SETELAH KEMATIAN ISTRIKU

SETELAH KEMATIAN ISTRIKU
Kenyataan Apalagi?


__ADS_3

SETELAH KEMATIAN ISTRIKU (6)


***


"Dewa ...." Aku melihat Ibu masuk ke dalam kamar. Aku yang baru saja merebahkan tubuh setelah selesai merokok dari balkon. Tidak berniat bangun. Pasti ibu ingin membahas tentang kebenaran yang tadi aku sampaikan.


Ibu dipapah Bi Ima untuk duduk di tepi tempat tidur. Bi Ima gegas pergi. Meninggalkanku berdua dengan Ibu.


"Dewa, ibu mau bicara!" seru Ibu.


"Silahkan, Bu!" jawabku singkat. Aku masih diposisi rebahan.


"Mertua dan adik ipar kamu, pergi ke klinik. Dahi dan pelipis Karina ternyata robek, Dewa!" ujar Ibu.


Aku tak menanggapi. Bocah tengil seperti Karina memang pantas mendapatkannya. Itulah akibat dari mulutnya yang asal cuap. Menuduh dan menghinaku di depan mertua dan ibuku sendiri.


Luka robek itu masih bisa diobati. Tapi luka hatiku, karena pengkhianatan kakaknya juga tuduhannya tadi, entah kapan akan terobati.


"Dewa, apa benar, semua yang tadi kamu katakan? Rasanya, ibu nggak percaya!" tanya dan ungkap ibu kemudian.


Aku menghela nafas. Lalu bangkit dan duduk menghadap ibu.


"Bu, Dewa juga seperti Ibu. Dewa nggak percaya dengan semua yang terjadi. Tapi itu kenyataannya. Apa kalian meragukan surat keterangan dari kepolisian? Juga bukti foto yang ada. Kalau kalian shock, apalagi Dewa, Bu!" ujarku.


"Tapi, Dewa. Ibu mengenal siapa menantu Ibu itu!"


"Terus apa ibu pikir, Dewa nggak mengenal istri Dewa sendiri?" selaku cepat.


"Tapi ibu tetap nggak bisa percaya! Ibu sangat tahu menantu ibu. Rasanya, nggak mungkin, Kharisma seperti itu!" ucap ibu kembali.


"Terus apalagi agar ibu percaya? Bukti sudah lengkap kok, Bu!"


"Kamu cari tahulah, Dewa! Bisa saja, istrimu itu dijebak!"


Aku menaikkan sebelah alis. "Dijebak gimana, sih, Bu? Dewa melihat sendiri, kedua pengkhianat itu sudah tidak bernyawa saat di penginapan! Kepergian Kharisma ke Puncak itupun suatu kebohongan, Bu. Dia bilang, izin pergi ke Jakarta untuk urusan kantornya, padahal kenyataannya, dia ke Puncak, Bu!" jelasku kesal pada ibu.


Kenapa ibu masih saja membela menantunya. Di sini, akulah yang paling terluka. Kenapa justru ibu malah terus berpihak pada Kharisma? Sudah jelas, bahwa Kharisma itu mengkhianati pernikahan anaknya. Apa ibu tidak ada kasihannya padaku? Seberapa baik Kharisma di mata ibu?


"Tapi, Wa! Coba kamu cari lagi bukti yang lain. Siapa tahu, yang kamu lihat hari itu, tidak seperti apa yang terjadi sebenarnya! Cari tahu, Wa! Biar nama menantu ibu bersih dari segala tuduhan!" cerocos ibu.


Aku terperangah dibuatnya. "Astaga, Bu! Bukti apalagi yang harus dicari, sih? Semua sudah jelas! Polisi bekerja sudah sesuai porsi dan prosedur yang benar!


Kenapa ibu terus saja membela wanita murahan itu, Bu? Di sini, Dewa anak ibu. Harusnya ibu lebih simpati pada Dewa! Bukan terus mencari pembenaran atas apa yang sudah dilakukan menantu ibu itu!" tegasku akhirnya. Kuatur nafas yang mulai memburu.


"Tapi, Wa—"


"Cukup, Bu! Cukup! Dewa ngga mau denger lagi! Tinggalkan Dewa sendiri! Dewa juga butuh menenangkan diri!" ujarku memotong perkataan ibu.


Ibu mendengkus, lantas beranjak, dan keluar dari kamarku."Bi Imaaa!" Dapat kudengar teriakan ibu memanggil Bi Ima.


Dengan cepat. Aku menutup pintu. Lantas kembali merebahkan tubuhku. Dengan kedua tangan sebagai bantalnya.


Kata-kata ibu membuat kepalaku rasanya ingin pecah saja. Orang yang seharusnya menguatkanku, justru malah bersebrangan denganku. Hingga ibu ingin, nama menantunya bersih. Sudah jelas-jelas itu tidak mungkin!


Ponselku di atas nakas, berdering. Dengan malas, aku bangkit dan mengambilnya. Rupanya panggilan masuk dari Argi, teman lamaku. Teman semasa kuliah dulu, yang ingin menjalin kemitraan dengan cafe milikku.


"Hallo, Gi?"

__ADS_1


"Hallo, Wa? Lo di mana? Gue udah di cafe lo ini. Lo nggak lupa 'kan, hari ini kita harus meeting! Yaelahh, meeting, udah kek orang kantoran aja gue," kelakarnya di seberang sana.


Astaga. Aku memang lupa, kalau saja Argi tak menelepon.


"Emm, tunggu, Gi! Bentar lagi gue meluncur."


"Oke, beres!"


Tutt!


Argi mengakhiri panggilan. Aku beranjak dari tempat tidur. Lantas segera bersiap.


Setelah selesai bersiap. Gegas aku keluar dari kamar dan menuruni tangga menuju lantai bawah.


"Kamu mau kemana Dewa?" tanya ibu, begitu aku sampai di lantai bawah rumahku. Ibu tengah duduk di ruang santai. Bermain bersama Davina dan Bu Titi.


"Cafe, Bu!" jawabku. Lantas aku menghampiri putri kecilku itu. Memperhatikannya yang tengah merangkak dan belajar untuk duduk, di atas karpet empuk berbulu.


"Astaga, Dewa! Tanah kuburan istri kamu masih sangat basah! Kamu kok, udah ngurusin cafe lagi! Kamu nggak berduka, atas kepergian istri kamu, Wa?! Harusnya kamu itu sebagai suami, urus buat acara tahlilan nanti malam. Bukannya ke cafe. Urusan cafe, biar diurus dulu sama karyawan!" dumel Ibu tak suka.


Namun, tidak kupedulikan. Malas aku menanggapi ibu. Kalau ditanggapi, tidak akan ada habisnya. Lagipula, di rumah seperti ini, hanya membuatku semakin terpuruk.


Aku perlu ketenangan tersendiri. Aku perlu kesenanganku, atas apa yang menimpaku saat ini. Dan aku terbiasa menyenangkan diri di cafe.


Kucium kepala Davina yang kini tengah duduk. Anakku itu tidak rewel sama sekali pasca kepergian ibunya


.


Aku lantas beranjak. "Bu Ti, titip Davina, ya!" pintaku pada Bu Titi. Pengasuh Davina itu hanya mengangguk sopan.


"Dewaaa!" pekik ibu, ketika aku memutar badan, dan mulai melangkah pergi. Menjauh dari ruang santai.





Argi memilih paket kemitraan 25 juta non premium. Dengan tiga kali pembayaran. Namun, perlengkapan untuk berjualan, seperti stand booth dan utensils, sudah diberikan, saat pembayaran pertama sudah masuk. Untuk bahan makanan dan minumannya, diberikan secara bertahap. Tergantung ketersediaan stock di stand booth-nya nanti.



Argi temanku semasa kuliah. Dia baru-baru kembali menghubungiku, karena tertarik dengan program kemitraan yang aku miliki.



 Awalnya dia menekuni bisnis peternakan ayam dan itik. Namun, dia tidak berhasil mengelolanya. Dia kesulitan mencari produsen yang mau diajak kerjasama. 



Kalaupun ada yang mau bekerjasama, dia sebagai supplier, harus memberikan harga di bawah pasaran.



Padahal kualitas ayam serta itik yang dimilikinya, termasuk yang memiliki kualitas tinggi. Sampai akhirnya, dia memutuskan menutup usahanya itu. Lalu ingin mencoba membuka cafe sepertiku.


__ADS_1


Tapi, karena terkendala modal jika langsung membuka cafe yang besar. Maka, aku menyarankannya untuk membuka dulu booth stand.



Aku memiliki 3 cabang cafe yang tersebar di sekitar Kota Bandung. Bangunan cafe cabang hanya sebuah ruko satu lantai, yang didekor semenarik mungkin untuk menarik pelanggan.



Sedangkan, cafe utama yang kini aku datangi, dan hanya sepuluh menit saja dari rumahku, memiliki tiga lantai. Bagian lantai tiga berupa roof top, dan menjadi tempat aku bertemu dengan Argi sekarang.



Di lantai tiga ini, khusus bagi mereka, pengunjung cafe yang ingin bisa bebas merokok.



"Wa, lu kok ngga dateng dinikahannya si Guntur? Bukannya elu itu sohibnya dia!" tanya Argi, setelah rokok di tangannya sudah dia padamkan.



"Uhukk uhukk" Aku sampai terbatuk mendengar pertanyaannya barusan.



"Sorry, sorry, gimana maksudnya, Gi?" tanyaku memperjelas.



"Iya, waktu si Guntur nikah, cuma lu sama istri lu yang nggak dateng, Wa! Bukannya kalian itu sahabatan waktu kuliah?!"



Aku menelan saliva. "Gi, gue nggak tahu Guntur udah married! Yang gue tahu dan terakhir gue ketemu dia, 5 tahun yang lalu, Gi! Waktu dia mau pindah ke Jepang!"



"Serius, lu? Emang lu nggak ada komunikasi lagi?" tanyanya dengan raut wajah terheran-heran.



"Serius, Gi! Kalau komunikasi, ya, cuma sekedar lewat handphone. Tapi, kabar nikahan dia, gue ngga tahu sama sekali! Emang kapan nikahannya?"



"Wah, parah sih! Elu kan sohibnya waktu zaman kuliah! Kok bisa lu ngga tahu! Si Guntur udah balik, tiga tahunan yang lalu, Wa! Dia balik juga karena mau nikahan. Masa sih, lu nggak tahu juga?"



Aku membeku, demi mendengar penuturan Argi. Tiga tahun katanya? Dan aku baru mengetahuinya sekarang. Setelah kematiannya bersama istriku?



Kebenaran apalagi yang akan aku dapati?



\*\*\*

__ADS_1



Hallo readers. Maapkan baru bisa up yaaa 😊


__ADS_2