
Keesokan harinya aku berangkat ke Toko seperti kemarin aku pun berjalan di bawah sinar mentari pagi. Hanya saja, hari ini aku berjalan sendiri. Udara pagi yang sejuk membuatku sangat senang. Entah kenapa aku sangat menyukainya. Seolah ada semangat baru yang muncul.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba saja aku melihat seorang kakek yang terjatuh. Dengan cepat aku langsung berlari mengahampirinya.
"Opa, opa gak apa-apa? Sini saya bantu berdiri ya." Ucapku sambil membantunya berdiri.
"Aduh duh.. Pinggang opa sakit. Sini yang ini." Ucapnya sambil memegangi pinggang.
"Ya ampun, opa rumah nya jauh?" Tanyaku
"Itu nak, rumah opa yang di seberang." Ucapnya menunjuk sebuah rumah.
"Oh, dekat ternyata. Ya udah, opa Becca anterin ya ke rumah. Ayo Opa pelan-pelan jalan nya ya." Ucapku sambil memapah nya jalan.
Setelah beberapa langkah kami pun tiba di rumah nya. Aku langsung memencet bel di rumah. Sampai akhirnya keluar seorang pria paruh baya, pemilik rumah tersebut.
"Iya, iya siapa di sana?" Tanya nya dari teras.
"Saya Becca Om. Ini Opa tadi jatuh, jadi saya bantu opa jalan. Bisa tolong buka pintunya Om?" Tanya ku
"Papa, ya ampun. Oke oke, tunggu sebentar ya." Ucapnya.
Dia pun bergegas membuka kan pintu. Setelah pintu terbuka, aku segera membantu Opa masuk sambil memapahnya. Opa semakin berteriak ketika menaiki tangga kecil di teras.
"Aduuhh.. Sakit... Sakit.." Rintihnya yang membangunkan seisi rumah.
"Opa, opa ada apa opa?" Tanya seorang pemuda yang lari dari kamar tidurnya.
"Ini Andrew pinggang opa sakit. Kayanya keseleo nih. Sakit banget. Aduh.." rintihnya lagi
"Nanti kita panggil sinshe ya. Sekarang opa tahan dulu. Sini Andrew bantu masuk ke kamar, biar Opa bisa rebahan." Sahutku sambil mencoba untuk memindahkan tangan Opa yang sedari tadi mencengkram bahu ku.
"Aw.. Sakit. sakit. sakit! Aduh kamu ini gimana sih Andrew, opa malah makin sakit pinggangnya." Teriak opa yang justru semakin mencengkram bahuku.
"Ya.. Ya udah biar saya aja yang bantu opa jalan ke kamar. Boleh, tolong tunjukin kamar nya sebelah mana ya?" Ucapnya yang juga menahan sakit karena sedari tadi cengkraman opa cukup kuat.
"Wah, Kamu gak apa-apa? Kayaknya kamu juga kesakitan deh." Tanya Om yang sedari tadi mengikuti kami dari belakang.
"Iya, saya gak apa-apa Om. Lebih baik kita bantu opa dulu ke kamar."Ucapku sambil perlahan membantu Opa jalan.
"Oke sebelah sini ikut gua." Sahut Andrew yang langsung membantu menunjukan arah kamar opa.
Setelah kami berjalan beberapa langkah, akhirnya kami tiba di depan kamar. Tante yang akhirnya dikenal dengan nama Dewi pun membuka kan pintu kamar. Setelah perjuangan panjang ku, akhirnya berhasil membantu opa berbaring di ranjangnya. Tentu saja opa tetap merintih kesakitan. Sambil kini berganti mengcengkram tanganku.
"Aduh, maaf ya kamu jadi repot-repot bawa opa ke sini. Mana tangan kamu kayanya luka deh." Ucap tante Dewi.
"Iya Tante, gak apa-apa. Ini nanti saya kompres aja." Ucapku mengangkat ringan tangan ku yang memar.
"Ya sudah kalo gitu. Oya, siapa nama kamu? Kayaknya kamu baru ya di sini? Saya baru pernah liat kamu." Tanya tante Dewi lagi.
"Oh iya, maaf saya lupa. Saya Becca tante. Iya, saya baru di sini tan. Saya tinggal di blok B sana." Ucapku memperkenalkan diri.
"Oh, kamu tinggal di rumah Sis Lany? Kamu kerja di sana atau?"
"Saya keponakan Ayi tante. Tapi memang, saya kerja ikut ayi. Bantu-bantu di toko nya." Ucapku lagi
"Oh gitu. Oke deh Becca. Sekali lagi terimakasih banyak ya, kamu udah mau bantu Opa."
"Iya tante, sama-sama. Kalo gitu, saya berangkat kerja dulu ya Tan. Permisi." Ucapku sembari bergegas ke luar rumah.
"Oh iya, hati-hati ya Becca." Ucap tante Dewi sambil membuka kan pintu untukku.
Aku pun melanjutkan perjalanan ke toko. Aku mempercepat langkahku karena waktu menunjukan pukul 7 pagi.
"Becca, aduh kamu kemana aja? Ayo cepat bikin adonan dulu. Tadi Ibu udah bantu kamu bikin biang nya. Sekarang tinggal di adonin." Seru Ibu Kas padaku.
"Iya, maaf ya Bu. Tadi Becca ada sedikit kendala. Sekarang Becca bikin ya adonan nya." Ucapku yang langsung masuk ke Kitchen.
Aku pun segera menyelesaikan adonan untuk dibawa ke Mall. Setelah semua selesai aku menyiapkan barang-barang yang diperlukan untuk ke Mall.
"Ah, akhirnya beres juga persiapan nya. Tinggal tunggu Jaya deh." Gumamku sambil merapikan barang-barang.
"Pagi.. Wah Becca kamu udah siapin semua nya? Cepet banget." Seru mba Wati yang tiba-tiba datang dari belakang.
"Eh, mba Wati. Iya nih. Akhirnya selesai juga." ucapku
"Kamu kok bisa cepet banget sih? Cucian piring nya juga udah kamu beresin. Hebat. Padahal kamu baru 2 hati di sini." Seru mba wati lagi
"Iya, kan supaya tenang aja mba. Aku takut, kalo nanti keburu Jaya dateng." Ucapku tersenyum.
"Oya Becca, itu tangan kamu kenapa? Kok merah kebiru-biruan gitu? Kamu abis jatoh?" Tanya Mba Wati khawatir
"Ini, tadi pagi aku bantu Opa-opa yang jatuh Mba. Terus Opa nya kesakitan waktu di bopong ke rumah nya. Jadi dia pegangan tangan aku kenceng banget." Ucapku menjelaskan.
"Wah gila tuh Opa. Tenaga nya kuat juga, sampe tangan kamu lebam gitu. Coba sini liat." Seru Mba Wati lagi.
Tiba-tiba saja dari belakang ada seseorang yang menepuk bahu kanan ku.
"Pagi!" Seru Novi semangat. Sontak saja aku meringis karena memang bahu ku pun jadi korban cengkraman opa tadi pagi.
"Aw! Aduh duh sakit.." Rintihku saat Novi menepuk nya.
"Loh kamu kenapa? Orang cuma di tepuk doang. Lebay bener." Sahut Novi yang melihatku meringis.
"Ini, agak perih sama ngilu Nov." Ucapku yang membuka sedikit kaos ku.
__ADS_1
"Ya ampun Becca lu kenapa? Itu liat, bahu kamu lebam gitu mana luka lagi. Lu abis jatoh? Kok sampe gitu sih?" Tanya Novi heboh.
Ternyata bukan hanya lengan, tapi bahu ku pun ikut luka. Karena cengkraman Opa. Pantas saja, dari tadi aku merasa perih dan ngilu di sekitar bahu ku.
"Wah, masa? Emang kelihatan banget Mba?" Tanyaku lagi.
"Iya itu kelihatan banget." Ucap Novi yang ikut melihat luka ku.
"Aduh, pantes sakit banget." Ucapku sambil meraba luka di bahu.
"Itu kenapa Neng? Merah bener? Abis jatoh?" Tanya Jaya yang entah datang dari mana.
"Ih Kapan kamu datang?" Ucapku yang langsung menutup kembali baju ku.
"Itu, tadi pintu melongo ya udah aku masuk aja langsung. Tau nya lagi pada ngumpul di sini." Sahut Jaya yang juga salah tingkah.
"Oh gitu." Ucapku sambil berlalu.
"Itu kenapa bahu?" Tanya Jaya lagi.
"Tadi pagi, aku bantu opa-opa di jalan yang jatoh. Terus opa nya megang ke bahu aku pas di bantu masuk ke rumah nya." Ucapku menjelaskan
"Wah, gak kira-kira tuh opa. Udah ditolong nyakitin pula. Gak salah tuh? Kamu kenapa gak minta obat sekalian? " Tanya Jaya polos.
"Ih masa orang nolong malah minta obat? Lagian itu Opa juga pasti gak sadar lah. Namanya juga dia lagi sakit." ucapku
"Yee, ya kali keluarga nya inisiatif gitu liat kamu luka."
"Ya, enggak lah. Kan ini lukanya juga baru keliatan." ucapku lagi.
"Ya mau gimana lagi. Ya udah deh." Ucap Jaya yang langsung meleos pergi.
"Eh, mau kemana? Ini barang-barang gak dibawa? Maen pergi aja lu." Seru ku yang menahan nya pergi.
"Bentar, taro situ aja dulu. Aku mau jajan dulu ke sebelah." Ucapnya yang langsung pergi.
"Dasar aneh. Ya udah deh mending siapin bahan buat kursus." Ucapku yang kembali masuk ke Kitchen.
Aku pun melanjutkan kegiatan ku untuk menyiapkan bahan-bahan kursus. Hari ini ada kursus membuat bapao. Peserta nya cukup banyak yakni 8 orang. Sehingga aku menyiapkan bahan-bahan. Setelah semua selesai aku pun lanjut merapikan meja dan kursi untuk peserta.
Meskipun sebenarnya luka di bahu ku semakin ngilu rasanya. Tapi, aku tetap meneruskan pekerjaan ku sampai tuntas. Karena aku tidak mau sampai harus menyerah hanya karena luka yang tidak seberapa.
"Kamu, ngapain sih?" Seru Jaya yang kembali ke Kitchen.
"Kok ngapain? Beresin ruangan dong buat nanti kursus."Ucapku sambil menjejerkan kursi untuk peserta.
"Iya aku juga tahu. Emang gak ada yang lain ya? Kan kamu lagi luka." Seru nya lagi.
"Yang lain siapa? Semua lagi sibuk sama tugas masing-masing. Lagi, aku gak apa-apa kok. Luka segini mah kecil." Ucapku semangat.
"Aw! Aduh sakit! Kamu kenapa sih?" Gerutuku sambil memegangi bahu yang terasa ngilu.
"Ya kamu kenapa? Udah tau sakit, bukan nya minta bantuan. Malah ditahan sendiri." Ucap nya lagi.
"Ya kan gua cuma ngerjain tugas yang harusnya dikerjain. Lagi mau minta tolong siapa? Orang semua juga pada sib.."
"Nih, pake ini dulu sana. Biar aku yang beresin ini." Seru Jaya yang membungkam mulutku dengan krim pereda nyeri.
"Tadi aku tanya sama apotek katanya itu bisa buat lebam sama luka ringan. Udah sana pake dulu. Ini biar gua yang urus." Ucapnya lagi sambil mulai merapikan meja dan kursi.
"Ya, makasih ya. Gua pake dulu." Ucapku yang langsung menuju ke toilet depan.
Setelah aku memakainya ternyata benar, luka ku terasa lebih ringan. Tidak terlalu ngilu seperti di awal. Aku pun langsung beranjak ke Kitchen setelah memakai krim obat tadi.
Ternyata Jaya sudah selesai merapikan meja dan kursi untuk peserta. Namun aku tidak dapat menemukan Jaya, bahkan barang-barang untuk ke Mall pun sudah tidak ada.
"Mungkin, dia udah berngakat kali ya. Padahal gua belum bilang makasih. Tapi, ya udah deh." Gumamku.
Saat akan menuju ruang persiapan bahan aku melihat sesuatu di atas meja peralatan. Langkah ku pun terhenti sejenak.
"Ini apa?" Gumamku saat melihat sebotol minuman yang dibungkus plastik.
Saat aku mengangkat minuman tersebut, dibawah nya ternyata terdapat secarik kertas yang isinya:
Nih, minum dulu. Biar semangat kerjanya. Jangan GR ya! Tadi gua beli 1 dapet 1 jadi gua kasi lu 1. Meja udah rapi ya. Gua berangkat dulu. Bye
"Apaan sih si Jaya. Aneh-aneh aja itu anak mah. Tapi, makasih deh. Emang gua juga suka sama ini minuman." Ucapku sambil tersenyum geli.
Hari itu pun kursus berjalan lancar. Beruntungnya, berkat krim yang diberikan Jaya, bahu dan lengan ku jadi tidak menghambat aktivitas ku. Setelah kursus selesai, aku pun merapikan meja dan kursi ke tempat semula. Waktu menunjukan pukul 3 sore. Ketika Ayi memanggilku ke ruangan nya.
"Becca, gimana hari pertama kursus? Ada kendala?" Tanya Ayi lagi.
"Gak ada Ayi. Puji Tuhan, Becca bisa ngerjain semua." Sahutku lagi.
"Ya sudah, Syukurlah kalo gitu. Oya, kalo gitu mulai sekarang Ayi mau tiap jam 3 kamu ke Mall ya bantu ayi jaga counter sampai tutup." Ucap Ayi.
"Oh iya Ayi. Ya udah kalo gitu, Becca siap-siap dulu ya." Ucapku yang langsung disambut oleh anggukan dari Ayi.
Aku pun bersiap untuk pergi ke Mall. Setelah semua rapi dan beres, aku pun pamit pada Bu Kas, Mba Wati dan Mba Kateng untuk pergi ke Mall. Saat sedang menunggu mikrolet, tiba-tiba saja ada sebuah mobil sport yang berhenti tepat di depan ku.
Sontak saja aku berjalan mundur selangkah karena terkejut. Saat aku sedang menatap kaca mobil tersebut, tiba-tiba kaca pun terbuka perlahan.
"Ayok naik." Ajak seorang pemuda yang tak lain adalah Andrew.
"Loh, kok Lu ada di sini?" Tanyaku spontan.
__ADS_1
"Ya kan rumah gua di sini. Gimana sih. Udah ayok naik." Ajaknya lagi.
Tanpa basa-basi lagi aku pun segera naik ke mobil Andrew.
"Lu mau kemana?" Tanya nya lagi.
"Mau ke Mall MK tadi Ayi minta gua jaga di sana." Ucapku.
"Oke, gua anter ke sana sekarang. Kebetulan, gua juga ada perlu di sekitar sana." Ucapnya lagi.
"Makasih ya. Sorry jadi ngerepotin." ucapku lagi.
"Gak apa-apa. Anggap aja tanda trimakasih gua, udah nolong opa tadi pagi. Oya, nama lu Becca kan? Gua Andrew." Ucapnya lagi.
"Iya gua Becca. Oke Andrew salam kenal." Sahutku.
"Oya, lu saudara Tante Lan ya? Lu asal mana? Jakarta juga?" Tanya nya memulai obrolan.
"Iya gua ponakan nya. Bukan, gua asli Bandung."
"Oh, Bandung. Banyak jajanan enak tuh di sana. Eh, lu gak kepanasan di sini? Bandung adem kan?"
"Biasa aja kok. Di Bandung emang adem sih. Tapi tetep aja kalo lagi panas mah panas."
"Haha lu lucu juga ya. Kalo lagi panas ya panas. Gimana ceritanya coba?"
"Ya maksudnya, kalo kemarau tetap panas. Dan emang gak semua area di Bandung adem. Paling cuma daerah atas aja. Kayak lembang atau soreang." Ucapku lagi.
"Haha make di jelasin lagi. Iya gua tau kok. Gua cuma becanda tadi. Eh buy the way, gimana luka lu? Tadi pagi gua perhatiin Opa pegang tangan lu keras banget."
"Ini maksudnya?" Ucapku sambil menunjukan tangan ku yang semakin terlihat lebam.
"Udah gak apa-apa kok. Tadi dikasi kaya krim gitu udah mendingan." Ucapku lagi.
"Ya ampun, sampe biru gitu. Mau ke dokter aja gak? Ayok gua anter." Ucapnya yang langsung berniat membalikkan arah.
"Eh, jangan-jangan. Gak usah, gak apa-apa kok. Gua udah mendingan pake obat tadi." Ucapku lagi.
"Tapi, lu bener-bener deh. Kalo sakit harusnya lu bilang dari tadi pagi. Jadi keluarga gua bisa bantu obatin luka nya."
"Ya gak usah sampe gitu juga. Serius gua gak apa-apa kok. Luka gini doang mah, kecil." Seru ku sambil tertawa.
"Ya udah, tapi kalo nanti semakin nyeri, lu kasi tau gua ya. Gua minta pin BB lu deh. Biar bisa bbman." Ucapnya lagi.
"BB? Bau badan? Gua udah mandi kok." Ucapku sambil mencium baju ku.
"Haha lu lucu banget dah. Maksud gua BB ini pin BB." Ucapnya lagi.
"Oh, Itu. Hehe sorry gua gak ada. Gua pake Hp biasa aja." Ucapku sambil mengeluarkan Hp Sony Ericson miliku.
"Ya ampun, ternyata masi pake hp jadul? Ya udah nomor lu dah. Biar gua bisa kirim sms." Ucapnya lagi
"Yee jadul darimana? Ini masi baru keluar taun lalu lagi." Ucapku tak terima.
"Lagian yang paling penting, ini Hp masi bisa di pake." Sambungku lagi.
"Ya deh iya. Ya udah mana nomor lu?"
"O81xxxxxxx"
"Oke udah gua save. Wait, gua missed call deh."
its gonna be one less lonely girl.. 🎶🎶
"Oke udah gua save juga ya."
"Lu, fans JB?"
"Iya, gua suka JB banget."
"Oh, oke kalo gitu lu tau dia mau konser loh di Jakarta."
"Iya, gua tau kok. Kan, gua ikutin berita dia. Ya tapi, percuma juga sih. Gua gakkan bisa ikut juga konsernya." Sahutku
"Kenapa gak bisa?"
"Iya tiketnya kan mahal banget. Gua denger sampe jutaan. Sayang banget lah uang nya." Sahutku lagi.
"Oh, iya emang lumayan sih harga nya. Ya berdoa aja dulu. Siapa tau nanti ada orang baik yang bisa ngasih lu tiket konser."
"Haha darimana nya?Daripada buat tiket konser. Gua mending ngumpulin buat ajak Adek gua main ke dufan." Ucapku asal.
"Oh lu punya Adek?"
"Ada, sebenernya gua punya 2 adek. 1 perempuan 1 laki. Tapi yang sama gua sekarang yang laki." Ucapku sedih.
Ya memang aku mengingat Bella. Bella adalah adik sekaligus kembaranku. Impian untuk main ne dufan pun adalah milik Bella. Dia sangat suka main ke taman hiburan. Dia juga tidak takut memainkan beberapa wahana extreme.
Tanpa terasa ketika aku masi merenungkan Bella mobil pun berhenti di depan Mall.
"Oh, udah sampe ya? Gua turun dulu ya. Thanks Drew." Ucapku yang langsung membuka pintu mobil.
Belum sempat mendengar Andrew aku bergegas turun dan mencari toilet. Karena memang aku tidak bisa menahan air mata. Yang sedari tadi memaksa untuk turun membasahi wajahku.
Bella kamu dimana? Cece kangen kamu. Maaf kita gak bisa pergi bareng. Tapi, cece janji secepatnya cece pasti akan bawa keluarga kita ngumpul lagi ya. Tunggu cece Bella.
__ADS_1