SETELAH KEMATIAN ISTRIKU

SETELAH KEMATIAN ISTRIKU
BAB 15 (NAKULA YANG ANEH)


__ADS_3

SETELAH KEMATIAN ISTRIKU (15)


****


"Ad-ad-a fotonya ... Bang?" tanya Nakula terbata. Seketika, wajahnya nampak pias. Begitu aku mengatakan tentang foto Kharisma di club malam.


Apa jangan-jangan benar, pria di samping Kharisma dalam foto itu Nakula?


Aku menggeleng kuat. Meyakinkan diri, kalau pria itu pasti bukan Nakula. Entah itu siapa, aku belum bisa memastikan. Tapi aku yakin, itu bukanlah Nakula.


"Ada, Naku! Tadi Ibu udah abang kasih lihat. Makanya Ibu shock banget" jawabku pada Nakula.


Aku memperhatikan reaksi Nakula. Tampak wajahnya semakin pias. Dia juga seperti gelisah.


"Kamu kenapa hmm?" tanyaku pada Nakula, karena reaksinya seperti orang tak nyaman.


"E—eh ... anu Bang, gue ikut ke kamar mandi, sakit perut ini!" jawabnya seraya berdiri. Lalu pergi ke arah belakang.


Rupanya dia sakit perut. Pantas saja duduknya nampak tak nyaman.


Aku segera duduk di samping Ibu. Menyodorkannya lagi segelas air untuk Ibu minum. "Bu, maaf Dewa harus memberitahu Ibu. Dewa cuma mau, Ibu sadar. Kalau kita selama ini sudah dibohongi oleh Kharisma, Bu," ucapku kemudian.


Ibu kembali bersandar pada sandaran sofa. Tubuhnya nampak lemah. Ibu mengangguk pelan. "Iya, Dewa. Ibu sadar sekarang. Ibu minta maaf sama kamu," ucap Ibu seraya menggenggam tanganku.


Nakula sudah kembali. Dia menghempaskan bobotnya pada sofa di hadapanku dan Ibu. Wajahnya terlihat lebih rileks dan segar. Tidak pucat seperti tadi.


"Naku. Hari ini juga, kamu datangi toko grosir orangtua Kharisma. Minta mereka segera melunasi sisa pembayaran toko," pinta Ibu pada Nakula.


Seketika aku terkesiap mendengarnya.


"Ma-mak-sud, Ibu? Jangan bilang, bangunan toko grosir itu Ibu yang bayar dulunya?" tebakku langsung.


Ibu menghela nafasnya. "Gimana lagi, Wa. Ibu kasian dulu itu. Toko grosir mereka waktu di pasar 'kan bangkrut. Mereka gak punya modal lagi. Ya, ibu cuma bantuin mereka aja, Wa. Tapi dua tahun ini, cicilan mereka sama Ibu mulai macet," jelas Ibu.


Aku mengusap wajah dengan kasar. "Ya, ampun, Bu. Ibu kok, mau-mau aja, sih?" tanyaku tak habis pikir pada Ibu.


"Bu, kasih mereka waktulah, Bu. Kasian. Mungkin mereka belum ada duit buat cicil ke Ibu," sela Nakula tiba-tiba. Sejak kapan dia peduli pada orang tua Kharisma? Aku jadi heran.


"Kalo kamu gak mau nemuin mereka, biar Ibu yang pergi sendiri ke sana. Biar Ibu pingsan sekalian di jalan," sungut Ibu.


"Ja-ja-ngan gitu, Bu. Maksud Naku ngga gitu. Ini kan masalahnya cuma Kharisma sama Bang Dewa, Ibu jangan sangkut pautkan sama orang tuanya. Gitu loh, Bu, maksudnya," terang Nakula.


Alisku bertaut mendengar perkataan Nakula barusan. Apa maksudnya lebih membela orang tua Kharisma, daripada menuruti perintah Ibu?

__ADS_1


"Apa kamu bilang? Cuma masalah Kharisma sama Dewa? Jangan sangkut pautkan sama orangtuanya? Terus kamu pikir, Kharisma lahir dari batu? Kharisma ngga punya orangtua? Kamu gimana sih? Justru karena ini menyangkut Dewa, anak Ibu dengan Kharisma. Ini masalah besar Naku. Bukan cuma masalah. Kharisma itu sudah selingkuh dari Abang kamu. Dia itu pengkhianat. Dan Ibu ngga mau, menolong orang tua seorang pengkhianat seperti Kharisma," jawab Ibu agak menggebu.


"Tapi, Bu—"


"Halahh! Udah! Ibu gak mau denger tapi tapian. Kalo kamu ngga mau datangi mereka hari ini dan minta sisa pembayarannya, biar nanti ibu yang pergi," tukas Ibu memotong ucapan Nakula.


"Bu, memang berapa sisa pembayarannya?" tanyaku penasaran.


"Sisanya 300 juta lagi, Wa."


"Apa, Bu? 300 juta?" Aku kaget setengah mati. Aku benar-benar tidak tahu, kalau ternyata Ibu menggelontorkan uang segitu banyaknya untuk kedua orang tua Kharisma.


Ibu nampak mengangguk. "Iya, Wa. Harga toko itu 400 juta. Mereka baru selesai nyicil 100 juta. Udah dua tahun mereka ngga ada nyicil lagi, Ibu mau nagih ngga enak, karena mereka besan ibu 'kan. Tapi setelah ibu tahu kelakuan Risma, ibu rasanya ngga sudi lagi membantu mereka," keluh Ibu dengan suaranya terdengar melemah.


Aku mengusap wajahku dengan kasar. Bisa-bisanya Ibu membantu kedua orang tua Kharisma tanpa memberitahuku apa-apa.


Ibu memiliki usaha butik mewah di kawasan ruko elite sekitar sini. Pemasukan butik itu sudah tidak diragukan lagi omsetnya. Ibu memiliki seorang perancang busana serta mempekerjakan lima karyawan jahit terbaik di butiknya itu.


Butik itu sudah Ibu kelola sejak sebelum menikah dengan Ayah dulunya. Setelah menikah dengan Ayah yang seorang juragan kain, butik milik Ibu semakin berkembang pesat.


Cassanova Boutique. Ibu memberikan nama butiknya. Entah sudah berapa banyak pelanggan tetap di butiknya. Aku tidak begitu tahu. Namun, yang jelas, omsetnya tidak main-main. Meski sekarang, Ibu mempercayakan pengelolaan butik itu pada karyawannya.


Selama ini, pakaian Kharisma yang anggun serta elegan. Itu adalah pakaian yang Ibu beri cuma-cuma untuk Kharisma. Ibu menganggap Kharisma sudah seperti boneka hidupnya. Setiap baju keluaran terbaru yang Ibu luncurkan di butiknya. Pasti Kharisma yang akan memakainya terlebih dulu.


Bahkan setiap bulan, aku rutin mentransfer uang ke rekeningnya sebagai nafkah. Meski kebutuhan rumah dan dapur ini, aku bedakan. Uang kebutuhan rumah, aku serahkan pada Bi Ima. Karena di rumah ini, Kharisma dilayani. Apa yang dia butuhkan, tinggal panggil Bi Ima atau Bu Titi. Semua selesai.


Ah, entahlah. Apa kurangku sebagai suami di matanya. Sampai dia menghancurkan ku sedalam ini.


"Ya udah, Naku. Kamu cepat tagih uang itu, kamu gak kasihan liat Ibu?" titahku pada Nakula kemudian.


Nakula nampak mengusap tengkuknya. Dia lagi-lagi terlihat gelisah. "Kenapa gak lo, aja Bang? Gue gak enak."


Aku mengernyit. "Kalo abang yang ke sana, yang ada bukan uang yang abang tagih. Tapi abang acak-acak isi tokonya itu, Naku! Kamu masih nanya juga!" geramku.


Nakula menunduk. Terdiam sejenak. Dia seperti tengah berpikir. Entah apa yang dipikirkannya.


"Kalo mereka belum bisa bayar, gimana, Bu?" tanya Nakula kemudian.


"Ya, kalo gak bisa. Mereka harus keluar dari toko itu. Nanti ibu kembalikan uang seratus juta mereka. Isi tokonya itu juga 'kan modal dari ibu!"


Aku terperangah. "Ibu modalin isi tokonya juga? Ya, ampun. Ibu kenapa gak ada kasih tahu Dewa soal ini?" tanyaku kaget.


"Ibu 'kan niatnya bantu besan, Wa. Yahhh, taunya begini," balas Ibu.

__ADS_1


Aku hanya mampu menggeleng mendengar penjelasan demi penjelasan dari Ibu. Tapi setidaknya, Ibu sudah sadar dan terbuka. Kalau Ibu memang tidak seharusnya ada di pihak mereka. Apalagi selalu membela Kharisma.


"Bu, apa Ibu udah lebih baik? Dewa mau ke cafe, Bu," tanyaku pada Ibu.


"Udah, Wa. Kamu pergilah. Udah ada Nakula juga di sini," jawab Ibu.


Aku mengangguk. "Ya sudah, Bu. Naku, jaga Ibu! Secepatnya kamu pergi temui mereka!" perintahku.


Nakula tak merespon. Aneh sekali dia. Orang cerewet seperti dia tiba-tiba tak banyak respon seperti sekarang. Apa ada yang mengganggu pikirannya? Tapi apa?


Gegas aku beranjak. Keluar dari rumah dan menaiki Fortuner hitamku. Membelah jalanan yang sudah agak siang ini menuju cafe.


Hanya sepuluh menit. Aku sudah sampai di parkiran cafe. Astaga! Aku melupakan sesuatu. Belum sempat aku turun dari mobil. Aku kembali membawa mobil menuju rumah. Laptopku tertinggal di kamar.


Aku menghentikan mobilku di seberang rumah. Segera aku turun dari mobil dan masuk ke dalam rumahku. Ibu dan Nakula sudah tidak ada lagi di ruangan depan. Itu artinya, Ibu sudah kembali ke rumahnya bersama Nakula.


Baru saja kakiku hendak menaiki anak tangga. Kulihat Nakula yang turun dari lantai dua rumahku. Ekspresi wajahnya nampak terkejut melihatku ada di bawah sini.


"Kamu masih di sini? Ngapain kamu dari atas? Ibu mana?" cecarku, setelah kini ia ada di hadapanku.


"I-i-iya, Bang. I-i-tu ... tadi gue ikut ngerokok bentar di balkon, Bang," jawabnya terlihat gugup.


Aku jadi heran dengan gelagatnya ini. Kenapa dia tidak sesantai dan se-rese biasanya?


"Terus Ibu?" tanyaku kembali.


"Ibu ... ya, udah di rumah!"


"Artinya kamu udah antar Ibu pulang? Tapi kamu ikut ngerokok di balkon rumah abang? Kamu balik lagi ke sini cuma buat ngerokok? Kan di rumah Ibu juga, kamu biasa ngerokok di lantai atas kamarmu?" selidikku.


"Gue balik ke sini, karena rokok gue ketinggalan di kamar mandi rumah ini, Bang! Lo banyak tanya banget sih. Udah kek wartawan. Udah ah, gue cabut!" Nakula kembali seperti biasa. Padahal tadi sikapnya jelas berbeda.


Nakula berlalu. Aku memperhatikan langkahnya yang semakin menjauh. Hingga punggungnya lenyap setelah melewati pintu keluar. Aku jadi bingung sendiri dengan perubahan-perubahan sikapnya saat ini.


Gegas aku naik ke lantai atas. Begitu sampai di depan kamar dan hendak membuka pintunya. Aku tertegun. Pintu kamarku sudah tidak tertutup rapat. Terakhir aku ke kamar untuk menyimpan laptop setelah Ibu sadar, dan aku ingat. Pintu kamar ini aku tutup dengan sangat rapat. Tapi, ini? Seperti ada yang sudah masuk ke kamarku, lalu menutup pintunya dengan asal. Sehingga handle pintu tidak mengait dengan pas.


Bi Ima dan Bu Titi yang sudah lama bekerja di rumah ini. Mereka tidak mungkin berani masuk ke kamarku tanpa izin.


Apa Nakula setelah merokok di balkon, diam-diam masuk ke kamarku tanpa izin?


***


Holaaaaa. maapkan Author yg terlalu lama hibernasi😁🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2