat kehidupan lo! Buat masa depan keluarga kalian!"


Kak Risma terdengar mendecih. "Kamu bener, Rin! Mas Dewa kerja siang malam emang buat masa depan nanti. Sampai dia lupa dan sering mengabaikan nafkah batinnya untuk Kakak!"


"Maksudnya, lo jarang di unboxing gitu, Kak?" tanyaku menebak-nebak.


Kak Risma tersenyum samar, seraya menggeleng. "Bahkan lebih sering Kakak yang meminta hak kakak duluan, Rin!"


"Tapi tetep dikasih, 'kan, Kak?"


"Seringnya sih, ditolak! Dia bilang capek seharian ngurus cafe. Kadang bilang, gak ada tenaga buat lakuinnya. Kadang alasannya lagi gak pengen!" jelas Kak Risma.


Aku tidak menyahut penjelasannya. Masih ingin mendengar apa yang akan dia ceritakan lagi. Terlihat Kak Risma menggigit bibir bawahnya, lalu merunduk.


"Kakak tuh jadi ngerasa gak berarti buat dia, Rin. Tiap dia pulang dari cafe, Kakak udah siap dengan memakai lingerie. Bukan karena Kakak ingin making l*ve tiap malem, Rin! Enggak! Kakak cuma perlu perhatiannya. Sekadar didekap atau dipeluk gitu, Rin, udah cukup. Tapi ini ngga."


"Kakak lebih sering dianggurin. Dia lebih milih asyik ngerokok di teras balkon. Kadang Kakak jadi insecure. Apa Kakak ini ngga ada menariknya di mata dia? Padahal Kakak dandan dan pakai baju seksi itu, buat dia, loh! Tapi emang dasarnya Mas Dewa itu cueknya kebangetan. Jangankan mesra dan manjain Kakak, muji Kakak aja gak pernah, Rin!"


"Ya lu omonginlah, Kak, sama suami lu! Apa mau lu, apa yang lu butuhin. Lu cerita ma Bang Dewa. Bukannya lo malah mab*k kek semalam, Kak!" ujarku.


Lagi-lagi Kak Risma menggeleng, dengan senyum mencibir. "Kamu pikir, selama dua tahun ke belakang Kakak menjadi istrinya. Kakak diem aja?" Kak Risma balik bertanya padaku. Membuatku hanya bisa mengangkat bahu. Pertanda tidak tahu.


Kak Risma terlihat menghela nafasnya. "Kakak udah capek. Kakak udah bosen rasanya ngomongin itu sama Mas Dewa, Rin! Tapi Mas Dewa ya Mas Dewa. Satu hal lagi yang harus kamu tahu, Rin!"


"Apa?"


"Mas Dewa itu ... lemah syahw*t, Rin!"


Aku mengerutkan dahi mendengarnya. "Lo yakin, Kak?"


Kak Risma mengangguk. "Paling nyelup gak nyampe semenit, Rin! Dia loyo, Rin. Dia lemah, payah, dalam hal bercinta. Kakak ngga bisa mencapai puncak saat lakuin sama dia, Rin!"


Aku melongo dibuatnya. Baru kali ini Kak Risma terang-terangan untuk urusan ranjangnya. Aku memang belum pernah menikah dan apalagi berhubungan bad*n. Aku tidak tahu puncak seperti apa yang Kak Risma inginkan. Tapi, sependek yang aku tahu, pria yang lem*h syahw*t memang tidak bisa lama mempertahankan er*ksinya. Mungkin loyo dan lemah seperti yang Kak Risma sebutkan itu. Tapi entahlah, aku belum pernah melakukan dan merasakannya pula.


"Bentar, Kak, dari tadi gue belum cuci muka ini!" ucapku. Gegas aku turun dari tempat tidur, dan segera ke kamar mandi.


Menyalakan kran air, lalu membasuh wajah. Dengan mata terpejam, aku meraba-raba di keranjang sabunku, mencari facial wash. Tiba-tiba tanganku menangkap sesuatu yang tak biasa bentuknya.


Aku tertegun sejenak. Tanganku kembali meraba-raba benda aneh itu. Bentuknya seperti?


Takut-takut, aku memutar kepala, untuk menengok keranjang sabun yang kusimpan di atas bak mandi ini.


Aku membelalak, saat melihat apa yang sedang kupegangi. "KAK RISMAAAAA!"


__ADS_1


__ADS_2